Transeksualisme di pangkalan bekerja melalui ekspresi tubuh dan bahasa yang diartikulasikan secara 'khas' lewat gerak tubuh, mimik, dan suara para waria. Demikian lah, Pangkalan menjadi semacam dunia fantasi bagi waria sebagai sosok yang tak memiliki lgitimasi atas kisah perkelaminannya Baca Selengkapnya Deskripsi Produk Transeksualisme di pangkalan bekerja melalui ekspresi tubuh dan bahasa yang diartikulasikan secara 'khas' lewat gerak tubuh, mimik, dan suara para waria. Demikian lah, Pangkalan menjadi semacam dunia fantasi bagi waria sebagai sosok yang tak memiliki lgitimasi atas kisah perkelaminannya.
Waria yang selama ini menjadi kaum marginal memiliki keunikan sendiri terutama dalam segi bahasa dan cara mereka bertahan hidup. Membaca buku ini, kau akan lebih dekat mengenal waria. Yeah, mereka tak seburuk yang orang-orang pikir. Menurutku sulit juga ya kehidupan mereka, apalagi rentan terhadap bahaya.
Waria, Bahasa, dan Dunia Malam oleh Stanislaus Yangni. Bahasa dan dunia malam merupakan hal yang tak terpisahkan dari waria. Dari lingkunganku dulu, bahasa waria kupikir hanya salah satu gaya ‘cecentilan’ saja, untuk membuat mereka lebih ‘perempuan’. Baru setelah membaca buku ini, aku paham kalau ternyata bahasa yang mereka gunakan memiliki makna dan kedalaman tersendiri. Pada dasarnya, bahasa waria terbentuk dari spontanitas namun sifatnya eksklusif, terutama berkaitan dengan aktivitas mereka di malam hari, nyebong. Nyebong adalah istilah yang digunakan oleh kaum waria untuk mengatakan maksud ‘mangkal’ atau ‘menjajakan diri’. Bahasa waria terutama digunakan untuk berdiskusi tentang ‘pelanggan’ mereka: tawar-menawar harga dan kesan mereka tentang lelaki yang datang. Dalam hal ini, bahasa waria digunakan sebagai perlindungan atau pertahanan diri. “…salah satu upaya untuk tetap menyamarkan bahasa itu; suatu usaha untuk mempertahankan ‘privasi’ kelompok. Mereka ingin menguasai orang lain dengan ‘mengetahui apa yang tidak diketahui oleh orang lain.’ Artinya, jika mereka memiliki istilah yang ‘samar’ dan tidak dipahami oleh orang lain, mereka merasa tetap memiliki ‘kekuasaan’ atas makna di balik istilah itu.” – hal.68.
Buku ini tidak hanya membahas tentang bahasa, tetapi juga pengalaman para waria menjalani profesi mereka. Ada bagian tentang ritual sebelum aktivitas ‘nyebong’ juga relasi waria dengan para lelaki dalam kehidupan mereka. Buku ini cukup membuka wawasan akan kehidupan waria terutama dari segi bahasa dan profesi mereka.
"Proses pembentukan subyektivitas waria di pangkalan adalah proses waria mendefinisikan dirinya (yang imajiner) secara simbolik (lewat bahasa). Secara sosio-politis, tujuan identifikasi diri ini adalah untuk mendapatkan legitimasi identitasnya dalam masyarakat. secara psikologis, tujuannya adalah desire." -hal. 81.
"Aih udin cantak ye!mawar ketumbar samosir lekong kanunu dimandesta?Cekong?Gedong pas diesong?" "Ketumbar disandra nek!Nggak!Jelong!kentongnya kelinci." translated as: "You look pretty...where do you want to meet your man? Is he good looking? Does he get big when you BJ him?" "Will meet him there. No! Not so good looking!His 'fellow' is small."
Those convo are some of the convo we often hear in the Indonesian gay/transvestite/queer speech. But what's it in a language?The origin?Most of all - what's the purpose of its creation?
Stanislaus Yangni tries to unveil those questions in the book Waria, Bahasa, dan Dunia Malam (The trans, the language and the Night life - raw Eng). In revealing those points, Yangni conducted an interview with some of the waria (trans) in Yogya and gathered their opinions. The good part is that Yangni also provided the scientific arguments using some theories like the theory of language from Bourdieu (my fave philo) and Lacanian psychoanalitic theory. In doing so, Yangni analysed those theories by telling and showing the personal life and personal experiences that our trans friends living.
The mixture between academic and personal perspectives are the powerful aspect of this book. Yet it also leaves a small scratch and confusion to the readers, especially with repetitious explanation. Add the fact that not so many readers coming from the same academic background and they may not be familiar with Lacanian or Boudieusian concepts.So I really want to point these: (1) to break down the discussions. Yangni has made the points about the use of the queer speech with presenting the origins, the purpose in the first chapter. I dun see the necessary to keep going on the same languahe repetition in the next chapters. (2) to simplify the explanation regarding Bourdieusian and Lacanian concepts for the aforementioned reasons.Just keep it light and simple.
I also think Yangni has the abilities to write so poetic sentences.I'd really love to see her writing a personal essay about our trans friends here. Thanks @namakurhea!
Grab your copy from @post_santa or @penerbitbukubaik for an affordable price.It's one of enlightening books I've read!
I knew I'd love this book the moment I read the introduction
It starts off with interviews the author had with five warias (Bidadari!) back in 2004. Mainly about Bahasa Binan, but the ideas are then expanded to discuss more of dunia malam and its perpetrators.
Dengan demikian, bahasa binan sangat mungkin tidak lagi menyandang gelar bahasa perlawanan, tapi menjadi bahasa baru bagi humanitas waria pangkalan
This book brings Bahasa Binan in a new perspective. Here, the language is dissected: how words are made, their importance, how they're used, and so much more. The author also reviews aspects and elements that make up dunia malam: starting from waria and their 'hierarchies', to the agglomeration of its men (laki-laki). One part that really sticks to me is the process of a new waria (cebongan) to seniority.
The way the author gives clips of stories as examples and at times references back to the earlier interviews helps with understanding this phenomenon as an outsider. Some of these stories are written really REALLY beautifully. Like. Oh my god. I need everyone to read this right this second.
(telat sehari tapi) happy international womens day!!!! got reminded of how much heteros took from queer community without acknowledging it exist at the first place will be always diabolical. queer has always been existed and will always exist. if resisting is the way to exist that well do it again and again.