Jump to ratings and reviews
Rate this book

...Oh, Film

Rate this book
Tokoh Imam Kromo bakal meninju siapapun yang berani memanggilnya dengan sebutan "Bung Close Up". Tokoh Anwar, tukang parkir mobil, tak henti-hentinya untuk ikut coba-coba main film. Katanya, main film akan membuat orang tahan panas, tak gampang bosan, dan tahan dibentak-bentak. Lain lagi dengan tokoh Amir. Menurut dia, jika orang sudah pernah ikut main film, sekecil apapun peran dan honorariumnya, ia tidak boleh lagi sembarangan. "Jaga stending! Stending! Stending! Stending!" katanya.

Itulah sebagian dari kisah-kisah lucu yang terkumpul dalam ...Oh, Film. Berlatarbelakang dunia film 1950-an, para tokoh cerita dalam buku ini kebanyakan berasal dari kalangan Seniman Senen yang sudah melegenda.

Meskipun ditulis akhir 1950-an, kelucuan-kelucuan yang ditampilkan oleh Misbach Yusa Biran dalam buku ini tetap memikat. Seolah kelucuan-kelucuan itu terus berlanjut hingga sekarang.

149 pages, Softcover (Paperback)

First published January 1, 1973

52 people want to read

About the author

Misbach Yusa Biran

6 books15 followers
Misbach Yusa Biran (lahir di Rangkasbitung, Lebak, Banten, 11 September 1933 – meninggal di Tangerang Selatan, Banten, 11 April 2012) adalah sutradara film, penulis skenario film, drama, cerpen, kolumnis, sastrawan, serta pelopor dokumentasi film Indonesia.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
25 (32%)
4 stars
28 (35%)
3 stars
20 (25%)
2 stars
2 (2%)
1 star
3 (3%)
Displaying 1 - 19 of 19 reviews
Profile Image for mollusskka.
250 reviews158 followers
November 13, 2016
Sengaja baca buku ini sebagai penegasan kalo aku memang penikmat film. Tapi siapa sih yang nggak suka nonton film? Ya, kan? Jadi wajiblah tahu sedikit-sedikit tentang perkembangan film di Indonesia. Dan hal tersebut dirangkum apik di bagian Prakata, termasuk di dalam beberapa babnya. Meski singkat, terlihat besarnya peranan Belanda dan terutama Tionghoa dalam perkembangan film di Indonesia. Dan aku yakin apa yang dialami industri perfilman Indonesia pada zaman dulu masih dihadapi pihak-pihak perfilman kini. Dan itu berdampak pada karya-karya yang disuguhkan.

Buku ini terdiri dari beberapa bab, tanpa ada keterkaitan cerita antara satu dan yang lainnya. Jadi semacam cerpen gitu, deh. Cuman aku sangsi apakah ini nyata apa enggak, tapi kayaknya sih berdasarkan pengalaman penulis sendiri. Bab-bab awal aku gak begitu suka karena leluconnya hambar. Dan menurutku kurang begitu bersinggungan langsung dengan dunia film. Ada sih, tapi minim. Hampir aja aku kasih dua bintang. Tapi begitu baca bab Cara Bikin Cerita Film dan bab-bab berikutnya, barulah aku mulai menikmati. Humornya mulai asyik.

Buat yang pengen tahu secara singkat perjalanan film di Indonesia, boleh baca buku ini. Terbilang tipis tapi cukup informatif, jadi gak akan makan waktu lama buat bacanya. :D

Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books100 followers
March 25, 2020
Ternyata buku ini tidak membahas tentang film, melainkan hanya berisi kumpulan nukilan kisah di balik aktivitas seni pembuatan film yang digeluti Misbach Yusa Biran dalam medio tahun 1950-an.

Selain dikenal sebagai sutradara, penulis skenario, sastrawan, hingga gelar kehormatannya sebagai juru selamat arsip film Indonesia, Misbach adalah pengamat yang jeli atas kehidupan para 'seniman' di Pasar Senen pada masa itu.

Membaca "...Oh, Film" jadi terasa penting karena secara tak langsung Misbach telah menangkap gelagat perfilman Indonesia dari zaman ke zaman lewat tulisannya, bahkan masih terasa relevan dibaca puluhan tahun kemudian setelah diterbitkan pertama kali pada 1973. Takzim.
Profile Image for Rizkana.
248 reviews29 followers
December 17, 2023
Saya jatuh hati dengan gaya bercerita penulis sejak membaca bukunya yang berjudul Keajaiban di Pasar Senen.

Dari cerpen-cerpennya, penulis bisa menggambarkan dengan kuat, secara berimbang, baik latar belakang situasi maupun penokohan. Maka saya setuju dengan apa yang dikatakan Seno Gumira Ajidarma dalam pengantarnya, bahwa buku-buku Misbach dapat dilihat juga sebagai "dokumen sosial yang masih akan terus berjasa sebagai sumber pengetahuan di masa-masa mendatang."

Dua puluh tahun lagi dari sekarang, barangkali generasi muda bisa menggunakan buku ini untuk 'mengintip' seperti apa dunia 'seni,' jurnalisme, dan perfilman di Indonesia pada awal-awal masa kemerdekaannya (1950-an)

Hal-hal yang membuat saya jatuh hati dan menghargai karya penulis, saya temukan lagi di buku ...Oh, Film ini. Saya tidak tahu pasti apakah seluruh tulisan di dalam buku ini adalah murni fiksi atau kisah nyata dengan beberapa penyesuaian. Mari kita sebut saja cerita pendek.

Hampir seluruh 16 cerpen di dalam buku ini dibuka dengan kalimat yang menggelitik rasa ingin tahu dan tahu-tahu saya sebagai pembaca sudah terseret dalam alur seru yang kemudian ditutup dengan akhir yang mengejutkan.

Kalau bukan lantaran si Badri akan membacok orang, barangkali sampai kiamat saya tidak akan pernah tahu bahwa dia adalah bintang film.


Dari segi penyajian, rasanya seolah penulis ingin menampilkan hal-hal ringan lebih dahulu meski, kalau dipikir-pikir lebih dalam, punya arti mendalam juga. Yang diangkat di bagian awal adalah orang-orang yang hidup di dunia itu--calon pemain film, aktor dan aktris, jurnalisme film.

Lalu, pelan-pelan, topik cerita rasanya naik makin serius--tentang tutorial membuat film yang disenangi produser selaku pemodal, sutradara, dan 'masyarakat Indonesia' di mata keduanya. Sebuah pandangan dan pertimbangan yang membuat gemas para 'kritikus' dan penulis skenario film saat itu.

"You maksud tentunya penonton golongan intelek. I agree! Tapi golongan ini, young man, cuma sepuluh persen daripada golongan publik film kita. Mereka yang paling cerewet, tetapi juga paling kurang nonton film Indonesia. Apa you kira saya bijaksana kalau mau mengikuti golongan itu punya tereakan?"


Jadilah kita mengetahui bahwa sejak dahulu, sejak 50 tahunan yang lalu, dunia perfilman Indonesia memang selalu terjebak lingkaran setan, antara:
1. Mereka yang menuntut film berkualitas, tetapi lebih sering skeptis, bahkan mengolok-olok, dan tidak mau duluan menonton film Indonesia (coba tengok cerpen "Oom Yan: "What is Eigenlijk een Mooie Film" apa tidak gemas membaca dialog penulis dengan Om Yan?
2. Pemilik modal yang "Ya kalau gak ada yang nonton, rugi dong. Sudahlah buat film yang laku saja."
3. Mereka yang tidak rewel, tidak menuntut banyak, dikasih tontonan tidak masuk akal pun tetap mau menonton film Indonesia.
Wajar pemilik modal meneruskan resep lama yang buruk, toh yang mau keluar uang senang-senang saja.

Nah. Jadi serius kan, padahal awalnya yang dibahas kenaifan, kepolosan, dan kelucuan orang per orang di dalam industri film, lho.
Profile Image for Bimana Novantara.
280 reviews29 followers
August 13, 2023
Kemampuan Misbach Yusa Biran dalam meracik humor tidak perlu diragukan lagi. Dalam buku ini cerita-cerita yang ia angkat berasal dari pergaulannya dalam dunia film Indonesia tahun 1950-an ketika kawasan Pasar Senen menjadi tempat berkumpul para seniman dan pembuat film. Sebagian besar ceritanya adalah tentang para aktor, atau lebih tepatnya orang-orang yang ingin disebut aktor atau pemain film, karena kebanyakan dari mereka hanya menjadi figuran atau muncul sedikit saja di dalam film. Yang banyak ditemukan juga adalah cerita tentang para wartawan film yang kerjanya membuat profil bintang film namun sesekali menulis komentar dan kritik film. Lainnya adalah penulis skenario idealis yang tidak mau berkompromi dengan kemauan produser, serta seorang aktris cantik yang sedang naik daun tetapi judes ketika diwawancara wartawan. Sayangnya, meskipun ada karakter-karakter sutradara dalam beberapa cerita, tapi tidak ada yang porsinya menjadi karakter utama. Dalam semua ceritanya Misbach selalu memulainya dengan pembukaan yang langsung ke inti cerita sehingga ketika membacanya perhatian akan langsung terserap karena penasaran kenapa ia bisa bilang seperti itu. Selanjutnya lancar saja ia bercerita yang isinya campuran antara kejadian yang ia alami sendiri dengan kejadian yang diceritakan orang lain. Bahasa Indonesia masa itu dengan bebas saja ia campurkan dengan bahasa Sunda (karena Misbach berasal dari Rangkasbitung), bahasa Inggris, dan bahasa Belanda. Semua itu diucapkan oleh karakter-karakter yang miris, konyol, snob, suka petantang-petenteng, namun terasa akrab dan layak untuk ditertawakan sehingga membuat buku ini sangatlah menghibur.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books64 followers
December 8, 2025
Di sampulnya sih udah jelas diinformasikan kalau buku ini kategorinya fiksi. Tapi, sebagai pembaca, aku punya espektasi tersendiri yakni jika pun ini fiksi, setidaknya apa yang diceritakan didasari dari kejadian nyata. Ya, tampaknya memang demikian, kisah orang-orang di sekitaran Pasar Senen yang sengaja-nggak-sengaja terjun di industri film ini sebagian kecil memang menarik.

Oh ya, setting kejadiannya ntah tahun berapa. Kalau dari satu kali job syuting diupah Rp.25 atau Rp.50 kemungkinan kejadiannya di tahun 60-70an kayaknya.

Dan, walau buku ini sedikit melenceng dari espektasi, aku berusaha kuat untuk coba menikmati. Sayangnya.... gagal. Secara keseluruhan, aku lumayan kehilangan arah dan bingung sebenarnya fokus Om Misbach (btw beliau mantan suaminya Nanny Wijaya) ini mau cerita apa. Aku pribadi ngarep beliau bisa cerita lebih banyak situasi dunia perfilman saat itu bukan sekadar kisah orang-orang (yang mungkin saja semi fiktif) dalam mengupayakan karir di dunia film.

Well, bisa juga akunya yang gak nyambung kali ya saat bacanya.

Skor 6/10
Profile Image for Tamara Fahira.
130 reviews8 followers
October 12, 2021
Yang diomongin Rock Hudson mulu eh... yaaa secara dia memang aktor terkenal saat itu, sih. Btw cukup oke penjelasannya secara keseluruhan. Kasih bintang tiga aja deh, I think it’s enough.
Profile Image for Nara.
23 reviews3 followers
July 31, 2013
Oh Film adalah buku Misbach Yusa Biran kedua yang saya baca setelah "Keajaiban di Pasar Senen". Masih mempertahankan gaya yang jenaka dan bernas seperti di buku sebelumnya, Oh Film membahas tentang dunia perfilman Indonesia khususnya medio '50an hingga '60an. Misbach memang memiliki 'signature' tersendiri dalam tulisan-tulisannya yang sangat jenaka, menjurus ke self-mockery, namun tetap memberikan insight-insight baru. Sekadar intermezzo saja, saya pernah membaca kalau Seno Gumira Ajidarma (yang sangat menggemari tulisan-tulisan Misbach) sempat kecewa saat bertemu langsung dengan beliau dan menemukan kalau kepribadian Misbach tidak sehangat dan sejenaka tulisan-tulisannya.


Bagi saya pribadi, Oh Film lebih banyak kontribusinya secara akademis, mengingat banyak sekali informasi tentang pembuatan film yang dimuat di buku ini. Tidak mengherankan karena Misbach sebdiri merupakan pelaku aktif dalam dunia ini sejak tahun '50an. Beberapa kelucuan sempat mampir saat kita membaca kisah-kisah keluguan, kenaifan dan bagaimana para pembuat film masa itu harus bertarung dengan keterbatasan dana, peralatan bahkan kreativitas. Salah satu cerita yang berkesan adalah saat pertemuan antara produser (lebih tepatnya, cukong), sutradara dan penulis skenario untuk membahas pembuatan film. Sang cukong,sutradara dan penulis naskah malah terlibat tawar-menawar layaknya sedang membahas pembuatan kue yang akan dijual saja. Si cukong seenaknya memesan adegan-adegan penarik minat penonton yang harus dimasukkan, seperti adegan berkelahi, humor dan romansa sekaligus. Sutradara memesan cerita yang simpel dan berbudget rendah. Tinggal si penulis naskah yang kebingungan untuk menjembatani keinginan mereka semua.

Tips yang menarik. Kapan-kapan saya coba ah kalo mau bikin pilem lagi. Oh Film!!
Profile Image for rully.
35 reviews3 followers
December 19, 2011
apa yang terjadi dengan dunia televisi kita saat ini sudah terjadi sekitar setengah abad yang lalu, namun bedanya klo sekarang kita di gempur dengan sinetron, dulu kita digempur dengan film yang berisi nyanyian dan tarian. Kebanyakan produser tidak mau memproduseri sebuah film jika tanpa tarian dan nyanyian, tidak ada yang mau nonton katanya. buku ini lebih seperti sebuah kritik yang dibungkus dengan cerpen2 komedi satir ala misbach yusa biran yang memang akrab dengan dunia perfilm-an tanah air. Buku ini juga menjadi semacam referensi sosio historis perjalanan dunia film indonesia di era2 permulaan.
Profile Image for Lee.
254 reviews46 followers
December 11, 2022
Semua lega, beres sudah. Saya masih belum yakin bahwa orang-orang ini betul mau bikin film, kok cuma pesan berapa nyanyi, berapa tari, berkelahi, kebun teh, nyebur. Saya tanyakan pada Johan dengan bisik-bisik. Rupanya bisikan saya terlalu keras, yang lain dengar.
"Betul," jawab produser, "kami mau bikin film," lalu sambungnya lebih tegas lagi, "film Indonesia."
"Kok bikin ceritanya begini saja?"
"Habis mau pigimana lagi?"




sudah lebih dari 50 tahun kok ya keadaannya sama saja..
Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
October 7, 2015
Kumpulan kisah yg terinspirasi dari kehidupan seniman film di Pasar Senen era akhir 1950-an. Kocak, meski agak ngenes juga. Bagaimana susahnya membuat film, idealisme vs komersialisme, belum lagi calon-calon bintang filmnya yg main film aja belum tapi belagunya minta ampun. Mungkin buat gw yg paling kocak adalah kisah Anwar, sang juru parkir, yg menjadi tukang parkir handal karena pernah "belajar" jadi bintang film :D
Profile Image for Lani M.
347 reviews42 followers
November 4, 2013
"Jadi, you cuma tetap mau turuti saja selera penonton yang rendah, selera kampungan!"

"I perlu mereka punya duit. I pengusaha, I'm sorry."

"Betul! Tetapi sebagai orang film, you juga harus mendidik publik kita dengan memberikan tontonan yang baik."

"I'm sorry, young man! I tetap berpendapat, kalau kita mau mancing ikan tentu kita harus taro umpan yang ikan doyan, bukan makanan yang kita sukain..."


(What is Really a Good Picture For Me)
Profile Image for Famega Putri.
Author 1 book12 followers
June 10, 2014
Jarang sekali membaca buku bisa membuat saya tertawa terbahak-bahak, tapi membaca buku ini sungguh bisa membuat geli. Gambaran kehidupan para pekerja film, terutama mereka yang berusaha sekuat tenaga untuk menjadi bagian dari dunia film. Lebih menarik lagi, karena latarnya adalah tahun 60an, jadi sekalian mengintip seperti apa dunia film dan kehidupan pada waktu itu.
Profile Image for Eve.
Author 27 books65 followers
June 26, 2015
Buku ini berisi sekumpulan kisah tentang komunitas Pasar Senen dan kiprahnya di perfilman Indonesia tahun 1950-an. Dituturkan dengan humor yang tidak berlebih dan merekam berbagai trivia menarik tentang masa itu. Saya baru tahu, bila naik trem kota di Jakarta, kadang kondektur tidak menagih ongkos jika Anda berdiri di tangga.
Profile Image for Ismi.
34 reviews
November 9, 2009
buku yang berisi komedi satir... ceritanya cukup jadul sih buat saya, tapi menarik juga sih... yah namanya juga komedi satir ya, pastinya meski lucu tapi juga bikin mikir...
ceritanya selalu seputar seniman2 dari pasar senen...
Profile Image for Yusnia Sakti.
118 reviews39 followers
June 28, 2013
OPNAME. Baru tahu kalau istilah opname jaman dulu bukan berarti 'ngamr di RS' tapi sedang proses syuting :D. Kumpulan cerpennya seru, bikin ngakak-bertanya-tanya-sekaligus agak ironi gimana gitu. Review lengkapnya besok-besok deh, lagi pengen baca yang lain :D
Profile Image for Oister.
7 reviews
February 1, 2016
Seniman, film, warung kopi, kue putu

"Jadi, apa yang harus dilakukan oleh orang film kita?"
"Bikin mooie film, punt!"
"Yaitu harus membuat yang seperti film Eropa atau Amerika. . . .?"
"Yang intelek!"
"Pasti Maju?"
"Jangan kuatir. Wei akan tonton yuli punya film."
Profile Image for Desti Utami.
162 reviews6 followers
May 13, 2012
Meski ditulis pada tahun 1950-an, ternyata keadaannya tidak jauh berbeda dari sekarang. Siklus atau memang dunia perfilman berkutat di permasalahan "begitu-begitu saja"?
Profile Image for Ade Aprilia.
Author 1 book
April 7, 2017
Rating 3.5 dibulatkan ke 4. Terpikir juga kalau susunan ceritanya enak dan rampung untuk dibaca.

Sebelum saya sempat baca review yang lain, saya pikir ini buku isinya cuma lelucon saja lah, sedikit sindiran di dunia Film, tapi saya justru mendapati sedikit saja dunia film disini. Lebih ke Pasar Senen bahkan. Rasanya buku ini adalah pengelompokan aktivitas Pasar Senen yang menyangkut dunia film, walaupun cuma sedikit.

Yang paling banyak adalah cerita yang menerangkan bahwa banyak sekali yang ingin jadi pemain film pada jaman itu (sekitar akhir 1950-an), diceritakan juga sesusah apapun hidupnya, dapat muka terpampangpun sudah asik. Justru karena kebanyakan tentang jatuh bangun ingin jadi pemain lah, saya merasa buku ini kurang terlalu 'film'.

Pertengahan buku baru muncul kisah mengenai dunia perfilman. Dengan caranya yang asik, saya paham kenapa Produser memang harus menyesuaikan minat masyarakat yang katanya 'ingin film bermutu tapi sukanya tetep sama yang nyanyi, nari, lawak'. Yaa namanya juga hiburan, sih. Ada juga saat Sutradara ingin film tanpa lawak, tapi produser memaksakan, alhasil mereka mencari jalan keluar dengan menyerah bersama. Lucu, sih, apalagi karena ketimpa biaya.

Saya juga baru tau kalau figuran selalu dicari 'belakangan' atau dalam buku, bahkan lupa dicari, tapi ya enteng saja mereka, tinggal pilih yang sedang menonton.

Masalah dan lawakan tumpang tindih. Masalahnya tidak terlalu di dramatisir, semacam ada kesan pasrah gitu, dan lawakannya pun tidak memaksa. Semacam curhat saja Penulis ini. haha. Saya sampai pikir, ini penulis baik sekali, ya, ada orang kena hina, dia puji sedikit. Cara menghadapi masalah pun tenang. Barangkali sudah biasa menulis jadi dibawaannya enteng saja, tidak emosi.

Saya baca buku ini diselingi buku Kebudayaan Mentalitas dan Kebudayaan karya Koentjaraningrat. Sama bahasanya, sama cara mempadukannya. Dua buku ini bikin saya berubah dalam menulis review dr sebelumnya.

Memang tulisan jaman dulu beda, ya, enak di baca, gak lewat judul. Pas. :)
Displaying 1 - 19 of 19 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.