Waria, Bahasa, dan Dunia Malam oleh Stanislaus Yangni.
Bahasa dan dunia malam merupakan hal yang tak terpisahkan dari waria. Dari lingkunganku dulu, bahasa waria kupikir hanya salah satu gaya ‘cecentilan’ saja, untuk membuat mereka lebih ‘perempuan’. Baru setelah membaca buku ini, aku paham kalau ternyata bahasa yang mereka gunakan memiliki makna dan kedalaman tersendiri.
Pada dasarnya, bahasa waria terbentuk dari spontanitas namun sifatnya eksklusif, terutama berkaitan dengan aktivitas mereka di malam hari, nyebong. Nyebong adalah istilah yang digunakan oleh kaum waria untuk mengatakan maksud ‘mangkal’ atau ‘menjajakan diri’. Bahasa waria terutama digunakan untuk berdiskusi tentang ‘pelanggan’ mereka: tawar-menawar harga dan kesan mereka tentang lelaki yang datang. Dalam hal ini, bahasa waria digunakan sebagai perlindungan atau pertahanan diri.
“…salah satu upaya untuk tetap menyamarkan bahasa itu; suatu usaha untuk mempertahankan ‘privasi’ kelompok. Mereka ingin menguasai orang lain dengan ‘mengetahui apa yang tidak diketahui oleh orang lain.’ Artinya, jika mereka memiliki istilah yang ‘samar’ dan tidak dipahami oleh orang lain, mereka merasa tetap memiliki ‘kekuasaan’ atas makna di balik istilah itu.” – hal.68.
Buku ini tidak hanya membahas tentang bahasa, tetapi juga pengalaman para waria menjalani profesi mereka. Ada bagian tentang ritual sebelum aktivitas ‘nyebong’ juga relasi waria dengan para lelaki dalam kehidupan mereka. Buku ini cukup membuka wawasan akan kehidupan waria terutama dari segi bahasa dan profesi mereka.
"Proses pembentukan subyektivitas waria di pangkalan adalah proses waria mendefinisikan dirinya (yang imajiner) secara simbolik (lewat bahasa). Secara sosio-politis, tujuan identifikasi diri ini adalah untuk mendapatkan legitimasi identitasnya dalam masyarakat. secara psikologis, tujuannya adalah desire." -hal. 81.