Metafora “Ibu Bumi” pada awalnya dipandang sebagai hal yang positif karena mengandaikan adanya kesadaran bahwa alam, laiknya seorang ibu, telah memberikan banyak manfaat kepada manusia tanpa memungut imbalan dari mereka. Dengan mamakai lensa ini, penggunaan metafora “Ibu Bumi” tampaknya berguna sebagai monumen penghargaan terhadap kodrat perempuan.
Namun belakangan metafora tersebut memunculkan kecurigaan mendasar di kalangan ekofeminis bahwa asosiasi sublim antara alam dan perempuan justru menunjukkan posisi keduanya sebagai entitas yang sama-sama lemah. Peyorasi istilah untuk mengatribusikan alam dengan perempuan lazim dikenal sebagai “feminisasi alam”, suatu tema sentral yang menjadi bahasan buku ini.
Dengan berpijak pada kritik Greta Gaard tentang feminisasi alam, buku ini berhasil melacak asal-usul penggunaan metafora “Ibu Bumi” mulai dari pemikiran Platon hingga Rousseau, sembari tetap berusaha menghadirkan panorama positif dari “Ibu Bumi” dalam kebudayaan tertentu.
Perempuan berperan penting dalam membangun relasi moral masyarakat. Perempuan yang berada dalam masyarakat tidak memiliki kemampuan rasional, tapi secara alamiah dapat dimanfaatkan demi kepentingan negara. Setidaknya itulah gagasan yang dikemukakan Jean-Jacques Rousseau (1712-1778).
Ibu Bumi disebut sebagai Ine Sere Are Tana. Bukan sekadar istilah. Ibu Bumi merupakan sebuah representasi manusia memandang alam layaknya seorang ibu yang memberi banyak hal pada anaknya. Sayangnya, metafora Ibu Bumi memunculkan anggapan bahwa alam dan perempuan sama-sama sebagai wujud yang lemah.
Di berbagai budaya, muncul mitos-mitos bahan makanan yang berasal dari pengorbanan perempuan. Ada mitos Perempuan Jagung di Indian (Amerika Serikat), mitos Demeter (Yunani), dan mitos Dewi Sri (Indonesia). Mitos Dewi Sri di Indonesia sebenarnya juga terbagi ke dalam tiga versi, yaitu: Sunda, Jawa Tengah, dan Bali.
Feminisasi alam muncul atas ketidaksengajaan budaya pertanian yang menempatkan perempuan bekerja di ladang. Alam adalah netral pada dirinya; bukan laki-laki maupun perempuan. Perempuan tidak mengubah wajah peradaban kita. Gerakan ekofeminisme adalah realisasi bahwa alam dan perempuan sama-sama perlu dibebaskan.
Buku pengantar yang cukup ringkas dan singkat buat mahamin apa itu ekofeminisme. Dari latar belakang munculnya bagian dari gerakan feminisme tersebut, sejarah feminisasi alam di berbagai budaya di belahan dunia, distingsi makna metafora ibu bumi di Eropa dan daerah jajahan/koloni, sampai konsep feminisasi alam serupa di banyak mitos yang sampai hari ini sebagian masih di percaya oleh penganutnya.
Dari buku ini belajar tentang sejarah dari berbagai daerah di dunia mengenai konsep awal ekofeminisme, pun dengan pandangan filsuf dari zaman dulu hingga saat ini. Feminisasi alam kecenderungannya mengindikasikan kesamaan perempuan dan alam yg lemah dan kemudian dapat dikontrol oleh budaya patriarki. Di sisi lain, kedekatan perempuan dengan alam juga terbentuk secara alami dengan adanya berbagai mitos dan kepercayaan dari zaman dulu. Pun sampai saat ini, enurutku perempuan punya andil yg sangat besar dalam perjuangan menjaga alam.
Buku ini awalnya thesis lalu diolaah jadi buku ringan oleh timnya Cantrik Pustaka. Salut sih bisa bikin bacaan filsafat serangan ini. Buat yang baru mau tahu ekofeminisme itu apa buku ini sangat aku rekomendasikan.
Namun titik buku ini kebanyakan bongkar Greta Gaard ya, mungkin butuh diimbangi baca literasi ekofeminis lain. Serta merefleksikan peran dan diri sendiri saat hidup supaya lebih relate. Aku kasih bintang tiga karena berasa baca buku diktat aja.