“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
Kata “saudara-Ku yang paling hina” menurut pengertian saya adalah orang-orang yang sering dihina karena keadaan mereka ataupun orang-orang yang menderita dengan segala kekurangan mereka.
Efim Scheveloff dan Eliyah Bodroff, dua lelaki tua yang mendapat ilham untuk pergi dan bersembahyang kepada Tuhan di kota Yerusalem yang kuno.
Efim adalah seorang yang sangat bersahaja. Dia tidak minum vodka, tidak merokok, tidak suka tembakau, dan tidak pernah mencaci-maki seumur hidupnya. Dia adalah seorang warga negara yang tertib dank eras.
Eliyah adalah seorang yang tidak kaya, namun tidak juga miskin. Ia adalah seorang kakek tua yang baik hati, periang, dan suka minum vodka, merokok, dan mendengarkan nyanyian. Dia seorang yang suka damai dan hidup rukun dengan anggota keluarga dan para tetangganya.
Sekian lama mereka berdua batal untuk berangkat ke Yerusalem, karena Efim terlalu terikat dengan pekerjaannya, disamping dia tidak percaya kepada anaknya untuk menangani usahanya selama dia pergi. Namun akhirnya, Eliyah berhasil mengubah pikiran Efim untuk pergi bersama-sama ke Yerusalem selama mereka berdua masih hidup dan sehat. Dan, pergilah mereka berdua…
Di perjalanan, mereka sampai di suatu tempat yang terserang penyakit dan kelaparan. Seolah-olah tidak ada tanda-tanda kehidupan tempat itu. Eliyah memutuskan untuk berhenti ditempat itu untuk sekedar minum dan melepas lelah sejenak. Namun, Efim yang memang lebih kuat memutuskan untuk tetap berjalan. Eliyah berkata bahwa dia akan segera menyusul Efim setelah dia minum dan beristirahat.
Kemudian, Eliyah mendatangi sebuah gubuk untuk meminta air minum. Tapi, dia malah menemukan sebuah keluarga yang hampir mati karena terserang penyakit, kehausan dan kelaparan. Hatinya tergerak untuk menolong mereka. Awalnya, dia hanya ingin memberikan pertolongan ala kadarnya, tapi akhirnya hatinya terpanggil untuk menolong keluarga tersebut secara utuh. Dia menghabiskan uang, yang seharusnya digunakan untuk biaya perjalanan menuju Yerusalem, untuk membeli makanan, ternak, dan sebidang tanah untuk keluarga tersebut. Kemudian, dengan diam-diam, Eliyah pulang ke rumahnya dan disambut bahagia oleh keluarganya. Pertanyaan demi pertanyaan di ajukan tentang kenapa Eliyah pulang lebih cepat.
Namun, dia berkata,” Tuhan mungkin melihat bahwa aku tidak cocok untuk mencapai niatku.”
Sementara itu, Efim tetap melanjutkan perjalanan dan berhasil tiba di Yerusalem. Namun, dia tidak pernah bertemu dengan Eliyah dalam perjalanan. Jadi, dia berkesimpulan kalau Eliyah tidak pernah sampai di Yerusalem. Pertama-tama, Efim, bersama peziarah lainnya, mengikuti kebaktian di Biara Gerika, kemudian ke Gereja Makam Suci, lalu ke Biara Abraham di Taman Saveki. Hari berikutnya, para peziarah, termasuk Efim, pergi ke misa pagi di Gereja Kebangkitan. Orang-orang sangat ramai dan berdiri dengan rapat. Ketika Efim melihat ke arah depan, dia melihat sesosok wajah yang dikenalnya. Dia adalah Eliyah Bodroff!!! Dia sangat yakin dengan hal itu. Dan, dia sangat senang dia menemukan temannya di Yerusalem. Tapi, ketika dia berusaha mendekati Eliyah, kerumunan orang-orang menghalangi usahanya. Eliyah pun menghilang.
“Sepertinya dia melewatiku dalam perjalanan dan berhasil sampai di Yerusalem,” batin Efim. Dia mencari-cari ke seluruh penginapan, namun dia tidak menemukan Eliyah.
Hari-hari berikutnya, dia kembali melihat Eliyah ketika dia sedang berziarah di Makam Suci ataupun ketika mengikuti misa atau kebaktian. Namun, orang-orang yang berjejalan kembali menghalanginya untuk bisa mendekati Eliyah.
Setelah menghabiskan enam minggu di Yerusalem, Efim pulang ke rumahnya dengan membawa oleh-oleh kemeja dengan cap Makam Suci, air dari sungai Yordan, serta tanah dan lilin dari tempat-tempat suci. Sebelum sampai di rumahnya, dia sempat mampir di gubuk yang pernah di datangi Eliyah. Penghuni gubuk itu bercerita gembira bagaimana mereka semua dulu hampir mati karena sakit dan kelaparan, hingga seseorang, entah manusia atau malaikat, datang menolong dan menyelamatkan mereka. Mereka memang tidak sempat mengetahui siapa Eliyah.
......
Bukankah kita sering terlalu jauh mencari Tuhan, mencari tempat yang paling jauh untuk mengabdi kepada-Nya. Padahal Tuhan berada dekat dengan kita, berada di sekitar kita.
......
Cerita di atas adalah salah satu dari beberapa cerita yang ada pada buku kumpulan cerita karya Leo Tolstoy, “Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu”. Selain cerita yang berjudul “Ziarah” tadi, masih ada beberapa cerita yang sangat menggugah, diantaranya tentang betapa serakahnya manusia dalam “Berapa Luaskah Tanah Yang Diperlukan Seseorang?”, dan juga tentunya “Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu”.