Jump to ratings and reviews
Rate this book

Childfree & Happy

Rate this book
Pernah berpikir untuk tidak punya anak? Apa yang akan terjadi jika kamu tidak mengikuti kemauan keluarga dan tuntutan masyarakat untuk jadi orang tua? Apakah menjadi orang tua adalah peran yang sesuai untukmu?

Sebagian orang ingin menunda punya anak, sebagian kecil lainnya benar-benar tidak ingin punya anak. Kelompok kedua biasa disebut childfree, sebutan untuk orang-orang yang hidup Bebas-Anak sepanjang hidup mereka. Kini tidak sedikit orang Indonesia yang berpikir untuk childfree, meski yang berani menyatakannya secara terbuka belumlah banyak. Wajar saja sebab masyarakat masih memandangnya sebelah mata, menganggapnya sebagai tindakan egois belaka. Padahal jauh dari kesan itu, orang-orang childfree memutuskannya berdasarkan perenungan mendalam dan kesadaran penuh, hingga akhirnya menyadari bahwa menjadi orang tua bukanlah peran yang cocok bagi mereka.

Tori membahas semua hal tentang childfree: penyebab, pengaruh, dan argumen berdasarkan kisah orang-orang yang telah mantap memilihnya, juga kisah dirinya sendiri. Childfree & Happy adalah sebuah buku yang akan membuka mata kamu, jika saja kamu siap melihat kehidupan dari warna berbeda.

150 pages, Paperback

Published February 22, 2021

12 people are currently reading
182 people want to read

About the author

Victoria Tunggono

10 books32 followers
Victoria Tunggono was born in Ende on March 17, 1984. She was raised in Jakarta but the family decided to move to Bandung in 1992 and lived there until 2012. Tori studied Visual Communication Design at Bina Nusantara University in Jakarta but she was interested more in Interior Design, so she moved and finished her study at Maranatha Christian University in Bandung. Tori had worked in several interior design and interior magazine companies in Jakarta before she decided to move to Bali in 2012. She moved back to Jakarta in early 2017.

Her journey to find her identity as Indonesian nationality started in Bali, which then led her to unveil layers of glorious secrets hidden by the ancestors in the past. Follow Tori's journey revisiting Indonesia's history represented by Rani and Bima in 'Gateway To Nuswantara' book!


Check out her Facebook Page:
https://www.facebook.com/victoriatung...
and her website:
https://www.victoriatunggono.com
and follow her social media:
@ratuvictoria

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
36 (36%)
4 stars
41 (41%)
3 stars
19 (19%)
2 stars
0 (0%)
1 star
3 (3%)
Displaying 1 - 28 of 28 reviews
Profile Image for Sintia Astarina.
Author 5 books359 followers
December 29, 2021
Apa benar memutuskan hidup bebas anak adalah keputusan yang egois?

Betapa aku sungguh disadarkan ketika membaca buku Childfree & Happy yang ditulis Victoria Tunggono. Sejujurnya, gagasan hidup bebas anak sempat mampir sekelibat dalam benak. Kupikir, kasihan anakku nanti jika ia harus menanggung dunia yang kejam seperti ini. Berat pasti rasanya. Secara fisik dan mental pun aku juga belum siap. Buku ini malah membuka pikiran-pikiran lain yang sebelumnya nggak kusadari.

Seperti halnya poin-poin berikut yang menurutku sangat menarik:
1. Alasan childfree bisa disebabkan beberapa faktor, yakni pribadi, psikologis dan medis, ekonomi, dan lingkungan hidup.
2. Keputusan untuk childfree tidak hanya sepenuhnya disandarkan pada perempuan (yang fungsi biologisnya mengandung dan melahirkan). Penulis mengemukakan sudut pandang pria childfree yang menurutku justru jadi argumen penguat bahwa urusan anak bukan hanya dilimpahkan pada perempuan aja, melainkan kedua belah pihak.
3. Banyak orang yang ingin memiliki anak karena alasan yang salah. Misalnya, "penasaran" gimana rasanya jadi orangtua, tuntutan sosial (termasuk orangtua) yang memuakkan, banyak anak banyak rezeki (they say), biar ada yang ngerawat/nemenin pas udah tua, dst. Sayangnya, keputusan untuk secara sadar memiliki anak tidak benar-benar dipertimbangkan. Maka jangan heran kalau ada orangtua yang merasa menyesal/gagal.
4. Gagasan childfree akan bertahan pada orang-orang yang telah memutuskannya secara sadar penuh (bahkan Tori sudah memutuskannya di usia 14 tahun!), mempertimbangkannya dengan matang, serta memutuskannya dengan landasan kasih.
5. Childfree bukanlah tren atau ajang ikut-ikutan. Ini keputusan dari dalam diri dan berdasarkan pengalaman serta pengetahuan. Jika keputusan childfree berubah seaktu-waktu, seriously, nothing's wrong with that.
6. Menghadapi orang-orang yang kolot dan judgmental soal childfree mungkin terasa melelahkan. Namun, kita bisa mencari komunitas yang tepat dan suportif untuk kita.

Terlalu banyak hal seru untuk dibahas dari buku ini. Karenanya aku menandai halaman-halaman penting yang mungkin suatu saat akan aku baca atau diskusikan dengan orang lain. Trust me, this is such a page-turner book. Gaya menulisnya mengalir sekali, pun kelihatan banget gimana Victoria Tunggono mantap akan pilihan dan keputusannya.

Semoga ada tulisan lain yang lebih dalam, yang mengangkat sudut pandang orang sekitar ketika menyikapi anak, keluarga, teman, kenalan, siapa pun itu, yang memutuskan untuk childfree.
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews68 followers
March 12, 2021
Aku speechless pasca baca buku ini, hehe.

Rasanya kayak berkaca sama ceritaku sendiri, yang walaupun belum terlalu terbuka ke publik soal keinginan childfree, tapi poin soal dapat pandangan mencemooh dan imajinasi "menakutkan", udah mulai gencar dikirim justru oleh circle terdekat.

Buku ini buatku cukup menarik. Diawali tulisan tentang keputusan penulis yang sudah terpikir untuk bebas anak sejak usia 14 tahun. Dilanjut dengan penjabaran banyak sudut pandang, juga pola pikir dari beberapa narsum perihal alasan untuk memilih childfree. Sempat nyengir waktu menemukan beberapa dalih yang mendasari keinginanku juga tertulis di sana. Beberapa dalih dari tokoh publik yang sudah lebih dulu memilih childfree juga dituliskan di sini. Salah satu sisi menariknya, alih-alih cuma menuliskan apa saja yang bakal dihadapi ketika memutuskan childfree, ada juga cara yang bisa dilakukan waktu menghadapi desakan dan tuntutan untuk meneruskan silsilah, juga warisan keluarga.

Aku sepakat dengan pernyataan penulis kalau childfree nggak akan "menular", karena murni diputuskan oleh hasil pemikiran dari masing-masing orang. Jadi nggak usah takut kalau buku ini bisa berakibat "cuci otak" bagi mereka yang memang menginginkan anak. Cukup sepakat juga kalau penganut childfree nggak sepatutnya dikasihani atau dipandang sebelah mata, karena apapun keputusan yang diambil seseorang dalam hidupnya, sudah seharusnya saling dihargai. Hidup, toh, bukan melulu perkara siklus lahir-tumbuh-sekolah-punya pekerjaan-menikah-punya anak dan cucu-meninggal.

Well, seenggaknya jawaban dari pertanyaan-pertanyaan soal childfree di sini tergolong ramah, nggak macem jawabanku kalau ada yang tanya.

Emang nggak takut ntar sendirian?
Lah, ntar di alam kubur, kan, juga sendirian! *dikeplak*

Sebuah buku yang amat sangat menarik untuk dijadikan bahasan diskusi dan dibaca lebih dari sekali. ✨
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
August 15, 2021
** Books 57 - 2021 **

Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2021

4,2 dari 5 bintang!


Ketika aku mengetahui ada penulis indonesia yang mengambil tema mengenai childfree aku benar-benar terkejut dikarenakan topik ini masih menjadi kontroversial di negara kita. Hal yang aku suka dari buku ini penulis benar-benar menjelaskan apa yang pro dan kontra dari hal childfree ini sehingga kita bisa melihat dari dua perspektif yang berbeda.

Hal lain yang menjadi poin plus dibuku ini adalah penulis menjelaskan hal berkaitan dengan orientasi seksual dan spektrum identitas seksual yang inipun masih menjadi tabu untuk dibicarakan. Jujur aku mendapat banyak pengetahuan baru bahwa siapa yang menyangka spektrum Aro-Ero terdiri dari 22 identitas yang berbeda. Aku hanya mengetahui yang Asexual sisanya ternyata masih banyak astaga dijelasin semua dibuku ini secara singkat, padat dan jelas!

Buat yang ingin mengetahui lebih jelas terkait Childfree aku menganjurkan buku ini sih karena berimbang antara pro dan kontranya kenapa

Thankyou Mojokstore!
Profile Image for summerreads ✨.
110 reviews
February 27, 2021
Sama seperti buku EA Books yang sebelumnya kubeli (judulnya Life as Divorcee), menurutku Childfree & Happy ini juga sebuah kumpulan tulisan yang out of the box. Entah istilah ini tepat atau tidak, atau buku ini 'hanya terlihat out of the box' karena childfree belum banyak dibahas di Indonesia dan masih kurang umum aja.

But, overall, penulis menjabarkan banyak hal mengenai childfree dengan lugas, tegas, dan jelas. Buku ini terdiri dari 4 bab besar;
1. Saya, seorang childfree
2. Semua hal yang perlu kamu tahu tentang childfree
3. Tekanan sebagai childfree
4. Mantap hidup childfree

Pada mulanya, penulis bercerita apa yang melatarbelakangi ia memilih jalan sebagai seorang childfree bahkan sejak usia yang masih sangat muda, 14 tahun. Jauh sebelum ia sendiri mengenal ada istilah bernama childfree --atau yang kini diartikannya juga sebagai "bebas anak". Tidak ada alasan yang salah memang, menurutku sendiri ya apapun pilihan penulis dan narsum-narsum yang ia wawancarai dalam buku ini, semuanya kembali lagi kepada hidup mereka masing-masing. Sama seperti menikah dan punya anak, memilih untuk bebas-anak juga sebuah pilihan dan keputusan hidup seseorang yang wajib kita hormati. Meski belum memutuskan akan childfree atau tidak di masa depan, tetapi aku merasa mendapatkan banyak pencerahan dari buku ini.

Awalnya tertarik beli dan mencari tentang childfree karena beberapa temanku mengutarakan ingin bebas-anak ketika di masa depan nanti (terutama setelah menikah, jika bertemu lelaki yang sejalan dengan prinsip mereka tersebut). Kupikir, semua pilihan hidup orang ya harus dihargai sebagaimana mestinya. Mereka ingin bebas-anak, itu hak mereka. Aku ingin menikah dan punya anak --misalnya, itu hakku pula. Tidak ada yang salah dengan semuanya, meski sangat disayangkan --benar kata penulis, di negara kita yang sangat membudayakan 'hidup dewasa, bekerja, menikah, punya anak, punya cucu' sebagai sebuah gambaran kehidupan normal dan utuh, childfree kerap dipandang dengan tatapan penuh kasihan atau sebelah mata. Bagaimana mungkin seseorang yang mampu punya anak memilih untuk hidup bebas-anak. Ada segudang ucapan tak mengenakkan yang harus mereka terima bahkan tak jarang dari keluarga dan teman dekat sendiri.

Di buku ini, penulis menjabarkan berbagai contoh ucapan yang sering ia atau penganut childfree lainnya terima dari orang lain, dan memberikan tanggapan yang menurutku juga cukup masuk akal. Sangat masuk akal. Tak ada penyangkalan yang mengada-ngada, semuanya menurutku bisa diterima akal sehat. Seperti tak ada yang aneh gitu, kecuali tanggapan orang-orang yang 'memaksa' orang sekelilingnya untuk berpikiran mainstream seperti mereka; ayo segera menikah dan punya anak, memang siapa yang akan menjagamu saat tua nanti?

Nah, buku ini juga menegaskan dengan lantang, bahwa anak bukanlah investasi. Sungguh egois jika kita menganggap punya anak adalah salah satu jawaban untuk membunuh kesepian dan investasi untuk merawat hidup kita di masa tua nanti. Kenyataannya, ada ribuan keluarga tak bahagia di luar sana --hubungan orangtua dan anak tidak terlalu mulus, dan berbagai permasalahan lainnya. Berkeluarga memang tak bisa 100% menjamin hidup kita bahagia, atau bebas masalah.

Kalimat yang masih belum kupahami adalah sebuah kalimat di halaman 96, bunyinya kurang lebih:

Lingkungan persahabatan saya sekarang sebetulnya tidak terpaku pada sesama childfree saja, bahkan hanya satu-dua kawan yang tahu saya seorang childfree sebelum mereka membaca unggahan saya di Facebook itu. Kebanyakan mereka (masih) berharap untuk punya anak, dan ketika hari itu tiba, saya akan segera menjauh dari mereka.

Kontradiktif dari beberapa pernyataan lain di buku yang sama, bahwa penulis mengatakan ia sama sekali tidak bermasalah dengan anak-anak, bahkan menjadi bibi atau ibu kedua untuk para keponakan dan sepupunya yang berumur jauh lebih muda. Tetapi apa yang melatarbelakangi ia berpikir bahwa ia harus menjauh ketika sahabatnya nanti punya anak? Atau, aku saja yang nggak memahami poin di halaman 96 tersebut mungkin, ya.

Bagian paling berkesan!

Bagian yang paling berkesan dari buku ini menurutku ada di halaman 112, ketika penulis menjabarkan 3 poin penting yang dikemukakan oleh Lilli Blackmore --seorang penulis Childfree sekaligus kontributor The American Spinster, untuk menjawab tuntutan keluarga atau orang lain tentang "mewariskan keturunan". Meski hanya 3 poin singkat, tetapi ini yang paling berkesan buatku. Sama seperti banyak jalan menuju Roma, ada banyak jalan untuk menuju kebahagiaan hidup, dan mencurahkan kasih sayang serta rasa cinta. Menikah dan punya anak hanyalah SALAH SATU caranya, BUKAN satu-satunya cara. Meski aku bukan seorang penganut childfree, pada tahap ini aku sangat setuju pada penulis dan kepada Lilli Blackmore sendiri.

Buku yang pantas dijadikan bahan diskusi atau dibaca lebih dari sekali

Meski terbilang ringan dan tipis, tetapi sama seperti Life as Divorcee, aku merasa Childfree & Happy ini bukanlah buku yang cukup dibaca sekali saja. Ada banyak sekali bahan yang cocok untuk dijadikan topik diskusi bersama pasangan, atau bahan pertimbangan untuk memilih gambaran hidupmu di masa depan seandainya kamu sudah terpikirkan untuk menjadi seorang childfree~ Yaksip!
Profile Image for Aulia Mia.
55 reviews12 followers
January 24, 2022
Di negara-negara timur seperti Indonesia, standar sosial manusia dewasa yang normal adalah yang menjalani kehidupan “lahir-tumbuh-dewasa-menikah-punya anak-punya cucu-meninggal”. Sesorang yang memutuskan untuk childfree akan dipandang sebagai anomali. Childfree sendiri adalah keputusan sadar untuk hidup bebas anak, sebuah pilihan yang baik laki-laki maupun perempuan berhak memilihnya.

Seorang childfree seringnya dianggap sebagai pribadi yang egois, yang malas mengemban tanggung jawab, padahal jika kita mau memahami alasan seseorang memutuskan untuk childfree bisa sangat filosofis, hasil dari perenungan yang mendalam dan kesadaran penuh, menyangkut prinsip kehidupan yang dianut seseorang. Alasan seseorang memilih childfree bisa bermacam-macam, bisa dari ranah pribadi/emosi, dari ranah psikologis dan medis, atau ekonomi dan lingkungan hidup.

Siapapun yang siap melihat kehidupan dari kacamata yang berbeda, agar dapat menghargai pilihan orang lain dengan lebih bijak dan tanpa menghakimi, bisa mencoba membaca buku ini.
3 reviews
December 25, 2021
A nice introduction about childfree from Indonesia citizen. I like to know more about how the writer prepares for retirement age (not just rely on God) in comprehensive way.
Profile Image for Ariza.
98 reviews27 followers
September 18, 2021
Buku ni berkongsi cerita, perasaan, pengalaman, banyak sudut pandang dan sebab-sebab yang telah difikirkan semasak-masaknya, suatu perjalanan hidup yang telah ditekuni, suatu pergelutan pencarian diri, sebelum memilih hidup dan mencapai makna 'childfree & happy'. Renungan makna cinta dan kasih sayang yang luas.

Aku suka selingan quotes daripada beberapa tokoh antara bab. Ada yang 'deep', menampar, dan tak kurang lucu tapi sekaligus mengesankan.

"I ask only child-free pals for parenting advice because they're the only ones sane and well-rested enough to have any real insight."
- Glennon Doyle Melton

"Kalau mau investasi main saham aja, bukan malah punya anak."
- @childfreeindonesia

Jenis fobia, asexual dan aromantic menarik perhatian dan membuka mata. Terlalu banyak kebarangkalian yang boleh terjadi dalam kehidupan ni. Tak ada hitam putih, dan manusia boleh berubah. Perubahan apa pun yang diambil dengan penuh tanggungjawab, rela hati tanpa paksaan dan yang paling manis untuk membahagiakan diri sendiri, apa lagi yang perlu diruwetkan ya?

Semua orang ada resipi kebahagian kehidupan masing-masing : )

Terima kasih untuk naskhah ini!

P/s: Nak pergi cari dan tengok filem parenthood. Kenapa orang nangis-nangis ni?
Profile Image for syarif.
295 reviews63 followers
June 8, 2023
Tempo hari banyak orang yang 'tersinggung' sama childfree. Dibilang gak bertanggung jawab, takut tua gak ada yang ngurus, egois, dan omongan gerah lain. Padahal siapa saja berhak untuk memutuskan childfree atau sebaliknya bukan?.

Sungguh disayangkan mereka yang memutuskan childfree sangat rentan di Indonesia 🥲. Punya anak seolah dianggap 'budaya' yang harus diturunkan entah bagaimana pun kondisinya. Ditambah eksistensi pasangan suami istri 'gagal' sebagai orang tua jika tidak mempunyai anak. Padahal, peran orang tua gak sebatas merawat anak semata.

Baca buku ini sangat memperkaya pemahaman dan lebih memahami mereka yang childfree 🫂. Teorinya dapet ✅, cuplikan realitanya di Indonesia juga dapet! ✅. Jumlah halamannya cuman 150 saja dan ringan untuk diikuti. Isinya dari konsep childfree, alasan orang memilihnya, dan counter arguments terhadap bacotan nyinyir para netizen. Bacaan bagus buat jadi bahan pertimbangan kalian di masa mendatang 😉👌.
Profile Image for Lana.
81 reviews6 followers
February 26, 2023
Perbedaan pandangan prinsipil dalam kehidupan masing-masing orang memang sering kali jadi perpecahan. Ketika dua orang dengan cara pandang dan pilihan berbeda diperhadapkan, argumen sering terjadi. Masing-masing menganggap cara mereka lebih baik atau mulia daripada orang lain, sehingga mereka saling mengucilkan. Padahal, masalah prinsip seharusnya kembali ke masing-masing individu saja.

Seperti halnya keputusan membuat anak. Ada banyak orang yang memilih untuk melahirkan dan mempunyai anak karena merasa memang itu sudah kodratnya untuk berkeluarga dan menjadi orangtua. Sebaliknya, ada juga yang memilih untuk tidak memiliki anak dengan alasan sesimpel ia memang tidak mau punya momongan. Sebenarnya perbedaannya sesimpel itu saja, asal semua orang dapat mempertanggungjawabkan pilihannya masing-masing (menjadi orangtua atau bukan), semua akan baik-baik saja. Namun tak mengagetkan juga kalau masih saja ada yang suka menghakimi dan mengerutkan dahi kepada orang-orang yang memilih untuk childfree.

Buku ini mengulas apa saja alasan seseorang memilih untuk childfree dan bagaimana mereka menempatkan diri di antara orang-orang yang memilih untuk memiliki anak. Di saat yang sama, saya juga melihat buku ini sebagai bentuk protes para childfree karena mereka cukup muak melihat pilihan mereka selalu dipertanyakan.

Saya sendiri sebenarnya juga masih belum tahu apa saya benar-benar ingin punya anak atau tidak. Sejauh ini mempunyai anak tidak/belum ada dalam agenda saya. Tujuan saya sejauh ini baru sampai hidup berpasangan, tidak/belum sampai ke pertanyaan apakah saya ingin punya anak atau tidak. Tapi saya juga tidak mau ambil repot.

Gaya penulisan Victoria Tunggono dalam buku ini sangat baik dan tidak muluk-muluk. Selama membaca saya mengangguk-angguk walaupun dalam beberapa hal pandangan saya berbeda dengan penulis.

Hanya saja saya berharap penulis dapat membahas lebih panjang dari sisi psikologis, karena menurut saya itu sangat menarik. Ada bagian yang juga membahas pendidikan seks dan akses kesehatan seksual di Indonesia di buku ini, tapi saya menyayangkan itu tidak dibahas lebih dalam. Saya agak berharap penulis dapat menjelaskan lebih kompleks mengenai banyak hal (seperti pandangan penulis terhadap orangtuanya dan bagaimana hubungan tersebut ia refleksikan, innerchild, kompensasi kasih secara psikologis, saran para childfree pada para orangtua, dll) karena pada dasarnya kehidupan manusia dan hubungan antarmanusia sendiri memang kompleks.

Tapi tidak apa-apa. Buku ini sudah cukup memuaskan bagi saya, dan saya hanya berharap buku ini lebih banyak dibaca (seprinsip maupun tidak), agar kita dapat lebih memahami/memaklumi pandangan dan perasaan satu sama lain.
Profile Image for Rafli.
102 reviews42 followers
July 19, 2024
Sama halnya dengan keputusan untuk tidak menikah, aku menghargai pilihan orang untuk hidup bebas anak atau childfree. Meski demikian, aku sendiri bukan orang yang sudah mantap untuk memilih gaya hidup tersebut. Selama ini, aku justru lebih banyak memikirkan hidup berkeluarga dengan istri dan anak. Jadi, motivasiku membaca Childfree & Happy ini, selain karena tertarik dengan topiknya, tentunya untuk bisa lebih memahami alasan dan pengalaman orang-orang yang memilih childfree, khususnya di Indonesia.

Childfree & Happy ditulis oleh Victoria Tunggono, perempuan yang sudah childfree sejak usianya masih 14 tahun. Ditulis langsung oleh orang yang menjalaninya selama belasan tahun membuat buku ini terasa lebih jujur, tepat, dan apa adanya. Tori, sapaan penulis, berbagi pengalaman susahnya mencari pasangan yang mendukung keputusannya, ketakutannya untuk memiliki anak, hingga momen ia akhirnya bisa berdamai dan berbahagia dengan pilihannya. Guna mengungkap secara lebih komprehensif bagaimana childfree di Indonesia, Tori juga menguatkan bahasannya dengan pengalaman orang lain yang menempuh jalan serupa–yang kebanyakan teman satu komunitasnya.

Buku ini berisi hal-hal penting yang perlu diketahui tentang childfree: tentu saja pengertian dan perbedaannya dengan childless; berbagai alasan mengapa orang memilihnya; pelbagai tekanan dan hambatan yang dihadapi; (dan menariknya) juga jawaban untuk meng-counter nyinyiran banyak orang terhadap gaya hidup ini yang dijelaskan dengan on point.

Membaca buku ini membuatku sadar ada banyak sekali latar belakang yang mendasari orang memilih childfree. Sebelumnya, setiap kali membincangkan childfree, alasan yang langsung muncul di kepala tidak jauh dari problem finansial dan lingkungan. Namun, ada perkara yang luput dari perhatianku, yaitu masalah psikologis dan medis. Kecuali keyakinan antinatalisme, aku menganggap kesemua alasan yang disebutkan di buku ini valid karena toh kondisi setiap orang berbeda-beda.

Melalui karyanya ini, Tori bersuara kalau setiap manusia berhak untuk memilih childfree secara sadar, sama berhaknya dengan mereka yang memutuskan untuk beranak. Memiliki anak bukan kewajiban mutlak dan bukan satu-satunya cara untuk mencurahkan cinta kasih. Childfree juga tidak layak disebut egois mengingat kaum tersebut sangat menghindari dan menentang segala bentuk ketidakbertanggungjawaban terhadap anak. Mereka pun justru tergerak untuk berkontribusi bagi dunia yang lebih luas dan makhluk yang lebih beragam, tidak terbatas anak kandung saja.

Yang perlu digarisbawahi pula adalah wajar dan sah-sah saja bagi childfree untuk berubah pikiran, begitu pula dengan non-childfree. Perubahan toh merupakan kondisi yang normal dalam kehidupan. Yang terpenting adalah kesiapan dan kematangan ketika yakin mau momongan.

Kendati demikian, buku ini bukan propaganda. Tori sama sekali tidak mengajak orang untuk mengikutinya. Ia dan juga teman sesamanya hanya ingin statusnya sebagai childfree dihargai dan diterima di tengah masyarakat.

Dari segi penyampaian, Tori dapat bertutur dengan sangat baik dan mengalir lewat pemilihan kata yang sederhana dan kalimat yang tidak terlampau panjang. Selain karena tipis, buku ini sangat ringkas, ringan, dan mudah dipahami sehingga tidak perlu waktu lama untuk merampungkannya. Childfree & Happy-lah buku pertama yang bisa kulahap langsung dalam waktu sehari.

Kalau kamu tertarik dengan ide childfree atau sekadar ingin mengerti isi pikiran, pandangan, dan pengalaman childfree di Indonesia agar bisa menghormati mereka, buku ini cocok untuk kamu.
Profile Image for leiah jo.
76 reviews1 follower
February 26, 2023
lagi rame bgt kan ya di media sosial netizen Indonesia pada ngebahas ttg childfree. biar gajadi manusia yg suka judgement pilihan hidup manusia lainnya, mendingan kita perbanyak ilmu. ataupun kalau mmg kepengen ngasih komentar, ya juga kitanya hrs punya bekal ilmu pengetahuan/pengalaman supaya yang kita sampaikan ada isinya alias ga sotoy dan malah jd boomerang buat kitanya.

Childfree & Happy karya Mba Tori, salah satu buku BAGUS yg wajib masuk reading list.
menurutku di negara-negara Timur kya Indonesia standar sosial kehidupan seseorang dimulai dari lahir-tumbuh dewasa-menikah-punya anak-punya cucu-meninggal. sehingga keputusan seseorang utk childfree dipandang sebagai anomali.
waktu itu aku sempat ngepost tentang buku childfree ini di igs aku dan beberapa teman teman ada yang nanya apakah aku bakalan memutuskan untuk childfree di masa yang akan datang(?)
i’m not really sure about that, so aku masih mikir-mikir, that’s way aku hrs banyak nyari informasi ataupun referensi dari artikel, buku, ataupun podcast yang emang khusus ngebahas tentang childfree.
dan yang terpenting sumber/penulis/podcasternya emg HARUS orang-orang yang memutuskan utk childfree.

aku tipikal pembaca yg bener” selektif kalau milih buku bacaan. mesti tau dulu ini karyanya siapa dan relevan ga sama apa yg mereka tulis. Victoria Tunggono (Tori) adalah salah satunya.
nah, di bukunya Mba Tori ini aku banyak banget dapat perspektif baru tentang childfree dan alasan kenapa beberapa orang akhirnya memutuskan utk childfree setelah mereka menikah.
buku ini tuh bahasanya ringan banget. bener” berasa kaya kita lagi ngobrol sama teman, berasa lagi dengerin mereka curhat.
setelah baca buku ini aku ngerasa lebih bijak lagi dalam menghargai keputusan seseorang terutama mereka yang memilih untuk childfree setelah menikah. karena keputusan tsb bukan keputusan satu-dua hari, bener” ngelawatin proses yg panjang.

this book such a page turner! aku baca di Literacy Coffee, selesai dlm 2 kali kunjungan.
Profile Image for Christmas.
269 reviews1 follower
November 21, 2021
Wacana tentang childfree sempat ramai di media sosial. Wacana ini mengungkapkan mengenai pilihan seseorang yang berkeinginan untuk tidak memiliki anak yang kemudian menuai tidak hanya dukungan, tetapi juga sanggahan. Dari situ, saya menaruh perhatian lebih mengenai wacana ini dan berencana untuk membawanya sebagai tema penelitian tesis saya di tahun depan (meski tak secara spesifik membahas tema childfree).
Saya pun menemukan buku ini ketika berselancar di dunia maya untuk mencari referensi. Sejujurnya sangat sulit mendapatkan referensi akademis mengenai tema ini dalam konteks Indonesia. Buku ini menjadi salah satu temuan yang berharga.
Dalam buku ini, penulis menceritakan tentang bagaimana ia bisa mengambil pilihan untuk childfree. Tak hanya bercerita tentang dirinya, penulis juga menghadirkan beberapa kutipan dari beberapa orang yang juga penganut childfree sebagai pelengkap wacana yang ia usung.
Buku ini sangat ringan untuk baca. Namun ada beberapa tata kalimat yang terbaca aneh bagi saya pribadi. Namun hal tsb tidak menghilangkan esensi yang dimaksud penulis sih. Hanya soal selera penulisan pribadi saja. Hehehe.
Silakan dibaca untuk menambah pengetahuan. Mungkin untuk membacanya, kita perlu memiliki pikiran yang terbuka karena mungkin ada beberapa nilai yang tak sesuai pada kebanyak orang (yang mungkin juga bagi kamu).
Profile Image for Wahyudha.
444 reviews1 follower
June 22, 2023
Apakah baru buku ini yang membahas hidup bahagia dengan memilih tidak punya anak?

Konten buku ini "berbeda " dengan cara hidup dan cara pikir orang-orang kita, karenanya menjadi penting dan perlu dibaca lalu dibicarakan. Biar tidak memberikan judge kepada mereka yang telah memilih pilihan hidup ini.

Menjadi seoarang childfree itu manusiawi dan normal, makannya buku ini hadir.

Dengan keberadaan buku ini berisi 3 bagian saja. Menurut saya akan membantu mengevaluasi diri (itupun kalau belum menikah,seperti saya) tentang keyakinan, persiapan untuk sebuah keputusan hendak punya anak atau tidak?

Pilihan tidak bisa dipaksakan, harus sadar sepenuhnya.Dan yang terpenting tidak ikut menjudge mereka yang memiliki keputusan berbeda seperti (childfree).

Yang belum menikah yang masih lajang perlu deh baca buku ini.

Lebih bagus lagi jika dikemudian hari ada penulis dari sudut pandang laki-laki tentang pilihan menjadi childfree ini.
Profile Image for Ismailia.
38 reviews
March 13, 2021
Tori bercerita tentang latar belakangnya memutuskan hidup bebas-anak (childfree). Juga alasan-alasan yang seringkali membuat seseorang memutuskan pilihan ini dalam hidupnya. Dan tentu, anggapan-anggapan umum yang seringkali muncul atas pilihan itu.
Menarik, karena sejauh yang saya tahu, baru buku ini yang membahas tentang childfree di Indonesia dan juga membuka mata bahwa manusia dengan segala pilihan dalam hidup amat luas spektrumnya.
Saya suka bagaimana penjelasan Tori pada bab-bab akhir, bahwa manusia bisa memilih keputusan dalam hidupnya berdasar pada cinta kasih dengan pengalaman Tori sendiri dalam perjalanannya mantap untuk hidup bebas-anak.
Sudah sepantasnya kita memilih jalan hidup dan berbahagia atas segala keputusan :)
Profile Image for mey.
38 reviews
July 12, 2021
Buku ini rasanya tepat sekali dibaca untuk pembaca yang ingin berkenalan dengan konsep childfree atau sedang mempertimbangkannya. Isinya lebih menitikberatkan pada alasan-alasan orang memutuskan childfree dan kisah penulis sendiri yang memutuskan untuk childfree (beserta dengan pengalaman beberapa orang yang memang childfree dalam hidupnya). Penjelasannya cukup simpel, menjangkau aspek psikologi dan tidak terlalu banyak memakai data karena memang penelitian mengenai statistik childfree di Indonesia masih cukup minim. Buku ini membantu sekali bagi saya yang memang sedang berpikir untuk childfree, jadi lebih tahu banyak tentang konsep childfree itu sendiri dan tidak merasa aneh sendiri.
Profile Image for Saji.
98 reviews5 followers
April 20, 2021
Sebagaimana judulnya, buku ini memang memuat banyak alasan keputusan untuk tidak memiliki anak, bukan hanya diisi alasan pribadi penulis saja, tapi juga alasan yang didasarkan pada teori, observasi, wawancara, hasil penelitian, bahkan perkiraan terhadap masa depan. Bahasannya pun tak menyangkut hanya pada bidang biologi, tapi sampai psikologi, spiritual, budaya, sosial, agama, dan masih banyak lagi.

Sangat cocok dibaca bukan hanya untuk mereka yang menerapkan gaya hidup choldfree, tapi semua orang.
Profile Image for saintavida.
13 reviews
September 29, 2024
Buku ini sejujurnya cocok dibaca untuk orang-orang yang mau punya anak tapi masih menghakimi mereka yang memutuskan untuk childfree. Buku ini lebih ditujukan agar mereka bisa mengerti alasan pengambilan keputusan tersebut.

Mbak Victoria menulis buku ini seperti sedang berdiskusi dan ngobrol bersama kita hingga tidak terasa « pushy », dan saya salut banget sama analisa, research dan testimoni-testimoni yg beliau kumpulkan untuk buku ini.
Profile Image for Nina Savitri.
88 reviews2 followers
October 27, 2022
Buku yg seru, selalu bikin penasaran ada apa di halaman selanjutnya, penjelasannya bagus, runut, rapi, dan mudah dimengerti. Meskipun saya tidak sepakat dengan ide childfree, tapi caranya menuturkan sama sekali tidak defensif, sehingga membuat saya yg membaca cukup nyaman dan malah jadi lebih menghargai pilihan hidupnya. Buku yang wajib baca sih!
Profile Image for Tiovani Ariesta.
6 reviews
February 24, 2024
One of my favorit book. Dimana Victoria menjelaskan dengan spesifik, bagaimana ia memilih dan memutuskan dengan kesadaran dan kemauan untuk menjadi seorang Childfree. Dibuku ini juga dimuat pandangan teman-teman yg menjadi seorang Childfree. Menjadi childfree bukanlah sebuah keegoisan, namun hal ini menjadi stigma yg sulit diterima masyarakat.
Profile Image for gionica.
43 reviews1 follower
September 24, 2021
So happy akhirnya ada orang indonesia yg nulis tentang childfree. Jadi berasa ga sendiri 🥰
Baca buku ini juga bikin diriku makin bersyukur karena dikelilingi orang-orang yg ga judgemental, jd ga banyak mengalami apa yg diceritakan beberapa narasumber di buku ini
Profile Image for Nora.
35 reviews3 followers
May 22, 2022
Thank you so much this book helped me to conquer my fear of wanting to be a childfree person. In fact I'm gonna pass the book to my mom and my partner's as well. I'm looking forward to read more childfree book written by Tori.
6 reviews
November 13, 2023
Menceritakan opini penulis tentang keputusannya untuk childfree. Latar belakang penulis dalam memilih keputusannya dijabarkan detail, termasuk dalam menghadapi komentar orang lain terhadap issue ini. Good story, Not bad.
Profile Image for Aidi Aik.
48 reviews1 follower
September 2, 2021
Pembahasannya enak buat dibaca, sama sekali gak ngebosenin. Cuma aku lebih suka bacanya pelan-pelan, biar lebih dalam memahaminya.
Displaying 1 - 28 of 28 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.