siapapun yg suka makanan wajib menyantap buku penuh gizi ini. ditulis dengan gaya bahasa yg sangat mudah dicerna, karena ditulis oleh orang yg sangat menghormati makanan.
buku yang berisi kumpulan tulisan Nuran Wibisono di beberapa media ini tak melulu bercerita tentang makanan yg menjadi benang merah keseluruhan isinya, tapi juga kenangan dan cinta yg meluber dalam setiap jejak santapan nyaris di setiap lembar halaman.
Unique. One word to explain what the book is about. From the title, the blurb, and the foreword itself, I thought the book will tell you about the experience of the author with several food varieties in Indonesia and how he had special memories and moments with the food itself and peoples that close to him in heart (his parents and his family), turns out this book is more than that! This is the first time I read a book about culinary that explained the long history about several cuisines (food and drinks) in the world. Because from the title, I knew that the author will probably only explain culinary in Indonesia but actually he wrote about pizza in italy, bagel in london, the uniqueness of Chinese cuisine in london, the tasty russian dumpling, oxtail soup from caribia, even speciality of Pyongyang food! All of these were written in this book with detail and easy to understand way! It is a fun book to read tho! Also I love the way how author also explained the culinary itself sometimes with jokes, not just his experience to taste the culinary that being explained in this book but also the history, how the food affected the social phenomena and culture in a place, how one food and drink could gather up people from different places and cultures into one big community, until the speciality recipe and how to served the various culinary that being mentioned in this book! And I think the author also adored Bondan Winarno and Anthony Bourdain as two of the respected and notable person when it comes to culinary world, so the last 2 chapters of this book told the story and memoriam for these 2 great man! All in all, this book will not just expand your knowledge about culinary itself with fun way but also will make you gulping and suffer to imagine how the food will savour your budtaste! In the end, I will give 4.5 rate for this book out of 5! And thanks to author to give me a quick witty facts about several underrated foods that needs to be in center spotlight of culinary in the world!
Lil disclaimer: I suggest you to not read this book when you are in fasting or during Ramadhan month
Kali pertama sebenarnya membaca tulisannya Nuran Wibisono, dan ya karena memang penulis jadi kayaknya lancar menarik aja gitu tulisannya. Soal makanan memang selalu bikin ngiler ya. Apalagi cerita-cerita awal, jika kamu membaca buku ini dalam keadaan lapar, tentu saja, kupastikan liurmu menetes membacanya hehehe.
Kumpulan tulisan yang menarik soal makanan, dan kurasa aku gak akan pernah bosan, seperti program tv yang mengulas makanan tetap selalu akan ada dan menarik untuk menjadi perhatian.
Sebaiknya jangan dibaca pas puasa dijamin pasti pengen buka! Wkwk. Suka sama tulisan ringan Mas Nuran tentang makanan yang dia makan dan cerita personal yang nyatol dengan makanan tersebut.
Bikin kangen menjelajah tempat jajanan dan makanan di kota-kota baru sambil traveling ataupun sekedar jalan-jalan di kota tempat kita tinggal untuk cari makanan enak yang merupakan hidden gems.
Kalau dibilang jelek sih, sama sekali tidak. Menyesal beli dan baca buku ini? Tidak. Namun, buat saya, semakin jauh dibaca buku ini, semakin tidak jelas penulisnya ini mau cerita apa. Bagaikan pelukis yang menuangkan semua warna cat yang dimiliki di atas satu kanvas, bagaikan penyusun tata letak surat kabar yang menuangkan semua jenis font yang ada pada satu lembar, bagaikan penulis yang menuangkan semua cerita di dalam satu buku. Nggak fokus.
Secara keseluruhan buku, judulnya ada sambal, sehingga harapannya akan diulas tentang sambal dari berbagai belahan Nusantara dan dunia. Ternyata, makin ke belakang, hilang sudah cerita tentang sambal. Tinggal sambal yang dicocol di atas pizza. Oh, baiklah, ini mau cerita tentang hidangan klasik dari berbagai belahan Nusantara dan dunia, terlepas pakai sambal atau tidak. Ternyata, makin ke belakang, kok jadi seperti kumpulan biografi ya?
Secara satuan cerita, alurnya kadang bikin saya bingung. Kalau boleh beri contoh, mau cerita tentang Brick Lane dengan beigel-nya, harus diawali dengan satu setengah halaman tentang imigran Bengal dan Brick Lane yang bau kari. Maaf kata, ini karena tidak bisa memutuskan mau menulis tentang apa, atau karena harus menambah jumlah halaman? Semakin kesal rasanya ketika tiba pada kisah kopi susu kekinian. Ini tuh sebetulnya mau cerita tentang pergerakan bisnis kopi di Kemang, atau tentang pengetahuan penulis tentang kopi, atau tentang risiko bisnis kopi, atau tentang Andi Yuwono dan 5758-nya??
Lalu saya sampai kembali ke halaman depan untuk mencari tahu apakah buku ini ada penyuntingnya atau tidak. Bahwasanya indikator keseriusan kedai kopi kekinian itu adalah memiliki plastic cup sealer dipaparkan pada halaman 166 dan halaman 172. Bahwasanya skema bisnis 5758 itu adalah kantin, dipaparkan di halaman 177 dan halaman 179. Mungkin penyuntingnya belum minum kopi.
Secara kosakata, juga tidak konsekuen. Pembaca kadang disapa dengan kamu, kadang kau, kadang Anda. Juga ada typo yang menurut saya cukup mencolok, kok ya bisa tidak disadari, seperti halaman 181: "We only brew good coffee. Good coffe itu kan subyektif." Kata coffee yang kedua keliru penulisannya. Ada lagi typo yang lain, tetapi tidak ingat yang mana. Iya, buat saya, yang tentang kopi-kopi ini nyantol banget di kepala, karena bagi saya, hidup akan lebih baik-baik lagi jika ada kopi (meskipun tidak ada sambal).
Jikalau percaya bahwa hidup akan baik-baik saja, tidak usahlah semua cerita yang diketahui tergesa-gesa dituangkan dalam satu buku. Fokus pada satu ide, bikin satu buku. Ide berikutnya diminta mengantri untuk buku berikutnya. Kalau dirasa jadi terlalu dangkal (= tipis bukunya), idenya yang digali, bukan ditambah dengan ide lain dalam satu buku, bahkan satu bab cerita. Itu pendapat saya dari kacamata pembaca, bukan penulis, tentunya.
Bacaan yang bikin ngiler di siang bolong saat puasa ><
Makanan memang punya kekuatan magis dalam kehidupan. Apalagi di keluarga Asia yang kasih sayangnya ditunjukkan melalui makanan, alih-alih mengucapkan kata maaf atau sayang.
Kumpulan essay tentang kuliner ini membawa kita lebih menikmati aktivitas makanan yang tidak hanya sekadar memenuhi rasa lapar, tapi jauh dari itu. Gimana kombinasi dari rasa, tekstur,kematangan, hingga suasana saat makan dapat membawa pengalaman yang mengesankan.
Bener-bener dibikin kagum sama gaya penulisan dari buku ini. Begitu jeli dan pandai dalam membagikan sebuah hidangan hingga menjadi ‘seksi’. Kok bisa ya ngejelasin makanan yang biasa kita temui jadi lebih mewah dan sopan dibaca?!!. Gak kehitung udah berapa kali menelan ludah saat baca buku ini saking ngilernya haha. What a great observant !!.
Kisah makanan, kehidupan dan kenangan. Kumpulan 21 cerpen tentang: 🍜kehangatan makanan di dalam kehidupan 🍛masakan emak yang tidak tertanding 🫘kehebatan belacan/terasi sebagai pemain utama menyedapkan sambal ☕industri kopi yang tumbuh bak cendawan, banyak juga yang bungkus 🍚kuliner Betawi yang semakin dilupakan 🥢perusahaan kicap turun temurun yang berebut bekalan kacang soya dengan perniagaan tempe 🍣makan makanan yang tidak sihat adalah seumpama 'cinta terlarang' 🫕makanan yang den tidak pernah tahu kewujudannya 🥨makanan telah lama bertapak mungkin terpaksa berubah tempat akibat pembangunan ☕masih ada kedai kopi kampung yang tetap dan masih punya ramai peminat di celah kebanjiran kedai kopi hipster ☕Kopi Kenangan dan Fore Coffee (kedua-duanya milik Indonesia) yang mendapat suntikan dana yang beri peluang untuk mereka buka cawangan yang banyak 🌮makanan yang paling sedap semestinya akan terkait dengan kenangan bukannya fine dining
Penulis ada menulis kisah 2 tokoh kuliner iaitu: 🔖Bondan Winarno melalui rancangan TV Wisata Kuliner 🔖Anthony Bourdain melalui rancangan TV No Reservations dan Parts Unknown. First time den dengar tentang Bondan Winarno. Nanti boleh buat siasatan tentang rancangan Wisata Kuliner itu.
Sekumpulan essay yang menceritakan tentang hubungan antara manusia dan makanan yang ketika dibaca, malah membuat perut menjadi berbunyi. Membayangkan seporsi nasi panas bertemu dengan sambal buatan rumah dan lauk yang baru saja dikeluarkan dari penggorengan sudah pasti akan terjadi setelah membaca buku ini.
Tulisan Mas Nuran ini banyak merawat ingatan yang berhubungan dengan makanan. Setiap manusia pasti memiliki makanan yang berhubungan dengan memori tertentu. Dan buku ini memiliki memori tersebut di setiap makanan yang dituliskan. Buku ini ditutup dengan 2 cerita dari 2 tokoh kuliner yang sering disebut, atau mungkin menginspirasi, oleh si penulis, yaitu Bondan Winarno dan Anthony Bourdain.
Buku ini sebaiknya tidak dibaca saat sedang berpuasa, karena bisa membuat kita menelan ludah berkali-kali.
sebelum membaca buku ini, bbrp karya penulis sdh pernah terbaca lebih dulu di blog dan warta kuliner. Ciri khas penulis adalah menorehkan sisi subyektifnya sebagai pencecap rasa. Jadi seakan kita diajak menyelami keadaan dan sajian bersamaan dengan mengalirnya kisah-kisah dalam buku ini. Memang ada satu dua cerita yang menurut ku membosankan. Tapi overall, menulis kisah kuliner dengan cara seperti ini cukup perlu keahlian khusus krn tk semua orang bisa membawa rasa dalam deretan kata.
Saya kira ini tentang kecintaan penulis pada sambal, ternyata judul buku ini hanya salah satu dari kumpulan esai tentang kuliner yang pernah diterbitkan sebelumnya tapi saya sama sekali tidak kecewa karena dari awal membaca tidak punya ekspektasi apapun. Saya senang pengetahuan saya soal makanan bisa bertambah lagi dengan baca buku ini
Artikel yang nyeritain gimana sambal sangat penting buat si penulis bagus dan super bikin laper. Artikel tentang kedai kopi susu kekinian yang menjamur was very interesting. Selebihnya sayangnya nggak terlalu nempel, tapi aku menikmati proses bacanya. Buku-buku tentang makanan yang bikin laper >>>>>>>
membaca tulisan-tulisan tentang makanan dan seputarnya ini membuat saya berimajinasi, membayangkan aroma, rasa dan sekeliling tempat di mana makanan tersebut dihidangkan. kalau begini rasanya mas Nuran harus bikin jilid keduanya.
Rasa-rasanya sekarang ada satu orang lagi yang saya percayai rekomendasi makanannya: Nuran Wibisono
Suatu saat nanti mungkin saya akan melewati banyak toko dan ketika itu saya akan mencoba mengingat makanan sebagaimana Nuran Wibisono menuliskan makanan, ingatan, dan rasa di buku ini.
Saya selalu kagum dengan kepiawaian Mas Nuran dalam menyisipkan data dalam esai-esainya. Begitu halus, tak kentara, mengalir, dan tetap rinci. Seperti membaca sebuah jurnal ilmiah dalam bentuk cerita pendek yang menyenangkan. Tak terkecuali bukunya yang satu ini. Kumpulan bunga rampai tema kuliner yang menghibur sekaligus mencerahkan.
Kita akan diajak bertualang, menyelami khazanah kuliner di beragam tempat. Mulai dari cara memilih terasi yang baik dan bisnisnya yang ternyata menggiurkan. Bagaimana kuliner Betawi yang yahud justru banyak ditemukan di pinggiran Kota Jakarta. Atau andaliman yang digunakan untuk menghilangklan bau amis pada babi.
Tentang pabrik-pabrik kecap kecil di daerah yang kian tergerus oleh kedigdayaan merek-merek besar. Rasa bir yang dipengaruhi perlakuan ragi juga komposisi gandum dan hop-nya. Tentang puritannya penjaga resep piza Neopolitan, sampai-sampai beberapa restoran di Napoli hanya menggunakan tomat San Marzano yang tumbuh di lereng gunung Vesuvius. Tentang mi dingin, yang bahkan Korea Selatan pun mengakui cikal bakalnya berasal dari Korea Utara. Atau kisah salad Oliver yang resep aslinya masih menjadi misteri hingga hari ini.
Ditutup dengan kisah dari dua legenda pakar kuliner: Bondan Winarno dan Anthony Bourdain. Kisah mendiang Pak Bondan yang melakukan investigasi terhadap laporan kematian manajer eksplorasi Bre-X yang janggal, hingga lahirnya kolom Jalansutra di Suara Pembaruan. Juga pengalaman yang paling diingat mendiang Bourdain saat kecil: mencicipi tiram segar pemberian tetangga kala ia berkunjung ke kampung halaman ayahnya di Prancis.
Sebuah buku yang layak anda baca dan koleksi. Banyak informasi menarik yang dipaparkan dengan begitu apik dan menyenangkan. Data-data yang rinci menunjukan luasnya referensi si penulis. Terlebih bila anda tertarik dengan ragam seluk-beluk dunia kuliner.
Aku lebih dulu kenalan sama Nuran di buku sebelumnya “Nice Boys, Don’t Write Rock N Roll”. Di kumpulan esai-nya, jurnalis musik ini justru ngomongin makanan dan masakan. Beberapa judulnya pernah dipublikasikan di berbagai media dan kubaca di Ipusnas. Di buku penuh gizi ini, Nuran Wibisono ngomongin industri kopi, relasi makanan dengan budaya, sampai cerita-cerita di balik sajian yang biasanya kita santap. Belum lagi kenangan dan cinta dari setiap rasa yang pernah kita cecap serta membuat kita dipenuhi dengan kebahagiaan. Ketika baca buku ini kaya aku nggak mau pusing-pusing mikirin, hidupku mau ngapain? Karena saat ini, aku cuma mau makan masakannya mamaku. Selain itu, deskripsi dari Nuran juga bisa bikin aku meneguk ludah.
Kumpulan tulisan perjalanan dan makanan dari mas Nuran. Dibuka dengan foto hitam-putih di setiap awal bab, esai-esai ini serasa seperti laporan jurnalistik yang sekaligus juga dokumentasi yang sangat bersifat personal. Karena selain dilengkapi dengan data, pengalaman dan memori yang melengkapi tiap tulisan membuat gue merasa terhubung dekat, walaupun dibawa jauh sampai ke pojokan London. Gue belajar lagi mulai dari mengenal Sambal dengan bijak, sampai mengenang kembali legenda kuliner yang gue lihat di acara televisi dulu, Pak Bondan Winarno. Semoga satu hari bisa mengecap sambal racikan mas Nuran di kedainya, sekalian dapat cap alias tanda tangan di bukunya.