Engkau adalah setiap kata yang kutulis atas nama cinta. Engkau ada pada rindu yang mengenangmu bagai sembilu.
Bagi Kashmir, kenangan akan Kanya adalah bintang utara yang memandunya menempuh perjalanan panjang menanggung beban rindu. Maka, betapa pedihnya hati Kashmir mendapati dokter mendiagnosisnya demensia, penyakit degeneratif yang dapat merenggut semua memorinya, termasuk kenangan akan Kanya.
Kashmi merasa lumpuh dan sekarat. Namun, lagi-lagi cinta menguatkannya. Dengan secuil kenangan yang tersisa, Kashmir membulatkan tekadnya meneruskan perjalanan menemukan Kanya. Harapannya hanya satu, wajah Kanya menjadi wajah terakhir yang ditatapnya sebelum seluruh ingatannya menguap. Akankah kali ini nasib berpihak padanya dan mengizinkan garis takdir mereka saling bertemu?
Tasaro (akronim dari namanya, Taufik Saptoto Rohadi, belakangan menambahkan "GK", singkatan dari Gunung Kidul, pada pen-name nya) adalah lulusan jurusan Jurnalistik PPKP UNY, Yogyakarta, berkarier sebagai wartawan Jawa Pos Grup selama lima tahun (2000-2003 di Radar Bogor, 2003-2005 di Radar Bandung). Memutuskan berhenti menjadi wartawan setelah menempati posisi redaktur pelaksana di harian Radar Bandung dan memulai karier sebagai penulis sekaligus editor. Sebagai penyunting naskah, kini Tasaro memegang amanat kepala editor di Salamadani Publishing. Sedangkan sebagai penulis, Tasaro telah menerbitkan buku, dua di antaranya memeroleh penghargaan Adikarya Ikapi dan kategori novel terbaik; Di Serambi Mekkah (2006) dan O, Achilles (2007). Beberapa karya lain yang menjadi yang terbaik tingkat nasional antara lain: Wandu; novel terbaik FLP Award 2005, Mad Man Show; juara cerbung Femina 2006, Bubat (juara skenario Direktorat Film 2006), Kontes Kecantikan, Legalisasi Kemunafikan (penghargaan Menpora 2009), dan Galaksi Kinanthi (Karya Terpuji Anugerah Pena 2009). Cita-cita terbesarnya adalah menghabiskan waktu di rumah; menimang anak dan terus menulis buku.
Ada kepuasan tersendiri ketika saya berhasil menyelesaikan buku ini dengan pelan. Saya sebut 'pelan' karena terbiasa menamatkan novel tebal kurang 24 jam. Ini termasuk jarang; membaca lambat buku dari penulis favorit saya, terlebih selepas penantian panjang untuk lanjutan Sembilu yang sudah memenuhi rasa penasaran sekian purnama. Shirath, sebagai kelanjutan dari pengembaraan yang melelahkan ini pun akhirnya menemui ujungnya.
Jujur saja, butuh waktu lama bagi saya, bahkan sampai harus membaca ulang hingga akhirnya merasa cukup bisa menulis review ini. Beginilah efek 'wah' jika sudah membaca novel yang tidak hanya menyita waktu lama tapi juga terlalu melibatkan perasaan, mengusik pikiran, bahkan saya merasa perlu merenungkan kisahnya sambil membiarkan diri terbawa arusnya. Memang, narasi-narasi yang oleh penulis seringkali disusun dalam paragraf panjang betul-betul membuat saya hanyut. Karena saya selalu suka hal hal yang dituliskan secara begitu mendetail, termasuk dalam penggambaran emosi tokohnya yang dalam Shirath menggunakan solilokui yang dengan kata kata sedemikian rupa agar menyayat hati pembaca.
Membaca kisah Kashmir menghadirkan perasaan sesak yang menyiksa namun, ada keharuan dan rasa lega setelah menamatkannya. Jika di 'Sembilu' dan pembacaan pertama kali saya untuk 'Shirath' bisa dibilang saya cenderung menyukai Kashmir, menyanjungnya, mencintai segala karakter baiknya dan tentu saja terkesan dengan caranya memperlakukan Kanya, maka ketika saya membaca untuk kedua kali novel ini justru membuat pandangan saya berubah.
Belakangan, saya pun tersadar jika saya terlalu fokus dengan tokoh utama, berusaha melihat keseluruhan kisah dari sudut pandang Kashmir hingga tidak terlalu memperhatikan tokoh yang lain. Bersama Kashmir, saya ikut bersedih, patah hati hebat, hampa, merasa sebagai pihak yang paling dilukai dan menderita. Namun, tidak seperti itu ternyata jika saya mulai memainkan sudut pandang tokoh lain. Di pembacaan kedua, barulah saya 'merasakan Kanya' sebagaimana saya terseret dalam dunia Kashmir. Perasaan tidak suka saya kepada sosok Kanya terhapus begitu saja, berganti simpati. Saya tidak ragu mengatakan jika Kashmir dan Kanya sama-sama terlukanya, namun bagian terbaiknya adalah mereka memegang teguh prinsip "mengusahakan hal terbaik" bagi satu sama lain, tidak peduli jika itu berarti "cinta tak harus memiliki".
Seketika, saya merasa akan lebih menyakitkan jika menjadi Kanya, menjalani perannya, mengambil keputusan dan mengabaikan perasaannya sendiri, semua ini jelas tidak menyenangkan. Karena faktanya, yang ada malah kesedihan yang mesti dibungkus ketegaran yang melahirkan simpati, bahkan kagum dengan karakter Kanya. 'Perempuan hebat' bagi saya. Kalimat 'mencintai seseorang berarti mengusahakan yang terbaik baginya' menjadi termaknai dengan utuh.
Sungguh, novel ini tipe yang akan membuat perasaan seorang melankolis menjadi campur aduk.
Selain kisahnya yang mencabik hati, saya sangat suka dengan beberapa hal yang turut Shirath, di mana pembaca secara perlahan mengikuti perjalanan seorang Kashmir hingga larut ke dalamnya. Kashmir dan dunianya; dari kehidupan berkereta hingga jauh ke Stockhlom, meninggalkan masa lalu, menjalin persahabatan, merasakan pedihnya kehilangan dan pahitnya perpisahan. Dari seorang Kashmir, pembaca pun diajak tuk menyimak sekilas dunia penerbitan buku, diskusi-diskusi mendalam bersama keluarga Cinta, surat-surat Kinanthi hingga perjalanan spritual yang membuat pengembaraan rasa bisa dilihat tidak sekadar hubungan antar pria dan wanita, tapi lebih dari itu; ada cinta yang harus melibatkan sang pencipta, Dia yang berkuasa memasukkan sebongkah rasa dalan dada manusia. Penukis berhasil menyusun semuanya dengan apik dan tidak terkesan hanya mengambil topik 'romansa' semata tapi juga menyinggung hal hal lain.
Beberapa kutipan favotit saya:
"Setiap kenyamanan yang dibayar dengan banyak uang menjauhkan siapa pun dari kesadaran, betapa setiap sen yang dikeluarkan bisa untuk mengisi perut orang yang membutuhkan." (halaman 41)
Kalimat yang cukup menyentil saya pribadi. Banyak yang perlu direnungkan kembali; tentang hidup sederhana, lebih peduli pada sesama, menjadi bermanfaat, dan lebih memperhatikan segala kebutuhan ataupun keinginan pribadi agar kehidupan menjadi lebih berarti, bermakna.
Dan ini, yang cukup melankolis, kalimat yang cukup jelas menggambarkan isi hati Kashmir:
"Jika engkau jadi aku, kau tetap katakan meski tahu akan berpuncak penyesalan. Kau bilang "selamat tinggal" tapi kau selalu ingin kembali. Kau mampu menasihati, sementara tentang hatimu engkau bingung sendiri. Kau yakin tak sedang menunggu, tapi belasan tahun kau hitung dengan jeli. Perhatikan bagaimana apa yang kau sebut cinta merumitkan segalanya." (halaman 259)
Jika pembaca sedang atau pernah merasakannya, kalimat ini bak sembilu yang menghunus jantung (kata-kata ini mungkin akan mengingatkanmu pada kenangan tertentu di masa lalu XD haha).
"Aku hanya perlu sebuah pagi, sewaktu kamu terbangun setiap hari. Secangkir teh tanpa gula, seribu pelukan dari belahan jiwa. Ambisi tiada. Kebahagiaan itu begini saja. Dalam cinta yang bersahaja, pada usaha berterima kasih atas setiap kebaikan-Nya. "
Yang terakhir ini kutipan paling saya sukai, sebuah gambaran masa depan ideal tentang kehidupan yang biasa saja namun penuh cinta dan rasa syukur yang sepatutnya. Bahagia memang sederhana. Kita hanya perlu mendefinisikannya sendiri lalu memperjuangkannya dan tak perlu terpengaruhi oleh jenis kebahagiaan versi lain, tak peduli jika orang-orang tetap mempertahankan konsep 'hidup bahagia' yang itu itu saja. #cmiiw
Seperti di buku-buku sebelumnya, saya tidak bisa tidak memuji kepiawaian Abah dalam meramu diksi, setiap kata yang dipilih seperti anak panah yang tepat sasaran, dan langsung menjangkau ke hati pembaca seperti saya (yang tidak bisa menghindari segala kelebihan yang membuat jatuh cinta, saya pertegas; sebab saya memang 'sasaran yang pas' untuk novel seperti ini).
Finally, novel ini akan akan sangat cocok jika kau penggemar roman, khususnya penikmat diksi-diksi indah dengan akhir cerita yang .... bukan happy atau sad ending tapi 'hikmah ending' (meminjam istilah Abah karena saya sepakat). Saya jadi lebih memaknai cinta dan mencintai dengan cara yang berbeda. Cerita Kashmir memberi kaca mata baru tuk melihat wujud cinta yang lain. Bahwa bagaimana pun, Cinta ya Cinta, ia bisasaja memiliki seribu wajah.
🚅 Judul Buku : Sirath Penulis : Tasaro Gk Penerbit : Bentang Pustaka 466 halaman
🚅"Rasa kepadamu seumpama seutas Sirath yang diatasnya aku harus berlalu cepat. Jatuh darimu adalah neraka, ujung jalan lurusmu dialah nirwana"
🚅 Mengetahui bahwa selama ini pipin dan kanya saling menyukai bahkan mereka menikah diam2 dan kanya sudah hamil 7 bulan saat memberitahu hal itu pada pak haji. Khasmir hancur dan meminum miras demi melupakan kanya. Dilain sisi Dru yang ternyata sudah lama mencintai khasmir harus mengundurkan diri dari hidup khasmir setelah mengetahui bahwa khasmir tak akan pernah melupakan Kanya.
🚅 Manis sekaligus pahit ending dari buku ini. Khasmir yang akhirnya bisa berlabuh pada seseorang yang begitu peduli padanya tapi harus menjadi beban sampai akhir. Menceritakan kisah pelik dibalik rumah tangga Pipin dan Kanya. Ditambah lagi salah satu penulis kebanggaan Ja! Seorang profesor asal indonesia yang menghilang secara tiba2 menimbulkan banyak pertanyaan. Khasmir sosok yang sangat baik, ia melakukan semuanya dengan tulus untuk orang2 terdekatmya. Tapi yang aku ga suka saat dia merelakan Kanya tapi kenapa selalu menyebut nama Kanya seolah2 blm ikhlas bahkan di depan Ka'bah. Malangnya nasib Khasmir🥲 yang sejak lahir harus merasa kesendirian.
🚅 Di buku ke dua ini lebih emosional ya sama lika liku perjalanan Khasmir. Kalopun ada Khasmir asli aku pengen peluk erat. Yang kelihatan diluar begitu tangguh ternyata rapuh🥲. Rate dari aku ⭐️4,6/5
This entire review has been hidden because of spoilers.
Tak disangka, buku kedua dari series Pengembaraan Rasa ini benar-benar membuat saya terhanyut dalam cerita. Sungguh tak menduga air mata menetes pada beberapa bagian cerita.
Meski konsep yang diusung senada dengan salah satu buku yang sudah pernah dibuat oleh sang penulis, tetapi daya tariknya tak luntur.
Pengemasan cerita dalam buku ini pun terasa tepat walaupun dibuat sedikit jenuh dengan banyaknya lompatan waktu seperti sisipan "lima tahun setelah..." dan lainnya.
Akan tetapi, hal tersebut tidak begitu mengganggu. Kesan terburu-buru seperti tidak terasa. Malah membuat cerita mengalir bagaikan scene dalam sebuah film. Benar-benar masuk dalam ekspektasi bagi saya yang sedikit pesimis ketika selesai membaca buku pertamanya. Akhirnya, terbayarkan juga di buku kedua ini.
Teruntuk tokoh dalam buku ini, yaitu Kashmir saya turut prihatin. Saya sungguh bisa merasakan pahitnya hidup yang kau jalani.
Kisah Khasmir berlanjut, mengembara dari Stockholm, Frankfrurt, Hongkong, kembali ke Sumedang, bahkan tersangkut ke Gunung kidul hanya untuk mencari Kanya dan jawaban atas perasaannya.
Perjuangan Khasmir sama sekali tidak mudah. Setelah divonis demensia, waktunya semakin terbatas. Persahabatannya dengan Ben dan Dru terbentur dan terbentuk menjadi hubungan baru yang lebih dalam. Pertemuan Khasmir dengan orang baru yang ternyata punya kisah cinta serupa dengannya.
Secara umum, novel ini lebih dalam, kelam, rumit daripada novel pertamanya, Sembilu. Perspektif cinta Khasmir meluas bahkan sampai pencarian ke cinta Tuhan.
Novel yang harus dibaca para pecinta dan percaya pada kudusnya cinta.
Setelah Sembilu selesai...tak sabar rasanya menantikan novel ke 2 "Pengembaraan Rasa"....menantikan jawaban-jawaban yang muncul di Sembilu....menantikan ending seperti apa yang akan di alami Kashmir dan Kanya....beberapa kali sampai berhenti membaca demi meresapi apa yang dialami Khasmir...dan beberapa kali emosi meninggi melihat sikap Kanya. Saya sampai harus ikutan PO Novel ini demi rasa penasaran bagaimana masa depan Khasmir...
Kenapa sesedih ini novelnya?!! Tapi asli bagus. Mungkin tokoh utamanya seperti yang bertele-tele, terlalu menyukai seseorang, tapi pada akhirnya penulis bagus bgt bikin cerita menuju endingnya. Porsinya pas menurutku. Gak nyangka bgt ada kelanjutan Galaksi Kinanthi di Shirath. Keterkaitan rupanya. Recommended!!!