What do you think?
Rate this book


149 pages, Softcover (Paperback)
First published January 1, 1973
Kalau bukan lantaran si Badri akan membacok orang, barangkali sampai kiamat saya tidak akan pernah tahu bahwa dia adalah bintang film.
"You maksud tentunya penonton golongan intelek. I agree! Tapi golongan ini, young man, cuma sepuluh persen daripada golongan publik film kita. Mereka yang paling cerewet, tetapi juga paling kurang nonton film Indonesia. Apa you kira saya bijaksana kalau mau mengikuti golongan itu punya tereakan?"
Semua lega, beres sudah. Saya masih belum yakin bahwa orang-orang ini betul mau bikin film, kok cuma pesan berapa nyanyi, berapa tari, berkelahi, kebun teh, nyebur. Saya tanyakan pada Johan dengan bisik-bisik. Rupanya bisikan saya terlalu keras, yang lain dengar.
"Betul," jawab produser, "kami mau bikin film," lalu sambungnya lebih tegas lagi, "film Indonesia."
"Kok bikin ceritanya begini saja?"
"Habis mau pigimana lagi?"