[English]
First, I admit that the 5-stars is a manifestation of subjective review. Perhaps it comes from a soul who has not been reading good masterpiece since few years ago.
Second, I am going to appreciate the details that Akiyoshi-sensei presented in this book. In the middle of reading this, I was agonizing to myself, expressing hatred toward a silly young woman, who is by the way, uneducated - and controlled by her irrational emotion because she lost her only 'love' in her life.
Reading Akiyoshi-sensei's writing somehow identic with playing puzzle: my brain automatically trying to find the pieces, create a connection, until I get what is actually happening (of course, not only what presented by the Blurb or the words there). I did not want to be deceived. Well, I managed to guess some part that is actually correct, but as usual - failed to predict the whole, bigger picture. And as always, Akiyoshi-sensei succeed to create a meaningful and integrated final touch in the end. Unlike her other book, Holy Mother, which made me felt irritated and agitated in some ways, I felt sad after reading this. Well, I guess, that's what Akiyoshi-sensei wants from her readers when finishing this book, because she always succeed to create a 'mind-blowing' story. Not an unpredictable way of usual Detective series presented - but something that more humanly touched.
Lastly, if I'm trying not to be subjective, I will give this piece of work 4.5 stars. Well, let's say the 5 stars - still worth it.
[Indonesian]
Pertama-tama, saya mengakui bahwa 5-bintang ini adalah manifestasi review subjektif. Mungkin itu datang dari sebuah jiwa yang sudah lama tidak membaca ‘masterpiece’ sejak beberapa tahun yang lalu.
Kedua, saya akan mengapresiasi detail yang disuguhkan Akiyoshi-sensei di buku ini. Di tengah-tengah membaca buku ini, saya merasa ‘tersiksa’, sambil mengekspresikan kebencian saya terhadap seorang Wanita muda ‘bodoh’, yang juga tidak teredukasi dan dikontrol oleh emosi irasional dia karena kehilangan satu-satunya ‘cinta’ di dalam hidupnya.
Membaca karya Akiyoshi-sensei seolah-olah seperti bermain puzzle: otak saya otomatis mencari bagian-bagian dari puzzle tersebut, merangkai hubungan, sampai saya berhasil menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi (tentu saja bukan dari bahasa yang disuguhkan oleh blurb – synopsis – atau kata-kata yang ada). Saya tidak ingin tertipu. Yah, saya berhasil menebak beberapa bagian yang ternyata benar. Namun seperti biasanya – gagal untuk memprediksi keseluruhan gambaran cerita. Dan juga seperti biasanya, Akiyoshi-sensei berhasil untuk membuat akhir cerita yang membekas dan utuh. Tidak seperti bukunya yang lain, Holy Mother, yang berhasil membuat saya merasa kesal dan gelisah entah mengapa, saya merasa sedih ketika selesai membaca buku ini. Yah, saya rasa, mungkin itu yang Akiyoshi-sensei inginkan dari pembaca bukunya yang ini, karena beliau selalu sukses untuk membuat cerita ‘mind-blowing’ . Bukan alur yang ‘tidak bisa ditebak’ seperti cerita-cerita detektif pada umumnya, tetapi sebuah cerita tentang “manusia”.
Terakhir, jika saya berusaha untuk tidak subjektif, saya akan memberikan karya ini 4.5 bintang. Yah, katakana saja buku ini masih layak untuk mendapatkan 5 bintang, deh.