Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ketika Tuhan Tak Lagi Dibutuhkan

Rate this book
Ketika Tuhan
Tak Lagi Dibutuhkan, buku ini bisa menjadi perenungan bersama bahwa konsekuensi
keimanan kepada Tuhan sungguh agung. Dua di antaranya adalah membuat kita
menjadi pribadi yang berakhlak dan bermoral. Konsekuensi kedua adalah membuat
kehidupan kita lebih damai, karena apa pun peristiwa yang kita alami, yang kita
ingat pertama kali adalah Allah taala. Sukses ritual, sukses sosial.

Paperback

Published October 1, 2019

8 people are currently reading
13 people want to read

About the author

Ahmad Rifa'i Rif'an

58 books195 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (42%)
4 stars
5 (35%)
3 stars
3 (21%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Aang Noviyana.
125 reviews1 follower
August 15, 2022
kalau buku Rifa'i Rif'an yang berjudul Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk sistematikanya sangat terasa kokoh dari segi pondasi -terutama untuk cah kerjo- bukunya kali ini agak nangndhi-nangndhi karena strukturnya kurang rapih. Tapi overall, bisa dinikmati dengan baik. Lagi-lagi banyak perenungan yang keren dan nyelepet jebret~ Tuhan, maafin.. aku tuh lemah.
Profile Image for Dyah Mile.
33 reviews1 follower
March 26, 2025
dari judulnya bukunya sudah buat diri ini tersentil. di mana diri ini terlalu fokus dengan dunia dan hidup tujuannya untuk kesenangan dunia hingga Tuhan tak lagi dibutuhkan dan bukan tujuan hidup sebagai seorang muslim. nauzubillah.

baca buku ini di bulan Ramadan dan banyak menjabarkan esensi berpuasa dalam kehidupan sehari-hari. bagaimana puasa itu dapat membentengi dan mencegah kita dari perbuatan/hal-hal yang buruk (selalu mengingat bahwa saya berpuasa dan ingin puasa saya diterima sehingga membentengi diri untuk tidak melakukan hal yang di luar syariat Islam). dan banyak pula topik bahasan lain di mana sangat relate dengan yang sekarang terjadi (bersosial, berpuasa, korup$i, dll).
overall suka dengan buku ini dan sangat pas dibaca saat momen berpuasa.

Jika kau merasa besar, periksa hatimu, mungkin ia sedang bengkak. Jika kau merasa suci, periksa jiwamu, mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani. Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu, mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan. Jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu, mungkin itu asap dari amal salehmu yang hangus dibakar riya'.
(Mengenakam Busana Tuhan. hlm.18)


Negeri kita ini negeri yang unik. Kita dapat kupas kualitas negeri ini salah satunya dari kehidupan pegawai negerinya. Tentang moral. Jangan pernah Anda cari kosakata "kejujuran" di kamus kedinasan. Karena konon, kata itu menjadi kata yang paling dirindukan.
(Ch. Aku Rindu Abdi Negara yang Punya Malu. hlm, 146)

Demikian juga dengan puasa. Puasa adalah wahana pelatihan bagi jiwa agar kita punya malu. Mengingat rasa malu menjadi salah satu karakter yang langka di tengah kehidupan yang men-dewakan kebebasan seperti sekarang. Para koruptor tetap bisa senyam-senyum di depan kamera televisi. Para artis yang telanjur tercoreng mukanya dengan kasus video porno tetap percaya diri untuk tampil. Para wakil rakyat masih tidak malu berdebat kusir dengan membawa nama rakyat. Para lurah, bupati, wali kota, gubernur, dan pejabat tinggi lainnya juga tidak malu meskipun nyata-nyata ia tidak mampu memenuhi janji kampanyenya. -hlm. 150

Apabila demikian seterusnya, lahirlah para abdi negara yang tangannya terpelihara dari uang yang bukan haknya. Lisannya jauh dari sikap penjilat. Hatinya tumbuh sifat wara'. Ia akan berhati-hati terhadap amanah yang telah diberikan kepadanya. Dan hadirlah negeri yang dijanjikan itu, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr (negara yang adil dan makmur di bawah lindungan Tuhan Yang Maha Pengampun). -hlm. 151

"Menjadi apa pun kita, terserah, tetapi satu yang utama. Ya, hanya satu. Bagaimana kita bisa menjadikan peran yang kita pilih itu sebagai media pengabdian terbaik kita kepada Sang Pencipta. Bagaimana agar dengan peran itu kita bisa berkontribusi kepada sebanyak mungkin manusia."
(Ch.Kontribusi, hlm.176)
Profile Image for Kaykay.
133 reviews
April 4, 2024
Ada beberapa bab bahas hal yang sama dengan buku Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk. Dan kebetulan banget baca buku ini di bulan ramadhan, karena kebanyakan isinya menerangkan tentang keutamaan berpuasa.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.