"Sejak beribu-ribu tahun lalu manusia sudah mengalami sekian banyak perpisahan. Namun, manusia tidak pernah benar-benar bisa belajar bagaimana cara agar tak ada sedih saat perpisahan itu datang." — Boy Candra, Rindu yang Baik untuk Kisah yang Pelik
Aku beruntung ketemukan buku yang pas banget mood nya kerna aku lagi reading slump. Buku yang sering menjadi favorite ku jadi gak betah aja untuk dibaca. Hadirnya buku ini membolehkan aku membaca lagi.
Buku ini mengisahkan kerinduan seorang cowok, Salim, akan teman kuliahnya, Birni. Dia melihat kembali catatan diarinya mengenai Birni, serta surat-surat yang ditulis tapi gak dikirim ke Birni. Aku suka vibe buku ini, sama penulisannya, sama kata-kata yang romantis dan puitis. Mungkin bagi sesetengah orang, itu bisa menjadi terlalu cringe, tapi buat aku sih, pas dengan mood aku pada waktu ini.
Jalan ceritanya juga bagus, cuma it's predictable dan agak cliche bagi aku. Tapi tetap aja ya aku suka. 😆 Cuma ada babak terakhir di mana Birni kasi tau alasan dia menghilang dan ke mana dia menghilang selama ini agak terlalu cliche dan aku merasakan harusnya ada penjelasan yang lebih bagus.
Overall, aku suka sama bukunya dan kisah Salim termasuklah cara berbisnis secara online, cara taat kepada orang tua, soal temanan.
Aku ga suka novel yang point out kalimat bijak/roman/mutiara whatever you call it, i just don't like it. Rasanya sehalaman itu dipersembahkan untuk yang senang upload ke media sosial mereka. Bagian dimana Salim menggombal ibunya (?) aku ga pernah liat di kehidupan biasa. Tipikal karakter pemuda Indonesia di buku-buku roman kekinian kah?
Ceritanya berfokus ke masa lalu, character utama nya romantis gitu cara dia perlakuin ibu, dan orang² di sekitarnya bikin hati kita hangat sendiri, dan bikin mikir ada gak ya orang sebaik Salim di dunia nyata? Mungkin emang dari judulnya "rindu" jadi di masa sekarang nya kurang kerasa feel nya.
Menurutku alurnya terlalu lambat. Dan benar saja, pas menuju akhir, jawaban dari pertanyaanku baru akan terjawab. Dan ternyata bersambung 🙃 aku berasa diprank.
Rindu yang Baik untuk Kisah yang Pelik membawa kita menyelami kerinduan, kenangan dan perasaan yang tidak pernah benar-benar selesai. Boy Candra menulis tentang Salim dan Birni dengan cara yang sederhana, tetapi cukup untuk membuat kita berfikir tentang orang-orang yang pernah hadir dalam hidup. Ada surat yang tidak sampai, kata-kata yang tidak terluah dan rindu yang akhirnya hanya tinggal dalam ingatan.
Barangkali, tidak semua kisah perlu berakhir dengan memiliki. Ada yang cukup sekadar pernah hadir, lalu menjadi kenangan yang sesekali kita rindukan.