Ning tak hendak menjemput kematian. Ia hanya ingin membuka misteri atas lenyapnya Bidadari Ayuni, adik kembarnya yang pergi ke Jakarta hendak menjemput rezeki. Ayuni bekerja di rumah seorang nyonya kaya demi memenuhi mimpi Ibu menatap Tanah Suci.
Mestinya memberi kabar bukan sesuatu yang sulit. Tapi detik ia pergi, seolah merajut tabir gelap yang membungkus keberadaannya. Ning Cemas. Berbekal info seadanya, ia nekat menyusul. Di tempat yang sama—rumah di mana Bidadari Ayuni pernah bekerja, Ning justru terjebak antara keinginan untuk menelusuri jejak lenyapnya sang adik dan kejahatan yang bisa mengancam jiwa.
Ning harus betul-betul mengukur keberanian. Sebab, ia tak cuma berhadapan dengan nyonya rumah, tapi dengan kekuasaan Yang Mahabesar.
Asma Nadia Education: Bogor Agricultural University (IPB, 1991) Home FAX: +622177820859 email: asma.nadia@gmail.com
Working Experiences: I was working as a CEO of Fatahillah Bina Alfikri Publications, and Lingkar Pena Publishing House, before starting AsmaNadia Publishing House (2008)
Writing residencies: in South Korea, held by Korean literature translation institute (2006) & and in Switzerland held by Le Chateau de Lavigny (2009)
Writing Workshop: - Conducting a creative writing (novel), Held by Republika News Paper, 2011 - Writing workshop instructor for (novel) participants from Brunei, Singapore, Indonesia, Malaysia, held by South East Asia Literary Council (MASTERA), July, 2011 - Conduct a writing workshop for Indonesia Migrant Workers in Hongkong (2004,2008, 2011), and for Indonesian students in Cairo, Egypt (2001, 2008), and University of Malaysia. - Giving a creative writing workshop for Indonesian’s students in Tokyo, Fukuoka, Nagoya, Kyoto (November 2009). - Giving writing workshop in Manchester; Indonesia Permanent Mission in Geneve; Indonesian Embassy in Rome, and for Indonesian students in Berlin (2009) - Held a writing workshop with Caroline Phillips, a Germany writer, in World Book Day 2008
Performance: - Performing two poems for educational dvd (Indonesian Language Center) 2011. - Public reading: (poem) in welcoming Palestine’s writers in Seoul, 2006; - Public reading short story in Geneve 2009, Performing monologue in Mizan Publishing Anniversary 2008, Ode Kampung Gathering in Rumah Dunia, etc.
Awards and honors: 1. Istana Kedua (The Second Palace), the best Islamic Indonesia novel, 2008 2. Derai Sunyi (Silent Tear, a novel), won a prize from MASTERA (South East Asia Literary Council), as the best participant in 10 years MASTERA, 2005. 3. PREH (A Waiting), play writing published by The Jakarta Art Council, honored as the best script in Indonesian’s Women Playwrights 2005 4. Mizan Award for the best fiction writer in 20 Years Mizan (one of Indonesian’s biggest publishers) 5. Asma Nadia profile was put as one of the 100 distinguished women publishers, writers and researchers in Indonesia, compiled by well-known literary critic Korrie Layun Rampan, 2001. 7. Rembulan di Mata Ibu (The Moon in the Mother’s Eye, short stories collection), won the Adikarya IKAPI (The Indonesian Book Publishers Association) Award, 2001 9. Dialog Dua Layar (Two Screen’s Dialogue, a short story collection), won the Adikarya IKAPI (The Indonesian Book Publishers Association) Award, 2002 10. 101 Dating, a novel, won the Adikarya IKAPI Award, 2005 11. The most influential writer 2010, awarded by Republika News Paper 14. BISA Award for helping Indonesia Migrants Workers who wants to be writers (held by Be Indonesia Smart and Active Hongkong) 15. Super Woman MAG Award 2010 16. One of ten most mompreneurship 2010, by Parents Guide Magazine
Summary of translations of work into other languages: 1. Abang Apa Salahku (published by PTS Millennia SDN.BHD 2009) 2. Di dunia ada surga (published by PTS Millennia SDN.BHD 2009) 3. Anggun (published by PTS Millennia SDN.BHD 2010) 4. Cinta di hujung sejadah (published by PTS Millennia SDN.BHD 2011) 5. Ammanige Haj Bayake (Emak Longs to Take The hajj), NAVAKARNATAKA PUBLICATIONS PVT. LTD, 2010 (in south indian language/Kannada)
Judul: Bidadari berbisik Penulis: @asmanadia Penerbit: @bukurepublika Dimensi: vii+301 hlm, 13.5 x 20.5 cm, cetakan II November 2020 ISBN: 9786237458494
Ning, saudara #kembar #Bidadari Ayuni menguatkan tekad mencaritahu kabar adiknya yang merantau ke Jakarta demi membahagiakan ibunya. Setelah kehilangan semua yang dicintainya, ia tak lagi takut kehilangan apa pun. Namun ternyata #misteri hilangnya Ayuni berbuntut pada kepolisian. Ia dipertemukan dengan Komisaris Polisi Iman Arif yang mencurigai adanya ketidakwajaran di balik kematian Ayuni. Akankah mereka menemukan siapa pelaku sebenarnya, di saat bukti kalah oleh kesaksian nyonya rumah dan empat asisten rumah tangganya?
#Novel asma yang tidak biasa. Mungkin mirip dengan pesantren impian. Tapi ditulis dengan lebih apik, sebab pengendapan ide selama 20 tahun. Meski tetap saja ada lubang menurut saya. Seperti siapa yang menyembunyikan buku catatan dan HP Ayuni? Psikologisnya, harusnya sudah tidak ada jejak, biasanya dibakar atau dibuang saja. Lalu, bagaimana bisa/terlalu kebetulan Ning bisa bertemu Mak Iin, meski ada alamat surat. Sebab Nyonya saja mencari Mak Iin tidak ketemu.
Meski endingnya tetap happy, walau tidak dijelaskan ada kisah romansa antara Ning dan Iman, tapi pembaca dibuat menduga adanya pernikahan hehe.
Saya apresiasi 4,5 dari 5 bintang.
"Setiap yang melahirkan pasti mengerti, saat Allah menumbuhkan benih jabang bayi dalam perut perempuan, yang berdenyut, hidup, dan tumbuh. Sejak itu pula, ruh sang ibu telah terbagi dalam jiwa-jiwa yang dilahirkan. Menyebar dan berpadu dengan nyawa anak-anaknya. Maka, tak usah heran betapa ia merasa sebagian dirinya mati saat anaknya yang tertua diambil Gusti Allah." (H.10)
"Ia tahu, tak baik memburu-buru Tuhan. Ada miliaran makhlukNya yang meminta, bukan cuma ia seorang." (H.12)
Memandangkan buku ini diolah dari kisah sebenar, satu kata saya lontarkan kepada Nyonya Lili ; betapa binatangnya sikap mu!
Sedih, geram. Dan lebih sedih apabila mengetahui bagaimana Ayuni meninggal. Ah betapa kejam nya manusia.
Saya dari Malaysia, dan buku ini agak sederhana sukar difahami beberapa ayatnya, mungkin kerana turut dimasukkan dialog dialog dalam bahasa jawa, namun terima kasih atas usaha nota kaki yang menterjemahkan ayat ayat ini sangat membantu.
Endingnya berakhir agak cepat, semacam saya perlukan penjelasan atas beberapa hal.
Nggak nyangka kalau kisah Bidadari berakhir seperti ini. Suka dengan cara penulis merangkai kisah satu ke kisah lainnya dengan begitu apik. Dugaan-dugaan yang kurangkai sendiri, ternyata salah, gak ketebak euy alur ceritanya. Baru cek lagi di pengantar penulisnya, sebenarnya kisah ini terinspirasi dari peristiwa nyata di Surabaya. Bisa-bisanya jadi sering buatku nangis pas baca kisah ini 😭
Bagiku, Bidadari Berbisik tidak se-poetic karya-karya Asma Nadia yang lain, yang ini lebih ringan, sat-set, pacingnya juga cepat, tapi tetap mampu menyeret pembaca memasuki ketegangan, kepiluan, getir yang dihadapi Ayuni melalui narasi indah, penuh ketegaran, dan keyakinan pada Allah Ta'ala.
"Dan selamanya bidadari tidak mungkin menjelma setan."
Menceritakan Ning yang ingin membuka misteri atas lenyapnya Bidadari Ayuni, adik kembarannya yang pergi ke Jakarta hendak bekerja. Ayuni bekerja di rumah seorang nyonya kaya demi memenuhi mimpi Ibu menatap Tanah Suci. Sekian lama Ayuni tidak memberi kabar. Ning cemas, berbekal rindu saudarnya, ia nekat menyusul.
Di tempat yang sama, rumah di mana adik kembarnya pernah bekerja, Ning justru terjebak antara keinginan untuk menelusuri jejak lenyapnya sang adik dan kengerian yang bisa mengancam jiwanya.
Kelebihan Buku: -Bahasa yang ringan memudahkan pembaca untuk memahami cerita. -Tema yang dirangkai tentang keluarga bercampur misteri membuat pembaca penasaran.
Kekurangan Buku: -Endingnya terbilang agak cepat, seolah memerlukan penjelasan atas beberapa hal.
Pesan yang Dipelajari: -Tanggung jawab tidak mengenal batas. -Saling membantu satu sama lain meski menghadapi tantangan mustahil. -Keberanian untuk menjadi berbeda. -Kerusakan yang manusia timbulkan pada alam sangat merugikan makhluk lain (hewan dan tumbuhan).
Aku kasih 🌟5/5. Sangat direkomendasikan bagi siapa pun yang ingin menemukan kehangatan dalam cerita sederhana namun penuh filoso
awal ceritanya cukup bagus sih, tapi aku ngerasa ending-nya kayak diburu-buru banget... kurang puas juga sama penyelesaiannya, i expect more from asma nadia tbh... but still it was such a decent book, i think 3 stars is enough.