Nurhady Sirimorok, sejak kuliah telah menekuni dunia penulisan baik sebagai penulis, penerjemah, dan penyunting. Esai-esainya tersebar di berbagai media. Salah satu karyanya adalah: Laskar Pemimpi: Andrea Hirata, Pembacanya dan Modernisasi Indonesia (INSISTPress, 2008)_ yang oleh beberapa pengamat sebagai salah satu kritik sastra terbaik di Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun 1999, Nurhady bersama M Aan Mansyur, Ari Hasriady, dan kawan-kawan lainnya, meng-inisiasi dan mendirikan Ininnawa_sebuah komunitas di Makassar yang menaungi empat organisasi: Biblioholic, Penerbit Ininnawa, Sekolah Rakyat Petani Payo-payo, dan Active Society Institute (AcSI).
Rasanya permasalahan urbanisasi dari desa ke kota bukan isu baru yang banyak di perbincangkan. Anak muda desa mulai bersekolah tinggi dan pergi ke kota, desa-desa sepi ditinggalkan dan semakin menjauhkan masyarakat dengan tanah (pertanian). Disini serangan urbanisasi bukan hanya memisahkan fisik masyarakat desa namun juga cara berpikir dan cara hidup mereka. Dari 20 catatan pendek yang mengisakhan kehidupan desa yang tersebar di Sulawesi, Nurhady menceritakan bagaimana pola-pola perubahan hidup masyarkat desa-kota ini terjadi. Beberapa program penghijauan dan penanaman pinus oleh pemerintah justru menyulitkan para petani untuk terus berproduksi karena pengairan yang kurang. Penyuluhan mengenai siklus subur-gersang penanaman kakao mengakibatkan para petani tidak bisa lanjut setelah 7 tahun bercocok tanam. Lalu program 'pacu produksi' justru menghasilkan penurunan kualitas tanah dan kerusakan ekosistem karena penggunaan zat kimia yang intensif. Ini hanya beberapa permasalahan yang diungkapkan mengenai pertanian di desa.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan dari Nurhady Sirimorok yang merefleksikan perjalanannya selama berkunjung ke berbagai desa di beberapa penjuru di Indonesia. Kemampuannya dalam merefleksikan setiap momen, kisah, perjumpaan menjadi hal menarik dalam setiap ceritanya. Ada 20 kisah yang ia ceritakan tentang Desa dengan beragam issue. Pada awal kisah ia bertutur terkait pertukaran gagasan antar warga desa yang cenderung kalah pamor dengan kegiatan sosialisasi dari para praktisi. Masih adanya sikap umum terhadap pengetahuan warga desa yang terlampau sering dicitrakan sebagai orang-orang terbelakang, sehingga membuat mereka dianggap tidak punya pengetahuan untuk dibagikan, bahkan kepada orang desa lainnya. Fenomena ini sangat erat dengan ketimpangan kuasa pengetahuan, dimana hanya pengetahuan para orang yang dianggap pakar yang pantas dibagikan pada orang desa. Di kisah lainnya, Nurhady bertemu dengan realita dimana penyeragaman tata telola desa yang terjadi lambat laun membuat warga desa kehilangan daya inovasi dalam praktik pembangunan desanya.
Dalam perjumpaan lainnya, ia menemukan pula sekelumit kisah tentang kebijakan pemerintah melalui program yang diintervensi pada desa demi sebuah tujuan nasional yang akhirnya merubah lanskap wilayah dan merubah pola penghidupan dan kehidupan para petani di desa tersebut. Serial kisah tentang kegelisahannya pada petani dan nasib pertanian di desa sepertinya menjadi concern dari Nurhady. Dalam perjalannya ia menemukan fakta terkait seringnya orang muda ‘sengaja’ dijauhkan dari desa dan pertanian, lalu ada sederetan kisah terkait para petani yang di pacu terus menerus untuk produksi seperti sapi perah tanpa hak yang sebanding, dan alpanya kesejahteraan para petani kita.
Belum lagi pergulatannya tentang desa wisata yang dilematis antara mempertahankan keuntungan ekonomi atau memikirkan kelestarian alam, gaya hidup urban yang meningkatkan kerentanan, dan refleksinya terkait puluhan trilyun dana desa yang menguap dengan sia-sia semakin ‘menggelisahkan’ para pembacanya.
Sungguh sebuah catatan perjalanan yang bernas dan reflektif.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Pembahasan yang disajikan terkait permasalahan di desa ditampilkan secara kritis melalui kumpulan esainya. Problem desa coba ditarik begitu luas sekali. Mulai dari perilaku warganya, pemikirannya, keadaan lingkungannya, kekhawatirannya, dan beberapa kesalahkaprahan kita sebagai warga yang tidak tinggal di desa dalam memandang desa.
Sayangnya, entah kenapa dalam pengalaman membaca esainya, saya justru menangkap bahwa esai-esainya kerapkali bermain cantik dalam membangun kalimat untuk menjelaskan argumentasinya. Dalam arti, kalimat-kalimat yang digunakan lebih cocok untuk digunakan untuk karya fiksi dibandingkan karya non-fiksi. Sehingga dalam membacanya lebih terbuai dengan kalimat manisnya, dibandingkan fokus terhadap subtansi dari pemikirannya.
Kuberi bintang 5 untuk perjalanan yang telah dilalui penulis. Safarinya bertahun-tahun mengenai desa, cukup membuka mata kita bahwa kearifan itu tidak boleh luntur dan perlu terus disadari. Rasanya setelah membaca ini, aku ingin ikut juga bersafari, memahami realita itu sendiri.