Joe pergi ke kantor kecamatan untuk menemui dan berterima kasih pada Pak Rozaq. Di sana Joe malah bertemu dengan Wor, kakak Bri, Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia—satu-satunya penduduk Tingka yang berhasil masuk UI melalui jalur prestasi tanpa tes. Wor sedang menangani protes warga yang geram karena KTP penghayat kepercayaan tidak boleh mencantumkan kepercayaannya, hanya bisa mencantumkan tanda strip sehingga kerap dianggap tak beragama.
Setelah selesai menangani protes tersebut, Wor mengantarkan Joe ke Kuil, untuk mewawancarai Hamba Agung Yul. Misi rahasia Joe mulai dijalankan, tetapi dia menemui jalan buntu, karena orang yang ia cari diakui tak pernah ada di Kuil tersebut.
Nicco Machi sudah menulis fiksi sejak kecil. Beberapa kali memenangi lomba penulisan cerpen, pernah pula cerpennya dimuat di majalah. Tapi novelnya kerap ditolak oleh penerbit sampai akhirnya memenangi lomba dan terbit pada tahun 2016. Setelah itu dia sempat vakum menulis sesaat, sebelum mulai menulis lagi tahun 2018. Beberapa lomba yang dimenanginya kemudian membuka pintu lebih lebar baginya untuk masuk lebih dalam ke dunia kepenulisan. Saat ini dia masih terus menulis dan rajin mengikuti lomba-lomba menulis.
misteri memanas! meskipun jumlah halamannya lebih banyak daripada buku pertama, tapi di sini sudah mulai banyak pertanyaan dan kegalauan yang membuat penasaran. jadi bacanya lebih cepet, gak terasa tahu-tahu abis hehehe :")
(SPOILER ALERT) agak kaget dengan cerita bahwa rupanya kepercayaan Midaya baru ada sekitar 80 tahunan. kukira disetting sebagai kepercayaan kuno/tradisional. latar belakangnya menarik :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Saya menyukai buku ini!!!! Dalam buku kedua ini, misteri mulai muncul dan semakin kuat hingga diakhir halaman. Saking menikmatinya, saya sampai tidak sadar bahwa sudah berada di akhir halaman di Gramedia Digital.
Judul: Tingka (buku 2) Penulis: Nicco Machi Penerbit: Elex Media Komputindo Dimensi: 131 hal, cetakan pertama 2021, edisi digital ipusnas ISBN: -
Joe memulai wawancaranya tentang kepercayaan Midaya di Pulau Tingka. Namun, saat menanyakan sosok Hamba Agung Dei semua menjawab tidak pernah ada nama itu. Bahkan data penduduk pun tidak memuatnya. Hampir saja Joe meyakini itu sebagai sebuah kebenaran, kalau saja ia tidak ingat pada Tazky yang mengajarkannya untuk membaca gestur manusia. Semua gestur yang didapat bermuara pada satu kesimpulan: bohong. Di manakah sebenarnya Hamba Agung Dei berada? Apa yang ditutupi dari sosok tersebut?
Buku dua ini jauh lebih page turner ya, meski halamannya lebih banyak. Sebab inilah klimaks konfliknya. Kisah kelam beberapa tokoh mulai terkuak dan mendekati konklusi. Saya masih terpukau dengan ide penulis mengangkat konflik penghayatan kepercayaan dan membuat tempat fiksi menjadi believeable. Lanjut lah ke buku ketiga!
Cocok untuk yang suka genre thriller, misteri, dan antropologi tentang kepercayaan.
Melalui penelitian pura-pura Joe tentang Pulau Tingka, satu per satu terbukalah rahasia yang terjadi pada tokoh-tokohnya. Mulai terasa nih emosi-emosi dari tokohnya, dari pergulatan batin sampai ke masalah "potek-potekan" 🤭🤭 . Di bagian keduanya ini juga, pelan-pelan mulai terkuak misi tersembunyi yang dilakukan oleh Joe yang menyamar sebagai Tazky--yang ternyata adalah pacarnya sendiri! Kreatif sih ide penulis yang memberi nama tokohnya "Tazky" (yang walaupun nama perempuan, tapi gak begitu mencurigakan kalau dipakai juga oleh seorang laki-laki 😅). . Aku makin penasaran siapa sih sebenarnya Hamba Agung Dei yang dicari-cari oleh Joe? Kenapa semua orang di Pulau Tingka seperti menutup-nutupi keberadaannya? Penasaran? Lanjut ke bagian ketiga ya 😉
Di buku 3 ini mulai ada titik terang soal apa tujuan Joe yang sebenarnya ke Pulau Tingka. Cerita tentang Hamba Dei juga berhasil mengusikku. Kenapa warga sepakat menyembunyikan seorang Hamba Dei yang merupakan seorang Hamba Agung. Aku agak kecewa dengan Joe yang begitu ceroboh dan tanpa persiapan yang matang soal rencana dia ke Tingka, sampai-sampai kartu identitas ditinggal begitu saja dan diketahuilah oleh Nis. Sejauh ini misterinya bikin aku membalik satu per satu halaman dan tanpa sadar sudah diujung kisah buku 2. Sangat page turner.
Tingka bercerita tentang Joe yang meneliti kepercayaan lokal di Pulau Tingka dan menjalankan misi tersembunyi yang berkaitan dengan masa lalu Tazky.
Di buku 2, penelitian Joe semakin dalam ketika dia banyak berdiskusi dengan Wor serta datang ke kuil bertemu dengan hamba agung. Pertanyaan sensitif yang ia ajukan pada para narasumber membuatnya dicurigai oleh Sri memiliki niat tidak baik terhadap kepercayaan Midaya.
Misterinya semakin seru untuk diikuti, konflik yang melibatkan tokoh lain juga dibahas dengan baik di sini, novel juga sempat menyinggung tentang diskriminasi terhadap kepercayaan lokal oleh negara. Penjelasan mengenai asal mula kepercayaan Midaya dan perkembangannya juga dibahas detail di sini. Misi rahasia Joe yang ternyata bersifat personal pun semakin terkuak.
Masih konsisten dengan bintang 3. Entah kenapa agak susah payah untuk aku menyelesaikan bacaan buku ini, karena sedikit bertele-tele. Beberapa interaksi yang tidak banyak menyumbang ke alur cerita aku skip. Setelah sadar memang banyak kejanggalan soal mercusuar dan histori hamba agung, di bagian ini aku serasa ingin cepat-cepat mengetahui kebenarannya, sehingga hal-hal emosional atau romance di buku ini aku lewati, entah kenapa kurang menyentuh juga.
Woaaahhh sampai sini aku masih takjub dengan ide ceritanya! Perdebatan Pak Rozaq dan 'Tazky' soal agama cukup bikin berpikir dan sedikit tertohok, merenungi kembali Sila ke-1
Turut sedih dengan nasib Bri yang agaknya bakalan persis Wor si kakak dalam urusan cinta. Tapi ya emang begitu aturannya hhmmm
Kali ini penasaran soal hubungan Sir sama Hamba Agung Dei dan misteri Mercusuar.
akhirnyaaa, selesai juga buku kedua, hehe. just as i imagined it, buku kedua makin seru dan udah mulai masuk ke inti permasalahannya. hope there'll be something much more fun than this second book! 🫶🏻💯
Jadi makin penasaran, sebenarnya ada apa dengan Dei, dan apa hubungan antara Tazky dan Dei sampai-sampai Joe mau nyamar jadi Tazky. Kisah cinta tokoh-tokohnya tragis semua, gak bisa bersatu semua kah?
Awalnya sempat bingung Joe itu siapa, tazky juga siapa. Alurnya maju mundur jadi harus fokus baca nya. Tapi cerita seru, misterinya mulai berasa di buku 2. Jadi penasaran Hamba Agung Dei itu ngelakuin dosa apa sampai orang-orang di Tingka sebegitunya
Aahh buku kedua nya nambah seru sihh. Gak kerasa udah baca sampe halaman 136 wkwkwkw. Lebih bikin nangis jugaa :( sedih bgt pas part Nis. She is such a sweet girl tapii banyak banget cobaanya.. sedih juga sama kehidupan ibunya Nis, Kisah cintanya Wor dan Joe.. semuanya bikin mewek.
Alhamdulillah udah ada konflik yg ditunjukin. sempet agak kesel karena udah halaman ke sekian kok hal2 yg buat pembaca (aku) penasaran blm ada hilal sdkt pun—walau aku udh bisa ngira2 sdkt akan gmn selnjtnya, TAPI tetep kok kyknya suweeene ram 🫠
Buku ini ngelanjutin volume 1. Masih dengan pulau Tingka dengan cerita warganya + Joe dengan penyelidikannya.
Di volume 2 ini menurutku agak ngebosenin karena dia isinya flashback mulu dan bentukannya monoton: latar masa depan --> si orang flashback deh. Mayoritas chapter di volume ini formulanya begitu deh seingetku.
Gak ada bagian gongnya menurutku di volume ini. Bener-bener cuma perantara volume 1 ke volume 3 aja.