Larasati Rana membenci dua hal: hubungan berkomitmen dan politik. Namun, perkenalannya dengan seorang reporter surat kabar, Arjuna Simanjuntak, justru menjebloskannya di tengah keduanya.
Arjuna ingin mengubah hubungannya dengan Lara menjadi lebih dari ‘one-night stand’ belaka, namun bukan hanya kesulitan meruntuhkan ‘tembok’ tinggi yang dipasang wartawan gaya hidup itu, ia juga harus menghadapi Kevin Wiratama--pengusaha yang berambisi untuk mendapatkan kursi wakil gubernur dengan cara apa pun, serta rupanya terobsesi dengan Lara.
Di tengah profesi yang menuntut mereka untuk mengedepankan obyektivitas, Lara dan Arjuna berupaya mengurai perasaan mereka terhadap satu sama lain sembari bergelut dengan lika-liku kerja pers dan geliat industri media cetak di era digital.
Nice! Udah lama nih nggak baca cerita berbau-bau politik dan jurnalistik begini. Rasanya mirip kayak pas nonton sinetron lawas Dian Sastro, Dunia Tanpa Koma. Bedanya kalo DTK tentang narkoba, kalo ini tentang politik.
Sejujurnya, bagian paling kusukai dari cerita ini adalah dunia jurnalisme-nya. Terutama wartawan surat kabar yang digeluti oleh Arjuna. Detail banget. Begitu juga dengan intrik-intrik politik yang dibahas. Yaa ... walaupun ada bagian-bagian yang aku nggak terlalu paham sih.
Aku suka karakter Lara. Jujur aja, aku dapat banyak insight dari sosok ini. Celetukan-celetukan dalam pikirannya itu cukup mengejutkan. Namun, beberapa kali aku bingung dengan deskripsi narasi yang menurutku kurang sesuai dengan gambaran aktualnya. Misalnya waktu narasi bilang Lara sangat dekat dengan neneknya--satu-satunya anggota keluarga yang menerima dan menyayangi Lara. Tapi, kalau mereka sedekat itu dan Lara sesayang itu, aneh rasanya karena nggak ada pembahasan apa pun sebelum neneknya diceritakan meninggal. Disebut-sebut juga enggak seingatku. Padahal sempat dirawat di RS juga kan? Masa Lara nggak pernah mikirin neneknya sama sekali?
Endingnya cukup mengejutkan. Walau aku nggak paham apa yang membuat tokoh A mengambil pilihan itu. Karena kalau karena takut tokoh C ngapa-ngapain tokoh B, lha sebelum kenalan sama si A, si B dan si C itu udah bermasalah. Dan sejauh 300 halaman buku sebelumnya, aku nggak lihat si C membahayakan si B karena relasi si B dan si A. Mereka punya masalah sendiri, begitu juga dengan A dan C. Yaaa tapi mungkin aja sih akan menjadi masalah kalau kasus ini diteruskan.
Satu yang kurang kusukai dari novel ini adalah minimnya informasi keterkaitan antar kejadian. Salah satunya, bagaimana Mattew Wiratama tahu soal Lara? Bahkan mengenali Lara sebagai "kenalan" Kevin? Maksudnya, Mattew ini konglomerat dan didefinisikan belum pernah ketemu langsung dengan Lara. Sementara Lara adalah wartawan majalah lifestyle yang katakanlah ... yaa bukan siapa-siapa gitu. Apa Mattew diam-diam mengamati Lara? 🤔 Yang kedua, kenapa akhirnya Lara mau pindah ke Lentera padahal sebelumnya dia antipati sama politik? Apa semata-mata karena hubungannya sama Arjuna dan apa yang terjadi sama cowok itu? Aku lupa bagian ini dijelasin apa nggak, tapi aku nggak nangkep satu turning point yang membuat Lara mau pindah ke Lentera--sebagai jurnalis, kuasumsikan Lara tahu bahwa menjadi wartawan Harian Lentera, risikonya adalah mengampu kanal politik meski nggak langsung sejak awal di diterima kerja di sana.
Tapi overall aku suka novel ini! Btw, aku masih penasaran kok labelnya 17+. Menurutku sih 21+ lebih tepat mengingat topik, gaya hidup, dan adegan-adegan di dalamnya. Hehehe
Sebnernya, aku gk th apa aku suka buku ini ato gak. Karena di sisi lain aku suka klo udah mulai nyelidikin tentang politikusnya, tapi aku males klo udah berhubungan sama Arjuna-Lara as a couple. Aku suka sih kemistri mereka, tapi ya nggak terlalu menarik aja sih bagian romance-nya. 😂
Karakterisasi mereka oke, sih. Tpi aku lbih suka Juna walaupun klo dipikir2 dia terlalu bland dan nggak berkarakter? Lara malah lbih kuat sbnernya, wkwk. Cuman dia terasa sok misterius aja, sih.
Buat endingnya, sbnernya gk terlalu peduli juga sama hubungan mereka tapi ... dia baik2 aj nggak, sih? Scene sgtu enggak cukup bikin aku lega. 😭😭😭😭
2,5. Pembulatan ke 3 murni sebagai apresiasi ke seluk-beluk dunia jurnalistik dan intrik politik yang cukup mateng. Selebihnya? Meh. Barangkali tipe plot dengan berjuta kebetulan gini emang bukan tipe gue sih. Terlebih, gue nggak ngerti di mana letak magnet Lara terhadap laki-laki; kepribadian apa sih yang dia punya selain horny 24/7? Trauma response yang sangat aneh kalo kata gue. Lain hal dgn Arjuna, gue nggak ngerti kenapa dia bisa jadi the "it" boy dan bukannya Akasa yang jauh lebih pinter dan nekat. At least gue gak pernah nemu aha moment-nya Arjuna yg menjadi titik balik dia sebagai jurnalis pembela kebenaran. Jadi dengan ending dia yg begitu, jujur gue nggak peduli sih.
Hehe maafkan review pertama gue setelah bbrp bulan terjangkit review-slump malah condong ke negatif. Tapi jujur lebih gampang nulis review ketika banyak hal mau dikomentarin :/
Novel ini sebenere potensialnya bagus, selalu suka dynamicnya Arjuna sama Lara setiap ngerjain kasus bahkan endingnya aku bisa terima. Namun, nih entah kenapa aku kurang suka sama pacenya terlalu lamban dan terasa sekali tellingnya di beberapa scene. Poin plus dari novel ini adalah bagian pekerjaan jurnalistiknya yg sangat rinci.
Lara ini termasuk karakter cewek yg bakal ga disukai pembaca karena sikapnya, tapi di aku sih nggak begimana ya. Malah unik menurutku. Sedangkan penokohan Juna b aja alias klise pol huhuhu. Terus si Kevin ini jahatnya agak nanggung ya, coba kalau pakai sudut pandangnya sesekali bakal makin deg"an dan seru hehe.
Mengakhiri bulan Jun dengan novel Tik, karya Shorestory dari Indonesia. Sebuah novel yang pada aku digarap dengan baik oleh penulis. Kisah Larasati Rana, seorang wartawan gaya hidup yang meneruskan kehidupan dengan membenci dua perkara dalam hidup iaitu komitmen dalam perhubungan dan juga politik.
Walaubagaimanapun, kehadiran Arjuna Simanjuntak sebagai wartawan politik yang terlibat dengan penyiasatan Kevin, sedikit sebanyak mengubah perspektif Lara tentang dua perkara tersebut. Keupayaan untuk meruntuhkan tembok yang dibina oleh Lara terpaksa dilepaskan apabila Lara dan Arjuna terpaksa memberi fokus kepada Kevin Wiratama yang bercita-cita tinggi untuk mendapatkan posisi wakil gabenor serta terlalu obses dengan Lara.
Secara peribadi, aku enjoy baca Tik ini sebab binaan plot mengikut kronologi, mudah untuk faham apa yang berlaku apabila setiap bab mempunyai kesinambungan yang baik. Selain mengetengahkan konflik diri, penulis juga menyajikan pembaca dengan perselisihan antara kepentingan ahli politik dan tugas-tugas hakiki wartawan. Ia sangat relatable dengan apa yang berlaku dalam politik.
Perwatakan Lara dan Arjuna pula, di terjemahkan dengan konsisten. Tik jadi lebih menarik kerana penulis pandai mengaitkan watak utama dengan watak sampingan. Walaupun ada beberapa watak sampingan, tetapi ia tidak memeningkan. Di tambah lagi dengan dialog-dialog yang dicipta, bersahaja dan menghiburkan. Memandangkan, penulis merupakan wartawan, jadi gambaran kerjaya wartawan itu dilayarkan dengan sangat baik. Tahniah Shiraiko! Dan terima kasih Farah sebab hadiahkan novel ini sempena birthday aku hari tu. ❤️
Satu kata pertama adalah menarik... Aku tertarik membaca cerita ini karena berkaitan dengan jurnalistik, tetapi aku gak terlalu nyaman dengan poitik.(sama kayak pemikiran tokoh di dalamnya). Warning!! bagi pecinta romance garis keras, jangan terlalu berharap kisah romance di dalamnya (dikasih peringatan sejak awal, biar gak terus kasih bintang jelek) . Berhubung ini romance, tadinya kupikir, kita harus memiih antara dua pria yang memang punya karakter kuata dengan background yng berbeda. ternyata yang satunya udah punya istri. Ya, udah jeas lah saya sebg penoton miihnya yg mana. . Genre cerita ini romance, slice of life tentang jurnalis, dan politik. cukup berat memang. Apalagi fokus cerita lebih ke arah jurnalis dan politik dengan bumbu romance. Jadi, mohon jangan terlalu berharap. Meski begitu, kisah cintanya cukup youg adult, manis dan hangat. Meski kadang2 disertai deg2an dan kekhawatiran karena menyangkut politik maka ada intrik, dramatis,obsesi, dan kelicikan yg ada. . Salutnya dengan cerita ini adalah penuh detail. bahasanya fiksi tapi kayak jurnalis juga(mungkin karena background penulis). diksi tegas, sederhana, dan tidak bertele-tele/klise ala romance. Novel ini seerti membedah kehidupan jurnalis, kesehariannya yang berkutat pada laporan, artikel, feature, investigasi, turun ke lapangan, deadline dll juga jiwa bebas dan idealis mereka yang meliput berita demi mengungkap kebenaran. . politik yang dibahas juga cukup familiar dan agak satire seperti pilkada gubernur DKI Jakarta seiman, wagub yang bocor, partainya yang gak nyata tapi nyindir partai tertentu, dan jurnalis yang hilang saat meliput. Cerita seolah terjadi di dunia nyata makanya ada bagian yang kadang(sering) bikin emosi. . Saya pikir ini bukan bacaan yang ringan. Penulis seolah menuntut kita untuk berpikir kritis dan peka akan keadaan sekitar.Jadi gak cocok untuk kamu yang lagi ingin baca cerita romance buat santuy.Namun, layak untuk dibaca karena bahasa yng sangat mudah dimengerti dan seolah bercerita tentang kehidupan seseorang di sekitar kita....
TIK merupakan novel pertama Shorestory yang kubaca. Novel yang cukup menarik untuk kuikuti. Aku suka dengan isu yang diangkat dalam novel ini tentang dunia jurnalistik dan intrik didalamnya.
Aku suka pembahasan dunia jurnalistik dan kehidupan para wartawan disini. Seakan mengenal sisi lain mereka, bagaimana risiko yang harus dihadapi mereka.
Kisah bergulir dengan lancar dan mengalir, ikut deg-degan bagaimana akhir kisah Larasati dan Arjuna. Terutama Arjuna yang harus menghadapi teror demi teror bahkan membahayakan nyawanya. Masalahnya, aku kurang suka dengan endingnya, tapi ini masalah selera saja sih 😁
Untuk tokohnya sendiri, aku sejak awal memang kurang suka dengan Larasati, gaya hidupnya terlalu bebas, walaupun akhirnya aku tahu kenapa, tapi sulit rasanya menerima alasannya 😂 tapi aku suka dengan kepeduliannya terhadap binatang terlantar hingga membuat animal shelter bersama Jana. Sayangnya, tidak terlalu dieksplor disini.
Kisahnya sendiri tidak hanya membahas tentang romansa saja, tetapi lebih menyoroti dunia jurnalistik dan politik yang sering bersinggungan.
Secara keseluruhan, novel ini menjadi perkenalan manis untukku. Aku tidak sabar untuk membaca kisah lainnya dari Shorestory
Aku setuju dengan ulasan yang menyebutkan kalau membaca Tik ini mengundang perasaan yang sama seperti menonton A Copy of My Mind-nya Joko Anwar. Mungkin karena Jakarta yang menjadi latar ceritanya. Aku bukan orang Jakarta, jadi referensi gaya hidup tokoh-tokohnya yang Jakarta abis enggak relatable buatku. Seperti kultur one night stand sama friends with benefits di sini, tapi aku jadi cukup punya pandangan kayak gimana kultur hidup pekerja kantoran di sana, dan kenapa Lara membuat jarak seperti itu dengan fuck buddies-nya. Aku merasa karakternya juga cukup menarik karena meneriakkan girl queen pussy boss dengan segala commitment issues-nya hehehe.
Sebenarnya yang paling menarik buat aku itu ya cerita politik-politikannya, plus pembahasan yang berhubungan dengan dunia jurnalistik dan dunia kerja. Aku jadi berpikir seandainya cerita ini dibikin drama ala-ala drakor begitu pasti menarik banget. Apalagi karakter-karakter kayak Lara dan Arjuna ini seingatku tidak sering kita temui (kalau bukannya tidak pernah) baik di layar kaca maupun layar lebar.
"Perkara mencemaskan orang lain saja, kok penuh pertimbangan."
I read this halfway (not even halfway) when it was still on Wattpad, dan dari dulu aja udah suka. Sekarang bentuknya udah jadi buku, aku baca lewat Gramedia Digital. Aku suka karena ceritanya makin ke belakang makin penuh, dan aku seneng bisa belajar banyak soal dunia jurnalistik dan dunia politik dari novel yang awalnya kukira mainly focused on romance. Dunianya immersive! Waktu baca rasanya kayak betulan mikir, "oooh, kerja di koran atau majalah begini ya, rasanya." And I always enjoy that in books.
Aku punya ekspektasi sendiri dan mungkin ekspektasinya kehitung tinggi karena aku udah sempet ngeraba arah ceritanya kemana waktu baca di Wattpad. Dan ekspektasiku masih ketemu? I really, really like it. Mungkin di beberapa tempat masih ada lubang kecil-kecil, beberapa hal bikin aku bingung karena enggak ada penjelasan mendetail, tapi hal-hal itu juga masih bisa aku kesampingkan sebagai pembaca.
4/5. Aku suka. Bikin aku seneng karena dapet insight baru.
Untuk sesaat nggak bisa berkata-kata. Padahal ini bukan pertama kali membaca jenis ending yang well di samping bikin penasaran juga kurang memuaskan (maksudnya di sini adalah masih ingin banyak penjelasan hah), tapi tetap saja rasanya langsung bikin pikiran kosong.
Serius, aku cinta banget sama pembahasan seputar kehidupan wartawan. Walaupun sempat berkeingan menjadi salah satu dari mereka, tapi baru kali ini aku membaca detail soal job tersebut di karya fiksi pula. Great job banget buat penulisnya!
Kisah cinta antara Arjuna dan Lara juga nggak terlalu berlebihan, mengingat masa lalu Lara yang yah tidak begitu baik jadi maklum saja jika dia memilih langkah seperti itu. Satu hal yang masih bikin penasaran, bagaimana latar kehidupan Arjuna di balik topeng pekerjaannya sebagai seorang wartawan? Karena sepanjang buku ini aku hanya menemukan penjelasan mengapa dan bagaimana dari sisi Lara saja.
Anyway, 4 stars bulet banget buat TIK:)))
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sebenarnya seru banget karena nyaris di sepanjang cerita yang ditonjolkan adalah tentang sepak terjang tokohnya yang nyerempet bahaya dengan pejabat yang menghalalkan segala cara. Namun serasa ada lubang alur yang belum dituntaskan.
Peran paling menarik adalah ketika mereka berdua-Arjuna dan Lara, harus memutuskan untuk berpisah demi keselamatan diri masing-masing. Sisi jurnalismenya begitu banyak ditonjolkan sehingga kisah romansa cinta antar sepasang wartawan ini seakan terpinggirkan dan terkesan hanya melengkapi cerita. Meskipun begitu interaksi keduanya sangat lekat dan suportif.
Di luar semua itu kita jadi tahu betapa kerja wartawan itu sangat mengandung risiko besar, begitu dinamis juga kuat dalam idealisme. Memang sudah lama tidak ketemu novel yang bercerita tentang kewartawanan jadi menurut saya kisah ini lumayan menarik.
Awal baca sih bikin kaget ama ceritanya, gk expect bakal muncul hal unik di awal cerita (pentingnya baca sinopsis dan memahami wkwkwkwk), tapi untuk bagian selanjutnya udah bisa dibilang cukup aman sih. Pemakaian katanya juga mudah buat dipahami(tipe casual), sama ada pemakaian kalimat asing di berbagai percakapan.selain itu, tema yang diambil juga menarik, tentang kehidupan reporter. Yah, meskipun yang diceritakan mungkin cuman sedikit gambarannya aja. Buat ceritanya sendiri semakin ke belakang semakin intens buat nampilin masalahnya. Apalagi ada beberapa hal di dalamnya yang udah terjadi di real life, termasuk di bagian akhir menuju ending. Tapi mungkin penggambaran masalah mc soal feeling dan politik kurang terasa dalam sih waktu diceritakan, kalo dibandingin sama susahnya mc buat memulai itu semua. Overall, bagus sih nih novel buat dibaca.
Bintang 5🌟 Sebagai anak jurnalistik, baca ini dpt banyak insight dengan dunia jurnalistik. Untuk romance nya mungkin agak kurang ya karna ga terlalu detail dijelasin dan yang paling aku suka ga cringe. Masuk bagian ending sempet nangis ahhaha Pokoknya intinya novelnya bagus xixixi
This is the first time I’ve read an Indonesian novel that talks about journalism in an interesting way, especially when involving political candidates. That part was pretty interesting. But I feel like the characters weren’t explained well enough.I didn’t really get to know them deeply.