Buku itu mengajari seni berpelukan. Katanya, saat berpelukan, tubuh melepaskan hormon oxytocin yang mengeluarkan rasa damai dan cinta. Jantung jadi seirama dan pikiran jadi tertata. Sehat jadinya.
Malam itu, ia dandani gulingnya. Ditempelinya pernak-pernik indah. Di atasnya, digambari setangkup wajah. Dipeluknya guling itu erat-erat, bagai balon yang tinggal empat. Dibisikinya guling itu dengan suara lambat: "Tante,... damai ya, damai. Pasti kunikahi anakmu,"
Ini buku puisi ringan dan lucu Isinya tentang pengalaman hidup dan mentertawakan kesedihan, kemalangan sekaligus kesenangan dalam hidup mau nggak percaya tapi benar adanya mau nangis tapi jadi kepingin ketawa
Ini bukan buku pelajaran tapi buku puisi dengan beraneka macam tema. Dari mulai cinta sampai politik. Beberapa puisi dibalut dengan aura yang kelam, satire juga ironis. Tapi ada juga puisi yang lucu seperti judul buku ini. Belajar berpelukan adalah puisi tentang seorang laki-laki kasmaran yang mendandani gulingnya sendiri menyerupai perempuan tapi bukn kekasihnya tapi calon mertuanya. Isi kepala pengarangnya ini memang sangat absurd, pasti orangnya asik diajak bercanda sambil ngopi 😂
Suka sekali buku puisi ini. Puisi-puisinya terasa ringan, nggak bikin serem buat didekati, membawa humor di antara larik-lariknya, cerdik bicara berbagai isu mulai dari jatuh cinta, patah hati, politik, sosial, tapi lincah menelusup masuk ke dalam hati pembacanya. Ilustrasi yang menghias tiap halamannya juga cakep sekali. Suka sekali lah saya sama buku puisi ini.
I love the illustration to let all the poems hugging the readers and about Jogja… damn I’m gonna miss all the moments that I’ve created along my friends