Pulau Tingka adalah sebuah pulau terpencil di Laut Jawa, tepatnya di timur laut daratan Madura. Pulau itu tidak terkenal, bukan destinasi wisata, dan memiliki penduduk asli yang menganut kepercayaan Midaya. Kepercayaan ini menyembah Mahadewi Midaya beserta kedua belas dewi lainnya, dengan kuil peribadatan, ritual pemujaan, serta Hari Raya tersendiri. Pemimpin kepercayaan Midaya adalah seorang perempuan yang dipanggil dengan sebutan Hamba Agung, yang bermukim di Kuil bersama para Hamba selaku tangan kanannya dan Murid Hamba yang sedang menjalani pelatihan untuk menjadi Hamba. Seluruh Hamba dan Murid Hamba juga perempuan, sebagaimana para dewi. Hamba Agung dan para Hamba tidak menikah karena mengabdikan hidupnya untuk para dewi, sementara Murid Hamba masih boleh mengundurkan diri dari pelatihannya jika ingin menikah.
Joe, seorang mahasiswa dari Jakarta yang kuliah di Surabaya, mengarungi perjalanan ke Pulau Tingka untuk melakukan penelitian skripsi mengenai analisis sosiokultural kepercayaan Midaya di Pulau Tingka. Namun, penelitian itu sebenarnya bukan penelitian Joe sendiri, melainkan penelitian kekasih Joe, Tazky. Joe datang ke Tingka dengan menyamar sebagai Tazky untuk melakukan suatu misi rahasia.
Nicco Machi sudah menulis fiksi sejak kecil. Beberapa kali memenangi lomba penulisan cerpen, pernah pula cerpennya dimuat di majalah. Tapi novelnya kerap ditolak oleh penerbit sampai akhirnya memenangi lomba dan terbit pada tahun 2016. Setelah itu dia sempat vakum menulis sesaat, sebelum mulai menulis lagi tahun 2018. Beberapa lomba yang dimenanginya kemudian membuka pintu lebih lebar baginya untuk masuk lebih dalam ke dunia kepenulisan. Saat ini dia masih terus menulis dan rajin mengikuti lomba-lomba menulis.
Ketika teman saya, sang penulis, posting soal serial Tingka ini di medsosnya, saya belum langsung tergerak untuk beli dan membacanya - semata karena baru ada di Gramedia Digital dan males banget mesti install aplikasi baru lagi hahaha. Tapi ketika baca blurbnya, bahwa ini adalah cerita soal sebuah pulau fiktif yg dihuni oleh para penghayat kepercayaan lokal, jiwa anak-Ilmu-Budaya saya bergejolak. Ini tema yang unik dan menarik banget!
Meski terdiri dari tiga buku, saya akan mereview Tingka ini sekaligus, ga per buku, karena menurut saya, ketiganya adalah satu kesatuan yg ga bisa dilepaskan. Bukan seperti serial semacam Harry Potter yang masing-masing jilid punya konflik dan penyelesaiannya sendiri, ketiga buku ini cuma punya satu konflik utama saja.
Membaca lembar-lembar awalnya, saya langsung jatuh hati dengan cerita dari Kitab Kebijaksanaan Kepercayaan Midaya. Kalimat-kalimatnya terasa magis dan membius. Rasanya sama seperti ketika membaca cerita sastra yang menyadur kitab semacam Ramayana, atau kisah-kisah sastra berlatar sejarah semacam Ken Arok-nya Pramoedya atau Gajah Mada-nya Langit Kresna Hariadi.
Tapi saat membaca lebih jauh lagi dan memasuki cerita utama dengan setting masa kininya, saya tersadar akan satu hal: novel ini bukanlah sebuah novel etnografis. Meski tokoh utamanya dikisahkan (berpura-pura) melakukan penelitian antropologis, aura etnografinya cenderung minim terasa. Hampir semua gambaran tentang Kepercayaan Midaya hanya diceritakan lewat 'tell' dari narasumber yang diwawancarai oleh tokoh utama, bukan 'show' saat sang tokoh utama mengobservasi atau terlibat dalam ritualnya, misalnya. Nilai-nilai yang dianut oleh para penghayat kepercayaan Midaya juga cenderung minim dieksplorasi.
Tapi kemudian saya teringat bahwa teman saya, sang penulis, memang tidak pernah menyebut serial ini sebagai sebuah novel etnografis. Itu rupanya hanya asumsi saya belaka saat membaca blurbnya hahaha. Sang penulis sendiri memang menyebut bahwa genre novel ini adalah 'drama/misteri berlatar pulau terpencil'. Dan dalam kategori genre tersebut, novel ini cukup berhasil.
Atmosfir suspense dibangun dari awal sampai akhir, perlahan tapi pasti. Petunjuk-petunjuk ditebar sejak awal, dan meski saya bisa menebak sebagian misterinya, ada satu plot twist yang rupanya benar-benar tak terduga. Cukup untuk membuat rasa tragis bertahan juga di hati saya beberapa waktu seusai menamatkan novel ini.
Meski saya tetap merasa nanggung karena aspek antropogis dari kepercayaan lokal yang diangkat di sini kurang dieksplorasi, tapi untuk yang mencari bacaan genre drama/misteri dengan latar yang unik dan berbeda, serial ini sangat patut untuk masuk dalam reading list.
Saya membaca buku ini melalui Gramedia Digital dan menghabiskan waktu sehari untuk menyelesaikannya. Cerita ini mengangkat sebuah kisah yang unik dan gaya bahasanya cocok dengan selera saya. Favorit saya adalah bagaimana penulis mendeskripsikan sebuah makanan sehingga saya lantas ikut penasaran dan membayangkan seenak apa makanan yang ada didalam cerita tersebut.
found Tingka series on twitter replies. one of @.literarybase's follower recommended me this series and i immediately went to Gramedia Digital and luckily it's there!
Tingka is a trilogy and i thought, each book has its own story. kayak series satu, membahas masalah ini sampe ke penyelesaian masalahnya. begitu juga series kedua dan ketiga. tapiii, ternyata enggak. huhu. 🫠
series pertama ini, masih awal dari cerita. bahkan masih di tahap orientasi, belum sampe ke komplikasi.
agak bingung waktu selesai baca buku pertama ini. jadi kepikiran, apa mungkin readers harus sekaligus beli tiga buku di trilogi Tingka? perhaps, yes, it is
so i got no review for this first book. mungkin di buku kedua dan ketiga aku bakal banyak ngomong. 🥰
akhirnya bisa baca Tingka setelah langganan gramdig lagi karena dapet diskonan hehehe :") pembuatan settingnya luar biasa banget, nggak hanya aspek-aspek spiritual, administratif, deskripsi lokasi, sampai makanan juga! :3 (kebayang, enak-enak makanannya) juga, dibahas isu yang selalu jadi bahan perdebatan mengenai agama "resmi" dan aliran "kepercayaan" di KTP. karena baru bagian pertama, misteri belum terlalu muncul. mari lanjut ke bagian selanjutnya~
Baca buku ini, karena di rekomendasikan oleh temen. Baru kali ini, aku baca buku yang unik seperti ini. Pulau Tingka, yang penduduk aslinya menganut kepercayaan Midaya yang pemimpin agamanya adalah seorang perempuan.
Cerita yang cukup unik, jadi penasaran misi apa sih yang Joe kerjain?🤔
"Aku tak suka melihat para lelaki di bawah sana," "Mereka memperlakukan perempuan hanya sebagai pemuas nafsu belaka. Tak ingatkah mereka, siapa yang telah membawa mereka ke dunia?"
"Kalau begitu aku akan turun ke dunia."
— Kitab Kebijaksanaan Jilid I, ditulih oleh Hamba Agung Tri —
Judul: Tingka (buku 1) Penulis: Nicco Machi Penerbit: Elex Media Komputindo Dimensi: 112 hal, cetakan pertama 2021, edisi digital ipusnas ISBN: -
Joe datang ke Pulau Tingka dengan menyamar jadi Tazki yang akan melakukan penelitian terhadap kepercayaan Midaya. Ia membawa misi pribadi. Sementara itu, ada tragedi yang terjadi 3 tahun lalu, yang berdampak pada kesehatan Hamba Agung Yul. Semua berpusat di mercusuar yang terbengkalai dan menjadi sumber cerita hantu bagi anak remaja seperti Fikar, Nis, dan Bri. Apakah misi Joe? Tragedi apa yang terjadi 3 tahun lalu? Apa yang ada di mercusuar?
Begitu banyak pertanyaan di buku bagian satu dari trilogi Tingka. Dari awal kisah kepercayaan Midaya, kalimatnya memikat saya dan membuat tak berhenti ingin membaca (page turner banget!) hingga tak sadar sudah tamat. Untungnya bagian 2 dan 3 sudah saya pinjam juga di ipusnas, sehingga bisa saya lanjutkan segera. Saking Pulau Tingka rasanya nyata, saya sampai searching apakah benar ada pulau dan kepercayaan itu. Lalu saya ketemu blog penulisnya ( https://apotekhidupkartikajaya.wordpr... ) dan banyak pertanyaan di kepala terjawab saat membacanya. Ukuran font yang cukup besar di ipusnas ini juga bikin gak pusing, jadi bisa untuk yang lagi reading slump juga. Di bagian 1 ini masih orientasi dan membangun karakter serta history, jadi memang banyak pengenalan tokoh. Kuy, lanjut buku kedua!
Cocok untuk yang suka genre thriller, misteri, dan antropologi tentang kepercayaan.
Bercerita tentang kisah masyarakat di pulau fiktif bernama Tingka. Masyarakat ini mempunyai kepercayaan Midaya, yaitu menyembah dewi-dewi.
Seneng banget bacanya karena dari awal chapter saya sudah dibuat penasaran dengan misteri dibalik pulau itu dan kepercayaannya. Banyak teka-teki yang muncul dan membuat saya terus membaca! Kisah cinta yang tragis berselimut adat dan budaya, mungkin ini yang bisa menggambarkan kisah Tingka di buku kesatu.
Dari sini saya bisa mendapat hikmah dan bayangan juga bagaimana jika manusia mengabdi pada manusia lain. Tidak hanya manusia itu lemah, ia pun hanya membuat 'hamba'nya sengsara dan saling menyakiti.
Selain mengenai ceritanya, saya juga penasaran bagaimana penulis melakukan riset untuk buku ini, yang pastinya sangatlah mendalam melihat banyaknya rujukan tentang keadaan sosial politik pada masa tersebut.
Akhirnya, saya hanya berharap Wor dan Bri akan mendapatkan kebahagiaan setelah meninggalkan Pulau Tingka.
Dari awal penulis sudah membuat aku menebak-nebak. Gimana tidak? Cerita diawali oleh percakapan antara dewi-dewi (jangan-jangan tentang mitologi), selanjutnya berubah menjadi cerita tentang hantu yang ada di mercusuar. Kemudian ada mahasiswa yang melakukan penelitian di sebuah pulau bernama Tingka. Oke. Kesimpulan awalku: "Ceritanya tentang pulau Tingka yang berhantu!" 🙈 . Tapi ternyata aku salah. Ternyata, ceritanya nggak "sedangkal" itu. Penulis mengambil isu tentang "agama dan kepercayaan". Sanking mendetailnya penjabaran Kepercayaan Midaya di Pulau Tingka ini, aku sampai hampir percaya ada pulau di dekat Madura tersebut 😭👍 . Walaupun membahas tentang kepercayaan baru, aku jamin ceritanya nggak membosankan. Malah sampai akhir bagian 1 ini, masih belum terkuak misi apa yang dibawa oleh Joe yang menyamar sebagai Tazky!
karena masih perkenalan jadi harus baca bagian yang lain. tapi sejauh ini bukunya seru dan bikin penasaran. semakin dibaca bukunya aku makin penasaran tentang pulau tingka dan budayanya serta kepercaayan midaya (saking penasarannya aku google dulu tadi, mau liat pulau tingka itu gimana sih bentuknya tapi di google gaada… aku gatau atau aku salah ngetik kata kunci di google kali ya? jadinya gara gara ini aku makin penasaran banget wkwk). dan aku juga penasaran, gimana cara penulis riset tentang tingka dan kepercayaan midaya ini… tapi intinya karena masih baca bagian 1 maka aku harus baca bagian lain untuk menjawab rasa penasaran ini~
Bagian 1 dari tingka ini bener benerr bikin gabisa berenti baca. Premis nya menarik, tokoh tokohnya yang masing masing punya background kehidupan yang masih misterius bikin gabisa berhenti bertanya tanya sepanjang cerita. Dan gak kerasa 226 halaman buku pertama ini selesai dalam waktu sesingkat singkatnya (2 jam) mengingat fontnya juga tang segede biji jagung wkwk.
Jangan lupakan tentang deskripsi macam macam makanan khas pulau Tingka yang keliatan menggiurkan dan bikin aku ikutan laper bacanyaa hmmm😭 gak sabar lanjut buku selanjutnyaaa
Novel yang bisa kuselesaikan dalam sekali duduk. Dari awal cerita sudah ada bumbu misterinya yang membuatku bertanya-tanya, "wah bakal gimana nih kelanjutannya? perempuan itu siapa?" Karena buku ini berseri, jadi pertanyaan tidak terjawab semua dalam buku 1. Gaya bahasanya ringan dan mudah dipahami, aku rasa novel ini juga bisa dibaca oleh remaja. Sebagai penggemar cerita misteri, aku pribadi suka dengan cerita yang diangkat. Unik karena baru pertama kali ada cerita misteri dengan unsur budaya. Nggak sabar lanjut ke seri dua dan seterusnya.
Buku ini udah di waiting list di ipusnas dari lama, tapi baru bener-bener tertarik baca pas ketemu ulasannya di X kalau buku ini genrenya misteri. Baru tau dong bukunya ada 3 bagian, pantes aja sedikit banget jumlah halamannya.
Untuk yang bagian 1 ini nothing surprised enough karena emang cuman berisi pengenalan-pengenalan setting dan para tokoh, tapi penggambarannya cukup detail. I am not talk too much for this part, let's see for another parts.
Kalau kuingat, kayaknya ini kali pertama aku membaca buku yang latarnya sama sekali baru. Maksudnya, semua karakter dan hukum dunianya diciptakan bersamaan dengan ide cerita. Penggambaran karakter yang cukup gamblang, dengan konstruksi norma yang lumayan sinkron. Cukup menarik!
BUKUNYA BAGUS DAN UNIK BANGET! Gak cuman tempatnya aja yang dipikirin tapi makanannya juga huhu KEREN BANGETTTT, pasti butuh riset yang gak sebentar dan aku bener bener apresiasi banget. Dari buku pertama ini aja udah keliatan unik dan potensial, gak sabar buat menjelajahi lebih dalam lagi tentang pulau Tingka ini. Dan buku ini bisaaa diselesaikan sekali duduk!
Novel thriller yang nyeritain tentang Joe, mahasiswa yang lagi nyelidikin kepercayaan lokal "Midaya" (penyembah 12 dewi) di Pulau Tingka, terpencil di timur laut Madura.
Ada 3 buku di seri ini; nah di buku pertamanya baru banyakan perkenalan tokoh dan latar.
Lumayan seru menurutku dan cara nulisnya asik ga cringe. Tapi, belum sampai yang bikin penasaran banget gitu sih, masih penasaran aja.
Sejauh ini premis ceritanya menarik banget dan bikin penasaran. Untuk buku 1 baru menceritakan orientasi mengenai latar tokoh-tokohnya, belum masuk ke cerita inti. Mungkin di buku 2 baru ada konfliknya.
Baru baca buku 1 nya dan kayanya ini baru pembukanya doang, tp sepanjang baca penasaran bgtttt sama lanjutannya, ceritanya mengangkat ttg kepercayaan penduduk setempat, can’t wait to read #Tinka2
Masih pengenalan awal tentang latar sama karakter. Cukup unik sih buku nya tentang kepercayaan minoritas di pedalaman. Bahasanya cukup baku tapi mudah di mengerti
Tingka menyajikan cerita yang menarik sekali! Membahas isu yang kebebasan beragama yang apik, namun perlu untuk dieksplor lebih dalam lagi. Ceritanya juga dibangun dengan rapi dan bikin penasaran!
SERU DEH CMN AKU BINGUNG sama endingnya karna mereka blum masuk ke konflik(?) masi kaya abu abu menurutku kalo di bagian 1 ini PENGEN BACA YANG KEDUA karna joe bakalan mulai rencananya yang idk???
Buku yg akhir2 ini sering muncul di mana2. Konsepnya mirip2 buku Anisa Ihsani yg judulnya Bukan Pengikutmu yang Sempurna, tapi bedanya "kepercayaan lokal" yg dianut penduduk2nya sedikit lebih modern, lebih fleksibel, dibanding yg ada di dalam buku BPyS.
Lagi cari-cari novel Petualangan, dan nemu ini di antara novel novel yang aku lihat blurb-nya. Suka sekali dengan tema yang diusungnya.
Agak kaget kok pendek banget. Takutnya error waktu download di iPusnas. Tahunya ada 3 bagian 🙃 sukses bikin penasaran dan mau baca semuanya. Menarik juga!
Pertama-tama, aku suka sama penggambaran karakter dan latar tempatnya termasuk soal makanan dan penduduknya. Semuanya terbayangkan. Sejauh ini paling tertarik sama karakter Wor. Seterusnya akan aku review setelah baca dua bagian lainnya~