Saya cukup suka gaya bertuturnya. Namun, ada banyak penjelasan di dalam ceritanya yang agak mengambang. Pesan dalam cerita terkesan disampaikan tersirat, mungkin lebih ke ranah filosofis.
Bagi orang yang senang membaca cerita-cerita "nyata", kisah ini akan sangat membingungkan. Lebih membingungkan ketimbang cerita-cerita distopia. Bahkan, tokoh penceritanya sendiri bingung dengan kejadian yang dialaminya di negerj senja - negeri dengan matahari yang tak pernah tenggelam, hanya tertahan separuhnya di batas cakrawala.
Beberapa bagian menceritakan kejadian yang cukup menegangkan. Bagian lainnya justru meredakannya, dan cenderung membawa kembali pikiran kita "mengawang" pada pemikiran-pemikiran tersirat dari sang penulis sendiri.
Saya tidak terlalu suka cerita yang membuat kening berkerut lantaran berpikir dan membayangkan kejadian yang sama sekali sulit dibayangkan. Banyak hal yang tak bisa diukur di negeri senja. Pergantian siang dan malam, wajah orang-orang yang ditemui, kelebatan para "pendekar"nya, perempuan-perempuannya, hingga bagaimana kehidupannya yang sebenarnya. Seolah-olah cerita ini sengaja dibuat membingungkan.
Saya justru mereka-reka, kalau boleh, buku ini merupakan tafsiran kehidupan "tirani" penguasa pada zaman orde baru dulu. Mengingat buku ini diselesaikan tahun 1996.
Nampaknya saya butuh referensi bacaan lain dari SGA, biar bisa tahu apakah gaya penulisannya memang begini atau hanya berlaku untuk roman satu ini.
----------------------------------
"Kesedihan, ternyata, memang bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan, karena kesedihan berada dalam diri kita." --hal.3
"Jika anak-anak tidak diberi pelajaran, mereka akan mengira kehidupan tertindas adalah suatu kewajaran." -- hal.69
"...karena dengan pikiran kita bisa menolak kekuasaan." --hal.70
"Seorang pengembara yang selalu menjelajah akan mempunyai cakrawala yang luas, hanya jika ia menjadikan penjelajahannya sebagai tujuan." --hal.119
"Betapapun indah suatu dunia, bukankah kita selalu ingin memperluas cakrawala?" --hal.121
"Kebebasan adalah suatu keadaan yang sudah berada di dalam diri setiap orang, dienjara atau merdeka. Kebebasan adalah sesuatu yang terus-menerus diperjuangkan, dalam gerak perjuangan itulah terletak kebebasannha yang tiada tertakar hanya oleh ukurannya, tiafa ternilai oleh berhasil dan tidaknya, tiada terhargai hanya oleh yang dicapainya." --hal.139
"...kekuasaan yang mengandalkan kejayaannya dalam pengekangan kebebasan orang lain adalah kekuasaan yang kerdil." --hal.139
"Jika tidak pandai berbicara dengan mulutnya, seseorang bisa bericara melalui tangannya. Jika tidak pandai berbahasa dengan kata-kata, seseorang bisa berbahasa dengan cara apa saja." --hal.143
"Cinta bagiku hanyalah suatu permainan sementara, jika tenggelam terlalu dalam, kita akan terluka - cinta adalah permainan untuk tidak terluka." --hal.166
"Mereka yang dikuasai cinta akan lebih mudah menderita dan terluka daripada mereka yang menguasainya; namun siapa pun harus melepaskan pikiran mampu menguasai cinta dan mempermainkannya,karena siapa pun begitu jumawa merasa bisa menguasai cinta justru akan terbakar dipermainkan cinta." --hal.176
"...di dunia orang dewasa, bukankah kita harus selalu berdamai dengan luka?" --hal.177
"Kalau manusia masih bisa tidak melibatkan Tuhan dalam kehidupannya, ia tetap harus bisa menghormati manusia sebagai bagian dari harkatnya, karena manusia hanya menjadi manusia ketika ia melakukan segala sesuatu dengan penuh martabat." --hal.211