Buku berjudul Lalu Tenggelam di Ujung Matamu merupakan novel yang memuat 14 bagian cerita yang dikemas secara ringkas karena terbilang singkat untuk dibaca selama beberapa jam dalam sehari.
Fiksi di dalamnya berlatar belakang kebudayaan suku Banjar yang ada di Teluk Selong Kalimantan Selatan. Memuat kisah cinta, pertentangan kebudayaan, luka yang bergejolak bersama dendam, serta merelakan apa yang perlu ada untuk bisa dirasakan.
Buku ini menceritakan bagaimana sosok Adam dan Umar yang merasa hina sebab mereka hanya rakyat jelata. Gusti Suanang tak membiarkan Adam untuk meminang anaknya, Intan yang jelita. Hingga akhirnya dia menikahkan Intan dengan sahabat Adam yang bernama Gusti Rizal dengan kasta yang setara dengan keluarganya.
Tentu saja hal itu menciptakan luka mendalam bagi Adam dan Umar—perihal dendam yang sulit untuk dipadamkan meski waktu telah berlalu selama sewindu.
Menariknya, Adam yang telah lama merantau di Jakarta mendapatkan kehidupan mapan setelah semua kerja keras dari kecerdasan dan juga belas kasih orang di sekitarnya. Hingga suatu hari dia harus kembali ke kampung halamannya untuk melakukan penelitian tesisnya perihal kebiasaan masyarakat suku Banjar yang selalu memakamkan jenazah di dalam rawa-rawa sungai dengan kedalaman kurang lebih 5 meter dari atas permukaan. Uniknya, hanya segelintir orang yang mampu melakukan penyelaman untuk mengebumikan jenazah dengan risiko kematian saat melakukannya.
Baik Intan maupun Adam kembali dipertemukan. Intan mencari belas kasihan Adam untuk mengutarakan permohonan maaf atas sikap dan perbuatan yang dilakukannya dan keluarganya. Ternyata Adam bersikeras menolaknya. Namun secara perlahan, selama penelitiannya Adam menemukan banyak hal yang membuatnya tiba di suatu perenungan panjang.
Tidak hanya Adam, pembaca pun disambut hangat untuk turut masuk menemukan keajaiban-keajaiban dari perjalanan Adam dan tokoh-tokoh pendukung lainnya. Selain menelusuri adat dan kebudayaan dalam prosesi pemakaman, pembaca diingatkan bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang benar-benar kita miliki sebab semua hal selalu kembali kepada Tuhan. Maka dari itu, masyarakat yang kehilangan anggota keluarganya tidak pernah menunjukkan rasa kehilangan karena secara sadar mereka meyakini bahwa anggota keluarganya berpulang pada pemilik sejatinya.
Dari serangkaian alur yang disajikan, pembaca disentil perihal segala sesuatu yang telah kita mulai harus dengan berani kita tuntaskan tanpa menunda-nundanya.
Lantas dengan segala pegumulan batin, Adam pun menemukan makna bahwa kali ini dia harus merentangkan kelapangan hatinya untuk bisa memaafkan segala lebam yang terpendam. Dia mengampuni segala salah yang diperbuat oleh keluarga Gusti Suanang terutama Intan—yang secara sadar menerima karma atas hancurnya hubungan dengan Gusti Rizal, usaha yang hancur berantakan, dan kelegaan yang ia dapatkan usai Adam menobatkan pengampunan.
Masing-masing dari tokoh paham bahwa semua yang mereka alami dan perbuat selama di bumi selalu dituai oleh peran sebab dan akibat. Bahwa dari luka yang menganga akan ada bahagia yang juga mengikutinya.
***
Dari buku Lalu Tenggelam di Ujung Matamu, pembaca menemukan banyak keberanian atas segala pembelajaran yang diperoleh dari buku tersebut. Alurnya yang tidak bertele-tele tersaji secara apik dan menyenangkan, tampilan bukunya menarik perhatian, dan jujur saja ada banyak tangisan yang memburai sepanjang kalimat yang berhasil diselesaikan. Sehingga pembaca jadi lebih leluasa untuk ambil langkah perihal memaafkan, merelakan semua kesalahan, dan makin sadar tentang perbedaan, juga tentang waktu yang tidak bisa dibiarkan mengalir tanpa upaya perbaikan.