Hati-hati ya, Shay. Kencan pertama memang selalu bikin detak jantung error. Bikin taman bunga mendadak mekar di hati lo. Tiba-tiba rasanya ada harapan masa jomlo akan cus berakhir. Tapi ini justru saatnya, kedua kaki lo mesti kencang menapak bumi. Jangan sampai lo terjebak halu. Dan akal sehat gak boleh kalah sama jiwa bucin lo. Karena dari kencan pertama aja, lo harusnya udah bisa mengukur “si dia” itu spesies apa. Kenali tanda-tandanya. Apa dia benar menghargai lo? Atau lo itu hanya alasan untuk move on dari mantannya? Paling gak asyik kalau ternyata lo hanya jadi salah satu gebetan yang ada di bucket list dia. Kalau kencan pertama udah basi, buat apa lanjut?
Sekar Ayu Asmara lahir di Jakarta, Indonesia. Menghabiskan masa kecil berpindah-pindah di beberapa negara mengikuti karier diplomat ayahnya. Pernah menetap di Afghanistan, Turki, dan Negeri Belanda.
Semua bidang seni yang ditekuni, dipelajari Sekar secara otodidak. Baik itu sebagai sutradara film, pelukis, produser musik, penulis skenario, maupun penulis novel.
Film pertamanya, Biola Tak Berdawai, mendapatkan anugerah The Naguib Mahfouz Prize di Cairo International Film Festival 2003. Penghargaan bergengsi ini diberikan kepada sutradara film pertama. Film ini juga dianugerahi penghargaan Best Actress untuk Ria Irawan di Asia Pacific Film Festival, Shiraz, Iran 2003. Sementara Bali International Film Festival, Indonesia 2003, menganugerahkan penghargaan Best Actor bagi Nicholas Saputra dan Best Music untuk Addie MS.
Film keduanya, Belahan Jiwa, juga memenangkan penghargaan The Best International Feature Film di ajang New York International Independent Video and Film Festival 2007.
Sekar telah menerbitkan tiga novel: Pintu Terlarang, Kembar Keempat, dan Doa Ibu. Film Biola Tak Berdawai dinovelisasikan oleh Seno Gumira Ajidarma. Sementara novel Pintu Terlarang telah diangkat menjadi film layar lebar oleh Joko Anwar. email: xekarayu@gmail.com
aku baca buku ini gak nyampe 30 menit. aku kira bakalan seru dan bakalan berisi tips-tips yang oke, but turns out this out of my expectation hehehe. sebenarnya aku mau ngasih bintang 1 sih, tapi aku suka sama ilustrasinya yang eye-catching banget. menurutku isinya biasa aja, cenderung garing dan yah ada beberapa bagian yang aku gak setuju dan relate. mungkin bagi sebagian orang sah-sah saja sih, but for me is a big no. tapi balik lagi sih dengan selera orang masing-masing, karena ini aku menilai secara subjektif saja hehehe.
baca buku ini demi modal first date? tentu saja nggak perlu bund, isinya lebih kayak thread twitter aja sik, ada poin yang intinya bisa jadi dibikin satu tapi sengaja dibreak ke beberapa poin (kayak jangan ngedate sama cowok yang ajak emaknya, bapaknya, kakak cewek/cowoknya, adik cewek/cowoknya, keluarganya) atau pas si cowok ajak satu temannya, dua temannya, tiga temannya, sampe segeng, kek apa banget 🙃
sayang banget pemilihan jenis font untuk tulisannya kurang catchy, ilustrasinya bagus, selebihnya hmmm...
menurutku ada hal² yg agak bikin kzl juga sih, salah satunya jangan lanjut ngedate sama cowok yang bayar makan patungan, LIKE WTH BANGET, kalo emang si ceweknya mampu dan gak masalah buat bayar sendiri-sendiri, ngapa dah? lagian yang kayak gini gini nih kesannya bikin cewek matre dan bikin cewek mikir ywdhlah kalau ngedate harusnya dibayarin cowok, terlepas lo feminis kek nggak kek, yang satu ini gak patut ditiru sih
cuma baca poin poinnya aja, dan sebenarnya gak dibaca pun kita pasti taulah hal-hal yang perlu dihindari kalau mau first date, kalaupun kejadian ya cukup tau, toh daripada gak first date gakan pernah tau/ngalamin hal kayak gitu
LAGA LU CIP CIP KEK PERNAH NGEDATE AJA LU? mpus.
This entire review has been hidden because of spoilers.
One thing i like abt this book is the illustration that so eye catching
Gaya tulisannya hmm Ada beberapa topik jga yg diangkat disini yg aku agak kontra “Seperti cowo yg selalu harus bayar makanan.” I think it's okay to split the bill karena relationship itu saling melengkapi kan masa bayar makanan pas date aja pusing
Baca ini karena iseng dan gak ngantri di ipusnas, pas tau isinya begini mending kaga baca sekalian wkwkwk, isinya full of toxic masculinity. Cowok jangan skincare-an lah, jangan pake lipgloss, gak boleh split bill, jangan wangi-wangi; 5W1H banget alias waduh waduch waduch waduh waduh HADEHHHH
Isinya tentang 50 tanda kenapa kencan pertama kalian gak usah lanjut... versi penulisnya tentunya. 🙈
Entah kenapa sama sekali gak related sama pengalaman pribadiku. Mungkin karena aku kurang gaul, bukan anak jaksel, daaaaaaaan cuma pernah kencan sama yang bener-bener aku kenal, bukan kenalan dari medsos maksudku (iya, aku tau kalau aku kuper 😞)
Rasa-rasanya, semua cowok di buku ini jadi serba salah gitu, lho. Si cowok dandan salah, gak dandan juga salah. Cowoknya bau salah, wangi juga salah. Cowoknya perokok salah, yang bukan perokok juga salah. Terus yang cocok tuh yang gimanaaaaa? Ingat, gak ada cowok (dan cewek juga) yang sempurna. Kesempurnaan itu hanyalah milik Tuhan semata.
Dan lagi, entah kenapa bahasanya agak ngegas dan julid gitu gak, sih? Mungkin ini si penulis cuma pengen ngajak bercanda para pembacanya, deh. Bukan serius. Jadi sepertinya gak usah terlalu diambil hati. 🤣
Jarang-jarang nih ngasih bintang 1 😂 Saya tertarik buku ini karena ilustratornya eMTe dan menurut saya kencan pertama itu topik yang memang cocok banget dieksplor jadi komedi. Waktu beli optimis bakal menarik.
Sesuai judulnya ada 50 + 1 poin soal petaka kencan pertama. Setiap poin jadi 2 halaman, 1 halaman tulisan, 1 halaman sebelahnya full ilustrasi. Ilustrasinya seru sih dan ada komedinya khas eMTe lah (misal nama stall Kebab-nya 'KebabLasan').
Namun... isi tulisannya nggak cocok sama saya. Baik kontennya maupun jokesnya 🥲 Nggak relate, nggak lucu dan kebanyakan nggak perlu. Tapi ya review mah subjektif yaa.. siapa tau untuk kamu relate & lucu 😊
Emang iya nih jurus 'jadi diri sendiri' aja pas first date itu enggak cukup? beneran?
Kayaknya sih bener deh! Soalnya, kalau 'jadi diri sendiri' aja udah cukup, ntar buku ini enggak ada dong... wkwkw...
Sebagai ksatria kencan pertama harus ada dong ya indikator-indikator yang baik buat menilai seberapa berkualitasnya sih kencan pertama kita ini. Boleh dong diukur gitu... kan demi masa depan bersama juga.. cieelah, dah..
Buat yang akhir pekan nanti mau "first date" boleh banget loh baca buku ini. Biar sukses kencannya! Etapi mukanya jangan serius banget gitu dong. Santai....
Bukunya juga santai banget kok! Jangan ekspektasi indikator yang super serius penuh pengetahuan ya di buku ini. Buat seru-seruan receh aja kok... Hahahaha...
Suka sama ilustrasinya. Berisikan tips apakah kencan pertama perlu dilanjut ke kencan berikutnya. Hanya saja tips nya banyak yang kurang pas kalau buat saya (masalah personal aja). Buat saya, mungkin kalau hal yang enggak prinsip kaya merawat diri — facial, pakai parfum (tapi bukan parfum yang kebanyakan alkoholnya), even pakai lipbalm ya gpp kalau emang perlu. Sekali lagi hanya preferensi saja, dari seseorang yang gak tinggal di Jakarta.
Gue gak baca sampe selesai, sih. Sumpah, jokes-nya kok kayak ketinggalan jaman banget, ya, semacam jokes orang pacaran tahun 2000-an *sotoy. Tapi, serius, yang bikin gue kasih buku ini bintang 3 cuma ilustrasinya yang cukup oke dan juga colorful. Selain beberapa jokes terkesan jayus, rada kasar juga.
Sebagai penyukai ilustrasinya EmTe, saya langsung baca deh buku ini setelah nongol di Gramedia Digital. Gak nyangka juga ternyata sekarang Sekar Ayu Asmara nulis buku beginian, anak muda banget gitu.
Dengan bahasa yang jelas kekinian sekali, saya merasa gak percaya Sekar Ayu Asmara bisa bikin buku seperti ini. Jelas sasarannya adalah anak muda yang suka dengan ilustrasi menawan dan tips relationship. Kali ini KItab Kencan memang gak ngomongin semua kencan, tapi khusus ke kencan pertama, perlu dilanjut atau gak? kira-kira begitu.
Saya cukup menikmati kalimat demi kalimat dalam buku tips ini, tapi untuk tipsnya sendiri saya merasa ada yang dipaksakan sehingga kayak dibuat-buat gitu biar genap jadi 50. Ilustrasinya sendiri suka banget. EmTe memang keren sih ya bikin-bikin begini.
Kukira akan suka dengan buku ini karena ilustrasinya yang apik dan bahasanya yang ringan (plus pendek di setiap chapter). Sebelum mau agak komen nyinyir, aku mau kasih apresiasi, mungkin akan ada yang suka dengan selera humor dan setuju dengan poin yang diangkat penulis.
It's not my cup of tea. Disclaimer, aku belum pernah mengalami kencan pertama. Tapi, makin baca ke belakang, makin geregetan rasanya sama sudut pandang si cewek. One thing I can conclude: She is too quick to judge dan bikin judgementnya pun bukan yang wholesome. Ini si mba merasa dirinya sempurna amat kalik ya, sampai susah banget deh kayaknya ada laki-laki yang bisa nggak bikin ilfil. Hal yang ngeselin ya kayak si cowo selalu serba salah: datang nggak wangi salah, kalau wangi ngalahin si dia juga salah. Apa yang membuatku kurang bisa relate juga, penulis masih memiliki beberapa pandangan terkait maskulinitas yang buatku nggak perlu dipermasalahkan, seperti melakukan perawatan wajah yang baik, wangi, pakai skincare atau kosmetik (misal lipcare, padahal itu umum).
Ada hal yang nyebelin juga, bagian kalau he brought his brother or friends yang lebih kaya atau cakep, eh langsung mau melipir aja dan mengabaikan si cowo yang supposedly be her date. Dan ini berulang-ulang disampaikan pada beberapa chapters. Hyprocite-nya, saat si cowo noleh kiri kanan karena (mungkin) ada cewe atraktif yang bikin refleks nengok, si mba langsung nge-black list. Pengen bilang: Lah mba, kamu aja setiap si cowo bawa temen atau saudara yang lebih kaya atau cakep (atau keduanya) langsung bikin skenario di kepala biar dapet kontaknya dan nggebet mereka. Like, hypocrite much? (maaf kepancing emosi dikit haha).
To end this, I want to cite this beautiful quote from one of my favorite musicians, Tablo.
"Don't be so quick to rule out someone or something. Because you might actually be rejecting an opportunity to really know somebody and to really see beauty."
Awalnya aku tertarik dengan buku ini karena ilustratornya Emte. Ngeliat sampulnya aja udah cukup buat bikin aku penasaran mau baca isinya, meskipun tentu saja ga berharap akan belajar banyak dari buku ini (dari judulnya aja udah jelas ini buku komedi). Lalu sempet ngeliat review salah satu temen yang menilai buku ini sangat rendah, kuurungkan niatku untuk membeli. Akhirnya, setelah ketemu dan kenalan dengan ilustratornya sendiri malah jadi tertarik untuk beli lagi. Yauda deh coba beli mumpung ada diskon.
Jujur aja, dengan berat hati kuberikan rating ⭐️⭐️ untuk buku ini. Meskipun udah tau jangan nganggep serius hal-hal yang tertera dalam buku ini, tapi sebagai jokes pun menurutku banyak bagian yang nggak oke. Banyak "tanda-tanda" yang menurutku nggak sesuai zamannya (menganut prinsip kuno yang mengarah ke sexist dan standar ganda), pun misalnya ini bukan untuk dianggap serius. Mungkin juga karena prakatanya nggak menjelaskan premis dari buku ini (misal: tanda-tanda yang ada di buku ini itu testimoni banyak perempuan atau hanya untuk orang-orang yang gak masuk akal atau semacam itu), jadinya orang juga gatau ini si penulis serius apa nggak sih sama apa yang dia tulis dan sejauh mana candaannya.
Selain itu, menurutku penulisnya terlalu berusaha untuk terdengar muda/relevan dengan anak muda. Emang nggak salah gaya bahasa yang dia pakai, tapi karena terlalu berlebihan jadi terkesan dipaksakan. Awalnya sih ngga, tapi lama-lama jadi berasa risih juga (apalagi tanda-tanda yang dijabarkan nggak sesuai dengan prinsip pembaca).
Meskipun begitu, secara visual aku tentu saja sangat menikmati buku ini. Kalau kuabaikan tulisannya, aku masih bisa menikmati buku ini, karena ilustrasi dari Kak Emte betul-betul jenaka dengan style Archie comics yang lucu. Itu udah gak perlu diragukan lagi, tentu saja.
Sayang banget, padahal konsep buku ini bisa jadi sangat menarik. Tapi hasilnya yang ada malah cringe :(
ilustrasinya eye-catching dan lucu. but this book just not my taste.
aku baca ini modal kepo aja karena kebiasaanku sebelum baca buku ga baca sinopsis, jadi misal ga sesuai ekspektasi ya mau gimana lagi. 🤷🏻♀️ anw, baca aja di ipusnas banyak stoknya.
graphic novel yang isinya quotes singkat atau pesan-pesan singkat buat kamu yang mau berangkat first date. mungkin buku ini bukan buku yang serius ngasih tips-tips buat orang yang mau kencan pertama. karena sebenernya isi buku ini tuh dikemas dengan bahasa atau pembawaan yang komedi. banyak pesan-pesan yang disajikan tuh sebenernya juga lebih ke pandangan subjektif atau pribadi dari penulis kali ya.
entah kenapa banyak hal-hal yang penulis sampein tuh malah bakal memicu perdebatan dan muncul kontra wkwkwk. aku salah satu pembaca yang banyak kontra sama petuah-petuah dalam buku ini. idk apakah isinya emang cuma buat lucu-lucuan, tapi malah kayak menyebalkan gitu loh. 🥲
sayang banget karena aku kayak merasa menemukan toxic masculinity di dalam buku ini. beberapa contohnya (aku tulis sesuai nomer pesan di buku): 11. cowok datang lebih wangi daripada cewek. kata penulis salah takdir, harusnya wanita yang lebih wangi. 13. bibir mengkilap menggunakan lipgloss. dilanjut dengan kalimat seperti, “jangan-jangan dia gamau keluar rumah kalo belum pakai sunscreen”. 15. kulit muka kinclong habis perawatan. cowok gausah ikut-ikutan perawatan, katanya.
hm, sangat disayangkan kenapa harus ada pandangan yang boleh/wajar merawat diri cuma cewek sedangkan cowok engga??? aneh. aku kurang tau apa maksud dari penulis nulis hal ini, apakah cuma sebatas sindiran? atau sarkas? tapi menurutku kurang aja sih… 😬🙏🏻 di sisi lain applause untuk ilustratornya!! 👏🏻
I was reluctant to read this book because the review didn't even reach 2.5. But because yesterday Gramedia, in its post, suggested reading picture books. I decided to read this book.
This book wants to be taken casually and flow with a humorous style, but the humor is always not even there. The punchline doesn't get it at all. In addition, the point of view that always cornered one party, namely men, also annoyed me by toxic masculinity. For example, a man who smells too good and whose face is smooth because of skincare and body care or a man who asks to pay for sharing. Well, many values have put down men but do not elevate women's status. I don't know who was used as a model for inspiration in this book, but the labeling of each character could be more realistic and superficial.
The plus point is that the cover of this book is attractive, and the graphics of this book are also beautiful. Other than that, there are no plus points from this book.
Buku cantik tapi tidak ada isinya. Ilustrasi gambarnya bagus sekali, tetapi ilustrasi ceritanya banyak yang tidak masuk akal, maksa, hampir tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Ditulis dari sudut pandang yang menilai orang lain dari penampilan dan kepunyaan, ditujukan khusus untuk orang Jakarta kelas menengah-atas. Dari lima puluh situasi yang digambarkan, cuma beberapa yang masuk akal dan bisa menjadi pelajaran. Saya bahkan tidak yakin ini ditulis berdasarkan pengalaman sungguhan orang-orang nyata. Rasanya lebih seperti situasi lucu yang dikarang-karang untuk novel komedi. Atau mungkin buku ini sebenarnya memang buku humor berbulu nasihat kencan dan saya saja yang salah cara menanggapinya.
apaan sih ini buku gak jelas banget isinya, terus sindiran di bukunya juga gak bermutu. pas baca isinya menyesal, gak banget. gak liat review goodreads dulu klo tahu begini mending kaga baca sekalian, merusak hari. isinya full of toxic masculinity. Cowok jangan perawatan-an lah, males nungguin, kecuali dibayarin, lah matre juga dong? lagian klo cewek yang perawatan cowoknya disuruh nungguin, klo perawatan bareng apa salahnya heran. jangan pake lipgloss nanti gak mau keluar klo gak pakai sunscreen umpetin lotion import lo, lah pakai sunscreen mah cowok juga boleh kali, jangan wangi-wangi, parfum isi ulang bisa bikin orang meninggal. sumpah nyesel banget baca ini, menimbulkan sensasi mual, muak, geli, kesel.
Aku gak ngerti maksud penulisnya nerbitin buku ini tuh apa. Ngasih saran? nasehat? ngelucu??? Gak ada yg berhasil. Yang ada cringe banget.
Buku terbit tahun 2021 dan menyasar generasi muda, tapi bahasa yang dipake malah slang gen x (bo, cyn, shay). Udah gitu seksis banget, bilang kalo seolah cowok pake sunscreen dan skincare itu hina banget. Sangat-sangat out of date. Yang kayak gini ini lolos terbit tahun 2021? Oleh Gramedia Pustaka Utama? Beneran? Udah gitu sok paling jaksel pula anjayyy. Bahkan ilustrasi emte gak menolong buku ini sama sekali. Yang ada aku malah mempertanyakan kenapa emte mau bikin ilustrasi buat buku ini. Kalo penasaran sama bukunya mending pinjem di ipusnas aja buat scroll isinya. Gak sampe 10 menit juga selesai.
Baca ini sebenernya iseng karena nemu pas scroll-scroll buku di iPusnas 👁️👄👁️🤌🏼✨
I read it and take it with a grain of salt, though. Awal-awal, poinnya lucu, pas agak ke tengah mulai shaming(??) cowok yang pake lipgloss sama gamau keluar rumah tanpa sunscreen (like, what's the matter, mate? 🤷🏻♀️). Tapi yah, aku anggep sebagai jokes receh aja 👀
Aku juga suka ilustrasinya, paling suka yang di bab 30 sama 41. Unik aja dan pilihan palet warnanya bagus 👍🏽🌟
Terakhir, aku baca sampe akhir karena banyak situasi aneh dan nyebelin, yang bisa jadi inspirasi buat nulis novel. Lucu aja dan nambah perspektif 🤭🙈
2⭐ untuk ilustrasinya!! Sukaa. Bacaan sekali duduk gak nyampe 10 menit! Isinya ringan, tentang apakah kita harus melanjutkan hubungan ini atau tidak jika bertemu cowo yang blablabla.
Ada beberapa poin yang ga sependapat sihh, salah satunya split bill saat makan bareng dan cowo yang skincare an. Hmm gak ada yang salah sama split bill, lagi pula itu kesepakatan dua belah pihak. Sama-sama enak. Cowo pakai skincare? Gak salah sama sekali. Apa yang salah dari merawat diri? Kecuali berlebihan, itu lain hal.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Lucu! 😂 Bacaan yang singkat, gak penting, dan lucu. Ini dibaca 10 menit juga habis, dan pasti senyam senyum sendiri pas bacanya.
Kaget sih baca rating & reviewnya rendah banget, mungkin mereka gak ngerti ini tuh lebih ke komedi dan sarkasme. Dan mengharapkan panduan kencan yang asli, atau gak lebih gak seksis daripada ini 🥲
Setengah buku ini animasi, dan animasinya topp mantap.
P.S: nasihatnya banyak yang seksis dan ngawur, bacanya jangan terlalu serius! Aku juga gak setuju sama beberapa (banyak) poinnya, but it meant to be sarcastic anyway.
buku ini menang karena ilustrasinya yang menarik. isinya bukan cerita, cuma petuah-petuah ringan yang mau dikemas secara remaja dan komedi tapi malah ga jelas. entah ada yang beli ini secara fisik atau ngga, tapi kalau aku sampai selesai baca ga minat buat beli kecuali bertujuan buat koleksi atau dipinjemin ke orang. sama sekali ga worth it. cuma kayak tulisan yang harusnya di-post di instagram tapi dikemas dalam sebuah buku. entahlah, kayak bukan sekar ayu asmara yang bikin. mana banyak isinya yang menurutku bakal bertentangan sama banyak orang, hahaha
Baca karena katanya original series Kitab Kencan di Vidio itu adaptasi dari buku ini.
50 tanda saat first date yg sebagian memang bikin ilfill (gak mandi, dateng telat, ngejelek-jelekin mantan, dll) sedangkan sebagian lagi mah preferensi masing-masing (split bill).
Sayangnya gak dijelasin kalo ada tanda-tanda yang ngejurus manipulatif, gaslating, atau emotional abuse. Itu yang lebih penting kan buat dilihat dan diwaspadai.
Gaya bahasa dibikin santai tapi berasa di-judge & dilarang-larang.
Entah kenapa saya tidak menemukan tips kencan yang menarik dari buku ini karena hampir kurang lebih tips yang diberikan ini sudah pasaran dan lumrah diketahui banyak orang. Seperti halnya, kita disuruh menghentikan kencan saat lawan kencan kita tidak tepat waktu, bau badan, tidak rapi, dll. Tapi, nilai plus dari buku ini terletak pada ilustrasinya sih. Saya suka dengan visual dari buku ini yang cukup banyak.
"Jangan berekspektasi lebih" agaknya memang harus diterapkan dalam segala situasi. Ekspektasi tidak hanya dilakukan ketika berkencan, tetapi juga ketika kamu memutuskan untuk membaca suatu buku, termasuk buku ini.
Mulanya saya sempat bingung, buku puisikah ini? Buku kiat-kiat berkencankah? Atau buku komedi yang berhumor tinggi? Alih-alih menyetujui isinya, banyaknya saya berpikir, apa betul orang-orang mengalami setidaknya satu hal dalam buku ini ketika mereka berkencan? Buku yang harusnya saya nikmati setiap kelucuannya, malah saya pikirkan sebegini dalam.
Terlepas dari isinya, buku ini memiliki ilustrasi yang 'eye catching'. Vibes abg kasmarannya sangat terasa. Kolaborasi yang ciamik!
Kitab kencan adalah sebuah visual book yang membahas tanda-tanda kencan pertama kamu telah gagal dan kamu diwajibkan mundur segera. Ilustrasi di buku ini banyak dan menarik disertai poin-poin yang ditulis singkat dan jelas. Buku ini sendiri dikemas untuk lucu dan menghibur karena tipsnya sangat anti maistream. Contohnya, kamu harus mundur jika di kencan pertama "Dia ngajak makan sate tapi Vegetarian" atau "Kencan pertama dia bawa seluruh keluarga ikut". Random tapi lucu
Awalnya aku merasa butuh bacaan ringan, terus kebetulan dapat antrean buku ini di iPusnas, jadi aku baca dan ya, ini buku yang cocok sebagai bacaan ringan.
Buku ini menjabarkan—secara ringkas—50 tipe cowok yang harus dihindari saat kencan pertama. Beberapa partnya agak toxic masculinity ya, tapi menurutku ini humor sih jadi, ketawa aja. Tulisannya gaul dan gampang dicerna. Ditambah ada ilustrasi yang keren abis. Perpaduan yang cukup ok buat bacaan ringan.
Ini tuh kayak kita baca tweet dari akun random yang ngetweet pengalaman ngedate gitu. Bagusnya buku ini karena emang ilustrasinya yg bagus. Gaya bahasanya emang gak formal jadi berasa lebih nyantai aja. Tapi, ada beberapa bagian yg aku rasa bahasanya kayak maksain biar gaul gitu. Mungkin ini emang diperuntukan untuk anak remaja kali ya. Biar lebih bisa milih2 pasangan biar ntar gak kecewa haha. Biar gak ngalamin kayak yg di buku ini pas di kencan2 selanjutnya.