Salah Piknik adalah kumpulan puisi Joko Pinurbo yang sebagian besar isinya merespons fenomena yang terjadi selama wabah corona melanda dunia. Puisi-puisinya menampilkan permainan kata yang bernada humoris sekaligus getir. Sindiran dan kritik juga hadir dalam buku ini. Dilengkapi dengan ilustrasi karya Alit Ambara, buku puisi ini hadir sebagai dokumentasi sosial yang penting merekam banyak hal baru yang terjadi selama pandemi.
Joko Pinurbo (jokpin) lahir 11 Mei 1962. Lulus dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (1987). Kemudian mengajar di alma maternya. Sejak 1992 bekerja di Kelompok Gramedia. Gemar mengarang puisi sejak di Sekolah Menengah Atas. Buku kumpulan puisi pertamanya, Celana (1999), memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001; buku puisi ini kemudian terbit dalam bahasa Inggris dengan judul Trouser Doll (2002). Ia juga menerima Sih Award 2001 untuk puisi Celana 1-Celana 2-Celana 3. Buku puisinya Di Bawah Kibaran Sarung (2001) mendapat Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2002. Sebelumnya ia dinyatakan sebagai Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001. Tahun 2005 ia menerima Khatulistiwa Literary Award untuk antologi puisi Kekasihku (2004). Buku puisinya yang lain: Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), dan Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007). Selain ke bahasa Inggris, sejumlah sajaknya diterjemahkan ke bahasa Jerman. Sering diundang baca puisi di berbagai forum sastra, antara lain Festival Sastra Winternachten di Belanda (2002). Oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan sejumlah sajaknya digubah menjadi komposisi musik.
Buku nipis terisi bahasa puisi sekitar pandemi. Ada beberapa yang sedap asonansinya, namun selalu tertarik dengan kisah di sebalik patah puisi Jokpin yang kadang melankolik dan sinis tapi penuh emosi dan ironi.
"pandemi sudah terlalu lama rindu tidak banyak berguna bahasa kadang mati rasa"
Tertarik sisipan tentang Chairil yang mengembara di sekitar larik puisi. Ada beberapa yang aku sangat suka-- Curhat Kepada Ibu, Lorong (selamat malam, dokter!) juga beberapa puisi bertema kursi yang bersalingkait.
"rindu boros daya malam tinggal setengah giga tinggal beberapa calon orang gila berkeliaran di linikala"
Salah Piknik sudah ada lama dalam daftar wishlist. Seharusnya memang dibeli saat masih pandemi, sehingga puisi-puisi yang terbaca masih sangat terasa relevan.
Tapi pandemi sudah lewat. Pemilu juga sudah lewat. Yang masih sering dijumpai adalah Lapak Buku Bajakan.
DI LAPAK BUKU BAJAKAN
Di lapak buku bajakan negara belanja buku-bukuku sambil pura-pura bertanya, "Ini asli, kan?"
Kami sedang merayakan secangkir royalti di kedai minum, tidak jauh dari mereka Chairil tertawa dan berkata:
"Sudahlah, gaes, jangan terlalu berharap kepada negara. Berharaplah kepada senja, hujan dan kopi."
Satu lagi penyair Indonesia yang karyanya bercerita soal pandemi dan diterbitkan dalam buku puisi. Salah Piknik adalah buku kumpulan puisi Joko Pinurbo yang berisikan refleksi sosial yang dikemas dalam bentuk satir dan ironi.
Bila dianalogikan seperti makanan, Salah Piknik ini adalah menu spesial dengan topping lengkap. Selain lebih ekstra karena dilengkapi berbagai ilustrasi warna-warni yang sama kerennya, buku ini rasa-rasanya dapat mewakili segala karut-marut yang terjadi setahun belakangan ini: ketakutan, kegalauan, kejenuhan, tapi di balik itu ada kebahagiaan, keikhlasan, juga syukur tiada tara. Ini bisa jadi semacam kaleidoskop 2020, tapi dalam versi puisi.
Yang aku rasakan, penulis benar-benar mengamati sekelilingnya, mulai dari hal besar yang jadi perhatian negara sampai dunia, hingga hal-hal kecil yang kadang luput, tapi sebenarnya sama berharganya. Mulai dari nakes yang berjuang mati-matian melawan virus korona, masyarakat yang kehilangan pekerjaan, Indonesia yang berduka atas kepergian orang-orang tercinta, juga refleksi di dalam diri.
Berikut ini tulisan Mas Jokpin yang aku favoritkan.
Yang bikin merinding dan berkaca-kaca (belum sampai nangis): 1. Khotbah di Atas Becak 2. Yesus Naik Ojek
Yang bikin ngikik sampai tertegun: 1. Kaki Meja 2. Pengejaran
Yang bikin kaget karena tiba-tiba air mata ngucur begitu aja: 1. Sapardi 2. Requiem -J.O
Lewat Salah Piknik, pembaca diajak untuk kembali mundur sebentar, mengambil sebanyak mungkin makna, lalu menyiapkan diri untuk hal-hal baru di depan mata. Pada akhir buku, kita pun semakin diingatkan bahwa "Beginilah hidup, ada yang pergi, tapi ada yang datang kembali".
Memang, meski ada nelangsa yang masih membekas setelah menamatkan buku ini, puisi-puisi Jokpin selalu layak dinanti.
Buku pertama hasil sale Gramedia 50% yang baru saja datang hari ini sudah selesai. Ya buku kumpulan puisi ini memang buku sekali duduk, tapi saya mah yakin bikin puisinya gak bisa sekali duduk.
Kumpulan puisi ini dibuat mulai tahun 2020, tahun dimulainya virus corona menyebar lalu meluluhlantakkan dunia.
40 puisi Jokpin selama masa pandemi tahun 2020 terangkum dalam buku ini dan dihiasi oleh ilustrasi-ilustrasi Alit Ambara. Ada puisi tentang Yesus, media sosial, korona, hujan, dan topik-topik sederhana lain khas Jokpin. Favorit saya adalah puisi 'Khotbah di Atas Becak', yang saya kutip beberapa baitnya:
...
"Di sini becak tetap hidup ya, Pak?" "Hidup ini konon seperti roda. Dulu orang-orang kampung tersihir kota.
Kini orang-orang kota ingin menepi ke kampung agar bisa mendengar suara burung, suara air, suara sunyi, suara malam, suara maut."
"Apa kaitannya dengan becak?" "Becak akan senantiasa dirindukan sebab manusia tetap butuh mengerti perihal lambat, nikmat, dan selamat. Zaman terus berganti, tetapi aroma sayur lodeh, tempe garit, dan sambal yang dimasak seorang ibu akan selalu membayangi hidup anaknya."
4.4 - Buku kumpulan puisi “Salah Piknik” karya @jokpin.jogja ini mengisahkan beberapa momen yang terjadi akibat corona. Beberapa ditampilkan dalam kalimat indah yang menimbulkan haru, sebagian lainnya tersusun menjadi puisi yang mengundang gelak tawa. Sangat menyenangkan membacanya, sebagai kumpulan puisi karya Joko Pinurbo yang pertama saya baca. Lima judul puisi favorit saya dalam buku ini: - Juminar - Khotbah di Atas Becak - Menghadap Kursi - Pengejaran - Perdangan Senja Selanjutnya akan berburu Perjamuan Khong Guan dan Sepotong Hati di Angkringan.
Seneng banget akhirnya punya buku ini. Selain tentang pandemi, ada juga tentang puisi reliji.
Adios 2020 Saya menyudahi tahun 2020 dengan mengoleskan ampas kopi pada pelupuk mata yang merah Setelah mengoleskan ampas kopi pada pelupuk mata yang lelah, saya menghadap cermin. Di dalam cermin muncul mendiang Ayah mengucapkan Alhamdulillah
Pak Jokpin selalu bisa mengambil sesuatu yang kelihatan biasa saja dan diolah menjadi puisi yang luar biasa. Bermain kata-kata sederhana tapi maknanya dalam. Dalam buku ini Jokpin juga menangkap fenomena2 yang lahir karena pandemi. Perubahan2 yang entah disadari atau tidak telah menjadi bagian dalam kehidupan setelah pandemi. Lucu dan jleb.
Saya tak kapok untuk menyelami dan menikmati puisi mbah Joko Pinurbo. Apalagi jika puisinya menyoal pandemi. Kepekaan pak Joko terhadap situasi memang patut diapresiasi. Tengoklah pandemi dalam ruangan puisi pak Joko Pinurbo ini.
Bocah yang oleh temannya sering dibilang goblok itu tahu banget cara membangun pagi yang baik: bangun tidur terus menggantungkan cita-citanya di tali jemuran.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Yesus - dengan mantel dan masker - naik ojek melintasi jalanan lengang di bawah rincik hujan, membawa lima roti, dua ikan, dan satu mangga, mau menengok teman-teman-Nya yang sudah lama tak bisa kerja karena pandemi virus korona.
kenang-kenangan dari Jokpin untuk kita semua. supaya bertahun mendatang, kita semua mudah mengingat apa-apa saja yang terjadi selama tahun pandemi korona. Jokpin mengemas nuansa duka, cemas, sepi, dan komedi yang ironis sepanjang tahun 2020 yang penuh berita virus dalam tulisan-tulisan yang lugas.
Tubuhku pohon hayat yang tumbuh di atas wadas, Tumbuh dan tumbuh saja seperti doa yang pasrah dan tak banyak meminta. Terima kasih, ya, terima saja. Amin, ya, amin saja.
"Perjalanan adalah cara merindukan kamar sumpek yang berantakan, bantal kecut yang menenangkan, tetes air dari keran bocor yang membuat malam terasa merdu, cangkir kopi bergambar asu, kursi kerja yang pegal linu kakinya, dan laptop tua yang rajin melahirkan kata." (Puisi "Pesawat Pagi")
Puisi favorit: Hujan di Atas Instagram, Tak Ada Lagi, Khotbah di Atas Becak, Kursi Tunggu, Wajah Bulan, Kebahagiaan Saya, Kursi Pangku, Menghadap Kursi, Curhat Kepada Ibu, Kaki Meja, Pengejaran, Di Lapak Buku Bajakan, Punggung Ibu, Salah Piknik, Iklan Peranti Tidur, dan Cinta yang Jatuh.