Buku kecil dari seri penguin green ideas.
“it’s this attitude toward the earth, that has unlimited capacity, and the valuing of resources for what they can buy, not what they do, that has created so many of the deep ecological wounds visible across the world”
Berisi tiga essay pendek, yang mengingatkan pembaca tentang rakusnya manusia dalam membuat luka di bumi, kekuatan pohon, dan hutan yang dulu dianggap sakral namun tidak lagi.
Di esai pertama, Maathai menceritakan pengalaman dia dalam memperjuangkan Congo Basin, kemudian tentang suku Kikuyu dalam berelasi dengan alam. Dikatakan bahwa tradisi Kikuyu yang saling membantu, menanam dan memanen seperlunya, juga hubungan dengan binatang, semuanya runtuh ketika masuk pengaruh barat juga kristen.
Tentang kekuatan pohon, Maathai mengatakan bahwa dalam sejarah, baik itu yang tertulis di Alkitab mulai perjanjian lama, sampai sejarah suku-suku, pohon itu selalu dinilai sakral. Di masa modern, manusia kemudian melihat pohon dari uang yang bisa dihasilkan dari kayu yang ditebang. Padahal, ada aspek sosial, budaya, psikologi, ekologi, bahkan ekonomi yang mengikat di sana. Terakhir, Maathau mengingatkan kembali ketika Inggris masuk dan membawa agama Kristen di Kenya serta membakar sejumlah area Sacred Groves (hutan yang dianggap memiliki nilai religius). Kejadian yang kemudian efeknya bisa banyak orang rasakan sekarang, di bumi yang semakin memanas ini.
Membicarakan mengenai bumi yang hijau saat ini, rasa-rasanya sudah seperti berbicara tentang kenangan indah di masa lampau.