Sejarah itu mestinya bukan hanya bagi penyair. Pada saat Perang Dunia I dan II, para penjahat dan pahlawannya, bahkan yang akan membunuh dan dibunuh, sama-sama pergi ke kamar bersejarah: kamar mandi, bahkan beberapa sempat cuci muka dan gosok gigi sebelum meneriakkan perang; dengan bau pasta berkalsium dan floraide yang segar, sebelum bau darah anyir menyesaki dunia. Sejarah besar dan kecil sama-sama terikat dengan sejarah lembap kamar mandi. Sebagaimana bisa jadi terikat juga pada "Sejarah Hujan” dan ”Sejarah Teh Kotak”.
Kamar mandi yang terikat dengan sejarah manusia ini digambarkan secara apik menyebar ke dalam sejumlah taksonimi; geografis, identitas, lokasi, dan preferensi atas kamar mandi. Kamar mandi sejarah ternyata melibatkan sejarah hak milik, bahkan sejarah kelas umat manusia. Ada kamar mandi ”Belanda", ”Presiden”, "Umum”, ”Teman”, ”Masjid”. Juga sebaran sifat kamar mandi: ”Bohong”, ”Horor”, dan ”Jorok” berdampingan dengan sebaran kamar mandi yang bersejajar dengan sejarah transportasi dan sejarah migrasi umat manusia yang membutuhkan tempat mampir; kamar mandi ”Pesawat” (meski pernah menempuh penerbangan setengah hari di pesawat, tapi saya belum pernah niat mandi di pesawat), dan "Kereta".
Rabu Pagisyahbana tidak terlalu senang menempatkan sesuatu sebagai objek pasifyang diberi naunce puitik, sehingga objek tersebut menjadi tablo; beku. Cara demikian, sebagian memang masih digemari Oleh para penyair kita; dengan memuisikan hujan turun dengan deskripsi klimatologi-puisi misalnya, alih-alih membangun sebuah dunia di dalam objek dengan bentuk dan makna yang berkelindan bagi dirinya dan bagi pembaca; sebuah sajak yang tak akan selesai sebagai laporan cuaca berima dan berbait-bait.
“Mandinya seorang penyair lebih sunyi Lebih hening dari kamar mandi kosong.”
Ini jenis buku puisi yang begitu selesai dibaca masih iseng membuat kita gelisah dan merenung. Gelisah karena tiba-tiba merasa ada banyak sekali hal istimewa yang lewat begitu saja tanpa sempat kita nikmati, maknai, apalagi kita sungguh-sungguh syukuri: air. Ada kamar mandi, ada hujan, ada laut, ada minuman, yang dalam sajak-sajak di buku ini ‘tersulap’ jadi jiwa kita sendiri.