Cerita-cerita pengalaman yang sederhana namun dimaknai begitu dalam dan dituturkan dengan luwes oleh penulis. Dari anjing pertama, ibu pertama, mesin tik pertama, celana panjang pertama, tato pertama, mobil pertama, dan lain-lain yang pertama bagi seorang Arswendo, yang terasa jujur, spontan, dan cair. Cerita-cerita yang mengharukan namun membahagiakan (begitu juga sebaliknya) karena beliau tak pernah lupa berterima kasih pada setiap orang, barang, pun binatang yang hadir dalam perjalanan hidupnya, dan selalu bisa memetik makna dan tawa di balik kesulitan dan kegetiran. Selain itu saya kagum dengan multitalenta dan produktivitasnya di mana pun beliau berada, yang tak membatasi diri dengan waktu dan tempat yang sempit. Karena kalau kita niat dan menyempatkan maka segalanya bisa jadi peluang. Begitulah kira-kira moral yang saya tangkap darinya. Bersyukur tanpa libur: selalu bersyukur tanpa tapi.
Namun saya tidak mengira kalau lebih dari setengah buku ini bakal berisi tulisan-tulisan dari banyak orang (dari istri, cucu, menantu hingga kalangan sesama rekan penulis, seniman, sutradara, dll) yang menganggap sosok Arswendo Atmowiloto sangat menginspirasi dan berpengaruh dalam hidup mereka, baik secara langsung maupun kekaryaan (kalau di awal berisi tulisan-tulisan Arswendo tentang bagaimana sesuatu berdampak dalam dirinya maka kali ini tentang Arswendo yang berdampak dalam hidup mereka). Meski saya agak kecewa karena tulisan-tulisan pengalamannya sendiri tak begitu banyak dalam buku ini (saya masih merasa kurang), tapi melalui sudut pandang orang lain tentang beliau setidaknya saya jadi lumayan mengerti mengapa beliau dan karya-karyanya sama-sama tak lekang oleh waktu.