"LOVE IS NOT AN EMOTION, IT IS YOUR VERY EXISTENCE." -J. RUMI
Apa yang ada di pikiranmu ketika mendengar kata "menikah"?
Sejak kecil, mungkin kita sudah cukup familiar dengan institusi bernama pernikahan. Mulai dari pengenalan dari orangtua mengenai konsep menikah, hadir di sejumlah acara pernikahan teman atau kerabat, hingga pada akhirnya, kita sendiri sampai pada tahap memutuskan untuk melangkah ke kehidupan pernikahan itu sendiri.
Setiap diri kita pasti memiliki pandangannya masing-masing tentang pernikahan ini. Akan tetapi, apa kita sudah siap untuk menikah? Apa saja yang perlu kita ketahui tentang pernikahan?
Buku ini ditulis oleh Ibu Rani Anggreni Dewi, seorang konsultan pranikah dan terapis hubungan pasangan, memuat nasihat dan filosofi pernikahan yang berkesadaran (conscious marriage). Ada pula bab yang membahas soal berkomunikasi dengan pasangan. Penulisannya hangat dan mengalir, rasanya seperti ngobrol dengan ibu sendiri, lembut tapi menguatkan.
Oh iya, supaya bisa kebayang, bukunya sendiri hanya 130 halaman, sudah termasuk beberapa lembar isian yang menurut saya bisa banget jadi bahan renungan baik untuk yang belum maupun sudah menikah.
Agak sulit untuk menentukan rating karena akan sangat tergantung status dan ekspektasi pembaca, namun saya pikir buku ini cocok dibaca oleh pasangan yang sedang berpikir untuk membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan.
Buat apa ya baca buku ini kalau sudah 'terlanjur' menikah? 🤔
Tadinya aku mikir kayak gitu. Merasa akan telat banget gak sih baca buku semacam ini padahal kami sudah mau anniversary pernikahan yang ke-2.
Tapi bener deh, nggak ada ilmu pengetahuan yang sia-sia. Meski sudah kadung menikah, bukan berarti proses belajarnya udahan. Malah makin-makin kepikiran, "Sebenernya, kemarin gue tuh nikah buat apa ya?" 😅
Buku ini banyak ngomongin soal conscious marriage atau pernikahan yang disadari. Apaan tuh? Ya sesuai namanya, SADAR. Sadar berarti tahu dan mau ngerti kalau ada hal-hal yang perlu diusahakan dalam sebuah pernikahan yang harmonis. Pernikahan bukan institusi magic yang semuanya bakal works on their own gitu aja~
Misalnya, 1) Sadar kalau pasangan itu akan berubah. Dia dan kamu tidak selamanya akan ada di fase yang sama. 2) Kemauan untuk belajar dan beradaptasi, terus-menerus! 3) Sadar untuk membangun partnership guna terus bertumbuh bersama. 4) Butuh belajar komunikasi yang efektif dan welas asih. 5) Sadar bahwa masing2 membutuhkan kehangatan dan hubungan yang intim. 6) Mau melakukan aktivitas berdua (bisa hobi, datang ke acara berdua, dsb). 7) Sadar bahwa kebahagiaan rumah tangga butuh perjuangan, kerjasama, dan komitmen.
Wah, banyak deh! Nggak cukup caption-nya kalau mau sharing semua.
Buat pembaca yang sudah sering membaca topik serupa, mungkin tidak banyak hal baru yang bisa kamu dapat. Tapiiii.. buat aku yang baru-baru saja merasa butuh membaca topik relationship, pernikahan, dan sejenisnya, buku ini sungguh membuka persepsi baru! 🪷
Selain konten bukunya, gaya tulisannya sendiri juga enak di baca. Apa ya, perlahan tapi pasti. Seperti mendengar orator yang menyampaikan isi kepalanya dengan pelan tapi mantap. 👍🏽
Pembaca di ajak memahami dan memikirkan perlahan tentang pernikahan yang penuh kesadaran itu. Tentang mengenal tantangan dalam pernikahan, cara komunikasi welas asih, bagaimana membangun pernikahan langgeng, membangun nilai bersama dalam pernikahan, juga hal baru: mewajarkan sebuah konseling pernikahan! 👰🏻♂️🤵🏻
Hmm, setelah baca ini jadi kepikiran...
"Should I make an agenda for marriage check-up and visit marriage counselor?" 🤔
Lumayan validate the idea on pentingny konsultasi pranikah dan gk perlu msti based on pranikah keagamaan. Knpa perlu? Karena nikah itu sulit dan penuh effort bgt. Kyk klo kita di suru kerjain project yg sulit dan seumur hidup, pastiny kita mau tau tujuanny jelas dan alignment yg jelas bersama partner. Definitely grateful ada content dalam bahasa Indonesia soal conscious marriage sperti buku ini
Di buku ini jg d jelaskan betapa indahny kalo kita pny hubungan pernikahan yg baik dan langgeng. Karena bisa jd semacam life insurance buat hidup yg bahagia and sehat. Byk research jg soal the positive correlation between marriage satisfaction and longevity.
Bagus, memberikan kita perspektis tentang conscious marriage. Sebuah pernikahan yang dipilih dan diputuskan secara sadar atas pertimbangan-pertimbangan logis, mampukan kita berkawan seumur hidup dengan orang yang kita pilih secara sadar? Namun, untuk yang muslim, ada baiknya dikembalikan ke value-value Islam sesuai apa yang diyakini. Karena menikah bukan Hanna berkawan seumur hidup, tetapi beribadah bersama seumur hidup.
Untuk Apa Menikah kurang lebih memberikan gambaran bahwa keputusan buat nikah, berganti status jadi istri/suami, harus diambil secara sadar dan bertanggung jawab. Tahu apa konsekuensinya. Bukan sekadar resepsi & pakai kebaya cantik.
Buku ini menekankan pentingnya "Conscious Marriage" atau "Menikah Berkesadadaran." Bukan menikah karena tuntutan keluarga. Perlu ada pembagian peran & memahami value hidup masing-masing guna mencari titik tengah yang adil.
Beberapa hal penting ditekankan di sini. Misalnya tentang pola komunikasi, hubungan intim yang bukan sekadar adegan ranjang, regulasi emosi & resolusi konflik, hingga kemungkinan untuk bertemu konselor pernikahan jika diperlukan.
Menurutku, Untuk Apa Menikah langsung mengarahkan pembaca pada esensi pesan. Apakah kita sudah betul-betul paham tentang diri sendiri & bersedia menyambut, menolerir, berkompromi dg orang lain yang akan bersama kita hingga akhir hayat?
Selain penjelasan dari penulis, beberapa halaman juga berupa lembar kerja guna merefleksikan value hidup yg kita pegang. Bisa juga dimanfaatkan sbg prompt untuk journaling.
Buatku yang sudah pernah ikut kelas Pranikah dari Career Class serta membaca buku tentang relasi romantis, aku nggak merasa ada kebaruan. Beberapa bagian sudah pernah kudapatkan juga dari Relationships-nya TSOL. Bagian lembar kerjanya pun juga kurleb sama dg The Couple Workbook TSOL.
Mungkin buku ini cocok untuk mereka yg mulai ingin menyadari pilihannya buat menikah. Sebuah bacaan awal sebelum mengeksplorasi buku tentang relasi romantis lainnya.
But I am sorry to say that, buku setipis ini kenapa mahal ya 😭
Lately, Indonesian millennials have been saying, "marriage is scary" scary roti, roti scary roti (LOL!) massively on Twitter. However, what I’ve learned from this modest book is that it all comes down to knowing your "WHY"
As life is a journey, marriage is not Plan A. An individual can go through many experiences before considering marriage. That's why, in law, there’s no expiration for marriage, but there is a minimum legal age for this event. Marriage is not for everyone. So, when you choose to get married, more than just choosing each other, you also have to do it consciously. Getting married due to societal pressure or being dictated by societal norms is something that needs to be abolished.
Bu Rani Anggraeni Dewi, a marriage consultant, wrote this book as a gift to her children and children-in-law, realizing that these two couples were entering critical years in their marriages. The book explores several topics, such as questioning societal norms, individual freedom and choice, changing perspectives on relationships (because who enters your life without baggage? Aren’t we all?) and lastly the modern challenges of marriage in today’s world. I’d rate it 4/5.
A solid 1.5/5 antara 1 untuk "i don't like it", dan 2 untuk "it was okay". Masalahnya, harganya mahal sekali untuk buku setipis dan senormatif ini, so it wasn't okay.
Meskipun ada beberapa exercises yang menurutku bakal menarik untuk dilakukan bersama, at the end of the day ini tuh kayak promosi konseling pranikah terselubung 😅 Isinya juga, seperti yang saya bilang, terlalu normatif atau general. Kebanyakan materi yang disampaikan sebetulnya saya sendiri sudah tahu—tapi bisa jadi masalahnya cuma karena saya bukan target market buku ini karena buku ini lebih cocok untuk mereka yang lebih awam lagi.
Anyway, awalnya agak skeptical buku ini ngerefensi dari source yang credible atau malah gak ngerefensi apa2 sama sekali—tapi untung aja ada bibliography nya (?).
Udah sih itu aja paling. The book is pretty and colorful, tapi aku lebih prefer black and white aja supaya gak semahal ini 🥲
Di Indonesia, terlalu banyak influencer yang mencoba menjadi pakar relationship berdasarkan POV personal mereka sendiri tanpa ada sertifikasi atau pengalaman akademis. Sampai muncul standar tiktok dsb yang membuat nilai-nilai pernikahan sesungguhnya tidak dimaknai masyarakat, khususnya generasi muda.
Buatku, buku ini membawa POV baru mengenai makna pernikahan dari sudut pandang seorang konselor pernikahan. Istilah conscious marriage yang coba diperkenalkan oleh penulis membawa kesadaran kembali bagaimana seharusnya kita memaknai dan menjaga kesakralan pernikahan itu sendiri.
Dan IMO, pernikahan itu sakral & suci.
Juga ada beberapa worksheet list pertanyaan yang bisa menjadi worksheet kamu dan calon pasangan untuk bisa lebih dalam mengenal satu sama lain.
Buku ini menurutku cocok untuk jadi bacaan dan refleksi wajib untuk siapapun yang sudah serius menjalin komitmen jangka panjang.
Bagi saya yang sudah menikah, topik soal dialog imago dan concious marriage lah yang menempel erat di kepala. Sisanya, menurut saya lebih cocok untuk pasangan yang belum menikah dan akan merencanakan menikah.
Handy, dengan halaman yang cukup singkat (130 halaman) - buku ini rasanya penting untuk disebarluaskan, tidak hanya dibaca pasangan di era kini yang lebih terbuka terhadap konsep dan pandangan baru - Tapi penting banget untuk generasi x yang biasanya masih terkungkung value dan pengaruh lingkungan (misalnya patriarkal) sehingga seringkali menghambat proses komunikasi terbuka & berkesadaran.
Buku ini cocok banget untuk yang mau nikah atau yang masih clueless sebenarnya apa aja yang harus disiapkan dalam pernikahan selain financial.
Salah satu kesimpulan yang gue dapet dari buku ini adalah "communication is the key". Karena terkadang ada beberapa hal yang membuat komunikasi jadi terhambat, oleh karena itu penting mempelajari how to communicate dan lebih mengenal pasangan.
Overall, this is a good book to read. Habis baca buku ini kamu bisa langsung diskusi bersama pasangan dan merenungkan beberapa pertanyaan yang juga ada di buku.
Nyelesaiin buku ini cukup lama soalnya sempet reading slump hahaha. Judulnya cukup intriguing, eh pas dibaca ternyata kusudah salah sangka. Lewat buku ini mataku jadi lebih terbuka soal pernikahan, jadi ngerasa harus lebih paham diri sendiri dulu baru pahami orang lain, jadi ngeh kalo marriage is an endless hardwork yang sangat worth every tears and sweat.
Penasaran sekali dengan buku ini karena penulisnya adalah ibu Rani. I enjoy reading this, and it reminds me that the couple needs to do hard work to make their marriage happy and growing. This book is mainly for people who prepare themselves before getting married, but I think it is also an excellent reminder to those who have been married.
Buku ini ditulis oleh Rani Anggraeni Dewi seorang Pre-marital consultant. Banyak insight dan ada pembahasan tentang concious marriage. Bahasanya juga enak. Bukunya tipis dan ringkas buat dibawa2. Cocok untuk pasangan yang akan menikah
Banyak beberapa halaman yang digunakan untuk menjelaskan mengenai pre-marital counseling. Halaman2 ini tidak tahu sengaja atau tidak seperti bagian dari marketing jadinya..
This entire review has been hidden because of spoilers.
3.5/5 Buku ini ttp gw rekomendasikan utk yang mau nikah atau ada masalah komunikasi dengan pasangannya, plus nikah dengan sadar tuh penting banget! Isinya bagus walau terlalu banyak "jualan" konsultasi menikah. Ada 1 satu bab khusus untuk promosi dan sisanya selalu disisipkan.
Dikenalkan dengan conscious marriage yang menjadi penting sebelum memutuskan untuk menikah menjadi langkah awal upaya diri dalam proses 'pemantasan' menuju versi terbaik sebelum menemukan pasangan yang baik. Buku yang menjernihkan pikiran bahwa pernikahan adalah tanggung jawab yang perjalanannya harus direncanakan, disadari penuh dengan pendewasaan. Bukan soal terburu-buru karena takut ketinggalan, bukan soal hanya merayakan ceremony pernikahan. Lebih dari itu, pernikahan bentuk realisasi diri dengan bertumbuh bersama pasangan selamanya, menumbuhkan nilai-nilai universal yang diturunkan menjadi visi misi pernikahan, rasanya bukan hanya tentang aku-kamu menjadi kita tapi manfaat dari welas asih yang dibangun bersama untuk kebermanfaatan sampai akhir hayat, masyaAllah🫶🏻✨