“Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah pijakanmu kuat.” -Ibuk- Masih belia usia Tinah saat itu. Suatu pagi di Pasar Batu telah mengubah hidupnya. Sim, seorang kenek angkot, seorang playboy pasar yang berambut selalu klimis dan bersandal jepit, hadir dalam hidup Tinah lewat sebuah tatapan mata. Keduanya menikah, mereka pun menjadi Ibuk dan Bapak. Lima anak terlahir sebagai buah cinta. Hidup yang semakin meriah juga semakin penuh perjuangan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor di kala hujan, biaya pendidikan anak-anak yang besar, dan pernak-pernik permasalahan kehidupan dihadapi Ibuk dengan tabah. Air matanya membuat garis-garis hidup semakin indah. ibuk, novel karya penulis national best seller Iwan Setyawan, berkisah tentang sebuah pesta kehidupan yang dipimpin oleh seorang perempuan sederhana yang perkasa. Tentang sosok perempuan bening dan hijau seperti pepohonan yang menutupi kegersangan, yang memberi napas bagi kehidupan.
Penulis lahir di Batu 2 Desember 1974. Lulusan terbaik fakultas MIPA IPB 1997 dari Jurusan Statistika ini bekerja selama tiga tahun di Jakarta sebagai data analis di Nielsen dan Danareksa Research Institute. Ia selanjutnya merambah karir di New York City selama 10 tahun. Pencinta yoga, sastra. dan seni teater ini meninggalkan NYC Juni 2010 dengan posisi terakhir sebagai Director, Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York. 9 Summers 10 Autumns adalah novel pertama yang terinspirasi dari perjalanan hidupnya sebagai anak seorang sopir di Kota Batu ke New York City. Buku pertamanya Melankoli Kota Batu berupa kumpulan fotografi dan narasi puitis, didekasikan untuk Kota Batu. Iwan saat ini tinggal di Batu, Jawa Timur.
Keren banget, pantas jadi best seller. Memang kalau cerita yang pernah dijalani itu lebih sampai ke hati. Sesuatu yang lahir dari hati akan sampai juga ke hati orang lain. Ibuk adalah sosok yang sempurna, meski memang tidak ada manusia yg sempurna, tapi sosok ibuk sudah lebih dari cukup untuk anak-anaknya, bapak. ❤️
Buku yang menurut saya tidak relevan dengan judulnya. Pada mulanya saya mengira judul Ibuk akan membawa saya kepada pengalaman mengenai sosok perempuan kuat dan hebat dalam menghadapi pahitnya kehidupan. Kesederhanaan dan keluguan serta masalah-masalah hidup yang mampu memberikan pelajaran bagi pembaca. Nyatanya tidak! Sosok Ibuk di sini hanya sebagai pelengkap tokoh Bayek. Pengemasan cerita juga kurang berani. Tidak ada permasalahan atau konflik yang menggigit. Penulis terkesan SANGAT tergesa dan menyampaikan dengan gaya tulisan yang sangat sederhana tetapi membuat bosan.
Sebenarnya ada beberapa bagian penulis mampu memberikan deskprisi dan penjelasan yang lugas dan sederhana tetapi kembali lagi, ceritanya flat.
Buku ini menghadirkan cerita yang SANGAT mudah ditebak. Tidak ada pengembangan karakter yang wow, Bayek di sini justru seperti flexing. Seperti motivator yang hanya memberikan nasihat "kita bisa kalau kita usaha" tanpa menceritakan masalah yang dia hadapi. Padahal banyak sekali konflik yang bisa dikembangkan.
Iwan Setyawan atau Bayek Setyawan (dalam buku ini) justru terkesan flexing. Mungkin, untuk penulisan buku otobiografi atau based on your story "Educated" cocok untuk dipelajari penulis sebelum menuliskan ceritanya.
Cerita mudah ditebak, penyelesaian juga pasti mudah ditebak. Padahal judulnya berpotensi untuk menguak cerita yang lebih menarik
Sbnrnya buku ini tuh ok ya, tentang perjuangan bertahan hidup. Gmn bapak dan ibu saling bahu membahu untuk bisa menyekolahkan anak yg lebih proper, hingga salah satunya bisa ke luar negeri. Tp entah kenapa rasanya selama baca cukup membosankan dan mudah ditebak.
Sebenarnya isu yang diangkat menarik banget. fast paced juga, tapi aku bingung sama pov yang digunakan. Dari awal pov yang digunakan pov orang ketiga, tapi tiba-tiba ada yang menggunakan pov orang pertama. Awalnya, plotnya emang sat set, tapi semakin banyak halaman narasinya juga melebar kemana-mana (atau mungkin aku yang kurang fokus), walaupun tetep fast paced. Pokoknya kisah keluarga Sim dan Tinah ini punya deep meaning, ada beberapa narasi tentang ibuk yang beneran mengandung bawang, ga mungkin kalo ga sedih, tapi juga kagum. Berasa disentil juga buat lebih menerima, menghargai juga bersyukur atas apa yg aku miliki sekarang. Menurutku bakal ada insight baru juga tentang parenting, tentang menjadi seorang ibu (pastinya), orang tua, dan juga bagaimana mewujudkan rasa syukur sebagai anak.
Kalo butuh bacaan yang fast paced & penuh makna, juga reminder biar lebih "sadar diri" sebagai anak, buku ini bisa banget diintip, beneran penuh makna. juga ada beberapa kutipan indah tentang keluarga, keberanian, perjuangan dan cinta ♡♡♡♡