anak-anak zaman yang slebor merayap di mana-mana tangan muda-mudi yang belum dewasa menggenggam kayu dan besi
mereka bergerak memecahkan hari di kota-kota paling depan, Rudi Jalak berselendang giwang di kuping kanan celana blue jeans kemeja komprang
Rudi Jalak Gugat merupakan potret perlawanan kaum muda terhadap situasi sosial yang terjadi pada masa Orde Baru, suatu masa yang dianggap pincang dan semrawut. Kumpulan sajak Rudi Jalak Gugat berisi karya-karya Yudhistira ANM Massardi dari 1976–1980 dan terbit pertama kali pada 1982. Sementara kumpulan sajak Syair Kebangkitan, terbit pertama kali pada 1994, berisi karya-karya Yudhistira dari 1983–1993. Kini keduanya kami terbitkan menjadi satu kesatuan karena memiliki ketersambungan tema: perlawanan.
Yudhistira Ardi Noegraha Moelyana Massardi was born in Subang, West Java, 1954. Yudhistira has made himself one of the most controversial of Indonesia's younger authors. He writes for various newspaper and women's magazines, largely about romantic love among adolescents. In 1976, at the age of 22, he was the assistant editor of a popular magazine, Le Laki, that survived until 1978. But he is also an occasional contributor to the serious literary journal Horison. Since March 1976, he has worked as a journalist for the weekly newsmagazine Tempo, edited by Gunawan Mohamad, himself a noted poet and essayist.
To regard Yuhistira simply as a writer of "pop" quality, as a number of critics do, is a mistake. His typical style is indeed usually light-hearted, witty, and sarcastic.
Buku ini adalah dua buku kumpulan puisi yaitu Rudi Jalak Gugat dan Syair Kebangkitan, tapi dibuat jadi satu gitu, diterbitkan kembali oleh KPG karena kesamaan tema yaitu perlawanan.
Ini adalah kali pertama saya membaca kumpulan puisi karya Yudhistira A.N.M Masardi. Saya lebih suka bagian Rudi Jalak Gugat, selain karena itu yang dijadikan judul bukunya tapi memang isinya bagus.
Beberapa judul puisi favorit saya : - Jangan Biarkan Suara Bergaung! - Bikin Sendiri Saja - Rudi Jalak Gugat - Eksodus - Syair Kebangkitan
Puisi dengan perumpaan yang pas. Pujian, sindiran, kadang menyatu menjadi satu baris. Seandainya bisa, bersurat-suratan sama penulisnya mendiskusikan masalah negeri akan jauh lebih menyayat hati karena bahasanya yang selalu tepat sasaran.