Ada apa dengan bunga? Mengapa Sonia tak menyukainya? Bahkan pada gambar kuntumnya saja, ia akan memalingkan muka. Dan ia tahu, ia mungkin telah menjadi gadis langka karenanya.
Ada apa dengan senja dan matahari terbenam? Mengapa Sonia begitu cinta? Sambil membawa luka dan mengitari dua negara tetangga, ia rela berkejaran dengan matahari terbenam demi mencari damai.
Namun, perjalanan tak selalu sesuai indahnya rencana. Bunga-bunga muncul lagi. Matahari terbenam berubah warna. Perjalanan menguji kekuatannya tentang seluk-beluk rasa, lagi dan lagi. Akan ada apa di ujungnya?
“I Love View” Karya Azzura Dayana, Sebuah Perjalanan untuk Menemukan Kedamaian
Novel ini berkisah tentang Sonia. Sonia membenci bunga sejak muncul dua bunga yang menyakitinya. Bunga pertama, hadir sebagai duri dalam rumah tangga orang tuanya. Sementara bunga kedua, yang ia anggap sahabat, justru menusuknya telak dengan menikahi mantan kekasihnya yang telah lima tahun bersama dan putus secara tiba-tiba. Dua wanita yang begitu cantik laksana bunga telah memporakporandakan hidup Sonia. Setidaknya begitulah anggapannya, hingga ia memutuskan untuk berangkat liburan singkat ke Singapura dan Malaysia.
Novel “I Love View” dituturkan melalui sudut pandang orang pertama oleh Sonia sebagai tokoh utama. Saat membaca novel ini, kita seolah diajak membaca jurnal pribadi seseorang tentang perjalanannya juga pilu di hatinya. Membuka bab pertama, kita akan langsung diajak Sonia ke Singapura, Jalan Geylang tepatnya. Reputasi tempat tersebut sebagai kawasan merah membuat Sonia menghubungi Seon, kawan berkebangsaan Korea yang sempat menempuh pertukaran pelajar di kampusnya dahulu dan kini menetap di Singapura, untuk menemaninya. Di sinilah kesalahpahaman bermula, saat kalimat “I love view” yang terdengar seperti “I love you” terucap dari bibir Sonia. Kecanggungan tersebut kian bertambah dengan sikap Seon yang memberi tanda cinta. Alih-alih menerima, Sonia justru menunjukkan sikap menghindar dari Seon. Ia lebih memilih melanjutkan perjalanan, mencari pemandangan tanpa bunga, dan memilih menikmati senja yang begitu ia suka.
Sayangnya, perjalanan wisata yang semestinya menjadi obat luka malah berubah menjadi petaka saat Sonia bertemu dengan Radin, mantan kekasihnya, yang sedang berbulan madu bersama Bunga Sandrina, mantan sahabat dan rekan kerjanya. Sonia pun dipaksa menghadapi rasa sakit yang ia coba tinggalkan di Indonesia. Dibantu oleh Hilyah, perempuan Arab yang menjadi kawannya di Malaysia, Sonia berusaha mencari jalan damai dengan berhenti lari dari masalah. “Kamu tahu kamu mungkin bisa menyelesaikan masalah itu, dan bisa juga gagal. Tapi kamu memilih untuk tidak melewatinya. Itu namanya menghindar. Lari dari masalah itu lebih simpel. Kamu tidak mau masalah itu selesai. Itu bukan sikap kesatria.” (Dayana: 132)
Alur campuran yang digunakan pada novel ini akan membawa kita memahami kisah secara utuh. Setiap kilas balik yang diberikan akan membuka alasan luka di diri Sonia hingga ia menjadi antipati pada bunga. Sementara itu, setiap perjalanan yang ditapaki Sonia akan menunjukkan pemandangan juga pemahaman baru mengenai kehidupan.
Sebagai novel dengan kisah perjalanan, ada dua latar penting dalam novel ini yang erat kaitannya dengan judul novel “I Love View”. Lokasi yang pertama adalah Woodlands di Singapura dan yang kedua adalah Taman Wetland Putrajaya di Malaysia. Dua lokasi tersebut menjadi destinasi wisata yang akan kita nikmati saat membaca novel ini. Tak sekadar disebutkan, Azzura Dayana betul-betul membawa kita mengenal seluk-beluk lokasi wisata tersebut melalui kacamata Sonia, mulai dari pemandangan, fasilitas, bahkan kebiasaan warga negara setempat tak luput menjadi latar yang membangun novel ini.
“Sisi kanan eskalator ternyata diperuntukkan bagi yang ingin berdiri saja mengikuti laju eskalator, sementara sisi kiri untuk yang ingin terus berjalan kaki menuruni anak tangga eskalator yang juga berjalan.” (Dayana: 94)
Hal ini menjadi nilai tambah bagi novel “I Love View” yang mengambil latar di dua negara tersebut. Latar tak sekadar tempelan melainkan menjadi bagian dari alur yang tak dapat dihilangkan. Woodlands menjadi tempat yang penting bagi Sonia dan Seon. Sementara itu, Taman Wetland Putrajaya, Malaysia adalah lokasi yang diperkenalkan Hilyah pada Sonia. Tempat kedua ini yang menjadi latar berakhirnya seluruh kisah Sonia dengan sangat dewasa.
Novel ini memiliki cukup banyak dialog yang terjadi melalui pesan instan. Untuk menyiasati hal tersebut, Penerbit Indiva menyusun tata letak novel ini dengan kolom-kolom pesan instan serupa di ponsel. Hal tersebut cukup memudahkan pembaca agar tak tersesat dalam mengenali pesan-pesan tersebut. Secara teknis, hal ini juga mempersingkat narasi yang dibutuhkan untuk menjelaskan pengirim dari masing-masing pesan karena di beberapa adegan saat Sonia membuka aplikasi pesan instan, ia berturut-turut membuka pesan dari beberapa orang sekaligus. Tak jarang juga ia berbalas pesan dengan tokoh lainnya. Dengan bentuk kolom serupa kolom pesan instan pada layar ponsel, pembaca akan langsung mengenali pengirim dan penerima pesan dengan mudah.
Gaya tutur Azzura Dayana pada novel ini begitu santun dan indah. Bahkan sekali pun Sonia digambarkan sedang kesal atau terluka, kesan tersebut tak juga luput. Apalagi saat tokoh Hilyah muncul. Sebagai tokoh kunci yang membawa pemahaman baru pada Sonia, tokoh Hilyah banyak memberikan pesan-pesan yang mendamaikan mengenai kehidupan, tak hanya bagi Sonia tetapi juga untuk pembaca.
“Terkadang ada hal-hal baik yang terhalang jalannya karena kita menutup pintu-pintu lainnya. Pintu maaf. Pintu silaturahmi. Jangan sampai jalan itu terlalu lama menunggumu. Kalau terlalu lama, jalan itu akan tertutup belukar, semakin menyemak, dan tak beraturan.” (Dayana: 146) [Gambar kutipan novel lampiran 5]
Sonia yang kerap merasa sebagai korban pun mengalami perkembangan karakter yang cukup signifikan. Meski perkembangan karakter tersebut baru tampak menjelang akhir cerita, hal tersebut tak mengurangi pesan yang ingin disampaikan Azzura Dayana pada novel ini agar kita mampu menanggalkan jubah keegoisan kita dan memandang persoalan dari sisi yang berbeda.
Kalimat “I love view” sendiri tak sekadar kalimat salah ucap yang menyebabkan salah tangkap antartokoh. Setelah selesai membaca, kita akan memahami bahwa kalimat ini merupakan benang merah yang menjalin keseluruhan cerita. View saat diartikan ke dalam bahasa Indonesia pun memiliki arti sudut pandang selain pemandangan, dan hal tersebut yang dialami Sonia dalam perjalanan ini, mendapat pemandangan baru yang ia suka serta sudut pandang berbeda untuk melihat persoalan yang selama ini luput dari pemahamannya.
“... tak semua yang lebih cantik itu membahagiakan. Segala sesuatu yang menentramkan jiwamu, dan kamu setia di sana, itulah bahagia.” (Dayana: 193)
Pada akhirnya, jika kalian mencari novel yang berkisah tentang cinta, toleransi, perjalanan wisata, dan perjalanan spiritual diri, novel ini menjadi pilihan yang sangat cocok. Novel ini memang tak menyajikan kisah yang meledak-ledak atau menuturkan cerita yang membuat gulungan emosi naik turun serupa ombak pada pembaca. Namun, konflik yang lazim ditemui dalam keseharian serta perasaan tokoh yang tampil sewajarnya tanpa emosi berlebihan, membuat novel ini terasa dekat dengan pembaca serta masalah yang dialami di sekitarnya. Kita diajak berkaca dan memahami diri serta sekitar dengan lebih bermakna. “I Love View” bukan sekadar mengajak berwisata membayangkan pemandangan damai yang dituturkan melalui aksara, tetapi juga perjalanan spiritual untuk bertemu damai di dalam jiwa. "I Love View" membuka perspektif pembaca untuk berani menghadapi rasa kecewa, marah, sama halnya seperti rasa bahagia. Tak heran jika novel ini mendapat gelar Special Award dari Penerbit Indiva.
Novel "I Love View" bisa didapatkan melalui akun Penerbit Indiva Media Kreasi di berbagai marketplace ternama atau dapat menghubungi langsung nomor 0819-0471-5588.
Judul Buku : “I love View” Penulis : Azzura Dayana Penyunting Bahasa : Ayu Wulan Penerbit : Indiva Media Kreasi Cetakan/Tahun : I/2021 Tebal : 232 halaman Harga : Rp 65.000
Semua salah bunga! Bertemu dengan wanita-wanita cantik adalah sebuah kesalahan bagi Sonia. Karena, kecantikan itu kelak akan merampas kebahagiaannya. Bahkan, bunga yang tak tahu apa-apa juga turut dipersalahkan.
Karena kecantikan dan keindahannya, Sonia juga membencinya. Meskipun itu hanya sebuah lukisan atau pun motif bunga. Semua menyesakkan dada Sonia, tokoh utama novel “I Love View” karya Azzura Dayana.
Atas nama Bunga Sandrina, seorang wanita cantik yang telah merebut kekasih Sonia, Radin. Dan, Bunga dari “bunda tengah” wanita yang hadir di antara keluarganya. Wanita yang membuat mama menyingkir dari papanya.
Sonia memilih untuk melakukan solo traveling ke sejumlah tempat wisata di Singapura dan Malaysia. Semua dilakukan untuk melupakan kisah pahitnya. Berusaha meredam amarah karena pengkhianatan dari orang-orang yang pernah dia sayangi.
Namun, hal itu berubah ketika Sonia bertemu dengan seorang wanita berparas cantik keturunan Arab yang heel sepatunya patah di halaman Menara Kembar Petronas, Malaysia. Dengan tulus, Sonia mengulurkan bantuan.
“Kalau kamu mau, pakai saja sandalku ini, nanti aku bisa beli yang baru,” kataku. (“I Love View,” hal 96)
Sonia sepertinya lupa akan kebenciannya pada standar kecantikan yang menyakitkan. Wanita itu bernama Hilya, yang kelak membantu Sonia mengurai rasa sakit hatinya.
Di sisi lain, dalam traveling-nya itu, ada Seon temannya di Singapura. Seon tak patah arang berusaha untuk menemani Sonia yang sedang ingin menikmati kesendiriannya. Meski, Sonia berusaha mengabaikan kehadiran Seon.
Dari Seon pun, akhirnya kita ketahui akronim dari “I Love View”. Seperti juga usaha Sonia, menemukan arti “I Love View” dalam petualangannya.
Setelah membaca novel ini ada kesan mengambang di akhir cerita. Azzura, seolah menggantung kelanjutan dari para tokoh. Pembaca dibebaskan untuk mengakhiri perjalanan Sonia.
Atau mungkin saja, penulis yang pernah menyabet penghargaan Buku Fiksi Dewasa Terbaik 2014 dari IKAPI – IBF 2014 untuk novel Altitude 3676 ini seolah sudah menyiapkan I Love View jilid dua. Kita tunggu saja. Membaca novel “I love View” karya Azzura Dayana ini membuat saya penasaran dengan sejumlah lokasi yang digunakan sebagai latar dalam traveling solo-nya Sonia. Azzura mengajak kita mengintip di jendela tempat-tempat eksotis di Singapura dan Malaysia. Meski tak terlalu detil, saya kira para pembaca juga penasaran dengan destinasi yang dikunjungi oleh tokoh Sonia.
Tak hanya berwisata melihat keindahan pemandangan, Azzura juga mengajak kita berwisata religi dengan mendatangi masjid-masjid ikonik di kedua negara tersebut. Petualangan dari masjid ke masjid menjadi penanda dari penulis tentang perjalanan spiritual Sonia.
Masjid biasanya menjadi jujugan utama para pengembara Muslim ketika singgah di suatu tempat. Ada kebanggaan tersendiri ketika kita menunaikan salat di sana. Bahagia, masih banyak sesama Muslim di bumi tempat kita berbijak.
Hingga, saya pun berharap suatu saat kelak saya bisa menunaikan salat di Masjid Sultan, Singapura. Serta, Masjid Putra di Putrajaya dan Masjid Jamek di Kuala Lumpur, Malaysia.
Pada akhirnya, membaca novel “I Love View” membawa kita untuk berkontempelasi, merenung kembali, siapakah kita sebenarnya? Apakah seperti Sonia sang tokoh utama yang melarikan diri dari masalah yang menghajarnya secara bertubi-tubi? Sebagai Hilya yang berdamai dengan keadaan? Atau bahkan adalah tokoh Seon?
Siapapun kita kali ini, itu tidak penting. Yang utama adalah keberanian kita belajar menghadapi masalah dan menyelesaikannya, seberat apapun itu. Tidak menyalahkan takdir! Ikhlas menerima takdir, dan berusaha menyusun kembali keping puzzle-puzzle yang berserak, kalaupun belum mampu menyelesaikan kali ini, percayalah Allah akan membantu dengan cara-cara yang kadang di luar jangkauan kita. Selamat membaca, selamat berkontempelasi. #Amrih Rahayu
Meski tidak menjadi juara pada Kompetisi Menulis Indiva 2020, tetapi novel ini terpilih sebagai karya yang mendapatkan penghargaan khusus dari Indiva. Bagaimana tidak ..., novel ini memiliki rasa pemenang yang sangat lekat. Dua kata untuk novel ini. Keren banget!
“Kamu tahu kamu mungkin bisa menyelesaikan masalah ini, dan bisa juga gagal. Tapi kamu memilih untuk tidak melewatinya. Itu namanya menghindar. Lari dari masalah itu lebih simpel. Kamu tidak mau masalah itu selesai. Itu bukan sikap kesatria.” (hal 132).
Setiap orang pasti memiliki masalah. Hanya saja kadarnya berbeda-beda. Karena memang masalah adalah bagian dari hidup. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Apakah kita berani menghadapinya dengan bijak atau memilih untuk lari dari masalah.
Sonia sangat terluka. Berkali-kali ia dikhianati oleh orang-orang yang ia sayang dan percayai. Hatinya remuk redam. Ia marah, tapi kemarahannya tidak akan pernah mengubah apa yang sudah ada. Karena berbagai masalah pelik itulah, Sonia memutuskan melakukan perjalanan ke Negeri Singa dan Malaysia untuk mencari kedamaian. Apalagi kegiatan traveling semacam ini memang sudah menjadi hobi dan kebiasaannya. Ia berharap dari perjalanannya itu, bisa sedikit menyembuhkan lukanya.
Sayangnya perjalanan yang sudah ia rencanakan sedemikian tidaklah semulus yang ia harap. Banyak kejadian-kejadian yang terduga yang mewarnai perjalanannya.
Menggunakan alur maju mundur, novel ini sangat menarik. Sejak awal kita akan dibius cara bercerita penulis yang menarik dan akan membuat penasaran. Kita tidak akan berhenti membaca sebelum menamatkan novel ini. Kita akan dibuat bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan Sonia, hingga ia begitu terluka dan membenci bunga.
Apakah waktu bisa menyembuhkan luka hati yang menganga karena ditikam rasa? Dapatkah bentang jarak mengobati dada yang lebam membiru lantaran dihantam pengkhianatan?
Sonia, gadis muda yang tidak menyukai bunga. Bukan phobia. Berbilang kali, segala yang bersalut keindahan, justru menyakitinya: perempuan cantik yang menggeser posisi ibu di bilik kesetiaan ayah; gadis rupawan yang tidak hanya merenggut teman-teman kantor, tapi juga calon suami; persahabatan tulus platonik yang terpecah-belah. Sonia tidak percaya lagi kepada paras dan sikap menawan. Cantik dan baik itu omong kosong! Hanya alat untuk memperdaya!
“Kata siapa bunga itu indah? Bunga itu … pisau yang membunuh!” (halaman 17).
Sonia berkemas: mundur dari pekerjaan, pamit dari lingkar pertemanan. Dia bergegas melarikan kaki juga hati ke negara tetangga; Singapura, Malaysia, berharap lubuk rasa yang kian compang-camping dapat ditambal secara perlahan.
Namun kenyataan kembali melenceng dari harapan. Masa lalu dengan segala kepahitannya yang dia kira tertinggal di belakang, malah merangsek ke hadapan, menggoyang kedamaian yang susah payah dibangun. Ujian berikut menyusul: kecelakaan dan penjambretan. Kejadian beruntun itu akhirnya memaksa Sonia menghadapi masa lalu dan—terutama—menghadapi diri sendiri.
Cerita yg ringan dan mengalir lembut dg latar karakter traveller~ building world nya cukup detil dan menyenangkan membayangkannya. Saya jadi buka2 maps nih krn blm pernah ke sana haha. Ceritanya mengalir, di awal ikut marah2 dan emosi, di akhir ikutan senduu.. good job azzura dayana 👍👍
Pertama kali melihat novel I Love View saya langsung tertarik dengan keterangan Young Adult yang berbeda dari sekian banyak buku di daftar buku yang dapat diresensi untuk lomba. Lalu ketertarikan saya makin menguat setelah melihat cover-nya yang cantik serta mengeluarkan aura sederhana dan lembut.
"Apa yang kamu cari dari perjalanan ini, Soni?" (halaman 29)
I Love View menceritakan tentang Sonia yang melakukan perjalanan sembari memikul lukanya yang beragam. Perjalanan tersebut awalnya ditujukan untuk mencari kedamaian, tapi hidup memang penuh kejutan, perjalanan tidak berjalan sesuai rencana. Walaupun boleh jadi ada kedamaian dalam artian baru yang didapatinya.
Lantas akan ada apa di ujung perjalanan Sonia?
Saya terkesan oleh banyak hal dari novel ini. Penggambaran latarnya yang detail dan membangun suasana cerita dengan baik, alur maju mundur yang membuat cerita makin utuh, bagaimana penyebab konflik diungkapkan dengan perlahan melalui secara implisit di tiap-tiap halamannya, semuanya terjalin dengan rapi dan berhasil mengaduk perasaan serta emosi saya.
Yang sangat membuat saya terkesan tentu amanat yang disampaikan. I Love View membuat saya meninjau ulang kembali sikap saya saat berhadapan dengan masalah. Apakah selama ini saya lari dari masalah atau melawan rasa takut dan menghadapi masalah dengan sikap kesatria?