Perkara jodoh dan pernikahan memang menjadi bahasan yang paling sering mengudara di dalam hidup saya belakangan ini. Namun demikian, tidak ada maksud baper ataupun caper ketika buku ini sampai ke tangan saya. Saya menemukannya pun tanpa sengaja saat jalan-jalan ke pameran. Ketika kemudian saya memungutnya dan menjadikannya salah satu buku belanjaan waktu itu, niat saya cuma satu, saya mau belajar. Hehehe
Buku ini tipis saja. Namun, tak cukup sedikit waktu untuk saya selesai membacanya. Sebab meskipun tipis, membaca buku ini rasanya berat sekali bagi saya. Selain berat di perasaan (tentu saja, haha), di dalam buku ini saya juga menemukan bahasan-bahasan baru yang sangat jauh dari jangkauan pengetahuan saya. Kemudian saya sadari bahwa dalam hal ini, ilmu saya masih jauh dari kata memadai.
Dengan buku ini, saya seolah diberi tahu bahwa sejatinya menikah itu bukan semata perkara bersatunya dua hati yang saling mencintai. Menikah adalah tentang kompromi. Kompromi atas ego masing-masing. Kompromi seperti apa kehidupan yang ingin dijalani bersama pasangan nanti.
“… bukan kurangnya cinta yang menyebabkan suatu hubungan gagal, tapi ketidaksukaan pada kehidupan yang dibentuk bersama.”
— hlm. 10
Dari buku ini pula, ada satu hal yang saya pelajari, adalah tak bijak tergesa ke pelaminan hanya untuk membungkam pertanyaan “kapan”. Sebab setelah menikah, ada banyak hal yang perlu kita kompromikan sepanjang kehidupan.