Aku pernah takut menghadapi kepergian sebab cintaku sudah menancap terlalu dalam. Namun sebanyak apa pun aku berkorban, sekuat apa pun aku mencoba bertahan, kepergian tetap tak pernah bisa terhindarkan. Maka, bila sudah begitu, apalagi yang bisa aku lakukan selain menikmatinya? Sederas-derasnya hujan, kelak pasti akan reda juga. Kepergianmu memang menyisakan luka, tapi yang membawaku kepada kebahagiaan yang sesungguhnya. Sebab bagi orang yang terlalu mencintai sepertiku, patah hati adalah anugerah. Darinya, aku mengerti ternyata sesakit itu berharap kepada sesuatu yang semu; manusia.
Buku ini merupakan buku yg berisi kumpulan cerita yg saling bersambung setiap halamannya. Dimulai dari pertemuan, perkenalan, dekat, nyaman, kebersamaan, patah hati hingga proses kepergian.
Jadi, dibuku ini 'Aku' sebagai tokoh utamanya. Si 'Aku' ini sedang menceritakan perasaan dia terhadap seseorang. Menariknya disetiap ceritanya terselip pesan tersirat oleh penulis. Sebagai pembaca kayak ngerasa lagi self talk gitu.
Bisa dikatakan tokoh 'Aku' ini terjebak dalam friendzone. Akhirnya, kesabarannya berbuah manis dan cintanya terbalaskan. Tapi sayangnya itu tidak bertahan lama si 'Dia' perlahan menarik diri dari kisahnya hingga memudar.
Buku ini memberikan esensi tersendiri bagiku. Mengajarkan satu hal penting, bahwa cinta yang benar-benar cinta adalah cinta kepada Sang Maha Kuasa. Mau berusaha sekeras apapun, mau berjuang sekeras apapun untuk bersanding dengannya, jika nama yang tertulis di lauhul mahfudz bukan dia, maka tidak akan pernah terjadi.
Membaca buku ini juga menyadarkan ku dari angan-angan semu. Hanya dunia imajinasi yang bebas memerankan aku dan dia bisa bersatu.
Ada satu kalimat yang nampol banget, "Pernah patah bukan berarti tak akan pernah bahagia". Walaupun pernah patah, akan terus bisa bahagia, dengan cara lain dan dengan siapapun.
Buku ini menyampaikan pesan, jika Allah menyingkirkan semua orang dari hidup kita itu tandanya Dia sedang memberi tahu bahwa memang hanya Dia yg tak akan pernah meninggalkan, yg selalu mendengar doa-doa, yg menjawab semua perkara melalui untaian ayat-ayat suci yg mengobati. Maka jangan pernah putus asa dari rahmat Nya.
Sebuah buku yang bisa dibilang buku 'sekali duduk' dikarenakan berisikan penggalan quotes dan cerita-cerita pendek perihal sebuah pertemuan yang menghadirkan cinta sekaligus perpisahan. Hingga akhirnya dihadapkan dengan kenyataan bahwa mengikhlaskan sebuah 'kepergian' seseorang bukanlah sesuatu yang buruk. Dikarenakan dalam prosesnya, kita mungkin kehilangan orang tersebut. Namun, kita akan menemukan diri kita dalam versi yang lebih baik.
"Aku pernah takut menghadapi kepergian sebab cintaku sudah menancap terlalu dalam. Namun sebanyak apa pun aku berkorban, sekuat apa pun aku mencoba bertahan, kepergian tetap tak pernah bisa terhindarkan.
Maka, bila sudah begitu, apalagi yang bisa aku lakukan selain menikmatinya? Sederas-derasnya hujan, kelak pasti akan reda juga.
Kepergianmu memang menyisakan luka, tapi yang membawaku kepada kebahagiaan yang sesungguhnya. Sebab bagi orang yang terlalu mencintai sepertiku, patah hati adalah anugerah. Darinya, aku mengerti ternyata sesakit itu berharap kepada sesuatu yang semu; manusia.
Yang terbaik, pilihan Allah."
Wah, kutipan kalimat diatas bener-bener masuk ke relung hati ya. Narasi yang disuguhkan oleh penulis sangat relate dengan apa yang sedang kita rasakan saat ini.
Untuk kita yang sedang dirundung kesedihan karena terlalu berharap sama manusia, buku ini bisa jadi pereda kesedihanmu. Buku ini mengajarkan kita untuk menerima bahwa sejatinya setiap yang pergi pasti akan diganti dengan yang lebih baik. Dan dengan itulah kita dapat memahami bahwa sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan dengan suatu "kepergian".
Ketika aku baca novel ini, perasaanku seperti diaduk-aduk dengan kenyataan. Bahwa yang saat ini sering kita lakukan adalah menaruh harap kepada yang belum pasti milik kita. Dan kita lupa bahwa Allah lah pengatur skenario kehidupan yang sesungguhnya.
Ada satu quotes yang bener-bener ngena untuk kita resapi maknannya. "Sesuatu yang hilang didunia akan kita temukan penggantinya. Kecuali bila kita kehilangan Allah, maka tak akan pernah kita temukan penggantinya." (hlm 185)
So far, aku rekomen banget novel ini buat kalian yang lagi jatuh cinta, patah hati, berusaha moveon dan semua hal yang melibatkan perasaan. Baca novel ini dan kalian akan merasakan bagaimana sesungguhnya perasaan ini hadir dan tumbuh.
Buku terbitan pertama tahun 2020 ini bukan buku fiksi berisi kisah tokoh tertentu. Melainkan inilah kisah tentang kita semua. Penulis @alfialghazi membawa pembaca menjadi tokoh utamanya. Berisi kalimat-kalimat yang dirangkai dengan penuh luapan perasaan, sehingga sampai begitu indah ketika pembaca mendikte tiap barisnya.
Setiap subjudul berhasil dirangkai menjadi seperti sebuah kisah nyata. Perjalanan mengikhlaskan kepergian seseorang yang mungkin hanya ada di bayangan kita sebagai pembaca. Setiap pembaca bisa mengartikannya sebagai siapapun kata 'aku' dan 'kau' di dalam tulisan-tulisan buku ini.
Berawal dari rasa yang sepertinya salah, berlangsung lah beberapa saat kebersamaan. Namun, sayangnya tidak ada akhir yang lebih Allah ridhai kecuali kata melepaskan. Melepaskan dengan cara yang anggun, dengan pikiran yang waras, dan dengan jiwa yang lebih ikhlas.
Ternyata, senikmat itu melepaskan kepergianmu. Karena, setelah itu kita sama-sama tahu, bahwa, Allah yang lebih pantas untuk dipertahankan.
Secara keseluruhan, bagi yang merasa terwakili dengan kalimat prolog di atas, mungkin buku ini amat sangat cocok untuk dibaca. Kata yang mungkin tidak sanggup kita ucapkan, tapi kini mampu kita baca melalui buku berjudul "Menikmati Kepergianmu" ini.
Agak emosi bila baca buku ini. Mungkin kerana saya sedar yang cinta memang membutakan manusia bilamana kau terlalu mengagungkannya. Tapi tanpa jatuh kita tak tahu erti kesakitan, kan? Agak susah sikit sebab language barriers. Ada beberapa perkataan yang lepas Google pun saya kurang faham tapi best!