Mengadang Pusaran adalah novel fiksi sejarah tentang perempuan peranakan Tionghoa di Indonesia pada akhir masa penjajahan Belanda hingga awal kemerdekaan Indonesia. Perjuangan ketiga perempuan tersebut dalam mempertahankan jati diri mereka, menggambarkan betapa kuat pengaruh penjajahan Belanda berakar. Kisah mereka dapat menjelaskan sejarah kedudukan orang Tionghoa di Indonesia saat ini
Lian Gouw was born in Jakarta, Indonesia, then a Dutch colony known as the Netherlands' East Indies.
Lian's short stories and poems have appeared in Quietus Magazine, Writing for our Lives, Voices and Visions, The Highland’s Low Down and Reflections.
"Her Predicament," an earlier version of the first chapter of her novel, Only A Girl, was included in the 2006 anthology of the SF Writers Conference, Building Bridges from Writers to Readers.
In her writing, Lian explores themes of human relationships, connection with animals, and fable-like fantasy. She is particularly interested in the lives and struggles of women.
Mengadang Pusaran merupakan kisah kehidupan tiga wanita Tionghoa yang tinggal di Indonesia pada tahun 1930-1952. Ketiga wanita ini adalah Nanna, Carolien, dan Jenny.
Nanna, sosok yang paling tua dalam keluarga besar para tokoh. Nanna adalah gambaran wanita Tionghoa yang masih sangat memegang adat dan budaya. Carolien adalah tokoh yang tumbuh ketika Belanda tengah berkuasa. Dia hidup dengan budaya Belanda menjadi bagian sehari-hari. Terakhir ada Jenny. Dia mengalami masa kanak-kanak ketika Jepang berusaha menduduki wilayah Indonesia. Dia juga mengalami masa peralihan ketika Indonesia merdeka.
Ketiga tokoh utama dalam buku ini hidup dalam masa yang berbeda sehingga memiliki kepribadian dan cara berpikir yang jelas berbeda. Dan penulis berhasil meramu kisah ketiganya dengan sangat padu.
Ketika membaca uraian di belakang sampul buku, aku pikir Mengadang Pusaran akan ditulis dengan alur maju-mundur. Namun, ternyata tidak. Kisah ketiga tokoh wanita ini ditulis dengan alur maju. Irama ceritanya sendiri terbilang cepat sehingga membuat pembaca sulit untuk berhenti begitu mulai membaca. Ditambah gaya menulis yang terperinci dan terjemahan yang sangat lugas, novel fiksi sejarah ini sangatlah seru untuk dinikmati.
Pernikahan hanya bermodalkan cinta tidak akan bisa bertahan, itu yang jelas dirasakan oleh Carolien setelah menikah dengan Po Han. Kondisi tak menentu akibat perang di Eropa membuat Po Han kehilangan pekerjaan yang penghasilannya tak seberapa itu, dan membuatnya banting stir menjadi juru potret profesional. Namun keadaan keuangan rumah tangga mereka tak kunjung membaik, apalagi setelah kelahiran Jenny, putri pertama mereka. Keberadaan Ocho, nenek Po Han yang terang-terangan menunjukkan kebenciannya kepada Carolien membuatnya membulatkan tekad: Carolien pulang ke rumah ibunya dan menuntut Po Han untuk memberikan hak asuh Jenny sepenuhnya kepadanya, sekaligus menuntutnya untuk membayar uang tunjangan bagi Jenny.
Karakter Carolien berkembang menjadi bukan hanya tangguh dan berpendirian kuat, ia pun menjadi dingin dan penuh perhitungan, bahkan nyaris diktatorial kepada Jenny. Jenny terombang-ambing antara keinginan ibunya untuk menyekolahkannya ke sekolah hukum di Belanda dan cita-citanya sendiri untuk menjadi dokter hewan.
Mengadang Pusaran mengisahkan tentang perjuangan tiga generasi wanita Tionghoa di Hindia Belanda. Nanna, ibu Carolien yang bertekad untuk menjaga keutuhan keluarga namun kukuh berpegang kepada adat Tionghoa yang ‘kuno dan kolot’. Carolien, perempuan muda yang menerima pendidikan Belanda sehingga berkarakter ‘kebarat-baratan’, percaya bahwa seorang wanita tidak boleh menggantungkan hidupnya kepada pria mana pun. Jenny, anak perempuan penyayang binatang yang hidupnya dipenuhi tuntutan sang mama. Kehidupan ketiga wanita ini diguncangkan oleh kedatangan para serdadu Jepang yang mengambil alih pemerintahan Belanda dan kericuhan perebutan kekuasaan oleh kaum pribumi setelah Jepang kalah perang dan Belanda mencoba kembali menduduki Hindia. Kejadian-kejadian ini juga tak pelak mengubah tatanan adat dan kepercayaan mereka, terutama setelah beberapa anggota keluarga memutuskan untuk menikah dengan orang Belanda. Jenny terpaksa menerima situasi sekolahnya yang baru, di mana kelasnya kini dipenuhi orang-orang pribumi dan Tionghoa, dan nilai-nilai pelajarannya melorot tajam karena ia tak bisa berbahasa Indonesia sementara itulah bahasa yang kini wajib digunakan di sekolah.
Buku ini bukan hanya bercerita tentang sepak terjang ketiga perempuan tersebut dalam mengarungi kehidupan. Sebagai perempuan, mereka harus bertahan dalam adat patriarki yang memandang rendah perempuan, membutuhkan mereka tak lebih sebagai pembantu, dan menihilkan nilai-nilai kepahlawanan mereka. Lalu ada sisi lain, di mana sebagai keturunan Tionghoa, para perempuan ini melihat segala kecamuk peristiwa yang terjadi pada masa itu dari sudut pandang yang berbeda. Bagi mereka, kemerdekaan bangsa pribumi tak ada artinya, bahkan banyak merugikan. Di lain pihak, bangsa Belanda yang selama ini mengayomi keluarga mereka pada waktunya berubah menjadi pedang bermata dua dan berbalik menjadi beban.
Mengadang Pusaran: Pergolakan Perempuan Dalam Gelombang Patriarki dan Kebiasaan Adat
Ketika mempelajari sejarah Indonesia di zaman penjajahan hingga pasca kemerdekaan, saya selalu tertarik pada sudut pandang orang Tionghoa yang waktu itu merupakan masyarakat kelas dua. Bagaimana pikiran dan perasaan mereka kala itu? Kelas pertama tentu saja orang-orang Eropa, kelas kedua menyejajari orang Tionghoa adalah Timur Asing, terakhir pribumi. Pertanyaan tersebut mulai terjawab saat saya membaca novel Mengadang Pusaran karya Lian Gouw yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Tyas.
Lebih menarik lagi dari novel Mengadang Pusaran adalah yang diangkat dari sisi perempuan. Tak bisa dinafikan, sejarah lebih sering mencatat kepahlawanan dari sudut pandang laki-laki. Bambu runcing, senapan, dan sebagainya seolah melambangkan sejarah dan melupakan anglo, tungku, alat jahit, dan seterusnya.
Dari tokoh-tokoh novel Mengadang Pusaran, saya dapat menangkap pergolakan batin perempuan dalam gelombang patriarki dan kebiasaan adat. Apa yang dirasakan dan dilalui oleh Nanna, Carolien, dan Jenny masih terjadi sampai sekarang. Bagaimana sebagian perempuan yang diwakili Nanna dan Ocho memegang teguh kebiasaan adat sebagai sandaran hidup. Sementara sebagian perempuan berusaha melepaskan diri dari kungkungan adat dengan berpaling pada nilai-nilai lain yang sering disebut sebagai kebarat-baratan.
Nilai-nilai ini justru memberikan ruang kepada perempuan untuk meraih kesetaraan dan kesempatan baik dari segi pendidikan, keahlian, pekerjaan, maupun memilih pasangan hidup. Yang untuk itu tak jarang bertentangan dengan keluarga. Menyoal memilih pasangan hidup bertalian dengan kemurnian bangsa dan mempertahankan kedudukan semacam golongan yang lazim ditemui di berbagai belahan dunia. Apalagi bila terdapat keragaman budaya. Pergolakan batin ini selalu meminta tumbal.
Alur terjemahannya enak dibaca dan alur ceritanya mengalir dengan baik. Buku ini bisa saya selesaikan dengan baik dalam semalam. Mungkin juga karena banyak tema dalam buku ini yang bisa saya relasikan dengan sejarah keluarga saya sendiri. Di satu sisi banyak hal-hal yang mengusik saya untuk memahami sisi lain dan perspektif lain dari kemelut peristiwa sejarah yang bertubi-tubi terjadi di pertengahan awal abad 20.
Kompleksitas pergulatan para karakter perempuan di novel ini entah mengapa juga mentrigger banyak memori personal dan bisa membuat saya memahami dengan lebih baik sikap-sikap generasi sebelum saya yang dulu saya pikir aneh secara pemikiran dan pemahaman. Kompleksitas komunitas peranakan Tionghoa yang begitu beragam dalam perspektif dan pengalaman pada akhirnya membuat kita tidak bisa menyeragamkan sekian pengalaman ini dalam stereotipe Tionghoa yang dibangun oleh Orde Baru. Menjadi generasi pasca reformasi untuk saya, membuat saya menjadi semakin kaya untuk memahami keberagaman pengalaman ini. Deskripsi naratif Lian Gouw saya rasa sangat berharga untuk kita memproses ini semua.
Mengadang Pusaran adalah novel sejarah Berbahasa Indonesia yang pertama kali saya baca. Terjemahannya sangat halus dan mudah dimengerti sehingga terus memupuk motivasi saya untuk menyelesaikan buku ini. Alur cerita sedikit berat, apalagi untuk orang yang tidak memiliki pengetahuan banyak mengenai peranakan Tionghoa di Indonesia. Saya membutuhkan kira-kira satu bulan untuk menyelesaikan buku ini. Meskipun demikian, karakter-karakter yang disuguhkan dalam novel ini begitu menarik. Saya begitu mencintai karakter Nanna. Namun, karakter Carolien, Jenny, dan Ocho pun tidak kalah menarik. Terima kasih Ibu Lian Gouw untuk karyanya. Terima kasih pula Ibu Tyas Widjati selaku penerjemah telah menghadirkan karya yang luar biasa.
Buku sejarah yang dibalut dengan romantisme percintaan Carolien-Po Han yang ditentang oleh orang tua mereka yang akhirnya berakhir berpisah dengan melahirkan Jenny