Buku ini menguraikan pentingnya self branding bagi seorang guru kemudian menyajikan cara-cara untuk melejitkan self branding yang otentik tersebut. Dengan gagasan self branding bagi seorang guru, buku ini akan memandu para guru untuk meningkatkan kemampuan dalam mengajar sehingga transfer ilmu dari guru kepada siswa dapat berlangsung dengan optimal.
Buku ini menyajikan cara-cara baru yang sangat penting untuk dikuasai oleh guru, yaitu bagaimana meningkatkan self branding yang mana sangat banyak manfaatnya pada saat melaksanakan proses pembelajaran. Dengan bahasa pemaparan yang bersahabat dan akrab ala “kids zaman now”, buku ini akan mudah dipahami oleh pembaca. Selain itu, kelengkapan materi untuk melejitkan self branding bagi seorang guru juga menjadi salah satu keunggulan buku ini.
Guru Nekat Selfie, dari judulnya ajha sudah unik seakan selfie itu adalah sesuatu hal yang aneh jika dilakukan oleh seorang guru. Sepengetahuan saya. Selfie itu adalah aktifitas yang memotret diri sendiri dengan kamera agar Nampak wajah kita dari hasil pemotretan tadi. baik itu menggunakan kamera khusus maupun kamera smartphone. Tentu tujuannya beragam, bisa untuk di simpan sebagai kenang-kenangan, juga bisa di upload di media sosial agar dibilang eksis githu. sebetulnya ada tujuan implisit yang kadang kita tak sadar dari postingan-postingan photo dari hasil selfie, apa itu? Tentu saja agar bisa dilihat orang lain wajah kita, dan kehidupan keseharian kita, atau kalau dalam bahasa ilmiah sering di sebut self branding. Inilah inti dari pembahasan buku ini, yaitu bagaimana melakukan self branding dari hasil selfie bisa berdampak positif bagi kehidupan jika dilakukan dengan cara-cara yang benar.
Karena bukunya adalah untuk guru, maka saya akan mengulas dari sudut pandang keguruan, meskipun sejatinya buku ini tidak hanya berlaku untuk guru yang ada di kelas saja. Tetapi kita semua selaku guru bagi diri kita sendiri yang harus terus dilatih dan ditingkatkan lagi kreativitas dalam seni mendidik-nya, bukankah pepatah megatakan bahwa pengalaman merupakan guru terbaik, maka saya katakan bahwa menjadi guru merupakan pengalaman terbaik.
Sebelumnya, saya suka mengulas buku-buku bertema ¬self improvement atau sejenis motivasi seperti buku ini, dan benang merah-nya yang saya dapat bahwa jika penulisnya merupakan praktisi lapangan, maka bobot isi bukunya lebih ngena dan inspired. Karena ada keterpaduan antara teori dan praktik seperti yang ada di dalam buku ini, dan diuniknya dikemas dengan bahasa yang humoris jadi lebih mudah dipahami. Saking detailnya pembahasan sampai-sampai penulis tau nama lengkap Leluhur TikTok Sinta (Sinta Nurmasnyah) dan Jojo (Jovita Adityasari) yang tentunya kita pasti ngga tau sebelumnya. Entah penulis rajin atau gabut, tetapi faktanya, mereka adalah pencetus dunia tiktok yang sekarang sedang viral-viralnya ini. Kenapa awal-awal mereka sempat terkenal meskipun tidak begitu lama? jawabannya satu: self branding. Kendati demikian, semua memiliki metode self branding yang berbeda untuk bisa dikenal banyak orang. Lalu, bagaimana dengan guru, apakah harus seperti Sinta dan Jojo agar bisa dikenal banyak orang? jawabannya tidak, tidak harus seperti itu. Kita bisa dengan cara yang sudah tertera dalam judul buku ini, yaitu: dengan cara selfie, lha, emang buat apa sih?
Pastilah banyak yang bertanya-tanya, ngapain selfie, ngapain pengen dikenal banyak orang, toh yang pentingmah ngajar ajha, dapet duid dan selesai. begitulah kurang lebihnya mindset guru yang konvensional. Padahal, jauh dibalik itu, banyak sekali manfaat dibalik selfie sebagai upaya dalam meningkatkan self branding diri. Kan dalam bahasa awamnya self branding itu adalah jual diri, namun dalam konteks ini adalah jual “Nilai” diri atau keunikan kita sebagai guru atau pendidik, hal apa sih yang membuat kita unik dan berbeda dari pada yang lain. Lantas, Bagaimana cara orang tau “nilai” dan keunikan kita, yaitu dengan cara ber-selfie, kok balik lagi balik lagi ya jawabannya? Ya, memang seperti itu, lalu timbul pertanyaan, bagaimana meningkatkan self branding dengan cara berselfie.
Perlu dipahami bahwa selfie yang dimaksudkan dalam buku ini bukan berarti memfoto wajah sendiri yang kemudian diupload di media sosial, karena kalau demikian adanya, tentunya kita akan kalah sama orang yang lebih good looking, tetapi selfie yang dimaksudkan dalam buku ini adalah selfie dengan profil, keunikan, pencapaian yang telah kita capai sehingga membuat perusahaan/instansi atau orang – orang tertarik akan “nilai” yang ada dalam diri kita. Apakah itu merupakan perbuatan kesombongan? Awalnya saya berpikir seperti itu, tetapi hal demikian tidak bisa sepenuhnya dikatakan perbuatan kesombongan, tetapi justru sebagai bentuk ikhtiar kita dalam menjemput rezeki yang nantinya bermuara kepada hadist: khairunnas anfahum linnas atau kebermanfaatan bagi orang lain. Asalkan niatnya ajha yang benar, saya rasa tidak akan masalah.
Kemudian yang saya apresiasi dalam buku ini adalah, dari segi pembahasannya yang menggunakan sudut pandang guru Honorer bukan guru PNS, jadi kesannya lebih memembumi dan solutif dalam mengarungi roller koster kehidupan ini di tengah finansial yang tidak begitu besar tentunya bagi guru honorer. Penulis mengajak kita untuk selingkuh, maksudnya adalah selingkuh dari profesi keguruan kita ke pekerjaan sampingan lain, tanpa meninggalkan profesi utama kita sebagai guru, koq githu? Bukannya fokus untuk profesi guru itu jauh lebih baik? Iya, tetapi adakalanya kita harus lebih realistis dalam memandang dunia, bagaimana caranya? Menurut penulis, cara terbaik untuk sejahtera itu bukan dengan berhemat, tetapi dengan cara menambah penghasilan dari keunikan dan keterampilan (self branding) yang kita miliki, itu merupakan salah satu contoh dari sekian banyak bentuk ikhtiar kita dalam menambah penghasilan disamping profesi utama kita selaku guru. And the Last, terima kasih untuk penulis yang telah membuka cakrawala berpikir, meskipun saya awalnya hanya penasaran judulnya ajha: Guru Nekat Selfie