Jujur saya sampai bergadang karena giddy dengan kegemasan mereka. Novel ini diceritakan dalam 2 pov yang ganti-gantian, Nggak selang seeling banget sih, ya sesuai kebutuhan cerita. Awalan hubungan mereka sebenarnya sangat typical, alasan jatuh cintanya karena cantik dan ganteng. Jadi seperti merasakan airy feeling high school crush rewinded gitu jadinya. Bahasanya nyaman, dan meskipun saya nggak over fond to dialog, tetep aja kedengeran enak di kuping.
Satu yang membuat saya senang melanjutkan membaca cerita ini adalah adanya element of humour. Sesederhana awal ngajak ngobrolnya Aldo ke Dania pakai alasan pulpen itu buat saya ciamik banget. Saya jadi pengen tahu dan tahu lagi soal chemistry yang dibangun keduanya.
Memang di dalam cerita sudah disebut berkali-kali kalau Dania sama Aldo nggak ngrasa kaya dewasa almost 30 and 30an, yang jadinya begitu. Di tengah-tengah membaca saya merasa apa mungkin jadi lebih baik jika waktunya bergeser. Masa kuliah jadi masa SMA dan jarak ditinggalnya jadi sewindu, Jadinya they're in 20s pas pacaran. Maka hal-hal yg crusial seperti nggak ngomongin future or prinsipil ketika memulai hubungan tuh jadi agak make sense since they're in try and error phase. Also for the cheesy-cheesy move kaya panggilan sayang pertama kali, rasanya agak too young gitu. *apa karena jaman sekarang sudah berkembang isu ngomongin hal-hal intelect and was wes wos ketika pacaran ya* Mana mereka berdua sudah S2 ya.
Pegangan mereka cuma konsep yang penting bahagia, yang memang ditekankan di awal. Itu pun munculnya hanya beberapa kali ketika sesi tokoh curhat aja. Buat yang mencari masa-masa contemplating tokoh sih rasanya memang nggak ada di separuh awal bukunya, because they both refuse to do so.
Saya sebenarnya ingin banget tahu apa yang jadi biggest concideration one dates each other, apalagi dengan adanya penghalang sebesar itu harusnya punya fuel kuat untuk melanjutkan kisah pacaran mereka. Yang aku tangkap hanya ya.. Dania cantik, bikin Aldo gemes, Aldo ganteng dan perhatian. Di luar itu... entah, mungkin aku yang missed ketika membaca. I was expecting more. Kaya misal apakah Dania pintar masak makanan kesukaan Aldo kah, jadi listener of all his problems, financial discuss partner, atau strong reasoning yang bikin "kalau bukan Dania, nggak bisa".
Beberapa hal memang nggak detailed or missing, soal kerjaannya yang disebut peripheral aja. Bagian awalnya beralur lambat yang kadang gatel pengen tahu abis ini apa. Sometimes things aren't make sense for me. Bilang pacaran nggak main-main tuh dasarnya apa orang bahasan prinsipal sama sekali nggak disentuh. Beberapa typo dan puebi, seperti penulisan namun di tengah kata yang berulang, meski saya bukan puebi freak saya rasa perlu jadi perhatian untuk perbaikan ke depan.
Tapi ya memang, despite there's thing quite different with my principal, soal keyakinan dan cinta yang membuat saya sebenarnya agak ragu di awal untuk membacanya, novel ini menurut saya masih cukup layak buat dinikmati. Menjelang sepertiga akhir ketika konflik benar-benar terjadi, "diskusi" mereka tentang pacaran berbeda agama, mereka juga membahas dari segi hubungan ayah anak. self present in family, hubungan kepemilikan, kedudukan, komunikasi. Kontemplasi Dania ini relatable, apalagi ada sejarah yang sama terjadi padanya. (but cmiiw, mamanya Dania ke mana ya? saya kok nggak dengar kabarnya samsek padahal bisa kan anak curhat sama mamanya yang notabene memiliki "problem" yang sama persis).
Saya tidak bisa berkata saya puas. Saya cukup menikmatk, tetapi masih berharap ada cerita lain dari Mbak Sarah, yang lebih baik lagi di kemudian hari. Still, congratulations for your debut novel.