Siapakah yang diam-diam menaruh gemunung di dalam hatimu?
Siapakah yang membentangkan curiga dari ujung dagu hingga jendela kamarmu?
Di negeri kami, orang bercerita tentang tanah yang hilang, tentang bangsa yang tak punya siapa-siapa selain ibukota.
........
Kita Pernah Saling Mencinta adalah buku puisi perdana Felix K. Nesi. Dalam buku ini terangkum jejak kepenyairan Felix selama rentang 2008-2019. Persoalan keluarga, kerontangnya alam, dan peliknya menjadi yang bukan diutamakan adalah tema-tema yang digaungkan dalam buku puisi ini.
Hari ini kembali membaca Kita Pernah Saling Mencinta karya @felixnesi, yang sampul cantiknya digambar oleh @sukutangan. Menurutku, buku puisi ini sangatlah berani dan personal. Cerita-cerita di dalamnya (sepertinya) tak jauh dari apa yang pernah dilihat, dirasa, atau mungkin dialami sendiri oleh penyair, terutama di tanah kelahirannya.
Banyak puisinya memuat soal kering kerontangnya alam, yang banyak diwakilkan dengan diksi sabana, terbakar, sapi, babi, kemarau, atau hujan. Adapula soal isu minoritas dan Jakartasentris yang kutangkap dari puisi dengan judul paling panjang, "Di Rumah Seorang Asing yang Tak Henti Membicarakan Rambut dan Warna Kulit". Puisi ini langsung jadi salah satu yang terfavorit.
Oh ya, Felix banyak menulis puisinya di Bitauni, salah satu wilayah di NTT yang masyarakatnya kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani. Agaknya ini sungguh berkaitan dengan cerita-cerita yang disampaikannya dalam Kita Pernah Saling Mencinta. Dalam puisi Menunggu Hujan, aku langsung teringat dengan musim amnahas yang pernah diceritakan Felix di salah satu media. Musim amnahas ialah saat di mana masyarakat Timor kehabisan bahan makanan sementara hasil panen belum tiba. Akibatnya, orang-orang menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup, termasuk melakukan perbuatan dosa, yakni mencuri. Belum lagi di tengah pandemi. apa-apa jadi serba susah. sekali. Ini beberapa cuplikan bait puisi yang membuatku sulit melupakannya.
"Sudah tuntas musim-musim, tidak ada yang berpihak kepadamu" (dalam Menunggu Hujan)
"Relakan lapang ladangmu agar benih tak mati kesepian" (Dalam Hujan, 2)
Barulah aku menyadari ternyata aku jatuh cinta dengan kata-kata Felix. Sempat berpikir, jika Felix mengguratkan syair-syair cinta tentang kekasih atau hal-hal yang berkenaan dengan hati, mungkin ia akan jadi pria yang manis sekali.
Daftar puisi favoritku: 1. Hujan --Indra 2. Di Ladang Sabana 3. Pesan Kakek
Omong-omong, bicara soal Bitauni, ada salah satu destinasi wisata rohani yang menarik perhatianku, yakni Gua Maria Bitauni. Jika ada kesempatan, ingin sekali berkunjung ke sana.
Aku melakukan kesalahan fatal dengan membaca buku puisi ini tanpa pernah membaca karya Nesi yang lain. Jujur bingung, tidak paham dan sering googling karena ingin tahu latar dan arti kata yang dipakai. Sungguh eksperimen yang seru sekaligus linglung. Dengan pertimbangan banyak hal, sekaligus karena judul buku ini diambil dari puisi “Mencari Mata Air”, aku menyimpulkan puisi-puisi Nesi ingin memotret kegundahan dirinya sendiri. Dia gundah atas tanah gersang, kemiskinan, pulang dari rantau, kesepian, cinta yang memilih cinta lain serta antara mempertahankan tradisi atau menyenangkan diri.
Namun aku bukan satu-satunya orang yang salah, sebab Nesi juga salah. Dia berpikir akan terhibur setelah menulis begitu banyak puisi sedih padahal tidak. Puisi sedih hanya akan mematri kesedihanmu sebab setiap saat orang-orang memaksamu membaca puisi itu dan mempertontonkannya demi beberapa tepuk tangan.
Bukan pembaca buku puisi. Tertarik beli karena pernah baca buku Felix sebelumnya. Sebagai bukan pembaca buku puisi, terus terang buku ini bikin gue jadi tambah malas sembarang baca buku puisi. Bukan karena jelek, tapi justru karena buku ini ngasih standar yang cukup tinggi. Puisi-puisi di dalamnya gak sekadar menye penuh guratan kata-kata berima yang suka gue lihat di berbagai cuplikan buku puisi yang lainnya. Seperti halnya buku sebelumnya Orang-Orang Oetimu dalam puisi-pusisi di dalamnya seperti menggambarkan pengalaman cinta dalam konteks perihnya pengalaman sejarah di suatu daerah tempat Felix tinggal.
Kita Pernah Saling Mencinta (We've ever loved each other - raw Eng translation) is a compilation of 79 poems written by Felix K. Nesi, an Indonesian novelist and poet.
The title (may) mislead the readers who prolly think that the poems are all about the lovers, chocolates, honey-bunny-lovey-dovey stuffs, music, flowers and romantic dinner. Heck no!
These poems are also a form of resistance to the social injustice which happens in the society especially in eastern part of Indonesia where Nesi grew up and live. In the poem: Berkaca (Mirroring -Eng ) Nesi addresses the intolerance that we often see in our society recently. In Pengemis (the Beggar-Eng) for instance, we can see the gap between the have and the less-fortunate ones through the eyes of the beggar and the child of a corruptor. Some of Nesi's also criticise the gap between east and west Indonesia; on how the Indonesian govt. mostly favour and focuses their concern in the western parts of Indonesia esp. Java and neglect the eastern part of Indonesia.
Several poems are also addressed for our prominent Indonesian activists like Munir and Wiji Thukul whose death still remain as a mystery during the Soeharto regime until now. They are long gone but they will never ever be forgotten by us.
My favourite poem is Mencari Mata Air (Looking for the Water Spring - Eng). I found it so erotic...like talking about the lovers sought ad longing for each other's companions even it can also be interpreted as a critic and a real portrayal of some of the areas in eastern Indonesia that always experience draught and water is like a precious gem which is hard to find.
I highlight that some poems that address the social issues vividly, yet others will just take allegories in delivering the message. So mind you that poems are always open for different interpretations, as so Felix Nesi's.
Tagging @sintiawithbooks whose hobby is to read poems. Thanking @teguhafandi for shipping me a copy of the book.
Grab your copy at your local bookstores and get lost in these poems.
Aku pakai buku ini buat paper Teori Puisiku. Satu hal yang menarik dari tulisan Felix K. Nesi adalah bagaimana Felix bisa menyelipkan unsur-unsur etnografis, unsur-unsur budayanya di dalam karyanya. Itu enggak cuma terjadi di Orang-orang Oetimu aja ternyata, di buku ini juga. Baca puisi-puisi di sini kayak diajak menengok kampung halaman di Nusa Tenggara. Diksi-diksinya pun apik. Biasanya aku nyesel baca buku kumpulan puisi, tapi buat yang ini, enggak. Buku ini emang sebagus itu dan worth it banget buat dibaca 👍
Kalau mengenai puisi favorit, aku rasa aku gabisa nulis di sini. Puisi-puisinya personal dan masing-masing punya daya tariknya sendiri. Aku analisis di paper sih, tapi. Habis kalo di sini gak cukup 😇🙏🏻
Om Gabriel dan Usi Abakat Tentu menebar racun di situ Buat kau pengerat padi Dan babi yang berkhianat dan Lupa pulang
Sedih. Sedih. Sedih. Menjadi kian sedih karena puisinya berlatar tempat tinggal Felix yang penuh kegersangan. Perihal alam yang sudah lama rusak. Perihal keluarga yang tak selalu utuh. Perihal trauma di masa lalu. Perihal kesepian yang kian menggema.
Ah, bahkan saya masih menangis saat mengulas buku ini. Ya sudah, berhenti sampai sini saja tulisannya.
Siapakah yang menadah peluh dari tubuhmu ketika kita hampir kawin di Sanaplo? Siapakah yang mengibas debu pada kakimu ketika kita turun dari gunung di utara? Seorang sahaya telah menjadi tuan dan mengusir mereka yang bersarung mengusir mereka yang tak ingin menyembah Asap di kepala, azab hari kemarin, siapa memperanakkan hati orang? Turunlah ke dadaku, turunlah ke tepi sungai ini. Sudah kami penggal kepala orang-orang yang tidak memahami syair.
Felix main ke Jogja belum lama ini, jadi salah seorang adik tingkatku yang berhalangan bertemu dengannya pun menitip dua buku karya Felix padaku. Intinya minta ditandatangani. Aku baru ingat tadi sore bahwa ada buku kumpulan puisi Felix tersebut, kemudian kuputuskan kubaca dulu sebelum kubalikin ke anaknya, Puisi selalu jadi musuhku di duni sastra, antara aku nggak paham isinya, atau membuatnya itu susah sekali. Puisi Felix di sini menurutku, sependek pemikiranku, ialah pengalaman dia yang nggak mungkin dimiliki sembarang penulis. Itu juga yang membuat di menyelesaikan novel pemenang DKJ. Hampir aku nggak paham semuanya, tapi beberapa bagus sekali dibaca sampai kubaca berkali-kali. Bagus, lumayan untuk mengakhiri slump membacamu.
Kumpulan puisi ini adalah tulisan Felix K.Nesi ke dua yang saya baca. Sama seperti bukunya yang berjudul Orang-Orang Oetimu—kali ini pun saya masih sulit menerjemahkan makna tiap kalimat. Meski demikian, membaca buah karyanya selalu menyenangkan dan memberikan banyak wawasan.
Tidak melulu berhasil menafsir seluruh puisinya, tapi Kak Felix lihai sekali menggambarkan kesehariannya, tentang keluarga, tentang alam yang terlanjur rusak, tentang dendam, tentang luka karena tidak diutamakan, tentang kematian.
Salah satu kalimat yang masih terngiang-ngiang.
Anak-anak bermain layangan tanpa tali sebab yang terikat selalu terlepas pada masanya.
Saya tak sering membaca puisi, tapi ketika ingin saya tak mau berhenti. Kita Pernah Saling Mencinta, terdengar liris dan romantis, tapi ini bukan puisi yang merayu atau memuja kekasih.
Ada keresahan dan kesedihan. Tapi, seperti yang dikatakan sang penulis, Felix K. Nesi, berhentilah bersedih. Semua akan baik-baik saja.
Sungguh jatuh cinta pada keindahan ilustrasi sampulnya. Saya ingin berlama-lama untuk mengaguminya.
Ternyata saya lebih dulu baca buku kumpulan puisi ini daripada novelnya yang menang penghargaan itu. Dalam buku ini masih banyak Oetimu yang disebut, selain sapi dan sabana tentunya.
Beberapa saya suka, tapi tidak seluruh satu judul puisi, tapi beberapa baitnya saja. Apa yang kita tanam, Nona? Tak ada yang lebih sakit daripada rindu sebelum tidur
Terimakasih ya Felix, karena buku ini Beta melihat cinta dari sisi lain. Bukan semata tentang dua insan lagi Lebih dalam Tentang cinta pada tanah tempat Beta lahir Banyak yang harus Beta buat Terimakasih
Karena kumpulan puisi pendek-pendek, jadi ya selesai dengan cepat. Hanya hitungan jam.
Buku ini menyajikan kumpulan karya Felix yang lebih banyak merayakan kenangannya tentang kampung halaman dan kehidupan di dalamnya. Lumayanlah buat selingan.
Sebenarnya banyak kata-kata dengan arti dan konteks yang saya mengerti karena sepertinya tema kumpulan puisi ini banyak mengangkat peristiwa di Nusa Tenggara Timur. Intinya indah, jangan kecele dengan judul ini bukan tentang romansa dua insan