Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pulang ke Rinjani

Rate this book
Berjalan kaki tidaklah istimewa. Semua orang melakukannya. Namun pada awal 2016 sebuah mimpi tentang hamparan savana mendorongku untuk melakukannya dengan lebih jauh. Bersama hasrat untuk bunuh diri, masa lalu yang serba ungu, dan secuil harapan untuk menemukan kembali lajur-lajur yang hilang dalam hidup, kumulai langkah pertama menuju puncak Gunung Rinjani, dari Ciputat, kurang lebih 1700 kilometer panjangnya.

Berjalan kaki tidaklah istimewa. Semua orang melakukannya. Namun ternyata banyak hal terjadi dalam perjalanan ini dan sampai hari ini aku masih terkejut oleh apa yang kudapat darinya. Dan lucunya, kisah seorang pemuda yang berjalan kaki menuju timur pernah kutulis dalam novelku, Hanif. Tak pernah kusangka itu akhirnya akan menjadi realitas dalam hidupku sebagai penulis, manusia yang mencari arah pulang layaknya tanda tanya yang layu menanti kesimpulan.

Kisah ini kubuat sebagai catatan bahwa diri manusia bisa terpecah-belah namun ia pun sanggup tersusun kembali dengan cara-caranya yang ajaib.

444 pages, Paperback

Published April 1, 2021

12 people are currently reading
32 people want to read

About the author

Reza Nufa

9 books42 followers
Lahir di Bogor, 18 November 1989, penulis yang tumbuh bersama tulisan-tulisannya ini telah menerbitkan beberapa novel, di antaranya: Iqra'! (2011), Hanif (2012), Revolusi (2012). Kumcernya yang memakai teknik alur kesadaran, Pacarku Memintaku Jadi Matahari, terbit pada 2018. Dan bukunya terbarunya yang merupakan kisah nyata perjalanan kaki dari Ciputat hingga puncak gunung Rinjani, Pulang ke Rinjani, terbit pada 2021.

Sebagian besar tulisannya mengulik sisi-dalam manusia, mengungkap kerinduan dan kehilangan paling tua yang dialami oleh manusia.

Saat ini Reza menjadi kepala redaksi penerbit Basabasi, Jogjakarta.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
11 (26%)
4 stars
20 (47%)
3 stars
9 (21%)
2 stars
2 (4%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 11 of 11 reviews
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books62 followers
July 31, 2021
Pulang ke Rinjani by Reza Nufa (2021) [11-50]

[Spoiler rate: 10-20%]

Pasca kultwit yang dibuat oleh Reza Nufa meledak di twitterland, aku akhirnya kepincut untuk beli buku ini (padahal tumpukan dosa di rumah masih menggunung). Secara ya, diskonnya 50%. Pas beli gratis ongkir pula kalau nggak salah hehe.

Nah, sebagaimana yang dikisahkan sekilias di twitter, buku ini berkisah tentang kegalauan Reza Nufa atas jati diri dan kehidupan yang dia jalani sehingga memutuskan untuk berjalan kaki dari Jakarta (eh apa Bekasi ya, lupa) hingga ke Rinjani sana.

Mulanya Reza meniatkan untuk 100% berjalan kaki saja. Namun belakangan, dia lebih melonggarkan kekerasan-kepalanya sendiri. Jadi, jika ada pengguna jalan yang ngasih tebengan, dia akan ikut. "Siapa tahu itu salah satu cara untuk memperkaya pengalaman," ujarnya.

Selama di jalan, dia hidup menumpang. Kebanyakan di masjid atau juga mendirikan tenda di mana saja. Di pinggir jalan, di hutan, atau menumpang di rumah kawan sambil bertukar lendir, melepas keperjakaan dan keperawanan. Ya, buku ini memang ditulis sebegitu adanya dengan sentuhan muatan filosifis hidup dan pilihan diksi yang (cukup) kaya.

Berbagai rintangan di jalan dia hadapi. Kaki terluka, kulit terbakar matahari hingga tumpukan daki.

Beberapa flashback kisah hidupnya dan hubungan dia dengan keluarganya juga punya porsi yang pas.

Hanya, setelah baca secara keseluruhan, aku gak menemukan satu hal yang menjadikan buku ini spesial. Iya bukunya bagus, kisah perjalanannya menarik, tapi sebatas itu. Terlebih kalau (secara otomatis) aku membandingkan buku ini dengan buku perjalanan serupa milik penulis lain.

(well, ini sudut pandang pembaca ya. Di saat lain, pembaca juga akan melakukan hal yang sama saat baca bukuku).

Oh ya, yang menarik perhatian lagi, ialah cara Reza menuliskan setiap percakapan/dialog. Biasanya penulis akan menggunakan tanda petik dua di atas, namun dia tidak melakukannya.

Hingga aku menuliskan celotehan/ulasan ini, aku masih bingung antara mau menerima atau menolak gaya menulis dialog semacam itu. Di satu sisi jadi unik dan berbeda, di sisi lain, aku gak begitu nyaman saat baca.

Skor 7,5/10
Profile Image for Rd. Sya'rani.
61 reviews3 followers
March 29, 2021
Membacanya seperti teringat akan Balada si Roy-nya Gola Gong dalam versi lain, versi yang lebih panjang, lebih penuh kegelisahan, makian, beberapa diceritakan dengan lugas & gamblang tanpa tedeng aling-aling.

Yang menghibur tentu saja pertemuan dengan orang-orang baik yang bertebaran di sepanjang perjalanan. Memoar yang seakan seperti fiksi, mungkin seperti itu. Soalnya kadang susah sekali menemukan antara kenyataan dan bayangan penulis yang sesekali tenggelam dalam kubangan kenangan di masa-masa yang telah silam.
Profile Image for Bening Pertiwi.
Author 2 books2 followers
October 27, 2021
Pulang ke Rinjani adalah catatan perjalanan Reza Nufa sejak berangkat dari Ciputat, 16 Januari 2016 hingga naik Gunung Rinjani, sekitar 1700 km. Bukan jenis backpacker dengan tips dan triknya. Tetapi murni catatan perjalanan dengan segala ceritanya.

Lebih lengkap, cek blog ya https://www.beningpertiwi.com/2021/10...
Profile Image for yunda..
66 reviews2 followers
April 2, 2021
Wah, gila bener. Sejauh ini, ini buku paling ajaib yang aku temui. Aku tahu, ini bukan novel, tapi entah mengapa, setiap hendak berhenti membaca, selalu ada dorongan untuk membacanya lagi dan lagi--walaupun nyatanya, aku berhenti juga karena hal-hal semacam "sudah malam, besok masih kerja".

Saking semangatnya, aku jadi lebih rajin nge-track jumlah halamannya meski sedang di tengah-tengah membaca; sesuatu yang jarang sekali kulakukan pada buku-buku sebelumnya. Ya, walaupun tidak terlalu banyak jejak juga.

Harus kuakui, membaca bagian awal buku ini sangat menguras tenaga. Masa-masa depresinya begitu kuat dirasakan. Sering banget ada niatan menyerah, makanya kelarnya lama banget. Tapi, demi menuntaskan penasaran--apalagi aku engga pernah naik gunung--ini harus kelar. Dan benar saja, semakin dibaca, perasaan lega dan senang semakin bertumbuh. Melihat orang sudah mulai bangkit dari keterpurukan itu rasanya indah sekali.

Lewat buku ini, kita bisa merasakan pengalaman naik gunung tanpa harus ke sana. Bagaimana persiapannya, penanganan ketika capek atau terluka, pemandangannya seperti apa, dsb. Tapi, aku sendiri cenderung menikmati perubahan diri penulis sebagai tokoh utama dari yang sedang suntuk dan kesal pada banyak hal menjadi perlahan damai dan bisa menerima keadaan. Banyak hal sepanjang perjalanan yang ia hadapi sehingga ia bisa bertemu dengan apa yang penulis cari dari perjalanan itu.

Di sela-sela perjalanan, ada adegan flashback yang dibawakan dengan mulus. Momen untuk flashback-nya tepat, sehingga perpindahan waktu ke masa lalu tidak terasa meskipun penulis tidak menggunakan penghubung semacam "ketika melihat ini, aku teringat..." Jadi semacam langsung flashback tepat pada kalimat berikutnya. Ribet, ya?

Satu hal yang cukup mengganggu adalah tidak adanya dialog tag yang menandakan percakapan, sehingga aku harus meraba-raba siapa yang sedang berbicara dan siapa yang merespon, terlebih jika sedang berada dalam satu kerumunan seperti ketika si penulis mengobrol dengan rekannya di Lombok. Selain itu, pemberian catatan kaki tidak melulu hanya untuk mengartikan sebuah istilah, melainkan juga untuk mengartikan percakapan tokoh. Meskipun enggak terlalu penting--tidak terlalu berefek ke jalan cerita--namun hal itu bisa membantu para pembaca yang tidak mengerti bahasa Sunda.

Dari review-ku di atas, tentu kalian sudah bisa menyimpulkan bahwa aku bisa merekomendasikan bacaan ini untuk kalian, tapi sebaiknya untuk usia 18+ karena selain ada hal dewasa, keputusan untuk melakukan perjalanan seperti ini harus dipertimbangkan masak-masak. Jangan hanya karena ingin, kalian ikut-ikutan. Pesanku, jangan gampang menyerah membacanya.
Profile Image for Alfin Rizal.
Author 10 books50 followers
January 8, 2022
Meski ini memoar perjalanan kawanku, aku yakin sangat menyukai buku ini bukan karena aku mengenal dekat penulisnya. Mungkin memang ada faktor itu tapi sangat sedikit dan bukan satu-satunya. Jauh sebelum buku ini terbit, lewat tuturan mulut, yang walau sepenggal-penggal, aku sudah tertarik cerita tentang perjalanan kaki penulis dari Ciputat ke Rinjanj.

Setelah buku ini terbit, dan membacanya, aku langsung tenggelam dalam kisah perjalanan di buku itu. Pertama, sejak bab pertama sudah bisa merasakan gaya penuturan kisah dalam buku ini akan tenang, penuh kejutan, dan mengalir. Kedua, deskripsi naratif yang efektif dan efisien. Ketiga, daya tangkap dan daya ungkap atas peristiwa yang penulis alami sepanjang jalan kaki Ciputat-Rinjani. Keempat, kemampuan Reza menyentuh dan bahkan mungkin menggenggam hati pembaca lewat nasihat tersembunyi (kebanyakan lewat suatu kejadian atau obrolannya dengan orang asing). Terakhir, siapa pun yang baca pelan sampai akhir dan menghayatinya walau sedikit, akan paham bahwa ini novel tentang mencari dan menemukan diri sendiri.

Aku senang baca buku ini. Ralat. Aku sangat senang baca buku ini. Yang suka buku memoar, terutama para pendaki san pejalan, bacalah.
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
December 10, 2021
Rekomendasi teman yang belum membaca  buku ini. Aneh ya, tapi kemudian aku tertarik dengan judul dan resume buku nya yang aku baca di twitter.

Penulis berjalan kaki 1.700 km dari kediamannya di Ciputat Banten ke Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. Demi apa? Demi mencari arah pulang layaknya tanda tanya yang layu menanti keaimpulan, begitu penulis menuliskannya. Meski tak sepenuhnya berjalan kaki, tapi kaki yang melepuh dan berdarah, tubuh yang menampung hujan angin diperjalanan, kelaparan dan banyak lagi pengalaman yang dialami, perjalanan yang dilakukannya tidaklah mudah.

Kegalauan, hasrat bunuh diri, berbagai kekecawaan, masa lalu dan harapan menemukan lajur yang hilang dalam hidup membawa penulis melakukan perjalanan ini.

Dengan latar belakang kota di Banten seperti Ciputat, Serang, kemudian ke kota-kota disepanjang perjalanan. Bukan hanya cerita alam nyata  tapi juga berbagai hal terkait alam gaib.

Banyak kalimat-kalimat puitis dan tak sedikit kata-kata kasar dan vulgar dilontarkan.

Mendaki rinjani untuk kembali pulang
2 reviews
July 10, 2021
Baca buku ini membuat saya tersadar kalau orang Indonesia pada kenyataannya masih ramah-ramah. Kalau saya browsing di internet, saya merasa kalau tradisi ramah tamah kita sudah memudar, tapi kalau baca pengalaman Mas Reza ini justru kebalikannya. Di beberapa perjalanan pasti ketemu aja orang yg nawarin tebengan atau sekadar menyapa.
Secara keseluruhan saya menikmati bukunya dan suka bagaimana Mas Reza mencoba untuk menceritakan masa lalunya tanpa memberi tahu pembaca kalau Mas Reza sedang mengingat masa lalunya. Terkadang suka bingung sendiri pas baca, tapi ini yang bikin unik. Good job
1 review
March 28, 2021
I dont know what to say, but this book is... 'wonderful'... maybe could express the feeling I get after read this.
Profile Image for Like Andini.
10 reviews
May 14, 2021
Cant finish the whole book.. alur terlalu panjang dan ditengah cerita sering disisipi cerita lain..
Profile Image for Susilo Utomo.
25 reviews
December 23, 2023
Suka dengan cerita perjalanannya. Bisa ikut menikmati gimana rasanya ke Rinjani dengan jalan kaki, ketemu orang yang beraneka ragam, susahnya menjalani komitmen yang dibuat sendiri, baiknya orang di sekitar kita, hal2 yang kita temui selama perjalanan, bersyukur dan berefleksi akan apa yang sudah dilalui.
Displaying 1 - 11 of 11 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.