Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sepotong Hati di Angkringan

Rate this book
Pada suatu malam yang nyamnyam, kau menemukan sepotong hati yang lezat dalam sebungkus nasi kucing. Kau mengira itu hati ibumu atau hati kekasihmu. Namun, bisa saja itu hati orang yang pernah kausakiti atau menyakitimu. Angkringan adalah nama sebuah sunyi, tempat kau melerai hati, lebih-lebih saat hatimu disakiti sepi.

80 pages, Paperback

First published March 1, 2021

9 people are currently reading
104 people want to read

About the author

Joko Pinurbo

43 books363 followers
Joko Pinurbo (jokpin) lahir 11 Mei 1962. Lulus dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (1987). Kemudian mengajar di alma maternya. Sejak 1992 bekerja di Kelompok Gramedia. Gemar mengarang puisi sejak di Sekolah Menengah Atas. Buku kumpulan puisi pertamanya, Celana (1999), memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001; buku puisi ini kemudian terbit dalam bahasa Inggris dengan judul Trouser Doll (2002). Ia juga menerima Sih Award 2001 untuk puisi Celana 1-Celana 2-Celana 3. Buku puisinya Di Bawah Kibaran Sarung (2001) mendapat Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2002. Sebelumnya ia dinyatakan sebagai Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001. Tahun 2005 ia menerima Khatulistiwa Literary Award untuk antologi puisi Kekasihku (2004). Buku puisinya yang lain: Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), dan Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007). Selain ke bahasa Inggris, sejumlah sajaknya diterjemahkan ke bahasa Jerman. Sering diundang baca puisi di berbagai forum sastra, antara lain Festival Sastra Winternachten di Belanda (2002). Oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan sejumlah sajaknya digubah menjadi komposisi musik.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
49 (34%)
4 stars
67 (46%)
3 stars
24 (16%)
2 stars
2 (1%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 41 reviews
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
May 14, 2021
Berbeda dengan buku-buku puisi Jokpin sebelumnya, saya tidak menemukan pengulangan puisi yang pernah dimuat di buku lainnya. Memang ada kesamaan tema dan keserupaan teknik, tapi ini Joko Pinurbo loh yang diulang-ulang dibaca pun puisinya tetap mengena. Puisinya masih bercerita, tetapi kita akan menemukan banyak tema puisi baru selain tema ibu, celana, atau kopi; meskipun angkringan dan sarung masih muncul. Ada juga burung prendjak yang mulai diperkenalkan Jokpin. Kalau melihat judul dan blurb, seolah buku ini isinya Jogja lagi Jogja lagi. Memang paruh pertama buku ini adalah puisi-puisi yang dijiwai oleh Jogja, tempat penyair bermukim. Tetapi tidak saya temukan di sini "Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan" , tetapi saya temukan puisi Jogja baru dengan Bu Tjitro, Nyonya Kamto, nasi kucing mbah Singo, dan oseng mercon Mbah Wagino. Puisi "suara drumben dini hari" juga dengan bagus sekali menggambarkan misteri Jogja banget yang dirindu sekaligus tak ingin dimiliki ini.

Paruh kedua yang justru menurut saya kurang terangkat dalam sampul bertema Ibadah Mandi. Jik sebelumnya Jokpin adalah ibadah puisi, maka di buku ini penulis memperkenalkan ibadah mandi yang terinspirasi oleh pandemi. Banyak banget puisi bagus bertema pandemi di buku ini. Saya sempat mengunggah cuplikan puisi "Jalan Korona" yang ternyata banyak mendapat tanggapan positif. Keren banget loh Jokpin menggambarkan masa ini sebagai "Jalan yang terasa jauh dan entah akan sampai di mana, padahal hanya berputar-putar di sekitar rumah kita." Satu kalimat yang merangkum imbauan tetap di rumah saja, fakta tentang pandemi yang entah kapan berakhirnya, dan awalnya jauh sebelum korona benar-benar muncul di sekitar lingkungan kita.

Kita semua berdoa dan berharap, semoga wabah ini segera berlalu.
Sebuah sunyi
meledak di tengah pandemi
Sebuah Indonesia
sedang dilahirkan kembali.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book271 followers
October 11, 2022
Akhirnya menemukan buku puisi ini di iPusnas.
Melihat judulnya, pembaca pasti sudah menebak isinya tidak akan jauh dari Jogja. Dan memang benar, di dalamnya semua berisi puisi tentang Jogja di masa pandemi COVID19. Jarang-jarang saya menjumpai buku puisi Jokpin yang isinya baru.
Profile Image for Tiw.
67 reviews
October 28, 2022
Selalu suka puisi" dari mas JokPin, apalagi di buku ini ada beberapa ilustrasinya😍😆
Profile Image for Launa.
247 reviews51 followers
March 11, 2023
Wawancara Tengah Malam (halaman 35)

Kamu tahu apa dosa terbesarmu?
Korupsi. Mencuri uang rakyat.
Bukan.
Menyakiti,
menganiaya,
membunuh orang.

Bukan.
Lantas apa, dong?
Kamu melakukan semuanya
dengan menggunakan nama-Ku.
Apakah dosa saya bisa diampuni?

Banyak puisi-puisi yang jenaka. Selain itu, reflektif, menyentil, dan kadang terasa personal. Favorit saya pada bagian pertama Sepotong Hati di Angkringan: Suara Masa Depan, Sebelum Masuk, Di Meja Makan, Sepotong Hati di Angkringan, Dolan, Sajak Sebutir, Wawancara Tengah Malam. Bagian kedua Ibadah Mandi: Protokol Kewarasan, Kilometer Nol, Sajak Semoga. Jokpin mengajak kita merayakan sepi, keterasingan, kesendirian, kesuraman lewat kumpulan puisi yang sebagian besar mengambil tema tentang corona. Pandemi gak akan membikin hari-hari terasa sepi. Sebab, ada Jokpin yang membawa sekumpulan puisi menghibur pun menghangatkan hati. Love banget ❤️

Protokol Kewarasan (halaman 74)
1. Menutup wajah dengan wajah yang lebih tulen.
2. Menjaga jarak dengan kenangan.
3. Mencuci hati dengan harum hati.
Profile Image for athiathi.
367 reviews
December 30, 2024
Puisi-puisi Jokpin memang terbaik! 💛

Di buku ini, aku paling suka puisi
berjudul Air Mata Pemalu
yang bunyinya begini:

Ia tidak pernah menangis di depan orang lain,
bahkan di depan cermin. Ia tidak ingin siapa pun
berpartisipasi dalam kesedihannya. Bila hatinya
patah dan kesedihannya pecah, ia akan menitipkan
air matanya kepada hujan. Terserah hujan akan
membuang atau melenyapkannya di mana. Bila
keesokan harinya ia melihat embun berkilauan di
atas daun, boleh saja ia menganggapnya sebagai
butiran air matanya. Gak masalah—apalagi jika
itu bisa membuatnya sembuh. (2021: 47)
Profile Image for Nanto.
702 reviews102 followers
May 31, 2021
Saya menikmati Jokpin sejak Celana, yang ada sebelum ia dijemur Di Bawah Kibaran Sarung. Saya menikmati teknik dan tema. Saya juga belajar penyair yang baik memang penggali kata dan rentetan arti yang sering tak disadari kebanyakan pengunyah kata yang cenderung literal. Saya menikmat prosesnya. Bahkan beberapa bukunya yang merupakan kurasi karya saat Jokpin belum ber-Celana.

Untuk buku ini, saya menikmat teknik-tekniknya atas tema pandemi dengan selubung drumband di Jogja. Pandemi menghadirkan rumah yang berbeda, Jogja yang berbeda. Salut saya untuk Jokpin yang terus berproses bahkan Menyambut Tahun Baru (p. 52) yang pandemi. Meski, "mau misuh dan nangis, eh keliru tertama." Pandemi membuat puisi-puisi Jokpin hadir dengan ujaran yang menyegarkan, tentang mandi yang menjadi ibadah, perkenalan kembali dengan mamah di rumah. Karena pandemi membuat kita tau arti Sinau (p. 72), yang ujungnya adalah

"... belajar kembali
menjadi saya, menjadi
bukan apa-apa,
bukan siapa-siapa."

Semua itu agar kita tak mengalami Tidur yang Sumuk (p. 49) karena lapis-lapis ilusi, gengsi, ambisi, dan tipu diri.
Profile Image for Evan Dewangga.
308 reviews37 followers
April 27, 2024
Di ujung malam korona
Seuntai buku sederhana membaca saya
Sehangat angkringan, setenang air mata
Prenjak, sepi, pandemi, sarung, lelah, ibadah, mawar, dan Yogya
Semua mengalir deras dari pita suara buku

Sembari buku mengeja, mata terpejam,
memutar pahit kenangan yang terekam
Deru ambulans tiap jam
Butir jiwa yang tenggelam
Mata dokter cekung kelam
Menggantikan sanak yang tak bisa mengucap salam ke makam

Pandemi yang menjelma puisi
Hadir dalam sajak-sajak ini
Membuat saya berkenalan dengan sunyi
Mengajaknya main ayunan
Sambil saya iseng bertanya,
"Habis ini mau jalan ke mana?"
"Jalan yang terasa jauh dan entah akan sampai di mana."

Buku lelah bercerita
Saya lelap di pangkuannya
Profile Image for ami ☆ ⁺‧₊˚ ୭.
156 reviews18 followers
March 18, 2025
"Barangkali tidur adalah cara mabuk yang paling aman dan nyaman."

Buku kedua dari pak Jokpin yang kubaca. Masih ada jenakanya, jelas. Tapi lebih suram dibanding Perjamuan Khong Guan. Gak banyak bikin senyum-senyum sendiri, gelap. Sepertinya karena ditulis zaman covid, jadi perasaannya berbanding terbalik sama buku sebelumnya yang kubaca. Cuma ya, tetap pak Jokpin kan. Jadi tetap sederhana dan banyak arti—dan itu yang aku suka🫶🏻

Dan, gawat ini. Jadi ada keinginan buat koleksi buku-bukunya🤦🏻‍♀️

"Aku belajar kembali menjadi saya, menjadi bukan apa-apa, bukan siapa-siapa."
Profile Image for Sintia Astarina.
Author 5 books359 followers
February 28, 2021
Kumpulan puisi terbaru @jokpin.jogja terbagi ke dalam 2 bagian. Porsi pertama, Sepotong Hati di Angkringan, berpusat pada pengamatan penyair lewat panca inderanya. Memang ya, ketika melihat sesuatu dari kacamata penyair, hal yang tampak biasa malah bikin angguk-angguk kepala. Ketika mendengar dari telinga penyair, perjalanan kenangan kadang jadi lebih getir. Ketika menyelami sesuatu lewat isi kepala penyair, gila... kok bisa banget kita enggak kepikiran?

Jogja, salah satu kota kesayanganku, diikutsertakan di dalamnya. Aku mendadak ingat perkataan Aan Mansyur soal kepercayaannya bahwa kota bukan melulu soal fasilitas di dalamnya. Kota adalah manusia. Hal itu pun dapat aku rasakan dari penggambaran tulisan di buku ini, di mana Jogja bukan melulu disamakan sebagai sebuah kota, melainkan masyarakat, keseharian, kepribadian termasuk angkringan di dalamnya. Sepertinya buku ini ingin mencoba menonjolkan bahwa memang, Jogja tak pernah kehilangan keistimewaannya.

Porsi selanjutnya, Ibadah Mandi, ternyata mendapat bagian yang lebih sedikit dibandingkan pertama. Isu seputar pandemi, seperti soal rumah sakit yang ramai, nakes yang berjaga, perjumpaan dengan kematian, hingga kebiasaan mandi, banyak dikuliti di sini. Topik yang dihadirkan penyair mengingatkanku pada buku puisi Salah Piknik yang diluncurkan hampir berbarengan.

Sempat terlintas, bosan sekali dengan topik ini. Pandemi lagi, pandemi lagi. Namun, isi kepala penyair ternyata luas sekali. Senang sekali dengan penyair-penyair overthinking seperti ini yang selalu punya ide segar, meski topiknya itu-itu lagi. Dan ya, pembawaan Jokpin yang khas, yakni gaya humor menyentilnya, membuatku sebagai pembaca memaafkan puisi-puisinya.

Omong-omong soal kebiasaan mandi, aku cukup tergelitik dengan puisinya. Berikut nukilannya.

Sebelumnya, jika lagi sedih atau marah, saya malas mandi. Kini, mau sedih atau gembira, saya tetap mandi. Mandi sudah menjadi sebentuk doa, menjalin cinta dengan air. Bahkan saya berani mandi dalam gelap. Dalam gelap tubuh saya yang sengsara ternyata bercahaya. Jangan heran, sebelum tampil dalam acara daring pun saya sempatkan beribadah mandi. Percayalah.


Saat pertama kali membaca Sepotong Hati di Angkringan, ada tiga puisi yang setidaknya kunobatkan sebagai terfavorit.
1. Solilokui Sebelum tidur
2. Air Mata Pemalu
3. Elegi 2020

Namun, kalau membaca puisinya untuk kedua kali, ternyata banyak puisi lainnya yang tak kalah bagus dan langsung masuk ke dalam daftar kesukaan. Memang ya, Jokpin ini.

Bagi yang merindukan Jogja, aku yakin buku puisi ini bukan cuma bisa jadi pelepas rindu, melainkan obat penambah rindu.
Profile Image for Natasha.
122 reviews
January 10, 2023
"Angkringan adalah nama sebuah sunyi, tempat kau melerai hati, lebih-lebih saat hatimu disakiti sepi."

Buku ini buku ke-4 dari Joko Pinurbo yang kubaca, sebelumnya sudah baca Celana, Buku Latihan Tidur, dan Perjamuan Khong Guan. Aku berhasil pinjam buku ini di iPusnas!

Yang baru kusadari dari buku ini adalah kali ini kita disuguhkan ilustrasi-ilustrasi cantik di setiap lembarnya. Suka banget sama isinya, favorite ku antara lain : Patung Filsuf, Solilokui Sebelum Tidur, Tidur Yang Sumuk, Pesan Kalender. Senang juga Joko Pinurbo melanjutkan puisi dari karya sebelumnya dalam Perjamuan Akhir Tahun, sekarang kita jadi punya ending yang bahagia untuk Perjamuan Khong Guan! <3

Aku mulai baca buku ini saat akhir tahun 2022, tidak menyangka didalam buku ini banyak puisi yang melibatkan akhir tahun dan tahun baru. Kebetulan sekali bukan?

Ingin berbagi kata-kata yang aku dapat dari buku ini :

"Bukan aku yang memilih jalan ini, melainkan jalan ini yang memilihku. Aku hanya menjalani."
-
"Barangkali tidur ada;ah cara mabuk yang paling aman dan nyaman."
-
"Siapa bilang kamu bisa membasmi sepi dengan kecanggihan teknologimu? Sepi itu kreatif dan adaptif dari dirimu."
-
"Bukan salah sepi jika kamu kesepian. Salahmu sendiri tidak bisa berkolaborasi dengan sepi."
-
"Bila hatinya patah dan kesedihannya pecah, ia akan menitipkan air mata kepada hujan. Terserah hujan akan membuang atau melenyapkannya dimana."
-
"Tidurku sumuk sekali
karena aku mengenakan
selimut berlapis-lapis.
Lapis pertama, ilusi.
Lapis kedua, gengsi.
Lapis ketiga, ambisi.
Lapis keempat, tipu diri."

-
"Manusia berencana, rencana jua yang menentukan. Ia akan tetap atau berubah, lurus atau berbelok arah, tinggal atau pindah, itu bukan urusanmu sebab kamu makhluk di luar rencana. Ikuti saja maunya rencana."
-
"Mandi sudah menjadi sebentuk doa, menjalin cinta dengan air.
-
"Kamu sering bicara tentang betah atau tidak betah di rumah. Pernahkah kamu berpikir apakah rumah betah tinggal bersamamu. Tanyakanlah."
-
3 reviews
December 30, 2024
Yang menarik dari buku puisi "Sepotong Hati di Angkringan" karya Joko Pinurbo adalah bagaimana Jokpin menjadikan hal-hal sederhana dan akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Hal yang menarik dari buku kumpulan puisi ini:

1. Angkringan Sebagai Simbol Kehidupan

Angkringan menjadi simbol kehidupan itu sendiri. Ia adalah tempat persinggahan sementara, tempat bertukar cerita, melepas lelah, atau sekadar menikmati secangkir kopi dan sepotong tempe. Jokpin menggunakan angkringan sebagai metafora untuk menggambarkan perjalanan manusia: persinggahan, pertemuan, dan perpisahan.

2. Kesederhanaan yang Mendalam

Puisi-puisinya menggunakan bahasa yang sederhana dan lugas, tetapi memiliki makna yang mendalam. Jokpin membuktikan bahwa sesuatu yang tampak biasa, seperti obrolan di angkringan, bisa menyimpan filosofi tentang cinta, waktu, dan kehidupan.

3. Representasi Kehidupan Rakyat

Angkringan adalah tempat yang merakyat, sehingga buku ini terasa sangat "Indonesia." Ia mengangkat suara dan kisah dari kehidupan kelas menengah-bawah tanpa pretensi, memperlihatkan bagaimana kebersahajaan justru sering kali menjadi sumber kebahagiaan dan kebijaksanaan.

4. Keseimbangan Emosi

Buku ini memiliki keseimbangan emosi yang unik. Ada puisi yang terasa ringan dan lucu, tetapi ada juga yang menyentuh tema kehilangan, kesepian, atau kerinduan. Hal ini menciptakan pengalaman membaca yang berlapis-lapis.

Mungkin beberapa puisi akan terkesan repetitif, tapi tidak mengurangi keseluruhan puisi-puisi yang ada di dalamnya terdampak.

Buku ini berhasil menjadi Kumpulan Puisi favorit saya di tahun 2024.
Profile Image for Jagaddhita Pradana.
24 reviews
November 17, 2025
Salah satu puisi berjudul "Wawancara Tengah Malam" menampar semua orang. Saat malam tiba memang biasa terjadi dialog antara diri kita sendiri atau dengan Dia. Membaca puisi ini tidak hanya menyadarkan tapi juga menampar, memberi kesadaran untuk kita. Bisa membuat "Tidur yang Sumuk"

Baca puisi ini seperti arsip yang kental dengan masa pandemi. Segala perasaan yang ada pada saat masa pandemi seperti tertulis lengkap di sini.
Bagian penutup diceritakan bahwa buku ini memang ditulis oleh Pak Jokpin saat pandemi. Beliau sangat produktif dengan puisi-puisi yang hebat.

Kembali lagi pada isi puisi, salah satu puisi lain yang membuat saya merasa ngena banget di hati adalah kisah tentang kebingungan hari, tanggal, waktu saat masa pandemi.
Karena hal itulah yang terjadi pada saya sampai sekarang. Saya bingung kalau diminta mengurutkan kenangan saya pada saat kuliah semester 3-6, seperti terbalik-balik kuliah selama dua tahun itu.

Sebenarnya Bisa saya ingat momennya, bisa saya jelaskan apa yang saya lakukan--pada saat pandemi. Tapi saya seperti kehilangan detail waktu.

Salah satu puisi di buku ini membahas itu, dan saya merasa begitu dekat dengan puisi tersebut.
Profile Image for  l i t  sun.
38 reviews10 followers
September 13, 2023
bukan buku kesukaanku nampaknya. begitupun dengan kata-kata yang nampak disusun buru-buru.

tetapi ada tiga puisi yang cukup kusuka.
pertama, jogja bertapa. puisi itu cukup detail dan menggambarkan kota yang sunyi saat pandemi dari sudut sudut warung di yogyakarta.

kedua, ayunan. aku suka sih soalnya teringat tidak ada mata pelajaran untuk bermain di taman bermain. barangkali dahulu para lansia juga tidak pernah menyentuh taman bermain. mereka harus belajar lebih banyak lagi.

ketiga, solilokui sebelum tidur. karena akhir-akhir ini, pascawisuda merasa kesepian, jadi mungkin cukup terasa ya, bahwa, "sepi itu lebih kreatif dan adaptif daripada dirimu" dan "salahmu sendiri tidak bisa berkolaborasi dengan sepi"

begitulah
Profile Image for Soraya Nur Aina.
167 reviews1 follower
December 23, 2023
Jujur aku ngga banyak baca buku kumpulan puisi. Dan ini buku Joko Pinurbo pertama yang aku baca. Seperti judulnya Angkringan, aku tau ini pasti Jogja. Ternyata benar.

Buku ini ditulis saat pandemi Covid-19, jadi memang banyak sajak tentang Korona selain Jogja. Sajak favoritku ada di "Tidur yang Sumuk" dan "Suara Drumben Dini Hari".

Jokpin, memang penyair ulung. Kemampuan menangkap hal-hal yang dianggap teramat biasa seperti Tukang Becak atau mitos Suara Drumben Dini Hari (hayo, yg pernah tinggal di Jogja pasti tau) menjadi puitis bikin kagum sekaligus takjub. Kosakata penyair memang luas, ya.
Profile Image for Nike Andaru.
1,646 reviews112 followers
April 15, 2022
35 - 2022

Akhirnya dapat juga pinjaman di Ipusnas, biasanya ngantri terus. Malam ini iseng buka dan dapat deh.

Buku kumpulan puisi satu ini ditulis di tahun 2020 di mana pandemi baru dimulai. Tentu saja puisi di dalamnya kebanyakan tentang corona dan bagaimana kita memaknainya.

Kalau ditanya berapa judul favorit saya di dalam buku ini? Ah banyak banget.
- Di Meja Makan
- Sepotong Hati di Angkringan
- Sajak Sebutir
- Solilokui Sebelum Tidur
- Tidur yang Sumuk
- Di Rumah Sakit
- Sinau
- Sajak Semoga

Semoga kita dan kata
tak kehilangan gila
Profile Image for raafi.
933 reviews452 followers
July 18, 2021
Selalu ada yang bisa dibicarakan dalam segala hal; termasuk berpuisi. Menghubungkan angkringan dan perasaan sepi, tukang becak yang terlelap dalam mimpi, hingga serba-serbi pandemi tumpah dalam kumcer ini.

Dalam masa-masa genting seperti ini membaca kumcer ini terasa pas. Beberapa menghanyutkan tapi tidak sedikit yang menghangatkan.

Selalu suka bait-bait invasif dan jungkir balik dari sang penyair.
Profile Image for Lidia.
91 reviews
April 21, 2022
Saya selalu takjub dengan puisi-puisi Jokpin. Puisi ini ditulis sejak 2020, masa pandemi. Mungkin sebagai bentuk keprihatinan akan banyaknya yang meninggal saat itu, hingga beliau mengabadikan lewat puisi.

"Ia tak sempat membayangkan
pohon mawar kesukaannya
akan tumbuh subur
di atas makamnya"(Jokpin)
Profile Image for runin.
126 reviews1 follower
September 21, 2023
Ini adalah buku kumpulan puisi pertama yang saya baca, karena penasaran. Tetapi untuk penikmat puisi pemula semacam saya, rupanya tidak salah berkenalan dengan dunia puisi lewat karya Joko Pinurbo ini: bahasanya tidak terlalu "tinggi" dan setiap topiknya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jadi saya rasa tidak begitu susah untuk memahami maknanya.
Profile Image for Satvika.
583 reviews43 followers
July 30, 2024
Buku Puisi ini dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama lebih bercerita tentang rasa sepi dan bagian kedua bercerita tentang perasaan di kala covid.

ini sepotong bagian puisi favoritku ;

"Bukan salah sepi jika kamu kesepian. Salahmu sendiri tidak bisa berkolaborasi dengan sepi."

Tema sendu yang dibalut dengan gaya kepenulisan yang ceria, saya menikmati membaca buku puisi ini.
Profile Image for ND Ratna .
112 reviews
January 1, 2026
klo bapak sapardi versi romantis sepertinya bapak ini tipe jenaka.

aku suka tangga tinggi: rumahmu dibangun diatas tanah Tinggi. hatimu juga tinggi.

selain itu ada juga yang bagus seperti perjamuan akhir tahun utk ayah yg akhirnya menemukan rempeyek dalam khong Guan wkwkwk.

aku juga suka tidur sumuk yg berlapis ilusi, gengsi, ambisi dan tipu diri
Profile Image for Ridy Sudarma.
53 reviews3 followers
July 24, 2021
Bagiku menikmati puisi rasanya tak lepas dari suasana hati. Mungkin karena itu pula, kumpulan puisi ini tidak terasa terlalu istimewa. Menarik juga melihat hal keseharian dideskripsikan dalam lebih kurang 50 puisi yang semi prosa.
Profile Image for Alfin Rizal.
Author 10 books51 followers
January 8, 2022
Puisi Jokpin bisa dibaca hampir oleh semua orang, semua kalangan, semua umur. Bahasanya yang sederhana sejak lama memikat pembaca—bahkan penyair muda. Aku salah satu orang yang mampu menikmati puisi gara-gara Jokpin.
Profile Image for avocatara.
95 reviews8 followers
March 22, 2022
Puisi-puisi yang ditulis waktu pandemi. Beberapa puisi secara gamblang menceritakan sekaligus merenungkan situasi pandemi.
Meskipun aku merasa puisi-puisi di sini agak muram, sentuhan khas Jokpin yang kadang nyeleneh masih terasa.
Aku suka sama visual-visualnya.
Profile Image for uwievelo.
27 reviews1 follower
March 1, 2021
Sudah mau sedih sudah harus bahagia lagi.
Khas Jokpin, sederhana dengan plot twist yang getir atau jenaka atau keduanya.
Profile Image for Alvania Kartika.
44 reviews6 followers
November 25, 2021
Saya selalu menganggap puisi sulit dipahami. Sampai saya membaca karya Joko Pinurbo ini. Mudah dimengerti, saya bisa tertawa membacanya namun juga merasakan keindahan tulisannya.
18 reviews
March 15, 2022
Buku pertama Jokpin yang saya baca.. lebih spesial karena bacanya pas masa pandemi covid yg sesuai dengan temanya.. overthinking, kesepian dan covid, semua di balut dengan begitu indah
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 30 of 41 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.