"Ada benda yang kucari. Barang berharga. Sebuah pusaka. Sangat penting, tapi belum ketemu sampai sekarang. Aku ingin kalian bantu aku menemukannya," ungkap Arka, si pemilik kosan.
Di dunia yang memaksa semua orang untuk serupa, yang Kali, Badran, dan Ilyas inginkan hanya bebas. Menggagas. Mengganas. Kemudian, lepas.
Namun, permintaan Arka untuk mencari pusaka di dalam rumah indekosnya membuat mereka bertiga tidak bisa ‘bebas’ begitu saja. Demi iming-iming sewa kosan gratis, mereka pun bekerja sama untuk memecahkan teka-teki rangkaian pusaka yang tersembunyi di dalam rumah indekos sekaligus—secara tak terduga—menguak rahasia terbesar satu sama lain.
Ini hanya kisah pemberontakan lainnya; melibatkan pencarian pusaka, tamu-tamu misterius, penelusuran masa silam, dan semuanya bermula dari sepetak rumah indekos di ujung jalan.
PLIS. KALIAN. HARUS. BACA. BUKU. INI. 💖 pelajaran hidupnya dapet, heartwarmingnya dapet, romancenya dapet, kekeluargaannya dapet, pertemanannya dapet, permasalahannya dan konfliknya dapet, plot ceritanya luar biasa. SERU dan PAGE TURNER banget. 🥰🥰✨
Buku ini menceritakan tentang 4 manusia yang disatukan lewat takdir di suatu kosan, yaitu Kali, Badran, Ilyas, Arka. Awal cerita, pada masing-masing karakter (karena emang belum saling kenal) masih menyebalkan sih haha, karena punya sifat dan kepribadian masing-masing, jadi kayak masih mempertahankan egonya, kurang komunikasi, saling nge-judge, masih di tahap perkenalan dan adaptasi. Semua berubah ketika Arka, si pemilik kosan, menyuruh mereka berkumpul lalu mencari rangkaian pusaka yang tersembunyi di kosan. Kayak memecahkan teka-teki gitu. Dengan iming-iming sewa kosan gratis, ya mau gamau, Kali, Badran, dan Ilyas gabisa nolak, lumayan kan. Mereka pun terlanjur masuk ke dalam “permainan” Arka. Dari pencarian pusaka inilah, rahasia masing-masing terkuak. Ternyata mereka memiliki latar belakang masalah yang berbeda-beda. Kali yang bermasalah dengan orang tua, hubungan pertemanan, akademik telat, dan dirinya sendiri, dia juga pernah berencana untuk bund*r. Badran yang bermasalah dengan orang tuanya yaitu ibunya yang akan menikah lagi. Ilyas yang bermasalah dengan keluarganya dan akademiknya, di pertengahan ada plot twist juga :”). Arka yang bermasalah dengan kedua orang tuanya dan punya kenangan lama akan neneknya. Intinya mereka semua punya permasalahan yang mirip.. jadi mereka bisa merasakan dan punya empati tinggi satu sama lain. Mereka cuman butuh tempat cerita, keluarga utuh, dan butuh didengarkan dan ditemani. “Permainan” Arka itu sebenarnya….. (plot twist), dan happy ending sih ;) aku suka penyelesaian masalah masing-masing. Happy for u Kali, Arka, Badran, dan Ilyas. Terharu :”).
Alur cerita dari awal sampe akhir ga ngebosenin, aku suka masing-masing karakter berkembang semakin membaik sampai akhir. Ada banyak plot twist kecil juga selama konflik terjadi haha. Part favoritku adalah tentu saja scene KALI DAN ARKA. Plis, pengen satu cowok yang kayak Arka, ada ga ya? Kali mirip sama aku masalahnya, untuk beberapa hal, pikiran dan mindset dia.. pokoknya negatif banget. Dia bisa berubah gara-gara Arka yang mau jadi pendengar yang baik dan memberikan nasihat kepada dia. Berjalan terlalu jauh, sampai keduanya tumbuh perasaan masing-masing. 💘 . Kak Nellaneva ga pernah gagal sih bikin cerita. Ciri khasnya pasti ada petualangan dan teka-tekinya kayak Tujuh Kelana dan Palagan Nusantara, tapi yang ini unik + menarik karena ada slice of life-nya. Terus aku suka banget ini latarnya di Bandung, dan kayaknya ITB sih Kali dan Badran kuliahnya haha.
- ps. jadi pengen nyobain masakan badran haha.
Insights for Life: - Semua orang punya penderitaannya dan ujian hidupnya masing-masing. Jangan sangka yang keliatannya baik-baik aja padahal nggak juga. - Manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. - Jangan cuman ngeliat dan ngejudge orang dari luarnya aja, justru dia berperilaku seperti itu pasti ada alasannya kenapa. - Kita perlu berusaha untuk membuka diri, menghadapi, berdamai, dan menyelesaikan masalah yang ada dalam diri kita secara pelan-pelan - Ada orang yang peduli dan mau bantu kita buat nyelesain masalah hidup adalah sebuah privilege. - Jangan ngelakuin hal-hal impulsif yang nantinya malah ngerugiin kamu sendiri. - Dari Arka aku belajar buat punya kepribadian yang kalem, tenang, ga emosian, dewasa, berwibawa, murah senyum, tegas, penyabar, selalu berpikir jernih, melihat segala hal dari berbagai sudut pandang, mau bantu teman yang sedang kesulitan sekaligus teman yang baik, jadi pendengar dan pemberi nasihat yg baik. - Dari Badran aku belajar harus bisa masak, belanja, rajin, suka kebersihan, perfeksionis, peduli, dan teratur. tapi aku kurang suka dengan sifat badran yang ceplas-ceplos, terus suka ngejudge, nyindir, bergosip, kadang bikin sakit hati omongannya haha. - Dari Ilyas aku belajar buat jadi teman yang suportif, hidup santuy, dan YOLO. aku kurang suka dengan sifat Ilyas yang suka keluyuran malam-malam, bolos kuliah, ngerokok, kumpul2 bareng teman di club gitu. - Dari Kali aku belajar buat berdamai dengan diri sendiri, belajar memaafkan dan menerima diri sendiri, mau terbuka untuk cerita ke orang yang sekiranya mau denger, mau berubah jadi pribadi yg lebih baik, jadi kakak yang baik, tetap bimbingan + skripsian walaupun mental terguncang hahaha
Favorite quotes from reading:
> (Page 139-140) Sepele buat orang lain belum tentu sepele buat kita, apalagi kalo bikin mikit lebih baik mati. - Arka. Kamu terus nyalahin diri, padahal semua bukan salahmu. Ada kalanya hal2 berjalan di luar kendali kita. Dan itu wajar. - Arka. > (Page 156) Tapi mau lomba kecil kayak gini atau kehidupan sekalipun, kita enggak perlu terlalu ambisius, kan? - Arka. > (Page 173) Kenapa harus nyiksa diri cuma buat penuhi kata-kata orang? Kenapa harus maksa diri buat kayak orang lain? - Arka. > (Page 174) Justru yg paling sulit adalah memahami yg benar2 kita inginkan tanpa ikut2an orang lain. Otak kita udah terpatri dari kecil untuk ngikutin pola yg sama dengan mayoritas manusia. Emangnya definisi sukses itu apa sih? - Arka. > (Page 216) Kalilan, kan udah kubilang jangan mengerdilkan masalah kalau itu emang ngeganggu. - Arka > (Page 218) Perasaan itu signifikan lho. Itu yg menentukan baik atau jahatnya seseorang juga sehat atau sakitnya kondisi mental kita. Antara menerima dan berdamai dengan perasaan, atau justru menimbun atau menyangkalnya. - Arka > (Page 220) Enggak masalah. Tunggu stabil aja dulu biar kamu tenang. Enggak ada kata terlambat untuk memulainya. - Arka > (Page 231-232) Keberuntungan dan kemalangan, nasib baik dan buruk, kedual itu hal itu ada supaya manusia saling berbagi. Tanteku bilang: satu kebahagiaan untuk satu kemalangan. Ingat aja, kalau sebenarnya kita bisa berguna. - Arka > (Page 311 - 312) Sekitar 90% kegagalan dalam hubungan disebabkan miskomunikasi. Sebagian kasus dikarenakan satu pihak pasif-agresif, sedangkan pihak lainnya memilih untuk menghindar. Jalan keluarnya adalah komunikasi asertif. - Arka > (Page 315) Kayaknya kita harus benahi diri masing-masing, Kal. Bahwa dua orang rusak bisa saling menyelamatkan lewat cinta enggak sepenuhnya benar. Bonding with misery enggak selalu baik. Kita gak butuh orang lain untuk jadi komplit. Jangan beranggapan kalo masalah bisa otomatis selesai begitu ketemu pasangan. Yang bisa menyelesaikan masalah, ya cuma diri sendiri. - Arka > (Page 316) "Aku ga minta kamu nunggu" "Tapi aku mau" "Mungkin nanti. Setelah kita jadi versi terbaik diri masing-masing, di waktu yg lebih tepat. Kita bisa memulai lagi." "Makasih buat selama ini klo gitu. Jaga diri baik-baik” "Kamu juga, jangan celakain diri. Jangan lari, hadapi."
I told myself I will read anything that this author writes and BOI YEAH I NEVER REGRET IT.
Tbh?? Aku gak nyangka bakalan sesuka itu sama buku ini. Mungkin ini buku masuk ke top 3 bukunya ka dhir yang paling kusuka.
/crack knuckles/
as usual, udah jadi ciri khasnya kak dhir kalo mc di setiap ceritanya pasti ada sisi bitchynya (which I love btw) but surprisingly, biasanya aku pasti gedeg dulu awal-awal sama para mc ini karena alasan subjektif, tapi tumbenan gatau kenapa Kali ini lebih lovable? Karakternya ga dipaksa buat dibikin this bitchy annoying girl, enggak sama sekali. Justru dia terkesan ya yaudah ini loh gue apa adanya and I freaking love it.
Storywise, aku suka banget sama flow cerita ini!! Gak terburu-buru, ga bertele-tele, dan ngalir banget. Gak ada adegan yang gak penting, semuanya terencana dengan baik banget jadi ga boros chapter (which i'm jealous of smh, gIMANA CARANYA NULIS SESUATU SECARA PADAT KAYA GINI?!) Tau-tau udah sampe setengah buku aja, terus tau-tau udah mau ending. Dan yang kusuka, setiap karakter di sini gak ada yang asal mejeng aja, bahkan termasuk Wina yang terhitung baru nongol pas bukunya udah 1/3 otw mau ending atau Dali yang jarang nongol. Semuanya ada chara developmentnya dan dapat porsi yang adil.
And I LOVE THE ENDING AAAA, biasanya aku gak begitu suka timeskip ending karena terkesan kaya lazy writing, terus we often missed a lot of stuff, terus hal-hal yang tadinya kayanya gak mungkin terjadi sepanjang plotnya tau-tau terjadi karena simply timeskip (which berasa aneh aja meski sah-sah aja ending kaya gitu) but untuk yang ini aku suka banget tumbenan?? Beneran deh aku kira aku gabakal seenjoy ini ngebaca RanPus, tapi turns out AAAAAA SUKAKKK.
And now untuk secara penampilan, covernya lucu!! Eyecatching banget. Bukunya pw, lentur, gak kaku. Untuk typo aku cuma nemu dikit dan overall dari segi beginian sih udah oke banget.
In conclusion I love everything about this book. Ilyas, The cover, the plot, Ilyas, the writing style, Ilyas, the plot's flow, Ilyas, the character development, Ilyas, the bit of spice of romance, have I mention Ilyas? Ilyas.
KUDOS FOR KAK DHIR, I KNEW IT YOUR BOOK WILL NEVER DISAPPOINT ME!!
Ditunggu Alamandanya ya :D cant wait to write another review for your upcoming books!!
Buku keenam (tapi urutan terbit kelima) dari Nellaneva. Coming of age/general fiction yang bertema seputar self-healing, self-improvement, keluarga, dan persahabatan. Semoga berkenan!
Sekali lagi novel Nellaneva enggak mengecewakan. Aku sangat menikmati alurnya yang tidak biasa. Sedikit mengingatkan pada alur film-film slice of life Jepang yang sering mengungkap bahwa premis yang jadi tujuan utama para tokoh di awal sebenarnya punya arti yang jauh berbeda.
Aku kagum karena meski Nellaneva membuat para tokohnya nyebelin semua (kecuali Wina yang baru muncul belakangan dan tidak dibahas terlalu dalam), pada akhirnya aku jadi tersentuh dan simpati berkat kisah latar belakang mereka.
Yes, semua tokohnya sama sekali tidak meninggalkan kesan positif saat pertama kali dimunculkan dalam cerita. Kalilan atau yang lebih ingin dipanggil Kali (dia bakal protes kalau dipanggil "Kalilan"), adalah mahasiswi telat lulus yang pindah ke kosan milik Arka karena ingin konsentrasi menyelesaikan skripsi. Situasi rumah yang tidak menyenangkan membuatnya memutuskan angkat kaki. Kedua orangtuanya sering bertengkar dan nyaris bercerai. Ayahnya sering menyalahkan ibunya karena Dali, adik Kali, terlahir dengan kondisi cerebral palsy. Kakaknya, Ramli, minggat dari rumah karena tak tahan dengan kondisi rumah dan keberadaannya tidak diketahui. Padahal, Ramli adalah satu-satunya orang yang mengerti Kali selain Dali.
Kali sebenarnya tipe murid yang sangat berprestasi dan ambisius di sepanjang karier akademisnya. Namun, Hilman, cowok yang ia sukai karena ia anggap sepadan dengannya menolaknya. Teman-temannya menjauhinya karena ada fitnah bahwa ia menyembunyikan informasi beasiswa ke Belanda dari dosen agar ia bisa mendaftar sendiri, orangtuanya terus bertengkar. Akhirnya ia memutuskan untuk mencelakai dirinya sendiri hingga harus dirawat di rumah sakit. Setelah keluar dari rumah sakit, sekalian saja ia cuti kuliah sehingga ia tertinggal lulus dari teman-temannya. Di kosan kerjanya hanya mengurung diri. Kamarnya ia biarkan berantakan. Ia juga tak segan berpenampilan kucel selama di kosan. Sikapnya pada rekan-rekan satu kosannya sungguh kasar, tidak sopan, dan menyebalkan.
Lalu ada Badran, cowok tambun berkacamata yang cerewetnya mirip ibu-ibu dan jago memasak. Selama di kos, dialah yang bertanggung jawab memuaskan perut dan selera makan rekan-rekannya. Badran yang paling sewot kalau melihat Kali yang berantakan dan jutek. Mulutnya yang usil suka mengomentari Kali meski berkali-kali dicuekin dan dijutekin. Badran memutuskan keluar dari rumah dan tinggal di kosan karena tak setuju ibunya menikah lagi dengan seorang PNS. Diam-diam Badran minder dengan dirinya yang tambun dan dia anggap tak berpenampilan menarik. Hobinya adalah mengikuti akun gosip biar bisa nyambung ngobrol bersama ibu-ibu sekompleks.
Ilyas adalah cowok paling playboy di sini. Gemar merokok, mabuk-mabukan, dan main cewek. Cewek-cewek menggilainya karena tampangnya. Ia seperti Kali versi lelaki hanya saja lebih necis. Dia juga sama-sama tidak peduli dengan orang lainnya. Anehnya ia akhirnya malah dekat dengan Kali dan jadi sering menghabiskan waktu bersama. Coba tebak apa yang membuat ia pertama kali jadi akrab dengan Kali? Karena Kali juga suka merokok sepertinya. Ampun dah. Di balik sikap santainya, Ilyas menyimpan rasa getir yang teramat dalam. Ibunya menikah lagi, lalu selingkuh dan akhirnya bercerai. Keluarga ayah tirinya tak menyukai dirinya. Hanya Ian, kakak tiri Ilyas, yang sangat perhatian padanya. Namun, akhirnya Ian tertimpa suatu kemalangan yang akhirnya membuat Ilyas hancur.
Kemudian ada lagi si pemilik rumah yang misterius, Arka. Cowok yang juga menjabat sebagai ketua RT ini tadinya terlihat sebagai pribadi yang paling mendingan daripada ketiga rekannya. Ia ramah, berkharisma, pintar memimpin orang, tapi juga menyimpan banyak rahasia. Ia mengajak para penghuni kosan untuk mencari petunjuk-petunjuk yang tersebar di sekitar rumah untuk mencari jejak orangtuanya yang menghilang. Kedua orangtua Arka adalah ahli sejarah. Mereka menyimpan banyak sekali artifak dan buku sejarah di rumah. Namun, suatu ketika mereka seperti diincar oleh pihak lain dan menghilang sejak tiga bulan yang lalu. Arka bilang ia, nenek, dan tantenya sudah minta polisi untuk menyelidiki, tapi karena petunjuk tak segera ditemukan dan juga karena keluarganya kekurangan uang untuk membiayai investigasi, polisi menghentikan pencarian. Ia meminta para anggota kosan untuk ikut mencari petunjuk dengan iming-iming sewa gratis. Kalau mereka menolak, mereka harus membayar biaya sewa kosan yang tarifnya akan dinaikkan 30% setiap bulan. Meskipun terlihat ramah, aku pun awalnya sebal dengan Arka karena dia begitu pemaksa dan manipulatif. Namun, siapa sangka bahwa di balik sikap ramahnya, Arka menyembunyikan masa lalu yang tak kalah kelam. Tak heran ia bisa memahami Kali dengan sangat baik.
Sebenarnya masih ada satu karakter lagi, Wina, anak tetangga Arka, Pak Samsudin. Rumah Pak Samsudin sedang direnovasi, sehingga Wina yang seorang desainer grafis, terpaksa menginap sebentar di kosan Arka. Karakter Wina tak begitu digali di sini. Hanya diceritakan bahwa ia dikejar oleh mantan pacarnya yang abusif, dan bahwa ia punya selera yang aneh karena menganggap Badran lucu gara-gara cowok itu suka sekali mengomel. Badran langsung jatuh hati pada kecantikan Wina begitu cewek itu pertama kali pindah ke kosan. Wina bisa dibilang adalah karakter yang paling normal.
Baik Kali, Badran, Ilyas, bahkan Arka sama-sama punya keluarga yang berantakan. Berawal dari perburuan harta di rumah indekos yang mereka tempati berempat demi mencari petunjuk akan keberadaan orangtua Arka, pada akhirnya mereka jadi menemukan bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. Setelah mendapat informasi yang cukup banyak soal betapa menyebalkannya keempat karakter itu, kita akan disuguhi adegan-adegan menyentuh yang menyingkap lapisan lain kepribadian mereka. Kali yang paling menentang keras usaha pencarian harta lucunya justru nyaris selalu jadi yang paling pertama dalam menemukan petunjuk. Setelah ia lebih akrab dengan Arka, bahkan ia menjadikan misi pencarian harta itu sebagai tujuan hidupnya untuk sementara.
Badran yang cerewet, suka menggosip dan meremehkan orang, ternyata cukup sensitif bisa jadi pendengar yang baik. Masakannya yang lezat-lezat bisa dibilang adalah pengikat kebersamaan para penghuni kosan. Ada juga Ilyas yang tampaknya tidak pernah serius menjalin hubungan dengan orang lain. Ternyata dia bisa sangat peduli ketika Kali terkena masalah. Perlahan kita sebagai pembaca pun dituntun untuk memahami karakter mereka sebagai manusia biasa yang punya kelebihan dan kekurangan, serta jadi peduli dengan nasib mereka.
Yang namanya keluarga tak harus sedarah. Di balik masalah yang seolah terus menimpa tanpa henti, justru pada saat itulah adakalanya Tuhan mempertemukan kita dengan orang-orang yang bisa jadi perahu sekoci dalam mengarungi ombak kehidupan. Setelah kebersamaan mereka dalam mencari harta, Arka, Badran, Ilyas, Kali, dan Wina, akhirnya belajar bahwa masalah itu harus dihadapi dan bukannya dihindari. Mari kita berterima kasih pada orang-orang yang menjadi safety net dan support system kita ketika kondisi rumah bahkan tak lagi terasa aman dan nyaman bagi kita.
Oh ya, tidak seperti Remi di Resilience, Kali memutuskan untuk mencari bantuan profesional alias psikolog untuk mengatasi luka batinnya, dan melakukannya secara rutin. And I really appreciate that.
Begitulah, seperti ketika membaca Resilience: Remi's Rebellion, aku pun kembali dibuat terhanyut oleh karya Nellaneva yang berjudul Ranah Pusaka ini. Adegan dan dialog-dialognya begitu dalam. Tidak mainstream.
Satu-satunya yang bikin aku agak gak nyaman dengan cerita ini adalah konsep indekos yang penghuni laki-laki dan perempuannya tinggal dalam satu rumah. Jika ini ditulis penulis barat atau Jepang, atau Korea, situasi ini tentu akan berujung pada adegan yang tidak-tidak. Beruntung Nellaneva masih punya kontrol diri yang kuat. Namun, tetap saja adegan Arka dan Kali tidur sekamar habis kelelahan mencari petunjuk harta buatku enggak pantas (meskipun mereka tidak melakukan apa-apa selain ngobrol). Karena itulah bintangnya enggak full lima bintang meskipun dari segi kekuatan cerita sebenarnya cerita ini sudah sempurna.
Meskipun dibuka dengan mencari gompelan guci/kendi (yah, semacam itulah) juga teka-teki, Ranah Pusaka tidaklah mengajak kita untuk berpetualang dengan keris Mpu Prapanca atau prasasti batu tulis. Ranah Pusaka akan membawa kita berpetualang menghadapi krisis kehidupan. Sebagaimana tema coming of age yang diangkat di novel berwarna hijau mint kecintaanku. Ah, ya jadi begini ceritanya. tersebutlah seorang manusia bernama Kali, mahasiswa cerdas, berprestasi, rajin berorganisasi, disukai semua dosen, lalu sesuatu hal terjadi. Memaksa Kali keluar dari 🏠 dan mencari indekos. Awalnya, Kali memutuskan ngekost di rumah itu dengan harapan kehidupannya bisa lebih damai dan nyaman. Sayang, yang kita inginkan lebih sering tidak diberikan agar hidup lebih banyak pengalaman.
Pemilik kost rupanya mas-mas muda, bernama Arka, yang terobsesi dengan teka-teki dan meminta semua penghuni untuk membantunya mencari gompelan kendi/guci/apalah itu. Jika bisa menemukan gompelan itu dan membantunya memecahkan teka-teki, ia akan menggratiskan biaya sewa. Jika aku adalah Kali, aku kayaknya langsung nyari kost baru daripada menerima tantangan ini. Semuanya iya-iya saja dengan hadiah itu. Semua di sini berarti Badran, gila ini cowo mulutnya kek emak-emak. Kalau Arka Pak RT, sudah pasti Badran Bu RT yang hobinya masak dan memasang kuping menerima semua cerita tetangga. Lalu ada Ilyas, yang hidupnya santai kek di pantai, ga begitu peduli dengan ide Arka, iya-iya aja tapi nonton doang.
Tanpa disadari, tuwagapat, keempat penghuni ini membawa luka-luka yang dalam, entah ke keluarga, teman, atau dirinya sendiri. Tuwagapat ini akan menjadi tuwagapatma di sepertiga akhir cerita.
Aku tidak bisa bercerita banyak, karena ditakutkan mengandung bubuk spoiler. Benar Kali, satu hal yang harus diikhlaskan dari beranjak dewasa adalah teman-teman kita satu persatu perlahan tak lagi erat. Karena mereka bukanlah balon yang bisa digenggam erat-erat. Aku sangat menikmati saat membacanya, dan suka sekali pertemanan Kali-Ilyas, dan Badran sungguhlah menyebalkan🤣
Cerita dalam buku ini segar, penulis juga pandai memainkan kata jadi rasanya dimanjakan sama narasinya yang enak dan lincah. Kisah kali lebih mendominasi, terus terang aku sudah berpikir macam-macam sama masa lalu kali tapi ternyata tak seburuk dugaanku dan sebenarnya itu cukup melegakan, tapi memang benar kita tak boleh memandang remeh masalah orang lain. Akupun juga pernah punya pengalaman yg sama kayak Kali, saat 14 tahun pernah mau terjun dari lantai 4 berharap menghilang. Tapi meskipun begitu aku kurang bisa merasakan gejolak jiwa Kali, entah kenapa, mungkin karena buku ini seperti sketsa-sketsa yang menjadi satu lalu berlompatan dengan cepat jadi feel-nya kurang sampai dihatiku huhu. Justru terasa sedih dan terharunya di bagian temennya Kali yang nikah, selebihnya biasa aja. Tapi bagaimanapun, buku ini menarik, apalagi temanya cukup relate sama kehidupan. Tentang persahabatan, keluarga dan proses pendewasaan. Suka juga dengan perkembangan karakternya khususnya karakter Kali. Dialog antar tokohnya yang saling mengingatkan, saling menasihati dengan natural juga jadi bagian yang kusuka dari buku ini. Suka juga sama penyelesaiannya dan endingnya juga menarik. Kalau diibaratkan makanan, buku ini seperti nasi goreng yang enak tapi kurang pedas dikit 😄
Jangan percaya bila atasan atau rekan kerja bilang kamu termasuk "keluarga" mereka. Tapi kamu mungkin harus menimbang-nimbang jika orang yang mengaku "keluarga" itu adalah teman indekosmu. Setidaknya, kamu akan melakukannya setelah membaca buku ini.
Bisa dibilang, novel ini berkategori new adult. Tokoh-tokohnya kebanyakan berumur di atas 21 tahun. Temanya slice-of-life yang masuk gerbong genre realistic fiction. Pengkategorian sotoy tersebut membuat novel yang ditulis oleh penulis lokal semacam ini jarang ada. Novel genre realistic fiction tentulah banyak tapi untuk kategori young adult (seri YARN punya berjudul-judul). Untuk kategori new adult (yang kemudian disingkat NA), aku yakin belum ada.
Salah satu ciri-ciri novel NA yakni memiliki tokoh utama seorang yang kuliah di akhir semester atau fresh graduate yang baru masuk kerja. Pada episode kehidupan seperti ini, banyak hal sedang terjadi: keseruan dunia kuliah yang meredup, kegelisahan yang hadir saat awal-awal kerja kantoran, makna diri yang mesti dipikir ulang. Hal-hal ini sedikit-banyak tergambarkan pada tokoh-tokoh dalam novel "Ranah Pusaka" yang tebalnya 300-an halaman.
Memiliki beberapa tokoh (yang seperti pada gambar, ada 5 tokoh), novel ini bisa dibilang tidak berplot utama. Bilapun ada, mungkin plot utama itu adalah menyelesaikan konflik masing-masing. Briliannya, kelima tokoh tersebut disatukan dalam sebuah pencarian harta karun (pusaka) yang membuat mereka saling mengenal satu sama lain. Pada saat yang bersamaan, mereka pun mulai mengenali diri sendiri seiring waktu mereka bersama-sama mencari pusaka tersebut.
Ini buku bagus! Dibawakan dengan renyah khas NA yang sesak masalah tapi juga mudah dipahami. Beberapa masalah di antaranya yaitu burnout, abusive relationship, dan broken home family. Kebegaraman masalah itu malah seakan-akan memberikan pembaca pemahaman dan kesiapan saat (akan/sedang) menghadapinya.
Sayangnya, topik-topik pemahaman dan kesiapan yang dibawakan melalui petuah-petuah antarsesama tokoh membuat buku ini seperti menggurui. Kentara sekali saat ada paragraf kalimat langsung yang panjang, itu pasti ada seorang tokoh yang sedang mengingatkan/memberi saran/mengoreksi. Itu sedikit mengganggu meski memang dibutuhkan agar cerita berisi berbagai konflik ini lengkap.
Akhir kata, buku ini patut dijajal bagi yang ingin tahu bagaimana novel genre NA disajikan secara lokal!
I'd say this book is objectively good since it tackles quite a number of significant issues that a lot of people can relate to. Problem is the writing. Sooo painfully preachy and predictable. Solutions were thrown instantly too it felt like there was no point in continuing on because everybody got their shit sorted out literally on the next page. 2,5.
Setelah Tujuh Kelana dan Alamanda, ekspektasiku baca buku-buku Nellaneva jelas meningkat. Entah karena urutannya yang salah atau hal lain, yang pasti beberapa buku terakhir agak kurang memuaskan. Terutama buku ini. Idk, apa yang kuekspektasikan, fantasi lokal mungkin? Mengingat TK dan Alamanda juga memakai unsur serupa, tapi RP benar-benar baru. Apa sebutannya, hmmm, motivational novel (?) karena isinya sebagian besar memang mengenai "makna memahami sekitar" atau semacam itulah.
Jadi, novel ini bercerita soal Kali yang nggak betah dengan keadaan rumahnya memutuskan untuk pindah ke indekos, supaya lebih fokus mengerjakan tugas akhir juga. Namun, penghuni indekos juga bukan seperti yang dia harapkan dan cenderung berisik, terutama Badran.
Saat membutuhkan ketenangan, Arka, si pemilik indekos, muncul dan menantang semua penguhi rumahnya untuk mencari pusaka peninggalan keluarganya dengan imbalan bebas biasa sewa. Kali enggan awalnya, dia hanya ingin hidup tanpa gangguan dari siapa pun, tapi sayangnya tawaran Arka sangat menggiurkan dan tanpa sadar membuatnya setuju. Namun, ketika mendekati akhir pencarian, sebuah rahasia muncul, mengancam kebersamaan yang mereka bangun selama berbulan-bulan.
Kali jelas bukan tipikal karakter yang bisa pasrah dengan keadaan, kecuali dia udah nggak berdaya. Memang, di luar kelihatan cuek banget, cenderung apatis, tapi ternyata dia bisa luluh juga. Yah, manusia pasti punya sisi luluhnya sendiri, sih. Agak kaget karena cara sadarnya Kali ternyata dengan jalan seperti itu.
Aku suka alur dan backstory setiap karakternya. Manusia pasti nggak luput dari hal-hal yang bikin mereka down. Rahasia-rahasia atau luka yang kepengin mereka hindari. Kali dan 4 penghuni lain punya kisahnya sendiri. Jujur, rasanya agak ngenes, tapi pahamlah kenapa mereka bisa begitu. I mean, Kali nggak berubah jadi cewek tanpa sebab.
Meskipun begitu, beberapa unsur malah bikin drop mood. Salah satunya soal aksi Arka yang menasehati Kali dan proses "penyadaran" Kali ini seolah memaksa dia buat berubah. Kalau nggak ada kemauan buat berubah dari diri sendiri memang susah buat sembuh. Nah, yang kutangkap si Arka ini selalu mancing Kali buat sadar dengan cara ceramah secara halus gitu. Dulu pernah baca salah satu reviu, intinya, kok Kali bisa sabar, sih, diceramahin begitu, kalau dia yang jadi Kali pasti udah marah.
Paham kenapa bisa sampai kasih reviu begitu karena memang Kali ini pesimistis banget. Imej dia dari awal buku kayak susah buat didekati. Makanya heran kok dia bisa ya terima-terima aja dinasehatin begitu. Idk, petuah atau apa pun namanya dari Arka itu bukannya memvalidasi, malah terkesan maksa buat sadar. Ini cuma pendapatku. Beberapa bilang Arka ini baik-baik saja dan wajar yang dia lakukan untuk "menyelamatkan" temannya.
Soal karakter lain, nggak ada komentar, sih. Memang, alurnya padet banget karena banyak karakter juga. Per karakter bawa konflik masing-masing. Bagian yang agak bikin heran itu mungkin kemunculan Wina. Entah apa relevansinya. Apakah dimaksudkan untuk menambah varian konflik beserta penyelesaiannya atau pelengkap (yang entah maksudnya juga apa). Terlebih, dia muncul ketika ceritanya hampir berakhir.
Oiya, unsur mental health-nya kental di sini. Mungkin beberapa perilaku karakternya bakal triggering banget. Jadi, kindly cek dulu tw-nya sebelum baca.
Buku ini terasa heartwarming sekali serta memiliki topik self healing yang kental akan kekeluargaan, persahabatan dan cinta. Narasinya page turner, dialognya juga mengalir dengan menyisipkan isu self improvement dan juga pemecahan masalah broken home.
Di awal cerita, buku ini menyajikan unsur misteri yang lumayan kuat. Pembaca dibuat penasaran tentang ranah pusaka yang dicari-cari oleh semua tokoh. Dan aku merasa, gebrakan mencari pusaka misterius ini menjadi point penting dari alur cerita.
Tapi aku kecewa saat tahu bahwa ternyata ekspektasiku terlalu tinggi soal pusaka itu. Pembahasan pusaka yang seharusnya punya porsi lebih banyak justru malah melebur dan seolah terlupakan begitu saja. Padahal aku bertahan untuk terus membaca buku ini karena penasaran sama pusaka itu. Sayangnya aku sangat kecewa dengan keputusan Arka sebagai pemilik indekos atas keputusannya, baik tentang pusaka itu maupun hubungannya dengan teman-teman indekos. Tokoh Arka yang kuat di awal, justru memudar di akhir dan cukup membuatku lost interest.
Selebihnya buku ini seru. Mungkin kalau aku membacanya di usia remaja, aku bakal suka banget sama buku ini. Setiap tokoh memiliki alur yang lumayan kuat, masing-masing tokoh membawa struggle yang membuat cerita ini jadi lebih menarik.
Sangat suka buku ini. Healing dan sangat related banget sama kehidupan sehari-hari.
Suka narasinya, dialog antar tokohnya, konflik setiap tokohnya seimbang.
Jujur aja awalnya mikir ini ini kaya novel misteri sama bau2 fantasi tapi ternyata splice of life.
Yang suka lagi biar ini splice of life tapi bacanya lancar, ga bosenin, bahkan bisa ngelarin ini dalam 2 hari. Gaada action, gaada cliffhanger di akhir bab tapi nagih buat baca lagi dan lagi
Inget banget waktu itu aku minta rekomendasi novel yang tokohnya 'bodoamatan' di Twitter. Then i got this.
Awalnya aku kira buku ini bakal kental soal sejarah Indonesianya gitu, sesuai judul dan blurb-nya. Tapi ternyata enggak.
Buku ini lebih fokus ke kisah hidup tokoh-tokohnya. Dan bahkan, menurutku proses pencarian pusaka tadi malah kadang terlupakan (cuma dibahas sesekali aja). Semua penghuni kosan juga lovable banget. Karakter masing-masing dari mereka tuh kuat gitu loh. Jadi walau pun tokoh utama di sini itungannya banyakan, tapi porsi mereka tetap pas.
Ada banyak topik yang diangkat di novel ini. Dan surprisingly, beberapa di antaranya cukup relatable (terutama di bagian Kalilan mikir, 'kenapa orang-orang ber-progress, tapi aku enggak?' Why??? :").
Untuk gaya bahasanya enaak banget, mengaliiir sampai jauh kayak Rucika awokawok. Sampai kaget waktu sadar aku nggak bosan sama sekali (jarang-jarang kan), bahkan ngerasa sayang pas halamannya mendekati akhir.
Fav-nya buku ini menurutku adalah sikap para tokohnya yang absurd dan lucuu gitu (mungkin ini karena aku kelewat receh aja sih). Alhasil, aku ngakak di beberapa bagian, terus sedih (setelah balik serius lagi) atau kadang baper juga hehehe, terus ngakak lagi, sedih lagi.
Mungkin untuk beberapa orang, buku ini bakal 'sedikit' menggurui dan too much yaa. Kelihatan dari banyaknya quote bertebaran, dan 'isi' kisah hidup para tokoh tadi. Tapi buat aku nggak masalah sama sekali.
Fav quote:
Ketika kita merasa bahagia karena suatu hal, kita harus sadar bahwa ada orang lain yang sedih atau menderita karena enggak punya hal tersebut. - pg. 232
bantuin bapak kost nyari harta karun dengan iming-iming kost gratis, kamu mau nggak?
kalilan berusaha menghindari keluarganya, karena itu kalilan memilih untuk ngekost meskipun kampusnya masih satu kota. ia kemudian menemukan kost murah di ujung jalan suatu perumahan, di sana ternyata sudah ada badran dan ilyas.
ternyata pemilik kostnya adalah seorang pengangguran lulusan ilmu komunikasi yang masih sebaya dengannya. namun bagian yang lebih mencengangkan adalah arka, si pemilik kost, menawari untuk menggratiskan sewa kost mereka asalkan mau membantunya mencari harta karun yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya di rumah kost tersebut. kali tentu saja menolak karena ia mengharapkan kedamaian abadi, tapi ia kemudian berubah pikiran. kira-kira mereka bisa nggak menemukan harta karun itu?
----
aku sudah baca beberapa buku nellaneva, dan ranah pusaka (dan remi's rebellion) punya genre yang rada beda. kalau boleh jujur, aku lebih suka buku-buku fantasi dan fiksi sainsnya hehe. meski begitu ranah pusaka cukup seru! gaya penulisannya selalu cantik dan plotnya rapi. pacenya juga selalu konsisten meski cenderung lambat. baca buku ini berasa mendengar cerita teman soalnya masalah yang diangkat dekat dengan kita, tentang keluarga.
aku sebenernya menunggu bagian-bagian misterinya, tapi ternyata buku ini lebih mengarah ke slice of life, sedang misteri hanya sebagai bumbu-bumunya aja. tapi that's ok! misteri yang dihadirkan juga cukup menarik dan seru.
lalu aku juga kurang sreg dengan romance yang ada di buku ini, menurut aku kurang perlu dan kurang dapet tensionnya. dan bener aja dong di ending [redacted] hehehe.
secara keseluruhan buku ini cukup seru, menghibur dan heart warming!
Kali merasa tidak betah dengan kondisi di rumahnya, akhirnya memutuskan untuk pindah dari rumah. Dengan alasan supaya lebih dekat dengan kampus dan agar bisa fokus mengerjakan skripsi, Kali memilih tinggal di sebuah rumah kos. Di rumah itu, dia bertemu dengan Badran, Ilyas dan Arka (pemilik rumah kos).
Awalnya Kali yang hanya ingin menyendiri merasa terganggu dengan tingkah Badran dan Arka. Tapi demi bisa tinggal gratis di rumah kos itu, dia terpaksa menuruti kemauan Arka. Selain pembagian tugas rutin, mereka harus bekerja sama menemukan sebuah pusaka di rumah itu. Pusaka yang akan membuka teka-teki dimana kedua orang tua Arka berada.
Sempat berpikir bahwa novel ini adalah sebuah misteri pencarian benda pusaka, ternyata misterinya hanyalah gimmick. Isi novel ini malah membahas tentang beberapa orang dengan pemasalahan mereka masing-masing, dan rumah kost itu sebagai lahan eskapis mereka. Bahkan ketika ada penghuni kos tambahan, bernama Wina, juga adalah orang yang bermasalah.
Tokoh utama dalam novel ini tentunya Kali. Dia mengalami burnout dengan kehidupannya. Kedua orangtuanya sering bertengkar, kakaknya kabur dari rumah, temannya mulai meniggalkan dirinya, hingga akhirnya Kali mulai berpikir dirinya tidak layak mendapatkan kebahagiaan. Pandangannya itu mulai berubah ketika dia hidup bersama Ilyas, Badran dan Arka. Pergumulan hidup teman-temannya mengajarkan setidaknya satu hal bahwa dia tidak pernah sendiri.
bermula dari Kali yang memutuskan untuk tinggal di kos agar fokus dengan tugas akhirnya. lalu kita juga dipertemukan dengan Arka, sebagai pemilik indekos. Badran, cowo berkacamata, berbadan besar, dan suka memasak. Ilyas, yang selalu pulang malam. Wina, cewe kantoran yang pindah sementara.
Arka memberi misi kepada anak indekosnya untuk mencari potongan tembikar yang hilang, lalu potongan itu akan mengarahkan ke petunjuk selanjutnya. dan sampai petunjuk terakhir kelak mereka akan menemukan 'harta karun'.
hmm novel ini lebih menceritakan tentang slice of life sebagai anak kos kali yah. dengan watak yang berbeda, ternyata mereka punya alasan masing-masing kenapa memilih untuk ngekos, padahal punya rumah sendiri. baca novel ini tuh ngalir aja gitu, tau tau udah mau selesai saking serunya. huhu sangat suka!! <3
salah satu kutipan Arka yang paling aku highlight:
"ketika kita maksa pengin kayak orang lain, padahal belum tentu itu cocok buat kita, itu artinya kita udah gak menghargai diri sendiri."
Buku ini memiliki jalinan cerita yang solid, bukti bahwa sang penulis tahu jelas apa yang ingin dia sampaikan dan ceritakan dalam narasinya. Amat sangat mudah untuk jatuh cinta atau bersimpati pada kelima tokoh utamanya : Kali, Arka, Badran, Ilyas, dan Wina, juga untuk langsung memilih shipping sendiri dari opsi pasangan yang ada (saya gak akan spoiler, silakan nikmati sendiri apa yang disajikan dalam kisah ini).
Pergulatan batin setiap tokohnya digambarkan dengan detil dan bisa tergambar jelas di benak pembaca, tanpa perlu narasi yang bertele-tele atau melelahkan. Membaca buku ini rasanya seperti menyusuri air sungai yang tenang dengan perahu kano. Ada saat-saat arus deras atau menukik curam ketika buku ini menawarkan rentetan aksi yang cukup menegangkan. Namun secara keseluruhan, pengalaman membacanya sangat menyenangkan serta menenangkan.
Pembaca akan diajak katarsis bareng-bareng bersama Kali beserta masalah-masalah emosionalnya yang mungkin akan terasa dekat, hangat, dan familier bagi pembaca muda, bahkan dewasa. Sisi gelap karakter-karakter lainnya pun jelas.
Sungguh menakjubkan bagaimana setiap tokoh (dan juga setiap diri kita semua), masing-masing pasti punya "coping mechanism" yang berbeda-beda dalam menghadapi suatu masalah. Tak terelak, setiap trauma tentu mengubah jalan nasib kita. Sampai membentuk sifat dan pilihan-pilihan yang kita ambil dalam hidup.
Ranah Pusaka, sedikit banyak, adalah tentang itu semua. Perjalanan Kali yang tadinya sangat menutup diri hingga perlahan-lahan mulai membuka diri dengan bantuan serta pengaruh teman-teman sekosannya, semua interaksi mereka sangat memikat dan terasa dekat. Keakraban yang perlahan-lahan terjalin. Tawa, canda, perjuangan serta air mata. Semua menemani perjalanan mereka menjadi dewasa.
Masih sama dengan Resilience: Remi's Rebellion-- yang versi cetak ulangnya menjadi berjudul Resilience saja-- di Ranah Pusaka ini, Nellaneva masih mengangkat isu kesehatan mental tanpa perlu memberi pemaparan "trigger" yang terlalu sensitif untuk dibahas isunya. Setiap konflik dalam buku ini berkelindan dan terjalin dengan amat sangat rapi. Termasuk soal pencarian harta.
Rahasia yang terkuak pun grafiknya semakin lama semakin memuncak menuju akhir, disertai kemunculan rahasia pribadi masing-masing tokoh yang dikupas satu per satu. Seluruhnya menjanjikan sebuah penutup pamungkas yang tetap memancing rasa penasaran, tetapi paling tidak pembaca sudah bakal punya gambaran kelanjutannya kira-kira akan seperti apa.
4,8 bintang dari saya untuk Ranah Pusaka, dibulatkan ke atas karena pemilihan sampul yang sangat cantik sebagai nilai plus buku ini.
Saya suka sekali dengan interaksi para tokohnya yang hangat, bikin gemes, juga bikin geregetan atau senyum-senyum sendiri. Dalam beberapa hal, mungkin kita merasa tersentil atau bisa relate dengan kisah Ranah Pusaka.
RanPus adalah karya Nella yang paling saya suka sejauh ini, disusul Resilience. Jika membaca Remi adalah sebuah emotional roller coaster, maka Ranah Pusaka adalah obat penenangnya. Highly recommended!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku Nellaneva ketiga yang aku baca. Awalnya gak berekspektasi apa-apa, tapi buku ini bagus dan relate buat usia 20-an.
Suka sama persahabatan Kali, Arka, Badran, Ilyas, dan Wina. Mereka menemukan 'Keluarga' walaupun gak sedarah.
"Satu kebahagiaan untuk satu kemalangan. Ketika kita merasa bahagia karena suatu hal, kita harus sadar bahwa ada orang lain yang sedih atau menderita karena enggak punya hal tersebut. Kita sebagai yang punya privilege bisa berbagi kebahagiaan, kelebihan, atau rasa syukur kita pada orang lain. Jadi, kalau sewaktu-waktu kita bingung tujuan hidup kita apa atau merasa hidup udah enggak ada gunanya, ingat-ingat dulu kalau sebenarnya kita bisa berguna buat orang lain yang butuh." -Hal 231-232
Kalimat diatas jadi reminder buat diri sendiri. Banyak pelajaran yang bisa diambil pokoknya👍
Tapi, open endingnya bikin penasaran tentang pencarian harta karun yang terulang dan gregetan juga sama hubungan Kali & Arka 😭😭
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bukunya cukup asyik dibaca. Semua tokoh punya masalahnya masing2, cuman y gitu sih menurutku karena terlalu banyak tokih, jadi penyelesaiannya juga gitu aja. Misal si A ada masalah ini, terus cuman diomongin doang langsung kelar. Padahal pesan di buku ini juga jelas ya semua orang punya masalahnya sendiri, tapi kok ya segampang itu. Tpi klo dipanjangin bakalan tebel juga nih buku, wkwkwk.
Karakterisasi tiap tokoh oke, sih. Semuanya punya ciri khas yang mudah dibedakan padahal ini banyak tokohnya. Cuman kurang keeksplor masalanya aja.
Untuk harta karunnya sendiri, awalnya menarik dan bikin penasaran, tapi clue terakhir terlalu maksa dan ternyata gitu doang. Kukira bakalan dibikin yang semua orang tuh makin rekat atau ada apaa gitu yang bikin momen haru, tapi ternyta enggak.
Aku membaca buku ini tanpa ekspektasi apa-apa. Murni rasa penasaran juga rindu akan karya-karya kak Nella. Tapi ketika aku membacanya ... BOOM!
Kepiawaian kak Nella dalam membuat karakter yang terasa nyata memang tidak perlu diragukan lagi. Menyelami kehidupan 5 orang di indekos ini membuat aku berpikir kembali, "Memangnya hidup ini untuk apa sih?"
Kebetulan sekali, aku membaca ini setelah merasa hilang motivasi. Bahkan, ketika adegan Kali di psikolog, aku menangis dan berhenti membaca untuk beberapa saat. Aku menangis karena seperti melihat cermin.
Buku ini bagus banget. Banget. Banget. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil tapi tenang saja, enggak kerasa menggurui kok. Rasanya seperti diajak untuk bercerita secara perlahan, dipahami, didukung, seperti Arka kepada Kali.
Senang sekali rasanya bisa membaca buku seperti ini. Sukses selalu kak Nella! Ditunggu buku-buku berikutnya!
4,5/5 bintang. Waw! Lagi-lagi aku terpukau oleh karya penulis satu ini. Menggunakan sudut pandang ketiga-serbatahu, novel ini mengulik masalah kompleks yang dialami Kali dan teman-teman satu indekosnya.
Kali yang sinis, Badran yang julid-tapi-jago-masak, Ilyas si badung-tapi-menawan, Arka si kalem, dan Wina yang hangat membuat mereka berlima seperti pelangi yang melengkapi satu sama lain (bahkan Wina yang baru muncul menjelang akhir cerita seakan melengkapi semua itu). Membaca ini serasa terhipnotis; tau-tau berganti bab, konflik, dan rasanya masih ingin membolak-balik demi baca ulang meski sudah selesai membaca. Beberapa kali aku bersorak dalam hati, 'gila! Ini relate banget!' beberapa kali. Mataku berkeringat saat Dali mulai muncul (padahal udah baca buku ini di platform oranye, tapi tetap aja nggak melunturkan antusiasku untuk melahap buku fisik satu ini).
Buku ini juga menurutku punya dua nyawa. Realistic fiction sekaligus slice of life. Real-fic karena tokoh Kali berkembang, dan SoL karena masing-masing tokoh memiliki konflik dan penyelesaian masing-masing, tanpa menghilangkan irisan dinamika interaksi di antara mereka. Isu kesehatan mental yang diangkat pun porsinya terasa pas, tidak ada yang terkesan dipaksakan, begitu pula elemen romansanya. Salut!
Oh ya, pencarian pusaka favoritku sih yang kedua, yang disadari Kali ketika Kali dan Arka berkunjung ke masjid alun-alun Bandung. Kalian gimana?
Meski tidak ada unsur magis tetap saja cerita ini menarik untuk diikuti. Lika-liku dunia perkuliahan, proses skripsi, krisis kepercayaan dan sebagainya membuatku seperti membuka lembaran lampau pada diriku sendiri. Tentunya banyak juga pelajaran yang bisa diambil. Buku ini juga rasanya meningkatkan kecerdasan eksistensialku heheheu.
Inilah salah satu pelajaran penting yang kuambil:
being suicidal or depressed doesn't mean you're literally helpless
Sekian ulasanku. Ada beberapa kutipan favorit sih, tapi sepertinya kucantumkan nanti wkwkwk. Untuk Nellaneva, terima kasih sudah menulis buku penuh warna ini. Ditunggu terus karya selanjutnya yaaa~
Novel ini menceritakan tentang lima orang yakni Kali, Arka, Badran, Ilyas dan Wina yang hidup di kost yang sama. Mereka berlima mencari pusaka yang hilang di kost-an tersebut dengan iming iming kost gratis, siapa yang gak tergiur? Hingga akhirnya mereka menjadi dekat satu sama lain walaupun awalnya mereka saling gak kenal, mereka bisa curhat menceritakan kesedihan yang mereka alami, sebenarnya ceritanya bagus sih, sangat relate dengan kehidupan para pemuda masa kini yang terjebak dengan ekspetasi orang lain di sekeliling mereka. Tapi saya kurang suka endingnya, Kali kenapa dibiarkan jomblo tanpa kepastian dari Arka ? Ya ampun empat tahun tanpa kepastian, sedangkan yang lain sudah menemukan tambatan hati masing masing, bahkan Kali ditolak secara halus oleh Arka, dengan kata kita temenan aja, sakit hati ini sakit! Kok aku malah berpikir kenapa si kali gak sama ilyas aja lebih klop gitu. Sisi moral value nya mungkin jangan melihat dari sampulnya aja, seorang yang ramah dan baik seperti Arka bisa menggantung perasaan seorang wanita selama 4 tahun lamanya, tapi lihatlah ilyas yang nampak urakan dan semaunya bisa juga serius menjalin hubungan, gitu kali ya! Dan kenapa endingnya itu ngegantung banget, jadi gimana sih Arka itu sebenarnya kok gak mau ada hubungan spesial dengan kali padahal udah 'bobok' bareng kaya kena peterpan sindrom ini si arka dengan dalih kebebasan padahal mah ogah berkomitmen, huh! Dan kenapa malah terakhir dibikin model cari pusaka lagi, gak habis thinking saya, apa mungkin ada sequelnya kah???????
This entire review has been hidden because of spoilers.
Membaca buku ini hanya dalam 1 hari. Sungguh page turner. Ini adalah novel pertama dari Nellaneva yang ku baca. Selanjutnya aku akan membaca karya-karyanya yang lain.
Memilih membaca buku ini karena sangat suka dengan sampulnya. Terima kasih kepada Sarah Aghnia yang sudah membuat sampul yang sangat cantik dan merepresentasi isi buku. Dan juga pada blurp-nya. Wow, sebuah pencarian pusaka—harta karun. Sebuah novel dengan premis yang tidak biasa.
Ku pikir awalnya demikian. Tetapi, setelah membacanya hampir setengahnya, novel ini bukan lebih ke petualangan pencarian pusaka, namun menitikberatkan pada para mereka yang "lari" dari masalah dan kumpul di suatu indekos. Alternatif judul bisa "indekos untuk para eskapis", hehe.
Terlepas dari hal itu, aku suka ceritanya. Bagaimana para "pelari" ini bisa memaknai hidup dan satu per satu menyelesaikan masalahnya. Bonding dari Kali, Arka, Ilyas, Badran, dan juga Wina—awal-awal masih berempat sebelum Wina datang—tampaknya sangat sulit bersatu, namun ternyata semakin lama malah semakin kuat. Mereka yang awalnya bersama-sama mencari pusaka di rumah kosnya karena diiming-imingi sewa gratis, perlahan menjadi akrab dan berteman dengan erat.
Bumbu-bumbu romansa [tipis], pengembangan karakter tokoh-tokohnya, dan [sedikit] teka-teki pencarian pusaka dikemas dengan baik dalam 31 bab 348 halaman novel ini. Aku suka bagaimana penulis menceritakan dengan jelas dan detail setiap ceritanya. Plot twist-nya pun menarik dan tidak terduga.
Akhir kata, Ranah Pusaka adalah novel remaja yang berkisah tentang pencarian pusaka dan juga jati diri. Mungkin pusaka di sini nggak hanya "pusaka" sebatas benda, tetapi tentang cara menerima kehidupan dan meraih kebahagiaan.
Sejak membaca novel debutnya Dharitri, aku sudah jatuh cinta dengan tulisan Nellaneva. Hingga akhirnya aku membaca Resilience, Palagan Nusantara, Tujuh Kelana hingga sekarang Ranah Pusaka.
Sepintas awal membaca Ranah Pusaka ini semacam membaca kisah misteri, ternyata oh ternyata bukan itu. Misteri pusaka disini hanyalah bumbu pemanis konflik sesungguhnya.
Aku suka bagaimana Dhira mempertemukan Kali, Badran, Ilyas dalam sebuah indekos milik Arka. Awalnya mereka semua tidak saling dekat, bahkan cenderung menutup diri dan sibuk dengan urusan masing-masing, hingga sebuah permintaan Arka, sang pemilik kos mengubah semuanya. Permintaan untuk mencari sebuah pusaka dalam indekos ini.
Dengan iming-iming kosan gratis, Kali, Badran dan Ilyas pun sepakat untuk mencoba mencarinya.
Sejak awal membaca aku sudah agak curiga dengan permintaan Arka ini. Tapi aku tetap penasaran bagaimana kisah ini dieksekusi. Apalagi ketika satu demi satu rahasia Kali, Badran, Ilyas bahkan Arka terungkap.
Yang membuat menarik, perkembangan hubungan mereka. Yang awalnya asing menjadi saling dekat dengan caranya sendiri.
Dhira selalu pandai meramu kisahnya, tokoh-tokohnya memorable, aku paling suka dengan Arka 😍 konfliknya juga menarik, ada unsur misteri, persahabatan, keluarga dan pengembangan dirinya.
Novel ini mengajarkanku tentang berdamai dengan masa lalu. Tentang arti keluarga dan persahabatan.
Namun, seperti novel sebelumnya, kali ini pun aku lagi dan lagi kurang suka dengan endingnya 🤣 ah, entah kenapa Dhira ini suka banget ih dengan ending seperti ini.
Buat kamu yang suka dengan novel bertemakan coming of age, novel ini aku rekomendasikan untukmu 😍 ditunggu karya lainnya Dhira
Sebuah buku yang membahas kisah penghuni kontrakan, yang mana setelah membaca buku ini akan menemukan benang merah yang saling terkait antara lainnya, yaitu sama-sama orang escapis", saling melarikan diri dari masalahnya.
Arka, pemilik kos, dengan pembawaan yang supel, ramah, ekstrovert, tampilan luar yang selalu ceria dan tenang, ternyata memiliki permasalahan yang pelik, dan punya pengalaman traumatis yang menghantuinya sampai dewasa.
Kali, si tokoh utama, kalau jaman sekarang dia itu orang yang sangat "No-Life", introvert parah, dengan berbagai permasalahan di keluarga, pertemanannnya, semakin menjepitnya dan nyaris mengakhiri hidupnya. Namun, di detik detik terakhir dia membatalkan niatnya, karena teringat akan Dali, adiknya.
Badran, penghuni kost pertama, seorang yang ceria, helpful, suka membantu, suka memasak, namun diam-diam juga punya masalah dengan keluarganya, yang membuatnya dia terdampar di kontrakannya Arka.
Ilyas, seorang anak muda masa kini, muka ganteng, kaya, punya mobil, doyan clubbing, anak gaul masa kini, digandrungi para wanita. Dari balik wajahnya yang rupawan, ternyata tersimpan pelik rumit kisah hidupnya yang terombang-ambing, bila diibaratkan dia itu Persona non-grata, orang yang tidak diakui oleh keluarganya, namun beruntung dia punya Ian, kakak tirinya yang menganggap dia sebagai adiknya serta menyayanginya. Kematian Ian yang mendadak, menghempaskan Ilyas ke jurang kesedihan terdalam.
Wina, penghuni kost terakhir, yang tercantik diantar penghuni kos lain, ponakannya pak Samsudin (Pak RT), dia terpaksa menginap di kost Arka ini gara-gara rumah pak RT lagi direnovasi. Badran tergila-gila sama Wina, ibarat kata jatuh cinta pada padangan pertama.
Kelima tokoh ini terjalin hubungannya dalam sebuah pencarian akan Pusaka keluarganya Arka yang tersembunyi di rumah kost tempat tinggal mereka, dengan iming-iming biaya kos gratis, mereka rela melakukannya.
Sebuah buku yang menurut saya sangat Page Turner yang membuat saya heran "kok cepat sekali saya membacanya, tau tau udah mau habis saja".
Sebuah buku yang saya masukan sebagai rekomendasi bagi kalian yang hendak mencari peralihan sementara dari rutinitas kerja. Dan, mencari buku bacaan yang ringan, tapi penuh nilai kehidupan dan pembelajaran, maka bacalah buku Ranah Pusaka karya Nellaneva.
Kukira ini tentang pencarian harta karun atau benda pusaka di dalam indekos, tapi ternyata tidak terlalu digali lebih dalam, dan lebih menceritakan para tokoh yang tinggal di dalam indekos milik keluarga Arka.
Cerita bermula di mana Kali adalah satu-satunya wanita yang tinggal di indekos tersebut. Di dalam kosan itu ada Arka, Badran, Ilyas, serta Wina (keponakannya Pak Samsudin, tetangga Arka yang rumahnya sedang di renovasi).
Kali adalah mahasiswi yang telat lulus karena adanya masalah keluarga, teman kuliah, dan pria. Ia difitnah menyembunyikan informasi beasiswa ke Belanda agar dia bisa mendaftar seorang diri. Alhasil Kali mencelakai dirinya dan berniat untuk bundir. Namun, dia selamat hanya memiliki bekas luka.
Arka, pemilik indekos yang punya sebuah misi di mana ia mengajak semua penghuni kosannya untuk mencari sebuah benda pusaka peninggalan keluarganya, dengan mengiming-imingi memberikan sewa gratis jika potongan benda yang hilang itu ketemu. Jika tidak menurut aturan Arka, maka akan dikenakan kenaikan biaya sewa kos sebesar 30%.
Di sepanjang pencarian benda pusaka, hanya Kali yang selalu menemukan benda tersebut, seperti potongan guci (cmiiw agak lupa), atau benda dari peta Indonesia. Dari situlah kedekatan Arka dan Kali terjalin.
Lain halnya dengan Badran, dia adalah anak kos yang sangat perfeksionis. Paling suka menyuruh Kali untuk membersihkan kamarnya yang berantakan, dan menyuruh anak-anak lain piket membersihkan rumah agar tetap rapi. Badran juga pandai memasak dan mengobrol bersama ibu-ibu RT.
Sementara Ilyas, dia adalah anak yang lumayan populer di kampus, suka gonta-ganti cewek, hidupnya juga sama berantakan karena masalah keluarga.
Semua tokoh punya masalah keluarga yang membuat mereka bisa saling mengerti satu sama lain. Kali bermasalah dengan orangtuanya yang selalu ribut. Badran yang ibunya mau menikah lagi. Ilyas yang ibunya menikah lagi, berselingkuh, cerai, dan ia tidak disukai keluarga barunya. Serta permasalahan Arka yang mau menjual rumah tersebut.
Mencoba membaca karya Nellaneva untuk pertama kali, disuguhi awal yg bikin saya mengerutkan kening atas interaksi tokoh Kali dengan keluarganya, lalu beberapa kali menahan decakan lidah saat Kali sudah masuk kos serta bertemu Badran dan Arka... Lalu kok lama-lama jadi terlibat dgn mereka (plus Ilyas, Dali, dan Wina juga belakangan)... Dan sebel banget saat buku ini tau-tau selesai!!!
Iya, SEBEL BANGET KOK CERITANYA KURANG PANJANG, padahal saya udah dibikin baper... Padahal saya bukan saja terhanyut membaca cerita ini, tapi sudah TENGGELAM!
Hiks!
Makasih ya Kak Nella sudah bikin cerita ini. Jujur saya berharap buku ini akan dibaca beberapa kenalan saya yg sedang menjalani hidup seperti Kali, Arka, dkk agar mereka bisa santai sejenak, gak membebani hidup mereka yg belum seperempat abad dgn segala apalah insekyur ini itu. Tapi gimana caranya agar para anak muda yg overthinking ini mau membaca, itu yg sulit, hahahaha
Juga makasih pada penerbit sudah memberi label 15+ di sampul belakang buku ini. Maksud saya, para orang tua tidak perlu khawatir buku "coming of age" ini dibaca oleh remaja mereka kisaran kelas X (3 SMP) ke atas. tadinya saya kira buku ini diklasifikasikan sebagai "young adult" (eh tapi beda penerbit, wkwkk) karena tokoh-tokohnya anak kuliahan atau baru satu dua tahun bekerja usai sarjana. Memang ada sedikit romansnya, tapi aman kok . Emang sih yg tipis-tipis gini yg bikin baper, huehehee
Gak lupa terima kasih kepada kak Dela yg sudah memasukkan nama Nellaneva sebagai penulis perempuan Indonesia zaman now yg karyanya perlu dibaca.
Okelah, saya bakal baca buku kak Nella lainnya dan akan bersabar jika bagian depannya agak-agak menguji kesabaran gitu 😄
"Tiap orang punya masalahnya tersendiri. Mau jatuh lebih jauh atau bangkit, tergantung cara kita menyikapinya." Hal 128 - Ranah Pusaka Nellaneva Penerbit Elex Media Komputindo, 2021 Tebal 338 Halaman - "Ketika kita maksa pengin kayak orang lain, padahal belum tentu itu cocok buat kita, itu artinya kita udah enggak menghargai diri sendiri." Hal 174 - Sejak awal udah suka sama gaya bercerita penulis, dan suka dengan cover dan ilustrasinya yang menarik. Ranah Pusaka nyatanya bukan sekedar pencarian teka teki bukan pula menguak misteri sebuah rumah yang dihuni pemuda-pemudi melainkan menguak sisi lain dari setiap karakter yang berada dalam satu atap. Mereka memilih bebas dari rumah yang mereka anggap sebagai penjara yang tiada ujungnya dan menemukan tempat terbaik di salah satu indekos yang memberikan rasa nyaman awalnya. Kalilan, Badran, Arka dan Ilyas memiliki sisi diri mereka dari dunia. Kalau bisa tidak dianggap atau dipedulikan keberadaannya. Namun, nyatanya Arkan kerap membuat mereka harus berada dalam satu ruangan tanpa melontarkan ucapan sinisme. Perlahan yang mereka sembunyikan terkuak dan mencoba meraba apakah ada kesempatan lainnya. Mengubah harapan yang awalnya semu menjadi nyata. - Konflik yang berbeda-beda pada tiap karakter membuat pembaca sepertiku tertegun. Karena begitu realistis, dan apa yang penulis sampaikan kenyataannya memang terjadi pada setiap individu yang memiliki masalah yang sama. Jadi sangat dekat. Kalilan dan Badran salah dua karakter yang aku suka Banyak pesan positif yang disisipkan penulis dan terasa hangat. - Namun, nyatanya aku masih penasaran akan teka teki lainnya dan itu masih belum terjawab. Mungkin ini cara penulis menyampaikan maksudnya. Overall aku suka banget dengan gaya bercerita penulis yang asyik. 😍
This entire review has been hidden because of spoilers.
Saya suka isi dari buku ini karena banyak hal yang dibicarakan di dalamnya, cocok untuk pembaca remaja sampai 20-an awal. Tentang relasi pertemanan, relasi orang tua, hubungan gender, bentuk keluarga, kesehatan mental, keterbatasan fisik, memproses kehilangan dlsb. Kurang lebih, modern values yang sekarang mulai dipegang untuk menggantikan old values.
Saya amaze karena penulis bisa memasukkan banyak topik dalam satu tulisan buku, walaupun not really my cup of tea pada akhirnya karena saya merasa terlalu banyak topik yang ingin diangkat. Bagi saya, lingkup topik yang sedikit tidak berarti buruk. Malah terkadang lingkup topik yang lebar seperti kucing mengeong yang hanya lewat sekilas. Tapi, kembali lagi ini masalah selera. :)
Buku ini sangat ringan dibaca. Kalimatnya sangat runut. Dan lagi-lagi di situ masalah bagi saya pribadi. Perihal selera saja. Saya suka baca kalimat yang runut tapi saya akan mulai merasa bosan ketika semua hal "sangat runut" dengan pola yang sama berulang kali. Penulisan kalimat dari kejadian satu ke kejadian berikutnya mudah terbaca polanya bahkan dari bab-bab awal.
Pusakanya sendiri entah mengapa bagi saya hanya sebuah selipan yang kurang mengena. Malah saya sempat khawatir dengan kesehatan mental Arka. :D
Tapi, terlepas ketidaknyamanan saya di atas, saya sangat appreciate bagaimana penulis menuliskan tentang berdamai dengan kehilangan. Saya rasa ini adalah hal yang sering dibicarakan berulang kali oleh banyak orang, oleh banyak penulis. Tapi, dengan penyampaiannya sendiri, proses berdamai dengan kehilangan di sini surprisingly dengan mudah dan ringan membuat saya juga ga sebel-sebel amat sama Arka di akhir. :D