Jump to ratings and reviews
Rate this book

Para Bajingan yang Menyenangkan

Rate this book
Sekelompok anak muda yang merasa hampir tidak punya masa depan karena nyaris gagal dalam studi tiba-tiba seperti menemukan sesuatu yang dianggap bisa menyelamatkan kehidupan mereka: bermain judi.

Kalau kami menang judi mesin dan judi bola, tentu saja suasana riang. Lalu masing-masing akan mengeluarkan teori. Biasanya sahabat saya langsung berujar dengan muka datar, "Kalau menang sok-sokan, kalau kalah berteori. Kalian ini penjudi apa doktor?

178 pages, Paperback

First published December 1, 2016

47 people are currently reading
542 people want to read

About the author

Puthut EA

68 books238 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
124 (26%)
4 stars
204 (43%)
3 stars
110 (23%)
2 stars
19 (4%)
1 star
7 (1%)
Displaying 1 - 30 of 123 reviews
Profile Image for Lila Cyclist.
854 reviews71 followers
May 4, 2017
Piye ya meh nulis review nggo boso Jowo? Soale nang buku iki wakeeehhh boso Jowo ne. Dadine yo aku meh nulis2 nulis bab buku iki nggo bosoku sing tak nggo mben dino. Nek do gak dong moco reviewku, yo mungkin awakmu yo rak cocok karo bukune. Gampang to? #mlipir sik sakdurunge dibalang karo sing nulis...

Dadi inti ceritane ki jane mung nguri2 jaman e mas Puthut rodo edan, edan ngombe karo edan judi bareng kanca-kancane. Kanca ne ono sing jenenge Bagor, Kapsul, Kunthet karo sijine ora disebut jenenge mergo wong e wes ora ono utowo meninggal (jane meh tak wacakke Al-Fatihah nggo kancane kui, tapi kok ga ono jenenge, njuk aku kudu nyebut jenenge sopo ben dongaku tekan? Aku sedih pas moco bagian deweke ngewangi wong tuwo pas nang Mekkah....

Bab-bab awal ki critane jane yo antara lucu karo rodo mangkelke. Aku ki yo, jaman kuliah mben ora tau aeng-aeng utowo aneh-aneh. Boro-boro dugem, ngrungokke lagu ajeb-ajeb wae sirahku wes ngelu. Po meneh udud, opo ngombe po judi. Lha iki, wong papat, kok le kompak men do ngombe-ngombe karo judi. Nek menang kelakuane koyo sumugih ngono, nek kalah yo do nyungsep bareng. Mbayangke wong tuwane ki perasaane koyo ngopo nek do ngerti anake koyo ngono. Saiki wae mas Puthut wes orang tentrem atine ndelok Kali, anake, sing ngko gek-gek koyok awake deknen (tak dongakke orang wes, mas).

Review lengkap nang kene yo, luur http://justaveragereader.blogspot.co....
Profile Image for Wardah.
951 reviews171 followers
September 18, 2017
Bercerita tentang masa muda penulis bersama sahabat-sahabatnya, almarhum Jadek, Bagor, Kunthet, Proton, dan Babe. Gerombolan bernama Jackpot Society ini menemukan kebahagiaan di tengah kehidupan mahasiswa yg menyedihkan dan mengenaskan lewat satu hal, bermain judi.

Hal-hal yg saya suka

1. Nuansa yg beda dg karya-karya Puthut EA lain. Oke, saya memang baru baca kumcer Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali, tapi jelas sekali novel ini terasa beda. Terasa sangat personal sehingga membuat saya, mudah masuk dlm cerita.

2. Keakraban yg dibangun penulis. Buku ini berlabel 'novel' dan tak ada keterangan gamblang bawa ditulis berdasar kisah nyata, tapi saya rasa buku ini memang kisah nyata yg difiksikan. Dan selalu menarik membaca buku sejenis ini, seperti mengenal seorang kawan baru.

3. Tema yg diangkat. Jadi, buku ini tidak hanya bercerita ttg judi. Ada banyak hal absurd, gila, (mungkin) tidak sesuai moral, dan bikin ngekek sepanjang buku. Lewat buku ini, pembaca seakan diajak menyelami masa lalu penulis. Meski kita pun tak tahu seberapa besar kebenaran yg terkandung dalam buku jni.

4. Hal-hal yg famliar. Berhubung penulis berkuliah di Jogja dan di universitas yg sama dg saya, ada banyak hal yg akrab. :3

Hal-hal yg tidak saya suka

1. Bahasa Jawa yg digunakan. Oke, ini cukup serius. Banyak guyonan yg ditulis dlm bahasa Jawa dan jelas menyulitkan pembaca yg gak paham. Meski ada kamus istilah di akhir buku, tetap saja pembaca yg gak paham bakal pusing dulu 😂

2. Penggunaan bahasa Jawa ini semacam tak terhindarkan, tapi karena hal ini kenikmatan baca terganggu. Pasalnya saya harus bolak-balik cek arti kata.

3. Format penulisannya. Buku ini tak bisa jg disebut novel. Menurut saya, gaya bercerita Puthut EA suka melompat dan gak semua cerita terjalin jadi satu konflik utama yg utuh. Buku ini lebih cocok dilabel sebagai 'personal literature', imo.

4. Eksplorasi karakter sahabat yg kurang. Gak semua sahabat karakter 'aku' alias penulis punya waktu bersinar.

Kesimpulan: Cocok dibaca bagi yg paham bahasa Jawa, penggemar Puthut EA, dan tak masalah dg kehidupan ala b*jingan.
Profile Image for Arif Abdurahman.
Author 1 book71 followers
June 2, 2017
Lebih merupakan memoar ketimbang novel. Otobiografis pisan. Penggunaan Basa Jawa tanpa ada artinya saya pikir bagus, lebih baik dibiarkan begini saja tanpa perlu ditambahin terjemahan. Tapi soal gojek kere, bagi saya yang orang Sunda enggak kena dan terkesan garing.
Profile Image for ifan.
47 reviews18 followers
February 8, 2017
Suka! Rasanya seperti seorang teman yg lagi ngobrol dan ngopi bareng di kantin Bonbin, lalu ia bercerita banyak hal ttg kekonyolan dirinya dan teman-temannya, ditambah guyonan khas jogja bertebaran setiap lembarnya! Sebagai mahasiswa yg masih aktif di kampus yg sama dengan penulis, ketika dihadirkan setting di kantin bonbin rasanya seperti dibawa setahun sebelum kantin tersebut direlokasi :"
Profile Image for A.A. Muizz.
224 reviews21 followers
May 20, 2018

Ini merupakan kali kedua saya membaca buku karya Puthut EA. Sebelumnya saya membaca kumcer "Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali" yang diterbitkan Insist Press (kini diterbitkan ulang oleh @bukumojok ). Berbeda dengan kumcer bebek yang serius dan kelam, buku bajingan ini ditulis dengan gaya slenge'an, ringan, dan 'kasar'. Di sampul belakang sih tertulis "Novel", tapi saya rasa ini adalah pengalaman pribadi penulis beserta kawan-kawannya yang mungkin saja dibumbui dengan hal-hal yang bersifat fiktif. Yah, saya nggak tahu pastinya gimana.

Jadi, buku ini bercerita tentang tokoh aku yang bernama Puthut beserta kawan-kawannya yang disatukan dalam permainan judi. Meskipun semakin ke belakang, Puthut lebih banyak bercerita tentang kawannya yang bernama Bagor. Mungkin yang paling intens berkomunikasi dengannya sampai sekarang cuma Bagor kali, ya.

Buku setebal 178 halaman ini serasa tanpa plot. Momen demi momen diceritakan secara acak. Jadi, ini semacam sekumpulan kenangan kocak tentang kebersamaan Puthut dan kawan-kawannya.

Asal kamu tahu saja, buku ini dilabeli sebagai NOVEL DEWASA. Jangan kira novel dewasa itu novel yang banyak adegan esek-eseknya. Saya rasa buku ini dilabeli demikian karena butuh kedewasaan untuk dapat menikmati kontennya, karena banyak sekali kata-kata kasar, sindiran, dan adegan-adegan yang bagi sebagian orang mungkin dianggap mempermainkan norma.

Yang kurang menyenangkan dari buku ini adalah menjamurnya kata-kata dalam bahasa Jawa yang tidak ditulis miring, meskipun di bagian belakang dicantumkan kamusnya. Bagi orang Jawa seperti saya sih nggak akan mengalami kesulitan dalam mencernanya. Bagi yang nggak bisa bahasa Jawa, saya kira bakal agak megap-megap.

Saya jadi penasaran dengan "Cinta Tak Pernah Tepat Waktu" dan "Seorang Laki-Laki yang Keluar dari Rumah". Apakah akan menjadi novel 'serius' ataukah kumpulan kejadian koplak seperti buku ini.
Profile Image for Aksa.
41 reviews2 followers
July 1, 2018
Para Bajingan yang Menyenangkan karangan @puthutea terbitan @bukumojok

Saya bisa mengatakan ini seperti buku biografi. Menceritakan tentang kehidupan penulis bersama kedua temannya. Membaca buku ini saya seperti terbawa pada kehidupan saya pribadi. Kehidupan bersama teman-teman saya.

Sebuah kisah kehidupan yang menarik di mana ada beberapa di antara kita yang dinilai tidak punya masa depan, akhirnya mencari jalannya sendiri menghadapi masa depan. Menjalan hari demi hari untuk kesenangan sendiri.

Apa yang terjadi dengan tokoh-tokoh di dalam buku ini, beberapa di antaranya saya pun mengalami. Menjalani masa mabuk-mabukan, menghabiskan waktu dengan keisengan, melakukan hal-hal konyol yang tak pernah terpikirkan. Bedanya, saya dan teman-teman saya tidak menghabiskan banyak waktu dengan berjudi. Kami menjalani kisah asmara yang terus berganti.

Dari semua hal tersebut, kita - saya dan teman-teman serta tokoh dalam buku ini - akhirnya menyepakati satu hal sepertinya. Kekecewaan, kesialan, kegagalan atau apapun itu disebutnya, merupakan hal-hal yang membahagiakan kita yang lainnya - tentunya yang tidak mengalami hal tersebut. Tapi, dari situ pula akhirnya kami menyadari bahwa menertawakan hal-hal buruk yang menimpa kita, merupakan cara lain menyelesaikan masalah. Ya, perlahan kita terbebas karenanya.

Terima kasih untuk buku yang sering kali mengocok perut ini, sebab beberapa di antaranya saya juga mengalami. Mengingat kembali hal tersebut, tentu sangat menyenangkan.
Profile Image for Utami Pratiwi.
79 reviews7 followers
May 22, 2017
sewaktu kuliah, saya tidak punya "geng" atau semacamnya. awal-awal kuliah ada sih, barengan sama temen. bertiga lalu berempat. tapi karena tugas kelompok biasanya tiga orang, maka saya yang sering menyingkir. mereka tidak membuang saya, tidak. wkwkwk #maksa. lalu satu di antaranya terlewat egois menurut saya. akhirnya saya memilih mlipir dari mereka. ya, ini entah saya yang susah dipahami atau memang saya sudah terlalu lelah memahami orang lain. #eah...
pertengahan semester, saya gabung sama gerombolan lain. tapi lagi-lagi sepertinya saya susah dipahami mereka atau sebaliknya wkwkwkwk.
ya sudah. saya menyerah dan memilih sendiri. udah dari lama sendiri mulu yaaa ternyata.

sepupu saya punya geng yang senantiasa berempat ke mana pun. akur banget di foto dan di caption. kalau di belakang? YA NGGAK USAH TANYA.

makanya, saya males deh yang begitu-begituan.
(sebenernya ada sih satu temen yang saya yang selalu mengerti dia terus, dia nya nggak. wkwk saya sabar tapi entah kenapa sekarang dia memulai perang dingin sama saya. ya biar aja... namanya juga orang hahaha)

membaca para bajingan yang menyenangkan ini, saya lihat betapa dunia muda si penulis bahagia banget....

mbut, mbut....

HAHAHAH UDAH GITU AJA KOMENTARNYA!
Profile Image for Marsha28.
146 reviews9 followers
August 4, 2018
4 STARS

So, I challenge myself to read only Indonesian writers for a month, because 17 August is Indonesia independence day, and I want to support more local writers.

So, this is the first book of August reading challenge!

So the review will be in Bahasa.

Para Bajingan Yang Menyenangkan adalah sebuah Kisah nyata pengalaman Penulis saat menjadi mahasiswa dengan keadaan studi yang suram dan teman-temannya yang doyan berjudi.

Bacaan super ringan dan menyenangkan. Saya dibuat tertawa karena guyonan Jawa yang begitu relatable dengan kehidupan perkuliahan.

Yang paling saya suka adalah gaya bahasa yang digunakan, begitu real. Para penggunaan bahasa Jawa pasti sangat memahami apa yang saya katakan. Hahahaha

Buku ini merupakan karya Puthut Ea pertama yang saya baca! Saya berani jamin akan membaca lebih banyak karyanya di masa akan datang.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
June 1, 2017
Bukunya baru datang kemarin, menang pinjam dari Ina di Jogja. Dan baca buku ini sukses bikin saya kangen sama Jogja. Isinya bukan tentang Jogja sih...tapi tentang persahabatan beberapa penjudi di Jogja. Yang bikin kangen adalah penggunaan bahasa Jawa sehari-hari, yang membacanya bikin saya senyum2 sampai ketawa ngakak (sampai anak saya yang umurnya 3 thn bilang, "mama ketawa sendiri"). Dan suami saya pun jadi pengen baca (FYI, suami saya paling malas kalau disuruh baca buku).

Isinya apalagi ya? Oh... bajingan. Iya.. ini kayaknya kata yang paling banyak di dalam buku ini, selain asu. Tapi tenang saja, semuanya bukan dalam konteks negatif, IMHO.

Dan gara2 baca buku ini saya jadi follow FBnya mas Puthut, trus follow page-nya Mojok (yg baru saja bangkit dari mati surinya itu).
Profile Image for Nurina Widiani.
Author 2 books15 followers
March 29, 2017
Novel ambyar. Wkwkwk~ Sebagai orang yg lahir, besar dan tinggal di Jogja, bergaul dgn orang-orang yg hobi gojek kere, saya merasa novel ini bikin gobyos ngakak-ngakak. Jingan nan og. :)))
Tapi ya, saya menemukan bukan hanya perjudian tapi juga persahabatan yang abadi dalam buku ini. Been there done that... mengenang seorang sahabat yang pernah ambyar-ambyaran, bukan dengan kesedihan tapi dengan tawa dan kenangan indah.
Profile Image for Jonas Vysma.
30 reviews32 followers
July 10, 2018
Ceritanya ringan. Awalnya saya memang tidak berekspetasi lebih, karena ada satu karya Puthut yg njlimet bagi saya. Dan ternyata benar saja, ceritanya tidak jauh dari keseharian saya & imajinasinya juga cepat tergambarkan. Hahaha. Bahasa yg ringan & asyik, walaupun kalau saya menilai buku ini hanya sekedar bercerita, hanya memberi cerita, tidak lebih. Bintang 4 karena saya suka, bukan karena yang lain.
Profile Image for Rd. Sya'rani.
61 reviews3 followers
February 20, 2021
salahsatu buku yg saya baca entah berapa kali, walo terselip beberapa kosakata jawi alus di kisahnya tp ga mempengaruhi cerita persahabatan yg ga begitu normal antara mas Puthut EA dg Bagor, Kapsul, Proton, Kuntet dan bbrp kawan lainnya.

Kisah pertemanan yang unik dan lucu tentu saja. Kisah mahasiswa di Jogja emang ga habis-habis untuk diceritakan.
Profile Image for Alifa.
95 reviews3 followers
July 25, 2023
Buku haha hihi, cukup menghibur tapi agak tidak friendly bagi bukan penutur Jawa.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
April 14, 2017
Buku iki kenthir tenan og, isi ceritane kenthir, wong2e yo kenthir, sing moco yo dho melu edan kabeh. Lha mosok ngekek kepingkel-pingkel dhewe. Doohh.... betul-betul... :)

Bacaan yang menyenangkan. Jaaan, b*jingan tenan!!

#numpangbacasebelumdiserahterimakankepadayangberhak

Profile Image for Ayah & ibu.
52 reviews1 follower
March 12, 2017
Buku ini bagus, bagus banget, mengingatkan saya kalau punya sahabat beberapa itu menyehatkan akal budi dan jasmani ..
Profile Image for Rizki Ramadan.
30 reviews2 followers
February 7, 2017
"Buku yang lagi aku baca ini ternyata penulisnya sendiri, cerita tentang temen-temennya. Aku kira ini novel fiksi gitu," saya bilang gini ke Rima, pacar saya.
"Yah, kecewa dong."
"Iya. sedikit. Hehe. Tapi nggak apa-apa, tetep mau baca sampe selesai."

Tadi pagi, seselesainya saya baca buku ini, saya kirim pesan ke Tito, teman satu kampus dan satu kos dulu waktu di Jatinangor.

"To, coba baca buku ini. Mayan, bikin kangen Pondok Melati," saya menyertakan foto bukunya. Pondok Melati adalah kos kami. Saya tinggal di sana lima tahun. Dan jadi akrab betul sama temen-temen di sana. Termasuk Tito yang baru masuk kos di tahun ketiga kami kuliah.

Buku ini adalah catatan kenangan tentang persahabatan penulis. Awalnya, ia mengenang temannya yang sudah almarhum dengan menceritakan kebiasaan mereka berjudi. Bahkan, almarhum temannya pernah sampai menggadaikan mobil Kijangnya demi judi.

"Manusia itu fana. Perjudian itu abadi"

Tapi setengah buku selanjutnya cerita pindah fokus. Awalnya penulis menceritakan satu persatu komplotan sahabatnya, lalu ia fokus cerita tentang Bagor, satu sahabat yang kayaknya paling dekat dengannya.

Nggak ada alur sebagaimana novel-novel biasanya, sih. Tapi nyatanya buku ini tetap asik. Saya suka dengan obrolan-obrolan dan becandaan ngasal mendekati sinting yang sering mereka cakapkan. Saya juga suka dengan pertemenan mereka yang ya nggak jauh beda dengan becandaannya itu. Dan sampai sekarang mereka masih memeliharanya.

Satu hal yang bikin saya keki: saya mesti bulak-balik ke halaman belakang untuk melihat kamus bahasa Jawa. Nyaris seluruh dialog di buku ini adalah bahasa Jawa dan nggak diterjemahkan langsung di catatan kaki.

Nggak apa-apa, kalau saya rela bersusah-susah buka-buka Google Translate demi baca novel bahasa Inggris, mengapa harus makan ati ketika kudu baca novel bahasa Jawa yang bahkan sudah disediakan kamus kecilnya di belakang buku.

Profile Image for Andry Yosep.
13 reviews1 follower
October 27, 2018
Niat saya membeli buku ini adalah berharap menjadi bacaan ringan yang menyenangkan--saya mendapatkan tawa dan terhibur. Ternyata saya dikecewakan ekspektasi. Saya hanya baca sampai halaman 112 lalu skip dan baca bab terakhir yang menyisakan 3 lembar saja. Terlalu berat bagi saya untuk membaca keseluruhan.

Saya sempat baca kumcer mas Puthut dan suka, juga sedikit tahu mengenai karir beliau di dunia tulis menulis yang cukup tersohor, khususnya di Yogya. Karena itu, tidak membuat saya merasa buku yg kurang saya suka ini lantas menyetop saya untuk melirik dan membeli buku2 mas Puthut lainnya.

Mungkin alasan yang tepat kenapa saya tidak menikmati buku ini adalah: karena beberapa dialog berbahasa jawa yg sulit saya cerna (walau ada kamus bahasa jawa di laman terakhir, tp entah kenapa malas untuk mencari artinya), atau jokes yang berbeda budaya dan lingkungan dengan saya (mungkin juga beda jaman). Sehingga akhirnya terasa berat untuk saya masuk dan mengikuti alur cerita di dalamnya.
Profile Image for ayu amaradipta.
69 reviews18 followers
September 5, 2024
Buat yang ngerti bahasa jawa, ceritanya bisa menggambarkan hubungan perkawanan yang menyenangkan. Tapi karena isinya cukup personal dari penulis, masih ada rasa mengganjal buat saya karena kurang terhubung dengan kelucuan momennya. Sejauh ini buku ini lebih bisa dinikmati tanpa ekspektasi dan mengikuti saja alur ceritanya.
Profile Image for Tristanti Tri Wahyuni.
193 reviews6 followers
February 21, 2018

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat penasaran sekali dengan buku ini gara-gara banyak diomongin sama teman-teman. Waktu saya tanya ke seorang teman, “Bagus ya bukunya, Mas?” Sesemasnya bilang, “Yang ini, kalau nggak biasa baca, takutnya malah nggak cocok.” Barangkali beliau melihat saya terlalu polos sehingga tidak cocok membaca buku yang katanya memuat banyak pisuhan ini. :)) Akhirnya, saya redam rasa penasaran saya.

Belakangan, saya berjodoh dengan buku ini ketika membeli paket valentine di Buku Mojok. Dua buku incaran saya ada dalam satu paket dengan buku ini. Karena sudah punya, ya masak nggak dibaca. :D Tadinya cuma mau intip-intip saja dan siap berhenti sewaktu-waktu kalau bikin pusing. Eeh… ternyata malah keterusan sampai habis. Jadi, apa saya sudah tidak polos lagi? Bisa jadi. Haha Alih-alih nggak cocok, saya malah sangat menikmatinya. Buku ini sukses membuat saya cekikikan di sembarang tempat. Di kantor, di dalam bus, dan bahkan di warung mi ayam.

Buku ini berisi kisah masa muda penulis dengan sahabat-sahabatnya yang tergabung dalam Jackpot Society. Mereka adalah tipe mahasiswa tanpa harapan dengan hobi yang semakin memperparah keadaan: mabuk dan judi. Beberapa cerita cukup membuat pipi dan perut saya kaku karena kebanyakan ngikik, meskipun sesekali harus mengernyitkan kening atau ngakak sambil istigfar (?) ketika ada cerita lucu yang diiringi pisuhan saru.

Penggunaan bahasa Jawa yang ngoko sengoko-ngokonya membuat saya semakin menghayati cerita. Saya sampai download beberapa video Basiyo setelah membaca buku ini. Haha Oh ya, ada apa dengan Kotagede? Kenapa Bagor tidak jadi berantem tiap kali musuhnya tahu Bagor orang dari Kotagede?

Orang waras pada umumnya barangkali akan menganggap para anggota Jackpot Society ini sebagai segerombolan pemuda dengan masa depan suram. Tapi, kok ya ndilalah mereka kini jadi orang sukses semua. Kecuali Almarhum Jadek yang telah meninggal dunia karena kecelakaan.

Maka pelajaran yang dapat diambil di sini adalah jangan terlalu underestimate kepada orang yang kita anggap buruk. Sebab, bisa jadi kelak mereka akan menjadi manusia yang lebih baik dari kita.


Profile Image for Teuku Alfian Pase.
8 reviews
December 8, 2017
Buku ini adalah salah satu dari sedikit buku yang berhasil saya makan habis sebelum berganti tanggal. Catatan kisah kisah kelam -tapi menyenangkan seorang Puthut EA bersama teman-teman masa mudanya. Bagi saya pribadi, kisah-kisah di dalamnya layaknya fiksi, saya hanya bisa berimajinasi karena hampir tak pernah melakukan hal yang serupa, tapi pada waktu yang sama juga sebuah realita sosial yang umum terjadi. Seumur hidup saya tidak pernah menyentu minuman keras. Meski tidak sedikit teman saya yang -masa muda-nya suka mabuk-mabukan. Begitupun berjudi, mentok-mentoknya judi ya bermain kelereng. Pernah ding, waktu SMP, main bola. 10 ribu. Dan kalah. Seingat saya itulah prestasi terbesar saya main judi. (Eh, kalau main futsal kalah bayar lapangan itungannya judi juga ga ya?)

Tapi dari sekian kenakalan dibuku ini, ada "kenakalan ekstrim" yang sering saya temui disekitar saya. Yaitu bercanda tentang tuhan, agama dan kematian. Saya punya teman yang hobi melucu soal ini, sebut saja Bunga. Nama pada jersey futsal nya: "Yudas Iskhariot". Kalian yang kristen/katolik pasti paham betul siapa nama ini. Ia pernah membuat agama baru, yaitu "sandal tertukar". Jangan ditanya apa maksudnya dan bagaimana prosesnya ia menemukan ini, yang jelas ketika itu ia berhasil mengumpulkan beberapa pengikut. Luar biasa.

Bicara tentang membuat agama, saya juga punya teman lainnya yg sama gilanya. Sedang proses membuat agama baru bernama "Alanisme". Kuliah masuk cuma ketika ujian. Pembohong ulung. Tapi jangan salah, ia telah menamatkan buku-buku yang blm pernah saya sentuh: Dunia sophie -ya, bacaan wajib anak filsafat itu, dan Sejarah Tuhannya Karen Amstrong. Ia juga mengaku sebagai salah satu anak zeus.

Bertemu bajingan-bajingan 'beyond-genius' seperti ini memang menyenangkan. Saya kerap dibuat kagum dan mensyukuri nikmat.

Lha ini mau ngereview apa curhat je?
Rate 4: Karna aing ngakak puoll. minusnya banyak dialog2 dan jokes2 jawa yang kadang sulit dimengerti
Profile Image for Melati Tegugur.
76 reviews4 followers
August 8, 2017
Ini kali pertama saya membaca karya Puthut. Sebelumnya saya "sempat tertarik" untuk membeli buku Puthut waktu saya tengah patah hati (saya lupa judulnya yang mana) kala itu berderet buku Puthut ada sekitar 3 atau 4 judul. Saya memasukkan salah satunya di dalam wishlist saya namun hingga hari ini (terhitung dari Desember) saya belum membeli satu pun dari deretan buku itu.

Kemudian, saya melihat teman saya di Novel Addict membagikan pengalamannya membaca buku ini, dan kemudian saya tambah ingin membeli buku Puthut. Tapi ya, di toko buku itu bukunya sudah sulit dicari karena mereka mengubah tatanannya. Lama saya menunggu dan akhirnya baru bisa saya miliki baru-baru ini dan baru sekarang selesai

Seperti judulnya, buku ini benar-benar menceritakan Para Bajingan yang Menyenangkan. Gaya bercerita Puthut yang begitu luwes, menggunakan bahasa yang nyaman membuat saya terasa dekat dengan mereka. Terlepas dari betapa saya menyadari bahwa kemampuan bahasa Jawa saya yang sangat cetek karena banyak kata yang baru pertama kali saya dengar. Buku ini sangat menyenangkan untuk dibaca.

Menceritakan tentang Bagor, sahabat Puthut dari zaman kuliah di UGM, kegilaan-kegilaan mereka selama menjadi "manusia", betapa mereka menikmati hidup dan tidak ambil pusing dalan segala hal. Membuat saya sukses tertawa di beberapa bagian. Untuk kalian yang mencari bacaan yang menyenangkan, saya merekomendasikan buku ini.

Tapi, harus cukup umur. Karena novel ini terlalu banyak umpatan-umpatan berkonotasi negatif. Yah paham lah yaaaa...

Jadi, ini cerita nyata kah?
Profile Image for Natasha.
5 reviews3 followers
July 9, 2018
Pertama saya melihat buku ini di rak Fiksi Gram*edia berjejer dengan karya beliau yang lain, buku ini sukses menarik perhatian saya. Dari judulnya yang nyentrik saya sudah penasaran tentang apa isinya; ternyata buku ini adalah kisah pengalaman sang penulis, Mas Puthut EA, ketika beliau duduk di bangku perkuliahan, tepatnya di Fakultas Filsafat UGM. Mengambil latar kehidupan mahasiswa Yogyakarta tahun 90an pertengahan, saya merasa buku ini berhasil membawa pembaca dalam realm berbagai peristiwa (yang kebanyakan lucu) yang Mas Puthut dan teman-temannya alami. Yang sangat menarik dari buku ini adalah cerita tentang Pengky dan Gajul, "alumni" Bonbin alias Kantin Humaniora UGM, karena saya kebetulan adalah mahasiswa FIB UGM yang juga sudah pernah mendengar cerita tentang Pengky si legenda Bonbin. Bahasa yang digunakan di buku ini sebenarnya Bahasa Indonesia, tetapi hampir seluruh percakapan di buku ini menggunakan bahasa Jawa lengkap dengan istilah-istilah khas Yogyakarta. Pembaca yang tidak berbicara menggunakan Bahasa Jawa dalam kesehariannya mungkin akan kesulitan memahami isi dan kelakar dari buku ini, di samping telah adanya semacam "bibliografi" untuk istilah-istilah yang digunakan di buku ini pada bagian akhir buku. Secara singkat, menurut saya pribadi, buku ini sangat layak dibaca bagi pembaca yang sudah siap untuk tertawa terus-terusan, mulai dari bab pertama hingga halaman terakhir buku ini.
Profile Image for JihanFee.
18 reviews1 follower
December 24, 2020
Sekelompok anak muda yang merasa hampir tidak punya masa depan karena nyaris gagal dalam studi tiba-tiba seperti menemukan sesuatu yang dianggap bisa menyelematkan kehidupan mereka : bermain judi⁣

Kedengarannya memang mengerikan, tapi tidak semengerikan yang kalian bayangkan. Buku ini dibeli di @patjarmerah yg waktu itu ke Malang. Gw beli sama temen @alifahrrr yang kebetulan dia beli juga sekaligus ditandatangani langsung oleh penulisnya. Huhu⁣

🍄 Di permulaan bab dan bab-bab setelahnya dituliskan cerita dari si tokut tentang sahabatnya, Bagor namanya. Dia adalah salah satu sahabat terbaik dan kini dia sudah almarhum⁣
🍄 Tidak hanya bagor, mereka terdiri dari 5 anggota. Slogan mereka " kawan senang, ikut senang. Kawan susah, tambah senang" bajingan emang !⁣
🍄 Bahasa yang digunakan cak putut ini emang mudah dipahami, banyak menggunakan bahasa jawa tengah yang kalo sy baca seperti ala-ala plat AG gitu xixixi ⁣
🍄 Buku ini hanya bisa dibaca dengan pikiran-pikiran yang jernih, dibaca sebagai wawasan pengetahuan, sebagai teman baca dan tidak untuk mendiskriminasi si pembaca.⁣
🍄 Sebab dalam buku kalian bakal dikasi tau soal perjudian. Kegemaran mereka, diantaranya; judi mesin dan judi bola.⁣
Yaa tetap saja, sy juga tetap tak paham. Dan tidak perlu diamalkan hahaha. Cukup tau ye kan 😌⁣

~ Selamat membaca bagi kalian yang ingin kenal dengan Almarhum Bagor dalam kisah di buku ini.⁣
Profile Image for Ira Nadhirah.
602 reviews
September 14, 2025
Setelah membaca tiga buku yang penuh dengan cerita cerita tragis dan fokus yang mendalam, akhirnya saya decide untuk membaca bacaan yang sedikit ringan.

Buku kedua dari Puthut yang saya baca. Yang ini berkisarkan tentang kehidupan Puthut bersama teman temannya ketika belajar di UGM. Meski masing masing mengambil jurusan yang berbeza, mereka boleh berteman kerana mempunyai satu persamaan iaitu, suka berjudi. Mereka menggunakan gelaran Jackpot Society mengambil dari Dead Poet Society.

Banyak anekdot anekdot lucu yang diceritakan Puthut di dalam buku ini berkenaan kawan kawan beliau. Ada juga kisah sedih yang diselitkan apabila salah seorang dari rakan tersebut meninggal dunia kerana kecelakaan jalan raya.

Bab yang kedua banyak berkisarkan tentang kekonyolan i Bagor, meski kerja bagus sehingga ditawarkan sambung S2 (master) ke Boston dan dibiaya sepenuhnya oleh syarikat, Bagor suka makan babi lol. Sedangkan Bogor itu Muslim.

Kebanyakan dialog di dalam buku ini dalam bahasa Jawa yang membuatkan saya perlu rujuk Kamus yang disediakan di belakang buku menyebabkan pembacaan jadi slow dan akhirnya saya skip beberapa dialog. Apa perlu saya belajar bahasa jawa pula ya?

All in all, a funny book. Pengajarannya hampir tiada haha cuma ketawanya terkekek kekek.
Profile Image for A N P.
59 reviews4 followers
May 9, 2017
Baca buku ini sekaligus menyelami gimana kehidupan anak-anak bandel taun 90an, saat mereka kuliah di kampus ternama tapi kelakuannya "ambyar" semua. Di sisi lain, walaupun mereka penggila judi, mabuk, dugem, dan hal buruk lainnya, mereka selalu tolong menolong satu sama lain, atau muncul ide untuk beliin rumah untuk bapak-bapak yang suka tidur di stasiun Tugu kalau mereka menang judi. Hahaha ya salah juga sih. Tapi keinginan polos nan naif itu ternyata malah bikin geng ini jadi favorit orang-orang di rumah perjudian. Saya suka ide pertemanan di zaman dulu: sederhana dan setia. Gak pake ada cerita tikung pacar temen, update status kalo lagi marahan, apalagi sampe bunuh-bunuhan kaya jaman sekarang. Terlepas dari judi dan hal haram yang mereka lakukan, mereka sudah membuktikan satu hal: masa lalu kamu, gak akan menentukan jadi apa kamu kelak, kalau mau sukses ya usaha!

Buku ini banyak banget percakapan konyol yang sukses bikin cekikikan sendiri. Makanya jangan baca ini di kendaraan umum atau tempat ramai ya. Selain itu, banyak juga bahasa Jawa yang kasar-kasar, boleh sih dipraktekin, tapi sama sahabat deket aja ya! Di halaman terakhir ada kamus bahasa Jawanya kok, jangan khawatir!
Profile Image for Deta Ariesandy.
48 reviews
December 10, 2018
Bagi pembaca karya Puthut EA yang ingin mendapatkan suasana baru, ini bisa menjadi alternatif bacaan. Berbeda dengan tulisannya yang biasa romantis, novel ini penuh dengan guyonan dan bahasa sehari-hari yang membuat novel ini terkesan berantakan. Isi ceritanya cukup mengocok perut. Puthut EA menceritakan penggalan hidupnya (kurasa ini kisah nyata) bersama dengan teman-temannya yang 'ajaib'. Penuh dengan dagelan, Puthut EA menggambarkan bagaimana ia dan kawan-kawannya bisa menghadapi hidup penuh nista dengan bahagia. Hahaha...

Namun satu hal yang cukup mengganjal adalah penggunaan bahasa Jawa hampir di seluruh dialognya. Meskipun bahasa Jawa yang digunakan bukan Jawa kromo, penggunaan bahasa Jawa tanpa terjemahan langsung di setiap halaman bisa membuat pembaca terganggu (bagi yang tidak paham bahasa jawa). Namun bagi kalian yang tetap saja penasaran, ada kamus sederhana di bagian belakang buku yang bisa digunakan untuk menerjemahkan kata-kata yang tidak dipahami. Sebab aku sendiri cukup mengerti dengan bahasa Jawa sehari-hari, penggunaan bahasa jawa dalam novel ini tidak begitu mengganggu bahkan menambah unsur komedi dalam alurnya.

Selamat membaca!
Profile Image for Meta Morfillah.
668 reviews23 followers
August 27, 2023
Judul: Para bajingan yang menyenangkan
Penulis: @puthutea
Penerbit: @bukumojok
Dimensi: vi+178 hlm, 13x20 cm, cetakan ketiga september 2017
ISBN: 9786021318447

Novel yang cocok buat hiburan, apalagi kalau kamu orang jawa. Sebab hampir semuanya percakapan dalam bahasa Jawa. Ada glosariumnya di akhir, tapi emang PR sih buatku yang ga paham banget artinya. Tapi ketawa membayangkan logatnya, teringat teman-teman penulis dan klub buku Yogya. Jadi kangeen haha

Paling terngakak part Bagor akhirnya puasa, tapi bukanya pakai daging babi. Allahu akbar! Enggak tahu juga, sih, ini #novel #fiksi atau sebagian memang kisah nyata #penulis dengan kelima #kawan judinya (Almarhum Jadek, Bagor, Kunthet, Proton, dan Babe).

Cara berceritanya asyik, mengalir, alur maju mundur tapi ga bingung. Termasuk novel dewasa ya, soalnya bahasanya memang nganu, sih. Kudu bijak menyikapinya hehe

Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#1hari1tulisan #bacabuku #reviewbuku #resensibuku
Profile Image for Andar Hermawan.
20 reviews
September 23, 2017
Cerita kocak/konyol yang mengalir tentang sekelompok mahasiswa tanpa harapan mencari kebahagiaan versi mahasiswa Jogja. Bila anda mahasiswa jebolan Fak. Ekonomi/Sospol/Filsafat/Ilmu Budaya UGM, beberapa bab awal akan menyuguhkan nostalgia khas ala "Bonbin" saat itu. Lengkap dengan pengap lantai tanahnya, rombong ketoprak Mas Heru, nasi pecel Mbak Ning hingga deretan mahasiswa yang angkat kartu plus botol di Bonbin saat malam tiba.

Sayangnya (mungkin) buku ini baru separuh jalan, selain Almarhum dan Bagor, anggota komplotan yang lainnya kurang dibahas. Timeline juga maju ke masa modern di bab-bab akhir. Kehilangan sentuhan nostalgianya. Ya namanya juga kumpulan tulisan dari web, susunan timeline nya bisa dimaklumi.
Displaying 1 - 30 of 123 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.