Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mitomania: Sudut Pandang

Rate this book
Kefiandira mendapat perundungan secara fisik, verbal, dan nonverbal dari Amanda, Lisa, dan Morgan. Dia melaporkan kekerasan yang dialaminya itu pada Pak Beni--kepala sekolah--dan Pak Joni--guru BK. Dia berusaha membuktikan kejahatan mereka dengan cerita yang dia tuturkan, dan dengan didukung bukti-bukti yang ada. Namun, cerita dari sudut pandangnya itu dibantah oleh Amanda, Morgan, dan Lisa, bahwa semua penuturannya itu adalah kebohongan. Setiap bagian cerita dari sudut pandang Kefi bisa dibantah dengan cerita dari sudut pandang Amanda, Morgan, dan Lisa.

Pak Beni dan Pak Joni berusaha mencari siapa yang benar karena setiap kejadian ada dua cerita yang berbeda. Mereka yang terus menganalisis semakin terkejut ketika mendapat dugaan penyakit kejiwaan kebohongan patologis paling ekstrem dari salah satu murid mereka. Pertanyaan yang muncul, siapa yang mengidap penyakit kejiwaan itu? Sementara keduanya tidak tahu ada hal lain yang lebih mengerikan di balik kejadian yang mereka analisis tersebut. Apa itu?

258 pages, Paperback

Published January 1, 2021

11 people want to read

About the author

Ari Keling

25 books6 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (22%)
4 stars
9 (50%)
3 stars
5 (27%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Lelita P..
634 reviews58 followers
January 25, 2021
Novel remaja lainnya bertema kesehatan mental. Topik ini memang sedang populer di kalangan novel remaja, ya, dan saya senang karena novel Mitomania: Sudut Pandang ini menambah deretan novel bertema kesehatan mental yang dikemas secara apik, unik, dan beda.

Novel ini sudah menarik dari awal. Dibuka dengan adegan Kefi yang mengadu pada Pak Joni (guru BK) bahwa dia dirundung oleh tiga temannya: Amanda, Lisa, dan Morgan. Kefi menuntut supaya mereka bertiga dipanggil ke hadapan Kepsek (Pak Beni) agar dia bisa membongkar langsung semua kejahatan mereka padanya. Mereka bertiga tidak terima karena merasa apa yang Kefi adukan tidak benar. Keempat anak itu kemudian bergantian menceritakan kejadian perundungan tersebut dari sudut pandang mereka masing-masing. Ternyata, statement mereka saling bertentangan satu sama lain. Pak Joni dan Pak Beni pun jadi bingung, siapa yang benar? Kok keterangan mereka bisa beda? Padahal, bahasa tubuh mereka tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda dusta. Akhirnya kedua guru tersebut menyimpulkan, ada pembohong patologis di antara anak-anak tersebut. Pembohong patologis akut, pengidap gangguan mitomania.

Dari halaman pertama pun saya sudah merasa novel ini menggunakan unreliable narrator. Jadi, saya tidak memercayai sepatah kata pun yang keluar dari mulut anak-anak itu. Ketika akhirnya dihadapkan pada pilihan "Siapa yang berkata benar, Kefi atau Amanda?", saya cenderung skeptis pada Kefi karena soal unreliable narrator itu.

Pengemasan ceritanya cakep banget, kayak film. Saya lumayan akrab dengan model film seperti ini, yang intinya the truth is not what it seems. Saya suka pemakaian POV-nya yang berganti-ganti: present time pakai orang ketiga; ketika cerita kejadiannya, pakai orang pertama sesuai siapa lagi yang bercerita; ketika flashback, kembali pakai orang ketiga sesuai si subjek kilas baliknya. Meskipun POV-nya campur-campur, tapi nggak ngebingungin sama sekali. Penuturannya juga lancar. Konsistensi detail-detail kecilnya--sesuatu yang wajib diperhatikan dalam penulisan novel misteri--juga oke. Terasa sekali bahwa cerita ini ditulis dengan rapi dan penuh pertimbangan.

Cerita di novel ini sebetulnya dark banget. Kisah latar belakang tokoh utamanya, yang digambarkan dengan sangat detail, merupakan kehidupan remaja yang gelap dan menyedihkan. Namun, penulis berhasil meramu "kegelapan" tersebut dengan cara yang cukup ringan dan sangat readable buat remaja selaku target pembaca novel ini. Setidaknya, tema yang diangkat dalam novel ini jadi bisa tersampaikan dengan baik tanpa membuat pembacanya bakal stres karena ceritanya terlalu gelap. Apalagi ada bumbu-bumbu romansa dan persahabatan khas remaja. Selain itu, banyak pelajaran yang bisa diambil juga dari novel ini, misalnya pengetahuan tentang mitomania, stigma kesehatan mental di kalangan remaja, juga pentingnya peran orang tua/keluarga dalam pengembangan pribadi remaja.

Saya suka gaya bahasa novel ini. Kata-kata narasinya bagus dan cocok untuk remaja, meskipun di beberapa bagian agak terlalu banyak tell-nya. Mungkin faktor keterbatasan halaman, ya. Cerita yang mau disampaikan dalam novel ini banyak, tapi kalau terlalu mendalam, nanti bagian cerita lain yang nggak kalah penting malah nggak bisa masuk. Kalau memang alasannya ini, saya ngerti banget coz I've been there too haha. Tapi menurut saya, dengan pengemasan seperti versi buku di tangan saya ini pun, semua hal yang perlu diceritakan dalam novel ini sudah berhasil masuk dengan detail yang cukup memuaskan, rapi, dan tidak ada plot hole besar. Jadi... novelnya tetap sangat bisa dinikmati.

Kekurangan novel ini... bagi saya emosinya tidak intens (karena banyak emosi dan perasaan karakter-karakternya yang dituliskan secara gamblang), dan atmosfer ketegangannya juga kurang. Namun, untuk sebuah cerita remaja yang mengandung misteri dan nuansa psikologis, novel ini oke banget. Seperti yang sudah saya bilang di atas, novel ini unik dan nggak seperti novel remaja bertema kesehatan mental lain yang sudah beredar di pasaran. Jelas recommended bagi penyuka novel remaja yang mengangkat tema kesehatan mental, apalagi penyakit yang belum banyak diangkat seperti mitomania.
Profile Image for Thessalivia Thessalivia.
Author 4 books27 followers
March 13, 2021
Awalnya...

Novel ini dibuka dengan seorang siswi SMA bernama Kefi yang mengadukan perundungan oleh teman sekolahnya ke guru (Pak Joni) dan kepala sekolah (Pak Beni). Akhirnya, permasalahan dibuka dengan mempertemukan Kefi dan tiga sekawan yang menjadi perundungnya di ruangan kepala sekolah. Lisa, seorang siswi yang dikalahkan oleh Kefi di lomba menulis, Morgan yang menyimpan rasa suka kepada Kefi, dan si tomboi Amanda yang menjadi dalang utama perundungan.  
Tiga orang itu masing-masing mempunyai motif untuk merundung Kefi, apalagi Amanda ternyata terlibat cinta segitiga antara Kefi dan Morgan. Namun, mereka bertiga tentu saja terang-terangan menolak tuduhan perundungan itu. 
Sedangkan di sisi Kefi, ia punya bukti-bukti berupa memar akibat perundungan teman-temannya. Namun ternyata, masa lalu Kefi yang mencurigakan sebagai murid pindahan juga memunculkan pertanyaan tersendiri. Bisa kah kata-kata Kefi dipercaya?
Di tengah penuturan di kantor kepala sekolah, tidak hanya perbuatan kepada Kefi yang harus dipertanggungjawabkan, tetapi persahabatan Lisa-Morgan-Amanda pun menjadi di ujung tanduk. 

Aku jadi bertanya-tanya. Apakah seseorang baru terlihat aslinya ketika terbentur masalah cinta? Ataukah memang aku yang tidak pandai melihat bagaimana sebenarnya kedua temanku itu? Jangan-jangan aku yang memang tidak tahu, kalau selama ini Morgan dan Amanda pernah bercakap-cakap membicarakan keburukanku di belakangku? - Lisa (hal 126)

Mitomania

Hasil analisa sementra Pak Joni dan Pak Beni adalah, ada yang berbohong dengan ceritanya. Bukan sekedar bohong biasa, tetapi sang pembohong sepertinya mengidap mitomania. Saya yang cukup asing dengan istilah itu mencoba mencari artinya dan menemukan kurang lebih seperti ini: 

Mitomania adalah gangguan kejiwaan yang membuat penderitanya berbohong tanpa sadar dan tanpa tujuan untuk menipu. Sebutan mitomania biasanya diberikan kepada orang yang sering berbohong dan menganggap kebohongan yang dilakukannya adalah nyata.

Jadi biasanya penderita mitomania sendiri itu tidak sadar kalau sebenarnya dia berbohong. Karena otaknya mencampuradukkan fakta dan imajinasi. Biasanya ada latar masa lalu yang pahit sampai membuat seseorang menderita gangguan ini. 
Pada cerita ini, sayangnya dua dari empat orang itu memiliki latar belakang yang dapat membuatnya menjadi mitomania. Ini makin membuat bingung kedua guru itu untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya 😆. 

Novel Remaja Psikologis

Buku ini adalah novel remaja, jadi walaupun membahas perundungan dan gangguan kejiawaan, kisah dituturkan dengan sangat ringan. Latar belakang konflik pun tidak dibuat terlalu rumit, sehingga cerita dapat dinikmati oleh semua usia. Saya pribadi sangat menikmati membacanya dan berhasil menyelesaikannya hanya dalam dua hari, ini rekor buat saya yang biasanya harus ngabisin berminggu-minggu untuk satu buku 😁. Perpindahan sudut pandang setiap bab, bergantian antara POV satu Kefi, Morgan, Lisa dan Amanda, atau kadang menjadi POV tiga serba tahu, tidak membingungkan sama sekali. Justru malah membuat kita ikut menyelami karakter masing-masing tokoh. 
Sebagai pencinta cerita anak dan novel remaja, saya juga suka dengan penyelesaian konflik pada ending buku ini. Mungkin bagi beberapa orang ending-nya akan terkesan biasa, apalagi dari tengah buku kita sudah dapat klu tentang akhir kisah ini. Namun, buat saya akhir kisah mereka terasa menghangatkan hati. Ah, remaja tidak perlu lah dikasi ending yang menggantung sok misterius, kan? 😁
Karena novel ringan ini sangat menghibur dan memberikan warna baru dalam fiksi remaja yang biasanya hanya fokus pada percintaan, saya beri 4 bintang untuk buku Mitomania: Sudut Pandang karya Ari Keling ini

Review lengkap di My Wonderful Book Life : https://thessaliviareza.blogspot.com/...
Profile Image for Ratnani El Ratna Mida).
Author 11 books14 followers
February 18, 2021

“Kebohongan yang dilakukan itu tidak baik karena bisa menimbulkan masalah yang lebih besar, menjadi lebih rumit, atau malah membuat masalah baru.” (hal 145-146).


Pernahkah kita menyadari bahwa kebiasaan berbohong ternyata bisa menjadi sebuah penyakit yang mengerikan? Novel yang terpilih sebagai ‘Novel Favorit’ dalam Kompetisi Menulis Novel Remaja Indiva 2019 ini menyibak tentang fakta menarik kebiasaan berbohong.

“Saya menduga kalau Kefi mengidap salah satu penyakit bohong patologis, yaitu mitomania,dan sepertinya ini yang akut.” (hal 133).

Bisa kita bayangkan apa itu penyakit bohong patologis mitomania? Dengan menarik penulis menceritakan masalah ini dengan latar cerita masa remaja, yang lucu, seru dan tidak terduga. Kita akan diajak menganalisis kebohongan yang telah dilakukan oleh salah satu murid di SMA Jaya Nusantara.

Kefindra—yang lebih sering disapa Kefi mengaku bahwa selama bersekolah di SMA Jaya Nusantara, ia telah mengalami bulliying—ia mendapat kekerasan verbal, non verbal bahkan secara fisik—oleh Amanda, Lisa dan Morgan. Karena masalah itu, Kefi melaporkan perundungan itu kepada guru Bimbingan dan Konseling, Pak Joni. Ia menjelaskan secara singkat bagaimana proses perundungan yang ia alami dan menunjukkan bukti legam di pipinya.


Untuk menindak lanjuti pelaporan Kefi, akhirnya Pak Joni memanggil Amanda, Lisa dan Morgan untuk menyelesaikan masalah. Namun pengakuan yang dipaparkan Kefi, bisa dibantah oleh Amanda, Lisa dan Morgan.


Inilah tantangan yang harus dipecahkan oleh Pak Joni, selalu guru Bimbingan dan Konseling, juga Pak Beni, selaku kepala sekolah. Mereka harus menganalisis cerita dari empat muridnya untuk menemukan siapa sebenarnya murid mereka yang telah berbohong. Dan kenapa harus sampai melakukan hal semacam itu? Karena dari cara mereka bercerita Pak Joni mencurigai bahwa bisa jadi di antara muridnya ada yang mengalami penyakit kejiwaan akut.


Wow! Menarik dan seru. Ide penulis sangat keren. Saya sudah cukup sering membaca novel remaja, tetapi jarang penulis yang mengangkat tema seperti ini. Biasanya kisah novel remaja lebih pada kisah percintaan—dari kesalahpahaman atau pertengkaran lalu berbuah jatuh cinta. Ups. Namun tidak dengan novel ini, meski genre remaja, tetapi ceritanya benar-benar out of the box. Ada memang selipan kisah cintanya, tapi itu bukanlah point yang diutamakan dalam kisah ini.


Resensi lengkapnya bisa dibaca di blog ini 👇
https://ratnanilatifah.blogspot.com/2...
3 reviews1 follower
March 31, 2021
Cerdas! Itu hal pertama yang terbersit di benakku ketika membaca novel ini. Baru memulai buka dari Bab I sudah tak bisa berhenti dan ingin menyelesaikan. Habisnya aku penasaran! Ingin tahu, siapa yang berbohong di antara mereka sebenarnya.

Cerita yang diungkapkan dari berbagai sudut pandang ini menjadikan kita, pembaca, ikut merasakan apa yang dirasakan tokoh-tokohnya. Makanya terasa real. Sehingga akupun ikut merasakan kepedulian dan merasa kejujuran dari tokoh-tokohnya. Jadi, semakin bingung menentukan, siapa yang tidak jujur. Lebih tepatnya, aku yang merasa tidak rela jika salah satu tokoh di sana berkata tidak jujur. Karena kepedulian yang ditimbulkan tersebut.

Pembaca digiring untuk menyaksikan apa yang terjadi. Alurnya runut dan tidak membosankan. Ada sebab ada akibat. Ada alasan dari semua perilaku. Di tengah cerita, sedikit demi sedikit diungkap kenyataan masa lalu tokohnya. Terbersit sebuah pikiran, ternyata begitu besar peranan orang tua masing-masing.

Mitomania, adalah penyakit psikologis yang menjadikan penderitanya mampu berbohong karena merasa apa yang dikatakannya adalah kenyataannya. Kebohongannya tidak bisa begitu saja terdeteksi. Kayak semacam halu gitu, kalau dipikir-pikir. Penyebab seseorang menderita mitomania tidak terlepas dari pengalamannya di masa lalu. Bisa jadi, karena dia hendak terlepas dari kenyataan yang sedang dihadapi.

Kasihan. Setelah aku mengetahui apa alasan si tokoh mengidap penyakit mitomania itu, jadi ingin introspeksi diri selaku orang tua. Apakah selama ini aku sudah cukup baik kepada anak-anakku. Anak-anak sangat membutuhkan perhatian dari orang tuanya. Bukan sekadar limpahan harta. Bukan sekadar disekolahkan, diberi makan, kemudian selesai.

Begitulah …. Akhirnya, novel yang kutamatkan dalam kurun waktu kurang dari dua hari (karena sempat tersita pekerjaan) ini tidak hanya kuanjurkan bagi pembaca usia remaja, tetapi juga bagi seluruh orang tua. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang lebih baik lagi dan bisa berada utuh bagi anak-anak kita.

Kelemahan novel Mitomania ini apa? Endingnya gantung! Ha-ha-ha. Kebetulan aku tak suka digantung. Rasanya ingin sekali mengetahui perkembangan selanjutnya si tokoh. Bagaimana sikap orang tuanya di kemudian hari? Apakah orang tuanya akan menyadari kesalahan mereka? Apakah mereka bisa berubah menjadi lebih baik? Serta, berhasil atau tidak konselingnya?
Inilah dampak telah menggeret emosi pembaca ikut larut merasakan si tokoh sehingga menjadi peduli pada kehidupannya.
Profile Image for Thomas Utomo.
Author 7 books5 followers
March 26, 2021
Novel ini dibuka dengan kalimat sugestif yang langsung menabrak perhatian pembaca, “Mereka bisa saja membunuh saya, Pak,” adu Kefiandira kepada Pak Joni, guru Bimbingan dan Konseling SMA Jaya Nusantara (halaman 7).

Dengan alur maju-mundur, halaman-halaman berikutnya menguakkan kronologi dan argumentasi kenapa gadis kelas XII SMA itu sampai kepada kesimpulan sebagaimana tersebut? Dimulai dari pindahnya Kefiandira ke SMA Jaya Nusantara, keterlibatannya dalam lomba tulis-menulis yang kemudian mengantarkannya ke aras tertinggi sebagai juara utama, hingga munculnya Amanda, Lisa, serta Morgan dalam lingkaran pergaulannya—bukan untuk menautkan pertemanan, sebaliknya justru menghunjamkan permusuhan. Trio sahabat—Amanda, Lisa, Morgan—merisak semata disulut nyala api dengki. Demikian Kefiandira bertutur.

Cerita bertambah runyam lagi pelik manakala Pak Beni, kepala sekolah, memanggil tiga siswa yang diduga secara sengaja dan terencana melakukan perundungan bertubi kepada si gadis introver. Sisi runyam dan pelik yang dimaksud adalah karena cerita versi Amanda, Lisa, dan Morgan saling silang satu sama lain. Celakanya, persilangan cerita tidak hanya membenturkan kubu Kefiandira versus Amanda, Lisa, Morgan, melainkan dalam internal trio sahabat itu sendiri. Ketiga-tiganya lalu saling curiga dan berlomba melempar cecar. Rupanya, kebersamaan berbilang tahun yang terjalin dilatari faktor perkawanan orang tua itu, tidak cukup akrab dan saling mengerti.

Dalam lapis-lapis cerita berikutnya, pembaca seperti diombang-ambingkan: menghadapi cerita yang serba berseberangan, siapa pihak yang jujur? Mana pula yang mengurai dusta? Sampai kemudian, analisis Pak Joni dan Pak Beni mengerucut pada satu nama, sosok siswa yang diduga menderita mitomania—penyakit kejiwaan patologis paling ekstrem, yang menyebabkan penderitanya tidak mampu memancangkan batas tegas antara alam sejati dan dunia khayali, tetapi selanjutnya pengarang—Ari Keling—malah membelokkan dugaan sementara pembaca kepada pihak lain, syukurnya dengan lanjaran meyakinkan.

Selengkapnya di https://utomothomas.blogspot.com/2021...
Profile Image for Linda Satibi.
38 reviews39 followers
March 31, 2021
Novel Mitomania karya Ari Keling membidik masalah kejiwaan yang memfokuskan pada perkara kebohongan. Dari dua jenis kebohongan, kebohongan kompulsif dan kebohongan patologis, Ari Keling memilih yang terakhir.

Dikisahkan tentang siswa SMA bernama Kefiandira yang berkonflik dengan tiga sahabat, yaitu Amanda, Lisa, dan Morgan. Kefi, panggilan Kefiandira, merasa mengalami perundungan yang dilakukan oleh tiga sekawan tersebut. Ia melaporkan hal itu kepada Pak Joni, guru BK di sekolahnya. Tidak berhenti sampai di situ, Kefi ingin agar masalah ini dibawa kepada kepala sekolah.

Setelah bertemu Pak Beni, kepala sekolah, Kefi mendesak agar para pelaku perundungan terhadap dirinya, juga dihadirkan. Ia hanya mau berbicara bila ketiganya dipanggil dan mendengarkan ceritanya. Hingga akhirnya permintaan Kefi itu diluluskan. Lalu mulailah Kefi bercerita. Dengan tenang dan meyakinkan, Kefi menuturkan kronologis ihwal perundungan yang dialaminya.
Cerita Kefi tersebut lantas disangkal keras oleh Amanda, Lisa, dan Morgan. Ketiganya mengatakan bahwa cerita Kefi tidak benar. Kemudian masing-masing dari ketiganya pun diberi kesempatan oleh Pak Beni dan Pak Joni untuk mengungkapkan cerita versi dirinya.

Dari situlah konflik terbangun. Pembaca dihadapkan pada cerita dengan versi berbeda dari Kefi dan Amanda serta kedua sahabatnya. Cerita yang manakah yang benar? Siapakah yang melakukan kebohongan di antara kedua kubu itu? Apakah keempatnya sama-sama berbohong?

Konflik tersebut benar-benar mengikat pembaca untuk terus mengikuti cerita ini. Selalu ada bagian yang membuat penasaran dari beragam versi cerita yang dituturkan Kefi, Amanda, Lisa, dan Morgan. Kerumitan mengurai kasus ini membuat Pak Beni dan Pak Joni berusaha keras menganalisis dengan takaran yang seimbang. Sebagai kepala sekolah dan guru BK, keduanya tidak mau gegabah mengambil keputusan. Pak Joni yang seorang sarjana psikologi, menengarai bahwa ini adalah kasus kebohongan patologis atau mitomania.

Selengkapnya review ini ada di : https://perpustakaan-linda.blogspot.c...
(ditunggu yaa menjejak di blog saya.. :D )
Profile Image for Sari Widiarti.
68 reviews3 followers
March 28, 2021
Buku psikologi yang membuat para pembacanya sebagai detektif, siapakah pelaku perundungan sebenarnya, dan siapa yang berbohong?

Tokoh Pak Beni dan Pak Joni, seperti berkaca pada diri sendiri, dengan seksama melihat dan menilai setiap sudut pandang yang diutarakan oleh Kefi, Amanda, Lisa dan Morgan, mencari bukti-bukti untuk menyelesaikan suatu kasus perundungan.




https://www.sariwidiarti.com/2021/03/...
Profile Image for Bening Pertiwi.
Author 2 books2 followers
September 24, 2021
Kefiandra (Kefi) merasa kalau selama ini ia mendapatkan perundungan dari teman-temannya. Oleh karena itu, dia melaporkan hal ini pada Guru BK (Pak Joni) dan Kepala Sekolah (Pak Beni). Nama Lisa, Amanda, dan Morgan pun meluncur dari mulut Kefi sebagai pelaku perundungan yang dialaminya. Kefi hanya mau menceritakan detail perundungan yang dialaminya jika Lisa, Amanda, dan Morgan juga dihadirkan di sana. Bagaimana cerita berikutnya? Dan sudut pandang siapa yang mengungkap kebenarannya?

Judul di sampulnya, Mitomania, saja sudah menarik perhatian. Bahkan kalau boleh jujur, ini pertama kalinya saya tahu kata itu. Dan saat mencoba mencari artinya di kamus, cukup terkejut dengan penjelasan di sana. Hmmm ... sepertinya buku ini akan menarik.

Ulasan lengkap cek blog ya https://www.beningpertiwi.com/2021/05...
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.