catatan seorang dokter yang bertugas di Tanah Merah,Papua..Tentang keterbatasan..minim fasilitas..minim obat-obatan..minim perawat..sementara sang dokter sendiri, bisa saya katakan, minim pengalaman, ia baru saja lulus dari FK UI. tapi dr John Manansang, Kepala Puskesmas Tanah Merah,telah berhadapan dengan kasus-kasus yang pelik.. mulai dari TBC..Gangren..masalah persalinan hingga tumor. Kasus-kasus tersebut mudah saja ditangani di RSCM, gudangnya tenaga ahli medis nomor satu di Indonesia, tapi ini ada di Tanah Merah sana, belantara Boven Digul. buku ini dilengkapi dengan foto-foto dokter lagi operasi..ngilu melihatnya..banyak darah-darah soalnya.
Kisah-kisah yang diceritakan benar-benar menyentuh..
bagaimana ia mengoperasi lutut dengan palu dan martil bagaimana ia membangun puskesmas, yang dulunya sarang ular bagaimana ia mengoperasi caesar dengan silet bagaimana ia berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan pasien-pasiennya..
Banyak pertanyaan muncul di kepala saya ketika membaca buku ini, "Ah, masak ada kejadian seperti itu?" "Kok bisa ada tempat di Indonesia yang sarana kesehatannya sbegitu terbatasnya?" "Kok berani banget mengoperasi dengan keterbatasan alat seperti itu?" "Apa bener-bener nggak ada jalan lain?" "Cerita ini fiksi atau fakta? Kalau fakta, apa sampai sekarang keadaannya seperti itu?" Buku ini membuka mata tentang keadaan nun jauh di Papua sana. Dan semoga keadaan Papua jauh lebih baik dari 15 tahun silam (latar dari buku ini). Semoga jauh itu hanya tentang jarak, bukan tentang perbedaan perlakuan dan fasilitas.
Ketika peralatan pendukung serba terbatas, maka manusia secara naluri akan memaksimalkan peralatan yang tersedia disaat kondisi darurat. Kondisi ini mungkin seperti yang dirasakan John Manangsang di pedalaman Papua. Ia harus bergelut dengan peralatan yang terbatas untuk menyelamatkan nyawa manusia. Salut!