Yogyakarta mempertemukan Lika dengan banyak hal: teman-teman dekat, makanan-makanan enak, rasa cinta kepada kopi, sastra dan seni, juga Nata—kekasih barunya. Sebagaimana mahasiswa tingkat akhir pada umumnya, Lika berusaha untuk menemukan jati diri pada masa-masa paling krusial dalam hidupnya. Siapa sangka, dalam proses memaafkan diri sendiri dan masa lalunya, ternyata Lika masih harus dipertemukan dengan lebih banyak kecewa.
Sebenarnya saya jarang baca novel metropop. Bukan lantaran novel dari genre ini nggak menarik, tapi karena saya terlalu sering ketemu plot yang klise dan tokoh yang kurang matang. Saat saya tahu si penulis merilis buku pertamanya, saya sempat berpikir mungkin Sorge adalah novel coming-of-age yang menarik. Sayang, ketika berhasil menuntaskan buku ini, sebagian ekspektasi saya nggak terpenuhi.
Lika, si tokoh utama, adalah mahasiswa filsafat yang berkenalan dengan seorang pemuda bernama Nata. Seperti kebanyakan orang seusianya, konflik dengan orang tua serta pencarian eksistensi dan jati diri mengisi hidupnya. Lika digambarkan sebagai mahasiswa yang aktif mengikuti banyak kegiatan, cemerlang tanpa harus sering-sering belajar, supel, serta mencintai buku. Sudah pasti saya nggak percaya Lika nggak punya kekurangan. Kekurangan itu ada, namun entah mengapa kurang terlihat sehingga bikin saya merasa Lika ini karakter Mary Sue. Karena kepo, saya lantas mencari tahu latar belakang si penulis. Dari informasi yang saya dapatkan, saya merasa penggambaran Lika begitu dekat dengan keseharian penulis sehingga ini kemudian membuat saya bertanya-tanya: ketika merampungkan naskahnya, pentingkah bagi si penulis untuk menjaga jarak dengan tokohnya?
Bab awal buku ini dibuka dengan rasa sedih Lika yang merasa diabaikan ayahnya dan kurang dekat dengan ibunya. Sebagai anak dari keluarga yang bercerai, Lika merasa kecewa saat tahu ayahnya yang di Palembang menikah tanpa mengundang dia dan keluarganya di Jakarta. Sebenarnya, saya sempat menduga konflik ayah-anak ini akan terus tumbuh di bab-bab berikutnya, namun yang saya jumpai hanya kenangan-kenangan Lika tentang masa kecilnya dengan lelaki itu. Ini membuat saya merasa konflik mereka sekadar jadi tempelan dan terkesan diada-adakan. Mungkin faktor usia-lah yang membuat saya gagal menyelami kekecewaan Lika. Bagi anak seusianya, kedekatan dengan orang tua adalah hal yang penting. Tapi jika saya menjadi Lika, saya nggak mau ambil pusing mengetahui ayah saya nggak mengundang saya ke pernikahannya, apalagi jika jarak yang saya tempuh cukup jauh dan biaya yang saya keluarkan cukup besar. Ini nggak selalu menunjukkan ketidakpedulian, justru saya memandang ayah Lika adalah sosok yang peduli dan pengertian pada anaknya. Dia nggak pengin merepotkan Lika dan mereka bisa tetap berbahagia.
Bicara tentang alur, saya merasa alur novel ini sebenarnya agak lambat dengan konflik yang nyaris stagnan. Lika berkutat dengan teman-temannya dan tentu saja dengan orang yang dikasihinya. Sayangnya lagi, saya nggak bisa menyelami kedekatan Lika dan Nata meski mereka cukup sering ditampilkan berdiskusi bersama. Dari segi karakter, saya nggak menemukan hal menarik apa saja yang ada dalam sosok Nata selain kepopulerannya dan kesukaannya pada puisi. Jika Lika adalah Mary Sue, Nata adalah Gary Stu. Bahkan ketika Nata punya bab khusus (bab 12), saya nggak bisa merasakan perbedaan karakter antara Lika dan Nata secara signifikan. Bab 12 terasa seperti Lika yang sedang berganti baju saja menjadi Nata. Saya nggak menjumpai Nata sebagai individu yang lain karena caranya mengemukakan perasaannya sama seperti cara Lika. Mungkin, penulis harus memberi perhatian khusus tentang bagaimana menciptakan tokoh yang matang, lengkap dengan ciri khasnya.
Selain penokohan, gaya bercerita penulis sebelum konflik hingga mencapai konflik belum bisa bikin saya terhanyut. Pertengkaran Lika dan Nata terasa dangkal. Meski yang digunakan adalah sudut pandang Lika, saya gagal merasakan kekecewaaan, kemarahan, dan kesedihannya. Mungkin si penulis perlu menjajal menggunakan kalimat atau kata yang cukup powerful sehingga emosi pembaca pun teraduk-aduk. Jangan takut berakrobat, jangan takut bermain diksi.
Dengan cerita yang klise, bukan berarti nggak ada yang saya sukai dari novel ini. Sebagai perempuan yang tumbuh dalam masyarakat patriarki, Lika sadar banget pentingnya melawan pelecehan seksual. Tema feminisme yang disisipkan dalam novel ini menjadi hal yang menarik jika kita mengingat betapa dekatnya yang dia alami dalam keseharian perempuan. Selain tema itu, saya juga suka dengan keteraturan kalimat si penulis dan akhir cerita yang menggantung. Akhir cerita seperti ini membebaskan para pembaca untuk menebak-nebak apa yang terjadi pada para tokoh.
Saya pengin kasih tiga bintang untuk karya pertama Olive, namun ada hal-hal yang membuat saya berpikir ulang sehingga saya memberi skor dua bintang saja. Konon, si penulis bakal melanjutkan tulisannya dalam buku kedua. Kalau buku kedua sudah terbit dan tulisan Olive makin bagus, mungkin saya bakal kasih empat bintang. Semangat berkarya ya, Olive :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kemarin sembari menunggu nonton Kong vs Godzilla beli buku ini. Duduk sekitar dua jam, cerita ini kelar dibaca. Ada banyak hal yang bikin kangen saat kuliah. Ia dekat dan membuat saya ingat saat jadi mahasiswa. #Sorge ditulis dengan baik meski ada beberapa hal yang mengganggu.
#Sorge adalah ode atau penghormatan bagi mereka yang bekerja di Industri buku. Ia bicara fragmen (tidak spesifik) yang bikin penulis dan editor merasa diwakilkan. Tentang waktu-waktu diskusi yang tak kenal jam kerja, atau bagaimana rumitnya mengurus penulis dan susahnya menulis buku.
Jika kamu hidup atau berada di ekosistem industri buku, kamu akan tahu jika relasi antara penulis dan editor bisa benci-benci rindu. Penulis ingin apa, editor maunya gimana, dan belum berurusan dengan pihak penerbitan yang mesti hitung jumlah halaman, layout, dan cover. Proses penerbitan buku itu kadang bikin semangat, kadang pengen ngajak silat satu dengan yang lain.
Sorge membagas itu dengan cukup. Tidak terlalu detil, tapi bisalah untuk menggambarkan secara umum bagaimana cara kerja seorang editor di penerbitan. Di buku ini juga disebutkan nama Mas TP. Buat pekerja buku di Jogja (atau mungkin jawa) pasti akan kenal satu direktur distributor/penerbit Buku yang jadi cameo di #Sorge ini. Ia salah seorang iniastor pameran buka buku, yang pada 2005-2010, jadi penyelamat banyak mahasiswa yang butuh buku murah berkualitas.
Cerita Sorge bagaimana sih? Karakter utama dalam buku ini bernama Lika, seorang mahasiswa juga relawan festival film, pembaca buku, dan editor buku. Sembari berusaha menavigasi antara hidup sebagai mahasiswa, sebagai relawan, sebagai editor, ia bertemu dengan sosok Nata lelaki yang ia suka.
Romansa dalam #Sorge ini juga bikin gemas. Jaim kasmaran remaja-jelang-dewasa yang bikin senyum senyum sendiri. Ceritanya membuat saya membatin: "halah saya juga pernah goblok," dan buku ini sukses membikin saya ingat peristiwa malu-malu itu. Naksir seseorang dan jadi bodoh.
Terus apa yang mengganggu dari #Sorge? Bagi saya ada satu bagian tidak realistis dari cerita ini. Soal profesi editor buku di Jogja yang bisa sering ngafe. Editor buku paruh waktu? Dengan UMR jogja? Ngafe fancy? Ora umum. Tapi di luar itu, membaca #Sorge bikin senang!
Sebagai orang yang pernah bersingungan dengan industri buku, bisa cukup tidur, punya waktu beraktivitas di luar pekerjaan, dan ngga kena GERD/asam lambung adalah hal yang mustahil. Saya jarang sekali bertemu pekerja industri buku yang belum pernah sakit lambung atau tipes. Tapi mungkin karakter dalam buku ini punya jadwal ajeg yang bisa membuatnya hidup sehat dan jauh dari sakit.
Jika kamu kutu buku, pecinta buku, suka buku, akan ada nama-nama yang tidak asing disebut dalam buku ini. Tanpa menjadi pretensius atau snob, nama-nama besar yang ditulis menunjukkan kalau #Sorge ditulis oleh book nerd yang ingin menularkan obsesinya pada pembaca.
Saya pribadi selalu payah dengan buku-buku yang memuat nama-nama penulis. Buku ini, terutama, memuaskan imaji saya saat sekolah dulu. Seorang kutu buku bertemu kutu buku dan jatuh cinta. Mengapa empat bintang? Ya karena saya merasa, jika punya kemampuan menulis seperti Olive, saya akan menulis cerita yang serupa.
Setelah sempat kepending karena membaca dua buku lainnya, akhirnya buku ini kuselesaikan dalam waktu 2 hari saja. Well, seperti cerita romantis kebanyakan, Sorge bercerita mengenai seorang mahasiswi rantau dari Jakarta yang berkuliah di Jogja bernama Lika. Sebagian besar buku ini berkisah mengenai kehidupan Lika dan teman-temannya; teman kampus, teman main, dan sebagian kecil juga kemelut kehidupan keluarga, dan kemudian tentu saja kisah cinta.
The centre of this love story is Nata, I think. Meski aku nggak menemukan konflik yang beneran greget di Sorge, tapi satu-satunya tokoh cowok yang kemudian memiliki sedikit konflik dengan Lika, ya si Nata ini. Secara konflik, bisa dibilang Sorge cukup datar dan nggak ada roller coaster effect yang kurasakan saat membaca buku ini.
Another point: meski bisa dibilang 90% ber-setting di Jogja, sejujurnya aku kurang mendapatkan vibes Yogyakarta di novel ini. Tapi mungkin aku bisa memberikan nilai plus yang lain, yaitu gaya penceritaan yang mengalir dan cukup enak untuk diikuti. Besides, aku suka tokoh Lika itu sendiri. Maksudku, yah jarang-jarang aku menemukan tokoh perempuan dengan karakter yang cukup kuat, idealis, aktif di mana-mana, dan tahu banyak tentang buku (oke, it's selfish, ini mungkin cuma karena aku juga suka baca buku. Hahaha)
Menurutku kalau konfliknya lebih dikembangkan lagi, atau vibes Yogyakarta-nya bisa lebih dihidupkan lagi, barangkali Sorge ini berpotensi lebih greget aja gitu. Tapi, untuk bacaan sekali duduk menurutku ini cukup ringan, ringkas, dan menarik, kok. :")
“Tidak semua orang mampu menyampaikan perasaan-perasaan terdalamnya. Kebanyakan, manusia hanya mampu menyampaikan sekaligus menerima hal-hal yang ada di permukaan, terutama ketika sedang berhadapan dengan kenangan.”
Lika, seorang gadis dari fakultas filsufat (fakulti Falsafah) yang sangat suka membaca. Seorang editor sambilan dan juga mahasiswi yang aktif di kampus. Hidupnya tenang sebelum ditemukan dengan Nata, yang dari Fakultas Hukum di Jogja-NETPAC Film Festival (JAFF). Pertemuan yang akhirnya merapatkan mereka berdua hingga saling jatuh cinta.Tak habis di situ, hubungan itu tidaklah seindah yang disangkakan. Pergaduhan, penipuan, perpisahan dan yang paling penting hati yang berubah tak siapa sangka.
Dari cerita ini, jujur mulanya aku sendiri tertanya apa maksud Sorge dan maksud yang diterangkan oleh penulis sendiri buat aku berfikir lama.
Jalan ceritanya sangat santai dan buku ini tak tebal. Pada awal penceritaan, aku mengaku, senyum sorang-seorang jugalah lagi-lagi bila part Lika dan Nata (tapi tulah saya sedar yang saya single😂 jadi saya enjoy je) tapi apabila masuk ke bahagian tengah, aku jadi tak senang duduk. Terlalu banyak tanda tanya dan keadaan yang aku tak fahami sebelum penulis menjelaskannya di akhir-akhir bab. Aku tak menyangka pengakhirannya begitu sebenarnya....
Ada beberapa perkara yang aku belajar: 1. Jangan jadikan seseorang itu hanya sebagai peneman kala sepi sedangkan kamu sendiri tak mampu melupakan kekasihmu yang lama. 2. Hati manusia itu tuhan yang pegang. 3. Membaca tidak akan membuatkan seseorang itu pintar kerana sesuatu hal itu perlu melalui proses yang panjang lebih-lebih lagi apabila melibatkan menghargai orang lain.
Disebabkan buku ini diterbitkan tahun ini maka penulis juga memasukkan keadaan pandemik di dalamnya. Ringkas tapi cukup menerangkan keadaan Indonesia ketika itu.
Keseluruhan, saya suka dengan adunan cerita di dalam novel @olivehateem ini kerana ia tidak hanya melibatkan tentang cinta semata tetapi tentang persahabatan, kekeluargaan dan sayangi diri sendiri. Teruskan berkarya😊
“Coping mechanism yang kupunya ada beberapa, mulai dari yang sangat sehat dan baik: baca buku dan kerja, kerja, kerja.”
"Aku menulis, banyak, tapi ujung-ujungnya merasa tulisan itu terlalu gelap dan bakal bikin pembaca kecewa."
"Waktu ambil buku dari rak, jangan sampai ada yang jatuh, kelipet, apalagi rusak. Semua ini anak-anakku, jadi tolong pelan-pelan dan hati-hati ya. Anggep aja, kamu lagi mindahin bayi ke kasur."
“Bacaan favoritku-sebuah hardcopy "The Unabridged Journals of Sylvia Plath.””
“Buku puisi yang pernah kubaca adalah karya-karya klasik dan kebanyakan darinya adalah karya para penyair perempuan seperti Anne Sexton, Emily Dickinson dan Sylvia Plath. Masih sedikit sekali puisi kontemporer yang pernah kunikmati.”
“Manusia hidup di dalam dunia yang tak ia pilih, tapi terlempar begitu saja.”
Dalam kurung waktu 2 hari akhirnya dapat menyelesaikan novel ini. Karena novelnya juga nggak tebel sih. Konflik ringan, alurnya agak cepet tapi masih bisa dinikmati 👍
Penulisan yang rapi dan diksi yang indah. Saya suka sama puisi yang ada di tiap halaman sebelum bagian baru. Alur yang cukup menyenangkan dan ringan. Dapat dibaca di waktu senggang dan di saat ingin membaca buku yang memiliki konflik ringan. Akan tetapi, alurnya cepat. Awalnya sedikit kebingungan, tapi setelah diteruskan baca, saya tetap dapat memahami.
Yay, akhirnya kelar baca buku ini dalam sekali duduk!
Aku selalu suka membaca buku dengan latar belakang Jogja karena terasa begitu familiar. Apalagi daerah-daerah dalam novel ini cukup sering aku lewati dan aku datangi, terutama Sintesis! Beneran ini salah satu tempat favorit di jakal xixi walaupun aku sendiri kuliahnya di Semarang, tapi Jogja tetap jadi tempat yang spesial.
Banyak bagian dari novel ini yang aku suka terutama munculnya filsuf-filsuf dan ada rekomendasi buku dan lagu. Kehidupan perkuliahan yang relate, terutama pindah-pindah kos. Jadi paham sedikit juga mengenai dunia editor.
Ketika membaca bagian hubungan Nata dan Lika, emang udah ketebak kalo Nata bakalan kayak "aneh" sikapnya dan ternyata beneran dia masih stuck di masa lalunya :')
Dari 200 halaman bisa dapat cerita-cerita lain ga sebatas hubungan Lika dan Nata aja. Aku sangat enjoy baca buku ini *two thumbs up*
Buku yg cukup enak dibaca untuk yg ga mau cerita dengan konflik yang berat, seperti cerita romance pada umum nya, gaya penulisan nya bagus, lumayan dibikin tidak asing dgn dunia perkuliahan jurusan filsafat yg bbrp kali dibahas disini, latar tempat nyaa di Jogja walaupun belum terlalu merasakan kalau “ini Jogja banget” tapi yaudah, dan juga karna sy menemukan sebuah dialog kalau pembaca Murakami suka meromantisasi kesedihan, jadi dibikin kepo sama karya-karya Murakami dan jadi awal perkenalan ku juga.
Untuk yg suka konflik dengan klimaks yg bikin greget sih dibuku ini kurang dapet alias jgn berekspektasi, ya sesuai yg kukatakan diawal, buku ini enak dibaca untuk yg suka cerita romantis dan ringan.
Sorge membuat saya kangen masa-masa kuliah; belajar menjelang UTS - nongkrong setelah kelas - makan di kantin kampus. Saya tidak (belum) pernah ke Jogja tapi penulisan Olive yang bagus mampu mengajak saya untuk 'menjadi' Lika.
Saya rasa beberapa konflik masih bisa lebih dikulik, tapi saya setuju dengan Alka bahwa, "no closure is also a closure".
Kesimpulannya, Sorge baik untuk dibaca di coffee shop lokal sembari memutar playlist "10 years of heartache" dari Spotify. Well done.
Saya sangat dekat dengan kehidupan tokoh utama Sorge, Lika. Agaknya meskipun saya dari FIB (nggak begitu berjauhan dengan Filsafat, kan?), deskripsi dan latar UGM, Bonbin, Pogung, Sintesis, dan tetek-bengeknya adalah hal familier yang biasa saya jumpai sehari-hari. Awalnya saya antusias karena Lika juga digambarkan sebagai tokoh yang aktif organisasi, suka membaca, dan tahu hal-hal keren lainnya. Skena dan edgy abis lah. Namun, di pertengahan saya bosan dengan alur stagnan dan semakin bergulirnya bab justru menegaskan bahwa Sorge amat sangat nge-pop (apalah istilah ini). Saya nggak merasakan tokoh Lika berdikari dan terlepas dari citra pribadi penulisnya (dalam artian, penulis hampir nggak memberi jarak antara dirinya sendiri dengan tokoh rekaannya, yang membuat saya diam-diam menebak apakah Sorge banyak disisipi pengalaman nyata penulisnya).
Lika dan Nata mungkin bisa dikatakan menjadi pasangan yang gemas karena pertemuan mereka sangat coming-of-age-movie sekali. Jatuh cinta seperti di buku-buku, lah, istilahnya. Sesama kutu buku yang jatuh cinta, di Yogyakarta. Romantis. Aduhai. Namun, perpisahan mereka juga sebenarnya nggak seru-seru amat apabila ditilik lagi. Alasannya kurang kuat dan kurang masuk akal (ketika bahkan ada komunikasi yang bisa jadi alternatif alih-alih perdebatan alay di usia yang sudah cukup matang; Lika dan Nata bukan anak SMA, lho?). Saya pun nggak melihat keistimewaan kedua tokoh ini selain keduanya sepasang kekasih yang pada akhirnya berpisah.
Kemudian, meskipun saya mengapresiasi pembahasan mengenai geliat sastra di Yogyakarta yang selalu hidup, saya rasa bekerja sambilan jadi editor di suatu penerbit masih kurang masuk akal untuk membuat Lika selalu ngafe cantik setiap bekerja (kecuali penjelasan implisit karena dia orang kaya, yang kosannya saja ber-AC, dan teman-temannya membahas S2 alih-alih sibuk berpikir mau makan apa besok). Hal-hal yang nge-pop ini bikin saya turn off karena saya langsung tahu saya bukan pasar novel-novel macam begini. Sekalipun kafe-kafe mentereng yang gemar dikunjungi mahasiswa ditampilkan, saya akan merasa lebih bisa meromantisasi UGM dan Yogyakarta apabila diselipkan Pujale, kos 500 ribu kamar mandi luar, dan budaya menenteng botol 2 liter untuk merampok Toyagama agar bisa hemat uang galon.
Berbicara soal buku, sejujurnya, saya pun mengamini soal lingkungan perbukuan di Yogyakarta yang dipenuhi laki-laki (yang kebanyakan misoginis pula). Di Sorge, saya senang karena proses penerbitan buku yang nggak sederhana juga dijabarkan. Ini dapat menjadi hal penting yang berpotensi bisa dikembangkan apabila ekspansi konflik mau diseriusi. Bagaimana nggak, saya menanti konflik berarti antara Lika dan papanya, tetapi cuma disuguhi kilas balik yang masalahnya juga nggak besar-besar amat (ini sama seperti ketika perpisahan Lika dan Natan). Saya beri bintang dua untuk mengapresiasi dua hal: (1) kerapihan tulisan, meski beberapa kali ada salah ketik tetapi selalu konsisten dan tata bahasanya nggak begitu bermasalah, mudah sekali dibaca, (2) puisi-puisi cakep dan keren yang memisahkan antara bab satu dengan bab lainnya.
Sorge, a novel by Olive Hateem, was first published in 2021. It follows the journey of a woman named Lika, someone who enjoys reading books, spending time alone, visiting cafés, doing freelance work, or simply writing to express the thoughts and emotions in her heart and mind.
The novel Sorge invites readers to reflect on gratitude, sincerity, self-growth, and the strength to forgive, whether it’s forgiving oneself, the past, a situation, or someone else. It is not a story filled with dramatic twists and turns; rather, it's a quiet, contemplative narrative featuring a main character whose personality is easy to understand, making the story accessible and relatable.
Of course, there are imperfections within the novel, but perhaps that is exactly the author’s intent.
The word "Sorge" comes from German, meaning worry, anxiety, concern, or care. The concept was brought into philosophical prominence by Martin Heidegger, a German philosopher. According to Heidegger, human existence is defined by Sorge.
"We exist because we care, because we are involved. Without Sorge, there is no authentic human existence." - Martin Heidegger
And this is precisely the idea that Olive Hateem weaves into her novel, Sorge.
Keren, enak dibaca buat nemenin sebelum tidur😁. Penulisannya rapi, penggambaran suasananya dapet, ditambah keren juga karena ending yang 'menggantung' yang buat aku sebagai pembaca penasaran sama kisah selanjutnya gimana. Ya walaupun ada kejadian yang kurang 'masuk akal' di bagian bab awal tapi buku karya Olive Hateem ini masih tergolong keren. Well, this my first time to give review on goodreads and first time to read romance book🙃
Cinta-cintaan menye2 gen z elit lah. Terlalu banyak hal konyol dan tolol di dalamnya. Iseng baca pas main ke kosan pacar. 1 bintang buat kenekatan menulis dan cover bukunya yg ternyata jadi alasan pacar gw terhipnotis untuk membeli.