Rate 4.5/5
Mood after reading : 😵😭😱😞
Akhirnya aku bisa membaca lanjutan dari buku janur ireng yakni ranjat kembang. Jadi sebenarnya dari yang aku pahami, alur dari cerita sewu dino yakni bermula dari santet janur ireng (buku 2) sebuah peristiwa yang mengakibatkan seluruh keluarga kuncoro mati secara mengenaskan yang didalangi oleh keluarga Atmojo yang menginginkan kekuasaan. Kemudian terjadilah peristiwa Sewu Dino (buku 1) yang merupakan pembalasan Sabdo Kuncoro atas perbuatan keluarga Atmojo.
Setelah kejadian sewu dino, perseteruan trah pitu tidak hanya sampai disitu saja, kini setiap keluarga harus bersiap-siap menghadapi para kudro yang menjadi lawan bagi masing-masing keluarga.
Dalam buku ini terdapat 3 pintu cerita yaitu padusan pituh - bercerita tentang Mira putri dari kuncen padusan pitu yang ternyata menjadi kudro bagi salah satu keluarga dari padusan pitu (trah angkoro, bolosedo, anom, boloyudho, rayit, pengiwo, serta gatih); lalu lemah layat - bercerita tentang agus yang merupakan seorang kudro juga; serta kembang Wijaya Kusuma - bercerita tentang Dela Atmojo yang ternyata adalah kudro bagi keluarganya sendiri.
Bagian paling seram di buku ini menurutku di cerita lemah layat adalah saat terjadi teror pocongan 😵 bagi orang yang waktu kecilnya pernah diajak main pocong dan ngeliat siluet pocong pasti bisa merasakan trauma dan kengeriannya seperti apa 😞 meskipun mengerikan cerita dalam ranjat kembang tidak sesadis dan sekelam janur ireng. Jadi masih bisa dinikmati dengan santai.
Jujur awal baca buku ini aku pusing karena banyak istilah² yang tidak aku pahami. Sampai harus googling seperti apa itu gundik colo, laweh hulu, yang ternyata penjelasannya ada di bab selanjutnya (kesel bgt). Lalu yang bikin sedikit tidak nyaman adalah banyaknya typo yang cukup mengganggu (ini editornya kerja ga sih?).
Endingnya sangat menggantung, tidak ada penyelesaian, yang ada justru gerbang pembuka untuk buku selanjutnya. Semoga buku terbaru akan segera rilis karena khawatir aku akan lupa jalan ceritanya