Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dari Toko Buku ke Toko Buku

Rate this book
“Aku menutup buku dengan sekelebat rasa haru. Di satu belahan dunia, ada orang-orang yang begitu membaktikan dirinya pada buku dan literatur, menjadikannya bagian terpenting hidup mereka dengan alasan sesederhana “buku adalah jendela dunia”. Sementara itu, di belahan dunia lainnya, ada orang-orang yang selalu menatap buku penuh curiga dengan alasan sesederhana “apakah buku ini boleh dibaca atau tidak”. Mungkin akan selalu begitu selamanya.”

Muthia Esfand, editor, pelancong, penulis, dan tentunya pencinta buku kelas berat membagikan kisah perjalanannya dari satu toko buku ke toko buku lainnya di beraneka negara di benua biru, Eropa. Mulai dari hingar bingar toko buku hits di Shakespeare and Company, Paris; merambah ke sisa-sisa Perang Dunia dan kehidupan toko bukunya di Jerman; menelusuri keheningan pekat memabukkan di kastil Bran, Rumania yang legendaris; dan lanjut ke beraneka negara-negara asing yang biasanya hanya kita kenal lewat peta dunia.

Pengalaman menjelajah, bertemu para penulis-pembaca-penggiat literasi Eropa, mengait keping-keping kenangan dan pengetahuan, lantas melarut dalam satu karya utuh berisi kumpulan catatan singkat pengalaman melongok kehidupan toko buku di tanah lain. Kita akan diajak mengecap semangat pecinta buku yang tak asing meskipun terpisah samudera melalui mata dan hati seorang editor yang telah lama berkecimpung di dunia buku tanah air. “Dan buku pun hadir menerangi perjalanmu.”

518 pages, Hardcover

Published February 1, 2021

13 people are currently reading
241 people want to read

About the author

Muthia Esfand

14 books14 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
22 (29%)
4 stars
46 (61%)
3 stars
7 (9%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 30 reviews
Profile Image for Ren Puspita.
1,477 reviews1,016 followers
February 29, 2024
Easy 5 stars from me

Sebelum gue mulai ngoceh, eh ngereview, cuma mau bilang walau gue kenal personal dengan penulisnya dan sering main ke toko bukunya di area Depok (karena deket juga sama rumah gue, hehe) plus juga kenal editornya karena sering berbalas pantun di WAG, bintang lima ini murni dari hati terdalam gue tanpa harus merasa ga enak sama keduanya wkwkwk. Gue emang suka baca buku - buku traveling walau mungkin hanya baca bukunya Trinity yang setelah gue baca bukunya Mba Muthia ini, terasa banget ngepop gayanya Trinity. Berasa makan snack, enak buat camilan, light, tapi ya udah gitu aja. Baca buku ini gue merasakan main course yang beragam karena gue diajak jalan - jalan ke toko buku di belahan Eropa, walau lebih banyak fokusnya ke daerah Eropa Timur, Inggris dan Jerman (plus beberapa negara lain).

Ga cuma bahas toko buku, walau judulnya ada "toko buku", Dari Toko Buku ke Toko Buku atau disingkat DTBkTB ini lebih terasa seperti catatan yang sangat personal. Ditulis dari sudut pandang Mba Muthia yang memang sudah makan asam garam dunia penerbitan dan toko buku di Indonesia, jadi gue merasakan keintiman yang berbeda jika dibandingkan buku Trinity. Gue mungkin ga fair ngebandingin keduanya, mengingat gue juga ga banyak baca buku2 catatan perjalanan orang. Tapi gue bisa bilang, baca buku ini emang seperti membaca catatan harian seseorang tapi juga seakan diajak ikut berdiskusi. Ga semua pendapat Mba Muthia di buku ini gue setuju kok, wkwkw, tapi disitulah daya tariknya.

Gue bahkan bisa melihat sedikit perbedaan gaya tulis dari beberapa bab, karena ada bab yang ditulis tahun 2017 dan tahun 2020. Mungkin hanya perasaan gue, di 2017 terasa seperti campuran perasaan yang lelah, kadang sinis, kadang menggebu - gebu, dan kadang sendu. Sementara di 2020 gue merasa kayaknya udah lebih kalem, hehe. Gue saat baca buku ini emang seperti bayangin Mba Muthia bercerita ke gue langsung dengan gayanya yang khas. BAHKAN, gue kadang ngerasa ini kayaknya ada pengaruhnya Onie deh (si editor), karena kok kayak berasa baca Onie ngomong ya XD. Jadi, bisa dibilang sungguh pengalaman membaca yang intim. Membuat gue juga agak enggan baca cepat - cepat karena ingin menikmati cerita di dalamnya, tapi juga penasaran untuk membalik halamannya satu persatu.

Untungnya, gue dulu pesan yang format Hardcover, jadi foto - foto di dalamnya berwarna! Asyik sekali bisa melihat foto dalam buku, karena walau gue hanya duduk terdiam di kursi saat baca buku ini, gue juga seakan dibawa melanglang buana menyusuri beberapa toko buku, bahkan ada foto yang berisi pemilik toko bukunya! Karena Mba Muthia emang fans fantasy, thriller, buku bertema perempuan dan juga puisi, maka toko bukunya beberapa yang didatangi ya yang ada buku - buku tersebut, walau gue juga kadang mikir "judul - judul romance apa yang laku di negara itu ya? Apa seleranya sama kayak pembaca Amrik atau malah sebaliknya?". Hal yang membuat gue terhenyak, karena kayak sesuatu yang rasanya masih JAUH di masa depan untuk memimpikan sebuah toko buku yang tematik karena toko buku di Indonesia masih mayoritas dari jaringan toko besar. Indonesia bahkan kalah dari Faroe untuk masalah biaya distribusi buku. Bagian tentang Rumania mengingatkan gue saat Mba Muthia cerita kalau dia pernah ke kastil Bran abis baca The Historia, buku tebal yang bikin gue ngantuk itu (wk!). Bagian tentang Dresden cukup lucu, karena gue jadi inget bahasan kami dulu soal buku - buku Karl May. Bagian Frankfurt dan Leipzig sangat informatif dan full of insight untuk kamu yang mungkin penasaran sama gimana proses di balik industri buku. Bagian dari negara lain tentunya juga menarik dan ga mungkin gue bahas semua juga kan, nanti malah jadi ga seru.

Kekurangan buku ini mungkin di typo yang bejibun, dan kebetulan punya gue ini beberapa halamannya kebalik :'). Masalah kebaliknya sih, ya udah lah gue terima aja. Ini masih mending kebalik daripada halamannya hilang kan. Selain itu, beberapa gaya penceritaan Mba Muthia masih bisa diterima karena gue sendiri aslinya juga nyindiran, tapi bisa jadi yang lain ga bisa nerima, hahaha. Jadi ya kembali ke preferensi kamu juga, karena beberapa hal bisa banget buat jadi diskusi lebih menyeluruh.

Baca DTBkTB sedikit banyak mengingatkan gue sama salah satu mimpi anak- anak BBI dulu mau bikin buku tentang Literatourism, gabungan literasi dan jalan - jalan. Sayangnya impian itu akhirnya kandas, layu sebelum berkembang. Tapi gue seneng karena Mba Muthia justru memilih menuliskannya dan menerbitkan dalam buku. Membagi pengalaman, insightnya yang sangat banyak dan mungkin rasa resah hatinya terkait industri buku atau malah hal yang lebih personal, kepada orang asing aka calon pembacanya itu sungguh keberanian yang luar biasa.

Ditunggu buku jilid dua DTBkTBnya ya! ^_^

Hidup kan memang sekumpulan itinerari perjalanan dan daftar destinasi impian. Tak ada yang perlu dicemaskan dari hari esok yang akan menjelang. Selama otak masih terus berputar dan hati masih terus hangat, semua akan baik - baik saja.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
April 27, 2022
Kisah yang dituliskan oleh Muthia Esfand melalui buku ini akan membawa pembaca berkeliling dunia mengunjungi toko buku-toko buku. Rasanya seperti ikut berkelana.

Terima kasih, Santa, yang sudah menghadiahkan buku ini kepada saya
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
May 28, 2024
Ternyata memang harus fokus untuk bisa menikmati buku ini. Setelah mogok di halaman 150 dan terhenti baca selama dua bulan, saya memutuskan membaca lagi lembar-lembar hangat ini. Fokus menemani perjalanan pengarang menjelajahi tidak hanya toko buku-toko buku di Eropa, tetapi juga perjalanan pribadinya menemui jiwa-jiwa pecinta aksara dan lembaran cetak di seantero benua Biru. Sungguh luar biasa betapa kesamaan minat bisa menghilangkan sekat perbedaan bahasa, etnis, agama, pandangan, politik, dan ras. Perjalanan Muthia Esfand di buku ini semakin menunjukkan betapa jauh di dalam kita, semua manusia sejatinya satu.

Eropa selalu dikaitkan dengan bangunan - bangunan kuno terjaga, pemandangan pegunungan Alpen yang memesona, menara dan bangunan peninggalan Romawi, serta tingginya intelektual warganya. Berwisata ke Eropa tentu tidak jauh jauh dari Menara Eiffel, pegunungan Swiss, Coloseum Roma, jam Big Ben, atau stadion - stadion megah sepak bola. Tetapi beda dengan pecinta buku, pilihannya tidak lain tidak bukan tentunya mengunjungi toko buku.

Dengan tujuan inilah perjalanan panjang dilakukan, sepenggal kisah dari tahun 2017 lalu dilanjutkan pada masa awal pandemi tahun 2020. Beberapa negara Eropa terkenal seperti Inggris , Prancis, Jerman, juga Belanda tentu masuk hitungan. Tetapi yang lebih istimewa, Muthia juga membawa kita ke sudut sudut Eropa yang mungkin masih terdengar asing seperti Slovenia, Ceko, hingga pojok kecil di pinggiran tebing Italia. Tempat - tempat yang jarang terbayang tetapi ada, dan mbak Muthia membawanya ke depan kita dengan gaya personal khas orang buku slash traveler slash fandoms members.

Apa yang menarik di dalamnya? Tentu saja toko buku! Saya mungkin tidak akan membaca buku ini kalo isinya hanya perjalanan wisata ke Eropa. Saya hanya ingin membaca tentang toko toko buku di sana! Tapi penulisnya memang agak laen (dalam artian positif). Judulnya toko buku, tapi di dalamnya juga ada wisata sejarah, jadi relawan di pegunungan Slovenia, resep bikin nasi campur keju dan rempah yang bikin ngiler, sampai sejarah singkat tentang Jerman Barat dan Jerman Timur. Saya yang tadinya hanya mau kisah tentang buku dan toko buku, akhirnya malah turut larut menikmati kisah manusia manusia di balik peristiwa besar pasca runtuhnya komunis. Buku ini memberikan porsi cukup besar pada kawasan Eropa Timur, yang bikin bukunya semakin menarik karena serasa membaca banyak hal yang sebelumnya belum pernah saya baca.

Bagaimana dengan buku dan toko buku? Tentu saja berlimpah ruah. Teknik menyisipkan cerita reportase di antara puluhan kisah tentang mengunjungi toko toko buku di Eropa ini unik, bikin pembaca nggak bosan. Seperti yang ditulis penulis di penghujung buku ini, bahwa kita juga akan lelah setelah seharian berkutat dengan hal yang kita sukai. Untuk itulah ada selingan berupa makanan, kisah manusia, sejarah, dan juga kucing di buku ini. Hampir semua toko buku besar Eropa diulas di sini, dan beliau tidak mengulasnya secara kaku atau standar ala ala membaca brosur, tapi lewat pengamatan subjektif yang disusul dengan wawancara bersama pemiliknya--walau tidak semua.

Salah satunya adalah pembahasan mengenai Frankfurt Book Fair nan legendaris itu. Betapa masuk ke sana pastinya menjadi impian para pekerja buku. Juga kisah agak lucu tentang peserta sesi tanda tangan Nicholas Spark yang kalah jauh peminatnya bila dibandingkan dengan sesi tanda tangan Cassandra Clare! Banyak yang hadir hanya untuk menunggu sesi CC. Mbak Muthia ( dan Ulin, woyy Ulin gimana kabarnya kamu woy.... Lama ga kabar kabar huhuhu) benar - benar mampu mengambarkan bagaimana senangnya seorang fan ketemu pengarang idolanya.

Selain buku dan toko buku, saya juga senang dengan aneka celetukan bergizi tinggi yang bertebaran di buku ini. Berasa lagi baca novel, karena beberapa kali beliau menyelipkan satu dua tiga patah jalinan cerita bak novel. Terasa begitu subjektif tapi juga personal, hangat tapi juga sendu, meledak ledak seperti gejolak pemudi tapi juga kalem bak mas/mbak kantoran pertengahan tigapuluhan.  Tapi ada beberapa yang menurut saya agak terlalu personal, Mbak! Tapi ... it is fain!

Saya cocok sekali dengan banyak uraian dan curhatannya soal industri perbukuan di Indonesia. Bekerja di bidang yang sama selama bertahun-tahun hingga akhirnya sadar betapa idealisme pada akhirnya harus mengalah juga walau wajib hukumnya tetap merawat mimpi-mimpi ideal kita. Mbak Muthia sudah menunjukkannya, lewat buku ini dan juga lewat toko buku kecil namun menyenangkan tempat dia berkarya dan menjatuhkan lelah untuk bertetirah sejenak dari konsumenisme dunia.

Mimpi ternyata harus dijaga, karena kita tidak pernah tahu kapan itu menjadi nyata. Kadang tidak sebesar yang dibayangkan, tetapi mungkin juga lebih indah dari yang kita harapkan. Terima kasih sudah menulis buku ini. Terima kasih juga untuk Melisa, sang Santa Rahasia, yang memilihkan buku ini sebagai hadiah di penutup 2023.
Profile Image for Annissa Larasati.
91 reviews5 followers
May 20, 2021
“Toko buku harusnya hangat, nyaman, dan bersahabat. Ia bukan sekedar tempat orang membeli gengsi dan gaya hidup, ia tempat orang membeli jendela-jendela baru bagi keluasan wawasan dan pengetahuannya. Ia tempat orang mencari pebguat dan penghibur ketika hidup di luar sana terasa sewenang-wenang baginya.”
(h. 459)

Kapan terakhir kali membaca buku yang membuat jiwamu terasa terserap dan melayang lewat imajinasi? Buat saya, rasanya sudah lama sekali. Beberapa tahun belakangan genre yang saya baca tak jauh dari parenting ataupun referensi agama. Maka, keputusan memilih buku ini untuk menemani masa-masa libur lebaran kali ini, tak saya sesali. Membuat pikiran saya melayang ratusan mil jaraknya. Menghidupkan kembali impian kala muda, berkelana melihat dunia, yang tergerus seiring bertambahnya peran demi peran. Memperkuat cita-cita baru untuk suatu masa kelak.

Tak sengaja melihatnya pertama kali di linimasa salah satu aplikasi tentang buku, ia langsung masuk daftar wishlist seketika. Hanya karena melihat judulnya. Siapa pecinta buku yang tak akan tergoda?

Dari Toko Buku ke Toko Buku.

Lima ratus halaman yang berhasil saya lahap dalam waktu seminggu. Bukan sebuah prestasi tersendiri tentu, tapi pikiran saya cukup terpaku kepadanya selama seminggu ini. Berharap kisah seru apa lagi yang ada di dalamnya. Tenggelam dalam jalinan cerita yang disusun seakan saya berada bersamanya.

Berisi catatan perjalanan sang penulis, yang juga seorang editor kawakan yang bercita-cita membuka toko buku sendiri. Melewati ruang dan waktu dalam rangka menggenapkan cita-citanya sebagai seorang pecinta buku. Tiga belas negara, puluhan toko buku, ratusan cerita, ribuan makna. Siapa pecinta buku yang tak ingin mengikuti jejaknya kemudian?

Profile Image for Shandy Yeo.
134 reviews4 followers
October 15, 2023
Ada dua hal yang selalu membuat saya bergairah, yaitu membaca buku dan melancong. Karena itu, setiap bepergian ke luar kota atau negara lain, setiap bertemu dengan toko buku atau tempat perbukuan, saya akan menyempatkan diri untuk singgah sebentar. Pikiran untuk berkelana ke berbagai negara dan sengaja mengunjungi tempat perbukuan pun timbul. Tampaknya bukan hanya saya yang cukup gila berpikir untuk melakukan itu, karena nyatanya, sudah ada yang melakukannya. Dari Toko Buku ke Toko Buku inilah buah dari cinta dan tekad yang terdalam dari seorang pelancong sekaligus penggemar buku.

Setiap kalimat dalam buku ini terasa begitu intim sampai-sampai saya seperti ikut menjalani setiap momennya. Eropa tampaknya benar-benar punya posisi yang penting di hati penulis, karena selain menjadikan Eropa sebagai sentral perjalanan di buku pertama, gaya tulisnya pun punya percikan magis ala benua itu. Berhubung saya membaca versi hardcover dan fullcolor, buku ini menjadi semakin menarik karena menyuguhkan kenikmatan visual yang tidak dapat disangkal. Sayangnya, buku ini harus berakhir dan kelanjutan kisah di benua lain masih ditulis. Ah, semoga buku kedua cepat-cepat selesai!

Toko buku harusnya hangat, nyaman, dan bersahabat. Ia bukan sekadar tempat orang membeli gengsi dan gaya hidup, ia tempat orang membeli jendela-jendela baru bagi keluasan wawasan dan pengetahuannya. — halaman 459
Profile Image for The Eod.
135 reviews6 followers
April 20, 2025
Sebuah kisah pengelana buku menjelajah dunia. Buku ini menceritakan proses perjalanan Kak Mut ke belahan Eropa, tujuannya tidak lain tidak bukan adalah ingin tahu bagaimana toko buku dan proses di baliknya.

Semua kisahnya dituturkan dengan pov 1, di mana aku berasa mengikuti perjalanannya. Apalagi dengan sisipan foto, sampai kertasnya aja beda lho teksturnya. Favoritku tentu saja yang Inggris, Belanda, sama Paris. Jujur aku (sedikit) iri pas Mbak Mut cerita tentang Shakespeare and Co hehe. Oh ya, tidak hanya sajian buku yang diceritakan, tetapi ada sejarahnya, dan itu menambah informasi. Plus ada curcol tentang industri buku di Indonesia yang SUNGGUH BENAR HIHI. Bagian Frankfurt bookfair juga favoritku, bacanya benar-benar bikin nangis terharu sekaligus seneng betapa buku benar-benar diapresiasi habis-habisan di situ. Satu lagi, gara-gara buku ini aku jadi buka akun Couchsurfing, makasih Mbak Mut hehe.

Oh ya, pas baca buku ini semakin ke belakang semakin seru. Seneng juga Mbak Mut bahas tentang travellingnya ke Eropa Timur. Berasa tegangnya pas ditagih paspor waktu nyampek perbatasan. Ril, ini bahkan jarang dibahas sama beberapa traveller Indo lain. Bagaimana kehidupannya, industri bukunya, sampai teman-teman Mbak Mut yang baik dan pengertian.

Btw toko bukunya aja sampai aku tandai di google maps. Sambil berdoa semoga aku bisa dapat kesempatan ke sana di waktu yang tepat.
Profile Image for melmarian.
400 reviews134 followers
June 9, 2021
Kehadiran buku ini sungguh merupakan penghibur di tengah-tengah pandemi yang bikin tidak bisa pergi jauh. Badan boleh terperangkap #dirumahaja tapi jiwa sungguh puas diajak jalan-jalan dan bertualang ke berbagai toko buku dan lokasi bookish lainnya di seantero Eropa melalui buku ini. Thanks for the ride, Mbak Muthia!

Sedikit catatan mengenai fisik buku: aku PO buku ini melalui IG @/pilihbuku, hardcover dan full color. Setelahnya baru tahu kalo dalam edisi paperbacknya foto-foto dicetak hitam putih. Lebih puas liat foto-foto full color, beneran deh. Sebenernya aku gak terlalu suka baca HC, apalagi yang ini tipenya tidak floppy. Lalu untuk buku HC yang cukup tebal seperti ini menurutku sebaiknya dilengkapi pembatas buku berbentuk pita.
Profile Image for lakinyaminami.
93 reviews3 followers
May 15, 2022
semakin menguatkan cita2 buat studi ke luar sambil mengunjungi toko2 buku di eropa
Profile Image for Bidasari.
305 reviews
February 3, 2025
Buku yang membuatkan den masuk ke dalam cerita penulis saat pengembaraannya menjejaki toko-toko buku tersohor, toko-toko buku yang tidak dimasukkan dalam senarai untuk disinggah tetapi menawan hati, sesi perbincangan ilmiah dengan pemilik toko-toko buku, tuan-tuan rumah peminat buku tentang sejarah literasi dan took buku, buku yang patut dibaca, penerbitan buku, kedai buku fizikal vs digital, atas talian, kisah minum teh di pelbagai toko buku, perkongsian curhat tentang buku, kisah hidup, dsb.

Pengembaraannya mencari bahagia di toko-toko buku merentasi pelbagai negara - Inggris Raya, Belanda, Perancis, Sepanyol, Italian, Slovenia, Bulgaria, Romania, Austria, Ceko, Poland, Yunani dan Jerman sememangnya membuatkan pembaca bersama-sama menelusuri jalan-jalan bersejarah mencari toko buku, terkesima dan terpesona melihat begitu banyak buku dalam pelbagai genre, ruang membaca atau reading nook yang sangat cozy dan welcoming, kesal kerana ongkosnya tidak begitu meriah untuk membeli buku-buku yang berkenan di hati, menyeret kaki keluar dari toko-toko dengan harapan ada rezeki kembali ke situ satu hari nanti, dsb.

Membaca buku ini berakhir dengan senarai:

📚toko-toko buku yang berangan untuk dilawati di pelbagai negara sedangkan semua negara yang penulis lawati pun tidak tahu entah bila bisa dijejaki😂;

📚buku-buku yang terpaksa dimasukkan ke dalam senarai TBR sebab macam terlalu awesome untuk tidak dibaca;

☕🫖🥩🥞aneka makanan yang bisa menyebabkan air liur menjejeh lagi-lagi bila buku ini dibaca bila lapar; dan

🌃🛤️tempat-tempat menarik yang harus dimasukkan dalam angan-angan untuk dilawati.

Buku yang pernah menjadi buah mulut ramai pembaca apabila diterbitkan ini sememangnya perlu dibaca oleh peminat buku.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Rahmadiyanti.
Author 15 books173 followers
February 24, 2021
Saya sungguh terkoneksi dengan buku ini. Toko buku, perjalanan, pencinta buku, dan terselip juga kisah-kisah tentang dunia penerbitan buku. Gue banget! (Meski yang terakhir saya sudah tidak mengalami setahun belakangan :D). Bahkan saya sempat bercita-cita ingin menulis buku seperti ini, keduluan deh, haha. Tapi... toko-toko buku yang dikunjungi penulis memang jauh lebih banyak ;). Meski begitu, saya tetap akan menuliskannya. Setiap pejalan dan pencinta buku tentu punya kisah dan sudut pandang masing-masing, kan...?

***

Saat menerima buku ini saya surprised juga. Tak menyangka bukunya akan setebal ini (516 halaman). Tadinya saya pikir hanya setengah itu; kisah-kisah singkat mengunjungi toko-toko buku dan kesan tentang toko buku, seperti buku yang pernah saya baca, Footnotes from the World's Greatest Bookstores: True Tales and Lost Moments from Book Buyers, Booksellers, and Book Lovers karya Bob Eckstein. Ternyata isi buku ini lebih pekat. Sebab dilengkapi dengan perjalanan menuju toko-toko buku tersebut, cerita dari pengelola buku, pertemuan dengan sosok-sosok pencinta buku, serta kisah tentang manusia-manusia dan tempat yang dijejaki penulis terkait toko-toko buku.

Menarik dan hangat.
*lanjut nanti ya reviewnya, heuheu...
Profile Image for Marina.
2,041 reviews359 followers
March 23, 2022
** Books 21 - 2022 **

Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2022

4 dari 5 bintang!


Sebenarnya sudah lumayan lama hampir setahun buku ini mengendap di koleksi timbunanku. Ketika ramai ada aplikasi buku berlangganan yang baru meluncur di Indonesia dengan nama Storytel terdapat buku ini dalam versi audiobook tanpa ragu aku mencoba mendengarkan buku ini.

Aku menyukai kisah petualangan Mbak Muthia pergi menjelajahi toko buku di setiap negara di eropa dengan cerita sentimentil di masing-masingnya.. Aku jadi berhasil mendapatkan perspektif baru bahwa banyak konsep-konsep toko buku yang sebelumnya aku belum ketahui. Ada yang toko buku hanya bisa mengambil buku dalam seminggu berapa banyak.. ada juga yang menjual hanya buku-buku tentang emansipasi wanita dan lainnya. Aku senang mbak Muthia menyelipkan kisah-kisah lucu dan sedih didalam perjalanannya.. Aku rekomendasiin banget buku ini untuk dibaca teman-teman yang rindu ingin pergi ke toko buku tapi terhalang oleh pandemi kala ini.

Terima kasih banyak ya mbak Muthia udah membagikan kisah pengalamannya yang dituangkan didalam buku ini :')
Profile Image for Fitri.
204 reviews
July 2, 2024
Buku ini adalah catatan perjalanan penulis keliling Eropa dengan misi pribadi untuk mengunjungi toko buku-toko buku yang tersebar di negara yang dikunjunginya. Ceritanya terasa lebih menyentuh karena penulis bekerja di dunia penerbitan dan suka membaca. Senang sekali membaca pengalamannya, tidak hanya berkunjung ke toko buku indie dan berbicara dengan pemiliknya, tapi juga ngobrol dengan pelaku industrinya. Deksripsi toko-tokonya juga bikin pengen mampir! Mungkin terasa lebih magis karena yang menulis beneran passionate sama buku dan industrinya, ya.

Ada juga sedikit selipan cerita sejarah baik tentang toko bukunya maupun tentang negaranya. Juga tentang minat baca anak muda di Eropa dan tantangan amazon yang mereka hadapi bersama. Kalau sebelumnya aku membaca fiksi tentang bagaimana pemilik toko buku berusaha menghidupkan toko bukunya, dalam buku ini pengalamannya nyata ✨️

Buku yang hangat dan manis. Cerita perjalanannya juga seru dan menarik (tentu bikin pengen jalan-jalan 😂). Jadi ingin baca buku semacam ini lagi!
Profile Image for Yolanda Dipoyono.
104 reviews
April 28, 2023
Ini adalah salah satu buku yang ingin sekali saya baca di awal tahun 2023. Mencari buku ini agak sedikit sulit waktu itu. Sampai akhirnya saya bisa mendapatkan buku ini walau dengan harga sedikit lebih mahal.

Setelah membaca buku ini, saya sama sekali tidak menyesal membelinya. Lembar demi lembar mengajak saya ikut merasakan petualangan menjelajahi toko buku bersama Muthia Esfand. Tata bahasanya juga sangat santai dan terkadang lucu karena penulis menyelipkan kata-kata humor yang meski receh, tapi lucu.

Belum lagi gambar-gambar full color di buku ini yang membuat saya jadi ingin benar-benar pergi ke tempat-tempat tersebut. Travelling dan toko buku, dua kombinasi pas yang sukses membuat saya iri pada penulis. This book is not only worth to read, but worth to buy! Because you must have this book if you are bookshop lover or only book lover...
Profile Image for Truly.
2,763 reviews12 followers
April 29, 2021
... tetap akan ada orang-orang yang lebih suka datang ke toko buku karena mencari suasana yang hanya bisa mereka dapatkan ketika berada di tengah kepungan rak-rak buku dengan aroma khasnya. Melihat sendiri pilihan-pilihan buku dengan mata kepala mereka langsung, sembari merasakan lewat sentuhan jemari, lalu senyum yang terbit mantap sesudahnya setelah yakin dengan buku mana yang akan dipinang menjadi miliknya....

~Dari Toko Buku ke Toko Buku, hal 452~

Selain kedekatan sesama penggila buku, beberapa tokoh yang disebutkan dalam buku ini juga memiliki peran pada kiprah saya di dunia buku.

https://trulyrudiono.blogspot.com/202...
Profile Image for yossi.
48 reviews2 followers
March 12, 2022
membaca buku ini membuat saya ingin menaruh semua pekerjaan dan pergi mengelilingi dunia, mengeksplorasi toko buku-toko buku di luar sana.

yang saya suka dari buku ini adalah deskripsinya yang membuat saya merasa seperti berada di tempat yang sama dengan penulis, padahal yang saya lakukan hanyalah berbaring di atas kasur sembari mendengarkan versi audiobook dari buku ini.

dari buku ini juga, saya belajar banyak cerita dari dunia perbukuan, mulai dari penerbitan hingga cerita bagaimana toko buku berdiri kokoh. saya juga jadi merasakan semangat penggiat literasi di luar sana.
Profile Image for Khansaa.
171 reviews214 followers
February 28, 2021
Muthia memberikanku inspirasi untuk berkeliling toko buku di seluruh dunia! Seru banget ngikutin perjalanan dia ke berbagai toko buku dengan khasnya masing-masing. Secara keseluruhan aku cukup kenikmati buku ini, ada beberapa toko buku yang sangat berkesan dan masuk ke bucket list-ku.

Terima kasih Muthia sudah membawaku jalan-jalan di tengah karantina pandemi yang rasanya endless ini. Rasanya seperti angin segar, jadi inget lagi banyak tempat yang ingin aku kunjungi.
Profile Image for ijul (yuliyono).
814 reviews970 followers
December 8, 2022
WOW. diksinya luar biasa. dari judul: terbayang berkunjung dari aneka tokbuk. tentu saja, kunjungan itu pun menjadi kisah traveling sendiri. jadi, ini sebenarnya buku traveling.

coba baca ini via storytel. eh, dengerin ding. 14 jam. wah. cepetin 1,5x.

masih menyiapkan diri untuk beli buku fisiknya. sangat layak dikoleksi. dibaca sambil membayangkan ikut Mbak Muth keliling dunia, masuk-keluar toko buku. mantap.
Profile Image for Nowela.
117 reviews2 followers
January 17, 2022
Ini adalah buku terbaik untuk 2021 dan sepanjang hidupku. Perjalanan dibuku ini adalah mimpi yang sangat kunantikan. Pengalaman membaca di dalamnya. Seperti peti harta karun yang tersembunyi. Ini menjadikan aku mengetahui dunia literasi lebih luas, luas dan luas.

Tipe bacaan yang memiliki vibes positif.
21 reviews
April 11, 2023
dengar lewat audiobook, jadi rasanya ikut jalan-jalan dan mengunjungi toko buku di dalam cerita tersebut. Baca sambil cari-cari foto dan lokasi di internet, terus di pin. Semoga suatu hari bisa tercapai impian ke salah satunya.
Profile Image for Oni.
661 reviews11 followers
March 8, 2023
dumb editor who read the book long after it's released date...
Profile Image for Muhammad Edwin.
447 reviews16 followers
March 30, 2023
"Dan buku pun hadir menerangi perjalanmu."

Cukup seru juga mengikuti cerita penulis dalam perjalanannya dari toko buku ke toko buku.
Profile Image for Riska Purnama.
223 reviews
November 16, 2023
Dr. Seus - 'Reading can take you places you have never been before."


Terima kasih sudah membawaku berkeliling ke toko-toko buku di Eropa!
19 reviews
April 23, 2024
Menyelami berbagai gaya toko buku di negara lain, terutama benua Eropa. Dari yang namanya sudah sangat terkenal hingga toko-toko buku unik sambil menyelam lebih jauh mengenai dunia penerbitan buku.
Profile Image for Shafa.
48 reviews6 followers
May 13, 2025
Bertambah lagi alasan untuk tetap hidup: berkeliling mengunjungi toko buku di dunia seperti yang dilakukan Bu Muthia
Profile Image for Hasliza Rajab.
172 reviews8 followers
December 31, 2023
One of my wishlists is to visit bookstores and libraries all around the world. Dan apa sahaja buku yang berkaitan dengan buku, kedai buku, atau perpustakaan...I would love to read them all!

Buku ini direkomendasi oleh seorang bookstagram di ig ini dan saya sama sekali tidak pernah mengenali penulis dari tanah seberang ini. Muthia membawa pembacanya menelusuri kedai-kedai buku sekitar negara Eropah pada waktu sebelum dan semasa pandemik melanda dunia. Setiap kedia buku yang dijelajahinya digambarkan dengan suasana yang baik dan nyaman, membuatkan kita merasa ingin mengunjungi kedai buku tersebut. Sepanjang mengunjungi tempat-tempat yang menarik di sana, Muthia dibantu oleh kenalannya yang berada di negara terbabit dan ini memudahkan beliau untuk bergerak dan mencari kedai buku yang ingin dilawatinya.

Apa yang bagus tentang buku ini adalah setiap kedai buku disertakan dengan cetakan gambar berwarna, membuatkan kita dapat membayangkan setiap inci dan sudut di kedai buku tersebut.

Sangat disarankan buat anda yang sukakan buku dan kedai buku!
Profile Image for Hibooklover.
146 reviews4 followers
October 5, 2021
Judul bukunya semenarik isinya. 😍😍
Terima kasih sudah menulis buku ini Mbak Muthia.
Terima kasih sudah mengajak saya jalan-jalan lewat buku, ke berbagai toko buku di benua Eropa.
Ditunggu buku DTBKTB 2. 🤩
Selengkapnya:

https://hibooklover.wordpress.com/202...
Profile Image for Febri.
29 reviews
December 24, 2021
I once again dropped my heart upon this book as I read the title and blurb. My mind goes viral. My imagination runs wild. My heart follows the memories while visiting what the writer's destination is.

Muthia Esfand—a traveller, an editor, a writer, a book lover. She puts it all together to creates a truly epic work. It was a very rewarding experience. Creating an imagination-which as long as she read books came true. What? She visited some of the world's bookstores on the blue continent.

Great Britain, Netherlands, France, Spain, Italy, Slovenia, Bulgaria, Romania, Austria, Czech Republic, Polish, Greece, and Germany are being penetrated at different times. Just to get in and out of the local bookstore. A global conceptual from Librería Altaïr, Chicklit for women, Chihkupectví Fantasya for fantasy, then Germany and its antiquariat bookstores. Everything was completely swept by the writer, including how the owners tried to keep their bookstores in the middle of the online market and the pandemic.

Here also provides travel stories to local markets. Savour typical meals, meeting local people, waiting for a bus, visit Dracula's castle, until get Frankfurter Buchmesse. In the book, there are also some pictures documented by writer that enable them to reach the level of a reader's imagination, so they will not be bored.

What's the medicine for bibliophile when they sad? The book. If you're a book lover, put it on your reading list. You'll be taken around Europe even if it's virtually. Collect your imagination first. When things get better, make it real.
Displaying 1 - 30 of 30 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.