Gagasan-gagasan para filsuf modern, kerap tidak nyaman di telinga para penjaga status quo: kedengaran ‘subversif’ bagi rezim politis, ‘bidaah’ bagi ortodoksi agama dan ‘sinting’ bagi mediocrity. Namun merekalah yang membuka jalan bagi kebebasan berpikir. Tanpa mereka kiranya orang tak pernah berani secara rasiona mendekati misteri manusia, masyarakat, dunia, dan tuhan seperti yang kini berkembang dalam berbagai ilmu modern. Sains, teknik, ekonomi kapitalistis, negara hukum dan demokrasi modern berpangkal dari sebuah pemahaman filosofis yang lalu menjadi elemen modernitas kita, yakni: subjektivitas (rasionalitas), idea kemajuan (the idea of progress) dan kritik. Para filsuf modern mengembangkan ketiga elemen kesadaran modern itu dalam berbagai ajaran, mulai dari humanisme Renaisans, rasionalisme, empirisme, kritisisme, idealisme, materialisme, romantisme dan positivisme.
Modernitas ditandai dengan penghargaan atas rasionalitas, kemajuan sains dan industri. Jika dilihat dari sudut pandang manusia yang eksklusif, pemikiran modern sering disebut juga antroposentris, ini berbeda dari zaman sebelumnya yang berciri teosentris.
Sains, teknik, ekonomi kapitalis, negara hukum dan demokrasi modern berpangkal dari pemahaman filosofis yang menjadi elemen modernitas kita yaitu rasionalitas, idea, dan kritik. Dua gerakan penting yang merintis modernitas adalah Renaisans dan Reformasi.
Buku Pemikiran modern melacak filsuf dan pemikirannya yang menjadi elemen modernitas mulai dari filsuf sang pendobrak Realis, Rasionalisme modern, Empirisme, Optimisme, Kritisisme, Idealisme sampai ke filsuf sang pembunuh Tuhan.