Секреты лидерства, которые использовал легендарный японский полководец Хидэёси Тоётоми, чтобы достичь вершины славы, неподвластны времени. Книга «Самурай без меча» достойна занять свое место в числе таких классических источников восточной мудрости, как «Трактат о военном искусстве» Сунь-цзы и «Книга пяти колец» Миямото Мусаси. Эти универсальные принципы, стратегии и тактики помогут каждому, кто стремится достичь успеха в бизнесе и в жизни сегодня.
Hideyoshi Toyotomi. Para pembaca dan penggemar Taiko karya Eiji Yoshikawa tentunya akrab dengan nama ini. Dialah sang Taiko, sang Mantan Wakil Kaisar. Tokoh sejarah Jepang ini memang sangat luar biasa. Berasal dari keturunan petani, dengan tubuh kecil dan wajah buruk rupa sampai-sampai dijuluki “si monyet”, Hideyoshi berhasil menyatukan dan mencapai puncak kekuasaan de-facto Jepang abad ke-16, yang bagi kebanyakan orang adalah hal yang mustahil dicapai tanpa adanya keturunan bangsawan atau minimal keluarga samurai mengalir dalam darahnya.
Bagaimana Hideyoshi bisa mencapai hil yang mustahal itu? Berikut adalah poin-poin strategi dan kebijaksanaan dari sang Samurai Tanpa Pedang, tentang bagaimana menjadi pemimpin yang unggul. 1.Pemimpin harus bisa bersyukur 2.Pemimpin harus bekerja lebih keras daripada yang lain 3.Bertindaklah berani pada saat-saat kritis 4.Dedikasikan dirimu pada pemimpinmu, karena mereka yang punya aspirasi untuk memimpin mula-mula harus belajar melayani 5.Pilihlah pemimpin yang memiliki visi 6.Lakukan segalanya demi tugas yang sedang dikerjakan 7.Buatlah dirimu berbeda dari yang lain dengan menggali kemampuan alamiahmu 8.Kesampingkan kepentinganmu sendiri demi kepentingan pemimpinmu 9.Hadapi setiap tugas dengan tekad yang mantap 10.Jadilah seorang pemimpin, bukan seorang atasan 11.Pelihara asetmu yang paling berharga yaitu jaringan personal 12.Lakukan persiapan dengan matang dan bertindak berani 13.Balikkan situasi, ubah kelemahan menjadi keunggulan 14.Pertaruhkan semua untuk memenangkan semua 15.Bertindak lebih awal untuk selesai lebih awal 16.Jika ingin memiliki banyak sekutu, lakukanlah pembenaran, justifikasikan alasanmu 17.Rahasia bertahan hidup: ubah kesialan menjadi keberuntungan 18.Berikan apa saja yang kau mampu, dan percayakan selanjutnya pada takdir 19.Pada hubungan timbal balik, fokuskan pada tindakan memberi 20.Rahasia mempertahankan hubungan: jadilah yang pertama dalam memaafkan 21.Untuk mendapat kepercayaan, beri kepercayaan 22.Gunakan informasi untuk mengasah persepsimu 23.Hargai komitmenmu 24.Pemimpin yang cerdas hanya bertarung setelah syarat kemenangan telah dipenuhi 25.Perlakukanlah pengikutmu sebagai keluarga 26.Kesetiaan bisa didapat, tetapi tidak akan pernah bisa dibeli 27.Untuk menumbuhkan semangat sebesar memberikan pengaruh, maafkanlah kesalahan-kesalahan sepele 28.Hati-hati dengan gengsi 29.Tetapkan tujuan dengan jelas 30.Carilah kesempatan untuk memuji 31.Hargai mereka yang bekerja dengan baik 32.Hargai prestasi secara personal 33.Kerjasama tim adalah kunci kemenangan 34.Jadikan teman-teman baik sebagai penasihat 35.Carilah saran dari mereka yang berani tidak sependapat 36.Rangkul orang yang kemampuannya melebihimu 37.Dengarkan pendapat pasangan hidupmu 38.Rahasia sumber daya manusia: Mencari bukan meminta, menugaskan bukan melatih 39.Rahasia melipatgandakan diri: Pekerjakan pemimpin, bukan sekedar pengikut 40.Rahasia lingkaran dalam: Bentuk tim kreatif 41.Pemimpin yang bertanggung jawab harus mengayomi. Beri kembali kepada masyarakat
Sebagai manusia biasa, Hideyoshi pun tak luput dari kekurangan. Saat keberhasilan telah berada dalam genggaman, keterlenaan membuat kinerjanya justru menurun. Berikut adalah peringatan Hideyoshi bagi para pemimpin yang sudah berhasil mencapai puncak dan ingin tetap berada di puncak: 1.Jangan lupakan kesederhanaan:. Jangan manjakan diri kelewat batas. 2.Jalankan rahasia rendah hati: Waspadai kesombongan 3.Berpeganglah teguh pada kesahajaan:. Jangan pamer. 4.Bersikaplah tegas untuk menghindari pertikaian 5.Terapkan keseimbangan: Kekanglah obsesimu
Filosofi Hideyoshi, sang samurai tanpa pedang, dapat disarikan menjadi 3 point: 1.Prajurit terbaik tidak pernah menyerang 2.Petarung terhebat berhasil tanpa kekerasan 3.Penakluk terbesar menang tanpa perang
Kata Mutiara terakhir dari Hideyoshi: Mengabdilah pada pemimpinmu. Bekerja keraslah. Bersyukurlah. Bertindaklah berani. Orang akan berkata bahwa itu semua adalah hal biasa, dan mereka memang benar: Hanya hal biasa ...hal 254
Dan Hideyoshi telah membuktikan, bahwa pemimpin yang hebat bisa berkembang dari orang berlatar belakang yang sangat biasa…
Jika saja buku ini dibikin lebih detil, tentunya akan mendebarkan membayangkan tokoh dalam buku ini berkiprah di jamannya. Saya akan kasih bintang lima, yang jarang saya kasih itu.
Beberapa pertempuran yang dia menangkan bisa jadi dengan taktik biasa. Tapi yang jelas itu adalah sebuah taktik yang membutuhkan ketekunan luar biasa dari orang yang sabar menjalani. Gak gampang itu. Teorinya bisa semua tahu, njalaninya? Doh mana tahaaaaaaannn!!!
Buat saya yang awam tentang Jepang, buku ini sangat membantu. Meski ada pertanyaan yang tidak terjawab akan detil ceritanya.
Saya sempat berbincang-bincang tentang buku ini dengan Mas Haikal, soal arah kemana buku ini, antara know-how atau buku biografi. Keduanya bisa menginspirasi. Untuk buku know-how, buku ini banyak provervbia yang layak diperhatikan. Untuk biografi, buku memang mengisahkan riwayat hidup Hideyoshi. Perpaduan antara keduanya? Di sini saya gamang.
Tapi untuk nilai perjuangan hidup yang digambarkan dalam buku ini, saya ingin kasih bintang 4. Buku yang membuat saya mau cari cerita lebih lengkap tentang Hideyoshi.
ungkapan “historia magistra vitae est" [kisah sejarah adalah guru bagi kehidupan:] adalah ungkapan yang muncul dalam masyarakat yang meminta agar teks-teks kisah sejarah itu punya manfaat edukatif. kisah yang dibikin dengan berbahankan peristiwa masa lalu musti ditulis dengan tujuan untuk mendidik, tidak sekadar dikisahkan ‘apa adanya’. konon, ungkapan itu kali pertama dimunculkan oleh cicero.
salah satu contoh operasi penyusunan kiash seperti itu bisa kita jumpai dalam buku kitami masao “the swordless samurai“, yang sudah diindonesiakan dan diterbitkan oleh redline publishing.
ini buku seolah mengisahkan kembali biografi samurai tanpa pedang toyotomi hideyoshi yang dikenang orang karena menjadi pemersatu jepang yang sudah porak-poranda karena peperangan antar clan di abad ke-16. jalinan kisah biografinya sudah banyak dikenal orang, sehingga bila kisah itu ditulis lagi maka biografi itu hanyalah bingkai bagi pengisah berikut yang ingin menyatakan pesannya sendiri lewat kisah biografi orang terkenal ini.
dan itulah yang dilakukan oleh masao kitami: ia ingin mengisahkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang berhasil ia temukan dari riwayat hidup hideyoshi tadi. buku ini, dengan demikian, adalah buku mengenai prinsip-prinsip kepemimpinan yang meminjam biografi seorang pemimpin penyatuan jepang sebagai bingkainya.
penulisan kisah sejarah hideyoshi dengan demikian tidak kronologis lagi dalam buku ini. dan buku ini memang tidak berniat membuat kisah biografinya lagi. buku ini punya agenda sendiri, yakni ingin mengajar pembacanya mengenai prinsip-prinsip kepemimpinan yang -oleh penulisnya- ditemukan dalam riwayat hidup hideyoshi. biografi samurai tanpa pedang ini dicuplik satu demi satu dan dicari adakah di dalamnya prinsip kepemimpinan yang bisa dipakai oleh pembaca masa kini…
bila dipandang sedemikian, maka buku ini berhasil. buku ini berhasil menghimpun banyak sekali prinsip-prinsip kepemimpinan yang karena dikisahkan dalam konteks historis tertentu bisa dipahami orang masa kini di tempat di luar jepang. seperti kita tahu, semua prinsip tadi dirumuskan oleh hideyoshi dalam konteks jepang masa itu.
jadi, dengan demikian, buku ini jangan diperlakukan sebagai buku sejarah, jangan pula sebagai buku biografi, tapi lebih cocok sebagai buku pegangan atau buku pedoman bagi pembaca yang ingin belajar kepemimpinan. ini memang kisah sejarah yang sudah dikemas untuk mengajar.
strategi penulisan seperti ini membuat semua prinsip yang ditemukan oleh penulisnya jadi punya konteks. prinsip-prinsip kepemimpinan yang ditampilkan -dengan meminjam kisah hidup hideyoshi- ini jadi punya konteks keberlakuannya. tidak mengapung di awang-awang seolah bisa berlaku di mana pun dan di jaman kapan pun…
saya suka buku ini. baik isinya maupun terjemahannya!
Neden orada durduğunu bilmesem de Aksiyon/Romantik raflarında duran aşk kitaplarından daha bile az sevdiğim bir tür varsa o da kişisel gelişim kitaplarıdır. Hele o "Satışın 10 Kuralı", "Başarının 22 Sırrı", "İknanın 35 yolu" gibi anlatacaklarını madde imlerine dökenler yok mu koşarak kaçarım. Kılıçsız Samuray çok uzun zamandır kitaplığımda duran bir kitaptı ama bitirdiğim zaman iyi ki almışım ve okumuşum dedim.
Çünkü kitapta anlatılan Toyotomi Hideyoshi, 1536-1598 yılları arasında yaşamış, sıradan bir köylüyken Oda Nobunaga'nın bir generali olmuş ve Japonya'yı birleştirmiş bir lider. Oda Nobunaga acımasızlığı ve savaştaki üstünlüğü ile başarı gösterirken Hideyoshi diplomasi, barış ve istikrarlı yönetimi kullanarak hedefine ulaşmış. 400 yıl önce (savaşlar ve samuraylar çağında) boyu 1.50, fiziği zayıf, suratı çirkin bir adam kast sisteminin en altından en üstüne doğru bir yolculuğa çıktıysa, hele bir de bu deneyimlerini insanlarla paylaşmak istediyse onu dinlemek gerekir.
Savaş Sanatı'nın ve Japon Kültürü'ne ait imgelerin rahatlıkla iş dünyasına uyarlanabileceğini hep söylemişimdir. Hatta gerek lisans, gerekse yüksek lisans tezimde bu unsurlar da yer alır. Bu kitabı okurken özellikle Linkedin'de iş arayan insanlar geldi aklıma. Kesinlikle okumaları ve dikkate almaları gerek. İster yönetici/lider olsun ister hayalleri bu olan alt ve orta düzey çalışanlar olsun herkese fayda sağlayabilecek kitapta altını çizdiğim birkaç not;
- Liderliğin özünün, bugünlerde giderek yükselen bir etik olan hizmet edilmekte değil, başkalarına hizmet etmekte saklı olduğudur.
- Beni liderlik emsali kılan başarılı maceranın, bilindik şükran, sıkı çalışma, cesur girişimcilik ve bağlılık fikirleri üzerine kurulduğunu öğrenmek sizi şaşırtabilir. Bu ilkeler, öyle basit görünürler ki siz onlara "sır" bile demeyebilirsiniz. Ama çok az insan onların gerçek gücünü kavrar.
- Ben her zaman dış görüntümün farkında oldum, ama liderler, kusurları avantaja çevirmeyi öğrenmelidir.
- Hizmet etmek için bir mizah anlayışı ve isteklilik, lider olmak için can atan biri için mecburi özelliklerdir.
- Etrafınızdaki dünyaya bir bakın. Minnettar olmayan insanların mutsuz insanlar olduğunu göreceksiniz. Sıkı çalışmanın, yaşamdaki en önemli başarı garantisi olduğunu göreceksiniz.
- Liderlik ilkeleri, hem üstlere hem astlara eşit derecede hitap eder.
- Takip edilecek doğru lideri seçmek, genç bir insanın verebileceği en önemli kariyer kararıdır. Kariyerinize bir hiç olarak başlarsanız, benim gibi ilerlemek için en büyük şansınız, hizmet edebileceğiniz sıra dışı bir lider bulmaktır.
Daha çok fazla altı çizilecek satır var ama siz de okuyun, hak vereceksiniz.
Apa yang terbersit di benak Anda ketika mendengar kata JEPANG? Menjajah Indonesia selama kurang lebih tiga setengah tahun. Ya, bolehlah. Apa lagi? Oshin, ninja, bunga sakura, kimono, origami, ikebana, dan … SAMURAI!!! Pffuhh...akhirnya, saya sebenarnya menunggu kata “samurai” itu. Waktu kecil, saya berpikir kalau samurai itu nama sejenis pedang. Sekarang setelah remaja, akhirnya saya tahu kalau samurai itu merujuk pada orang, bukan pedang. Tapi, seorang samurai tentu saja memiliki pedang.
Sejarah samurai dimulai pada keluarga Yamato, yang muncul sebagai klan terkuat di Jepang pada abad ketujuh Masehi. Kata samurai berarti orang yang melayani dan gelar ini diberikan kepada mereka yang lahir di keluarga terhormat. Para samurai ini ditugaskan untuk menjaga anggota keluarga Kekaisaran. Falsafah pengabdian menjadi akar keningratan kaum samurai, baik dalam tatanan sosial maupun spiritual.
Seiring berjalannya waktu, saat Jepang memasuki zaman perang antar klan, pengertian samurai pun semakian bergeser. Yang awalnya sebagai bentuk pengabdian, kemudian berubah menjadi tentara negara, perwira penjaga perdamaian, dan prajurit professional. Lebih drastis lagi, istilah samurai mulai diberikan kepada siapa saja yang membawa pedang dan mampu melakukan kekerasan. Hmm, mirip dengan istilah “preman” yang pernah saya baca di buku “Wilayah Kekerasan di Jakarta”. Dari yang tadinya pembela rakyat tertindas berubah menjadi penindas rakyat.
Dalam struktur kelas sosial di Jepang pada masa itu, samurai berada dua tingkat di atas rakyat jelata. Susunannya adalah (1) Kaisar, sebagai penguasa tertinggi kepada siapa semua rakyat harus tunduk, walaupun fungsinya hanya sebagai simbol. (2) Kaum bangsawan, yang meliputi pangeran, putri, dan orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan kaisar. (3) Shogun, pemegang komando militer tertinggi yang dapat disamakan dengan Perdana Menteri atau Presiden. (4) Daimiyo atau Panglima Perang, orang-orang yang menolak tunduk pada pemerintah dan membentuk kerajaan-kerajaan kecil dan pemerintah daerah sendiri. (5) Samurai, yang dipekerjakan oleh para daimiyo. (5) Ronin, para samurai tanpa majikan, yang terdiri dari orang-orang baik dan juga para bajingan. Golongan ini masih berhak menggunakan nama keluarga. (6) Rakyat jelata, golongan paling rendah. Terdiri dari penduduk kota, pedagang, pengrajin, petani, dan para pekerja. Golongan ini tidak mempunyai gelar dan hanya boleh menyandang satu nama, yakni nama depannya saja, tanpa embel-embel nama keluarga. Dari semua kelas sosial, hanya rakyat jelata yang dikenai pajak.
Toyotomi Hideyoshi lahir dari keluarga miskin di Nagoya pada tahun 1536, sudah pasti kelas sosialnya adalah rakyat jelata. Tapi, dia menjadi seorang pemimpin yang menakjubkan dalam sejarah Jepang. Secara fisik, dia sangat tidak cocok menjadi seorang pemimpin (maklum, dulu … bentuk fisik masih menjadi hal yang sangat penting untuk menjabat sebuah posisi, dan … sayangnya sampai sekarang juga masih berlaku). Tinggi badan 150 centimeter, berat 50 kilogram, dan bungkuk pula. Bergabung dengan militer? Jangan harap bisa diterima. Bertarung? Ronin kelas tiga sekalipun pasti bisa mengalahkannya dalam pertarungan jalanan.
Tapi, semua kelemahannya itu dia ubah menjadi kekuatan. Hideyoshi memiliki kemauan yang sekeras baja, otak setajam silet, dan semangat yang tak kunjung padam. Dengan wawasannya yang mendalam tentang manusia , dia mampu membuat orang-orang yang pernah meragukannya menjadi pengikut setia, pesaing menjadi lawan, dan lawan menjadi kawan. Hingga akhirnya, pada tahun 1590, dia menjadi pemimpin mutlak Jepang yang langsung dianugrahi oleh kaisar. Dia telah menjadi samurai, samurai tanpa pedang, The Swordless Samurai. Dia memang lebih mengutamakan negosiasi dari pada pertumpahan darah. Mengutamakan otak dari pada otot.
Banyak hal besar dan menakjubkan yang dilakukan Hideyoshi untuk mempersatukan bangsa Jepang di bawah satu tampuk kepemimpinan. Tapi, seperti katanya sendiri, pemimpin besar tidak akan luput dari kesalahan, tapi seorang pemimpin tidak bisa bersikap ragu-ragu. Kalau ragu-ragu kelaut saja ( nah, bagian ini saya tambah-tambahin sendiri). Hideyoshi tidak sekalipun ragu mengambil keputusan, tapi ada beberapa kesalahan yang pernah dia buat. Apa saja? Temukanlah dibuku ini.
Beberapa hal dari sekian banyak hal yang bisa saya kutip dari Hideyoshi adalah: (1) Apakah kau mengerti cara Menjaga Loyalitas? Jadilah seorang pemimpin, bukan seorang atasan. (2) Keraslah pada dirimu sendiri, tapi berlaku lembutlah pada orang lain. Pengampunan akan menciptakan kesetiaan. Jadilah yang pertama dalam memaafkan. (3) Pemimpin yang sesungguhnya memahami bahwa tindakan mereka harus ditentukan oleh integritasnya. Untuk menarik pengikut, lakukanlah ketulusan. Hargai komitmenmu.
Pada halaman 68, dia mengatakan, “Salah satu cara untuk mengenali kinerja – dan mendemonstrasikan empatimu – adalah menulis surat sendiri dengan tulisan tangan. Setelah menjadi seorang samurai, aku menulis dan mengirimkan surat hampir setiap hari. Beberapa pemimpin menganggap menulis surat sendiri itu merepotkan; yang lain tidak percaya dengan kaligrafi mereka. Karena berpendidikan rendah, ejaanku buruk dan tulisanku lebih jelek lagi. Tapi itu bukan masalah sepanjang kau mau mengutarakan isi hatimu. Aku menulis apa yang kurasakan, dan tidak terlalu peduli dengan bentuk dan gaya tulisan.”
Dan, itu pulalah yang membuat saya segera mengetik ripiu ini. Saya ingin mengutarakan isi hati saya setelah membaca buku ini. Saya ingin segera mengetik apa yang saya rasakan, tidak terlalu peduli dengan bentuk dan gaya ripiu saya. A must read book dahpokokna… Tidak tahu apakah penerjemahannya yang bagus atau karena kekagumanku dengan Hideyoshi sehingga bintang lima terpasang. *siap-siap ke toko buku, soalnya baru baca edisi pinjaman :D*
Mucize gibi bir hayat hikayesi. İnanç, irade, dürüstlük tüm güzel meziyetlere sahip, eğitimsiz, dahi bir lider. Ama kusursuz değil. Her birimizin kusurlu olduğu bir dünyada, kusurlarının da farkında olan ender bir kişilik.
Anlatım akıcı, içerik ilginç, çıkarılacak çok ders var.
Benim gibi kişisel gelişim kitaplarından uzak duranların bile severek okuyacağını düşünüyorum.
Sebagai seorang self-proclaimed penyuka hal-hal berbau Jepang, membaca literatur tentang sejarah Jepang adalah wajib hukumnya. Buku The Swordless Samurai inilah yang saya dapatkan ketika mata saya sedang belanja di deretan rak buku-buku bertema sejarah Asia Timur di Gramedia. Saya amati bukunya yang didominasi warna biru dan diletakkan di rak urutan terbawah, memang bukan termasuk buku best seller atau pendek kata underrated.
The Swordless Samurai mengisahkan tentang pemersatu Jepang di abad ke-16 bernama Toyotomi Hidetoshi. Pada abad tersebut, Jepang sedang berada di masa perang antar klan, di mana hukum yang ada adalah hukum pedang. Memang, Hidetoshi tidaklah cukup termashyur di luar Jepang, tidak seperti Tadakatsu Honda, Yoshitsune, Oda Nobunaga, atau Shizuo Sakugachi yang memimpin pergerakan tentara Jepang memasuki wilayah Indonesia.
Namun baru saja saya membuka lembar pertama, oh tidak... Beberapa endorsement dari orang-orang seperti Ary Ginanjar Agustian dan penulis-penulis buku motivasi membuat saya gentar untuk melanjutkan. Berkecamuk segala hal di dalam otak saya, bahwa buku ini akan lebih menitikberatkan kepada motivasi menjadi orang sukses (yang kebetulan dibungkus dalam biografi Hideyoshi) ketimbang aspek sejarah, mengingat Hideyoshi adalah orang yang tidak cakap secara fisik juga tidak berasal dari keluarga bangsawan kaya-raya.
Yah, kasihanilah saya ini yang perkiraannya benar. Ketimbang membaca sebuah buku harian dari Hideyoshi - buku ini oleh editornya sengaja ditulis menggunakan sudut pandang Hideyoshi sebagai orang pertama - saya merasa menyaksikan seminar motivasi ala Mario Teguh setebal 254 halaman (minus glosarium dan catatan kaki).
Saya benci membaca kalimat-kalimat yang secara frontal dan eksplisit menggurui, seperti yang selalu tertera di setiap akhir paragraf buku ini. Anda akan jamak temui kalimat semacam, “Pemimpin harus bekerja lebih keras daripada yang lain”, “Kesampingkan kepentinganmu sendiri demi kepentingan pemimpinmu”, “Hadapi setiap tugas dengan tekad yang mantap”, dan seribu satu cara lain yang dapat Anda terapkan untuk menarik perhatian bos Anda.
Di samping kegondokan saya yang menumpuk demi menyelesaikan buku ini hanya untuk mengorek keping demi keping informasi sejarah yang terserak di antara untaian jualan kecap ala motivator, ada satu hal yang membuat saya tersenyum lebar bahwa kepandaian Hideyoshi dalam berstrategi politik dan perang berasal dari pekerjaan awalnya sebagai pedagang. Hal ini sejalan dengan saya yang sedang merintis jalan sebagai seorang entrepreneur, hi hi hi hi... Semoga kutipan singkat ini dapat membuka mata kita semua untuk memilih jalan hidup sebagai seorang entrepreneur ketimbang karyawan atau politikus (loh kok saya malah juga terdengar mirip motivator? Ah ya sudahlah...)
“Aku menjadi mahir dalam hal jual beli, membaca watak pelanggan dan pemimpin, dan menebak suasana hati orang. Aku menyaksikan kemurahan hati dan keserakahan, kebersyukuran dan kelicikan, kebaikan dan kejahatan. Mengamati langsung transaksi-transaksi kehidupan, baik yang bersifat komersil maupun sosial, mengasah kemampuan untuk menilai karakter orang. Lama-kelamaan wawasanku tentang kondisi kehidupan manusia menjadi lebih dalam, dan aku memupuk keahlian dalam membaca sifat segala jenis manusia, dan mengambil hati mereka.” (The Swordless Samurai, hal. 14)
As the last paragraph in the book says: The secret is there is no secret.
As a big fan of Japan loyalty, culture, dedication and way of leadership and business doing, this book was indeed nothing new to me. But sometimes, ideas that are presented through a story of a real person, Toyotomi Hideyoshi, who ended the Age of Wars and unified Japan, stick better than a new age "how to" motivational book.
If you read some motivation books, or books on how to be leaders, chances are some of the ideas from them are already embedded within you, but this book will give you a set of secrets, through the story of a poor, ugly Japanese kid who raised to become the Great Unifier of Japan.
Each idea presents a personal story through the eyes of Hideyoshi and includes none of the motivational stuff you can find in many new age books.
If you want to become a leader, I highly recommend reading this book and then re-reading once in a while the last chapters that summaries the "Secrets" of Hideyoshi.
This book is biography of Toyotomi Hedoyoshi or Monkey (as he popularly was called). He was an extraordinary man, who ended the Age of Wars and unified Japan. Born in 1537 in a poor peasant family, ugly (that’s why he was called monkey), short (1.5 meters), but who raised to be come the Great Unifier of Japan. Interesting, that his name is remembered and well known to all Japanese.. Some people may say, that it is not a biography, but non-fiction self development about leadership. I would consider both are true. But most of all it is a motivational book for leadership. There are a lot of things to learn from it (although nothing really new).. Storyline goes with titles of some motivation and than describing the life of Toyotomi Hedoyoshi, his experience, what he had learned from his own life.
Banyak pesan moral yang bisa diambil. Walaupun banyak sejarahnya dan sulit untuk mengingat nama, dan alurnya juga ngga lurus maju terus (kadang kembali ke belakang, diceritain lagi dimana orang-orang terlibat yang berbeda), tetep bisa ngerti intinya si Monyet ini hidupnya gimana sampai bisa setinggi itu jabatannya.
Коли я її купила, мені сказав друг: «Воеа крута)». От вона дійсно крута і цікава. Я взагалі люблю східну філософію життя. От ця книжка саме про це - про цінності й основний секрет лідерства - відсутність будь-яких секретів.
—— Born in troubled times, grew up in the poor and humble homes, reached between conquests, and reached the position of Guan Bai.
"Toyotomi Hideyoshi" was first serialized in Japan in 1955. Biography novel books. It tells the ups and downs of Toyotomi Hideyoshi's life.
Yamaoka Zhuang eight was born in Japan in 1907, new diarrhea a small county town, died in 1978. He left home at the age of 14 and started earning a living independently. During World War II, he wrote field reports, war literature, and other propaganda materials for the Japanese army. These works were highly praised by the Japanese military and won many awards. Representative works: "Oda Nobunaga", "Toyotomi Hideyoshi", "Tokugawa Ieyasu", etc.
Toyotomi Hideyoshi was born in 1537 in Nakamura Township, Aichi County, Owari Country (the western part of Aichi Prefecture, Japan). He came from a poor peasant family, originally a footman (lower infantry), and later rose to serve Oda Nobunaga. After the change of Innoji Temple, he won the internal struggle of the Oda clan and became the substantial successor of Oda Nobunaga. In 1585, he served as Guan Bai (equivalent to the prime minister in ancient China).
Later served as the Minister of the Supreme Court (similar to the Tang Dynasty in China), was given the surname Toyotomi, and later transferred the post of Guan Bai to his adopted son, Toyotomi Hideji, and called himself "Tai Ge" (after the regent Guan Bai transferred the position Proprietary name, the official name is "Your Majesty", which is the highest form of titles such as "His Royal Highness" and "Your Excellency", second only to "Your Majesty" representing the monarch).
Part of the catalog
1. Volume One
2. Volume Two
3. Volume Five
4. Volume VI
Toyotomi Hideyoshi was born to humble, and before he became Oda Nobunaga's samurai, he had only his nickname Hiyoshi. Later, Oda Nobunaga gave him the name Fujiyoshiro, so he changed his name to Kinoshita Fujiyoshiro. Nobunaga bestowed the name Hideyoshi after the battle of Ozazama. Later, Nobunaga took one word from the surnames of his two great ministers, Niwa Nagahide and Shibata Katsushika, and gave the surname Hashiba, so he named Hashiba Hideyoshi. Later Hideyoshi was given the surname Toyotomi by the Emperor, and he became Guan Bai (the first person of civilian origin ).
Hideyoshi's father was a disabled samurai. Since childhood, the burden of life has been on his mother. When Hideyoshi was seven, his father died. When he was eight, his mother remarried. The stepfather was not good at Hideyoshi's family (mother, older sister, and herself). Because of family difficulties, Hideyoshi became a novice monk. Later Hideyoshi left Guangming Temple and wandered around, selling needles for a living.
There is no conclusion about how Hideyoshi became Nobunaga's retainer. Yamaoka Shohachi wrote in the book "Oda Nobunaga" that Hideyoshi took advantage of Nobunaga's afternoon break at the tree to recommend himself. And Hideyoshi Yoshikawa wrote in the book Toyotomi Hideyoshi that Hideyoshi took advantage of Nobunaga's simulated battle with his retainers by the river and risked his life to recommend himself and enter the Oda family to serve.
Hideyoshi has not received a good education since childhood and is far incomparable with the second generation of officials such as Oda Nobunaga and Tokugawa Ieyasu. Because of malnutrition since childhood, Hideyoshi's body was not very good. The nickname "Monkey" lasted for a long time. It was not until the death of Nobunaga that Hideyoshi's power increased day by day, and no one dared to mention it again, so his body and appearance can be seen. If Oda Nobunaga, the heir of Owari Ichigo, is tall, rich, and handsome, Hideyoshi is well-deserved short and poor. The former is the greatest nobleman in the latter's life.
After entering Oda's house, Hideyoshi's identity is a domestic servant, and his task is to help the lord carry shoes. Later, he was promoted to work in the kitchen, and then promoted to Chai Carbon and Civil Engineering. Finally, he became a samurai and had 30 men. Since then, he has repeatedly made military exploits and his salary has gradually increased, becoming one of Nobunaga's right-hand men.
After the Mutiny of Innoji Temple, Hideyoshi gradually subdued or defeated Nobunaga's former officials and other forces, and made Tokugawa Ieyasu surrender to him. At that time, Japan was unified. If Hideyoshi could stop in time and consolidate his position at this time, Ieyasu might have nothing to do. But Hideyoshi had the ambition to dominate Asia and made a plan: first send troops to occupy North Korea (today South Korea and North Korea), occupy Ming Dynasty Ningbo, then occupy Tianzhu (now India), and finally occupy the capital of the Ming Dynasty, Beijing, and welcome the Emperor to move the capital to Beijing.
This battle fought from 1592 to 1598, and it did not end until Hideyoshi's death. After Hideyoshi's death, the Toyotomi Army concealed the news of Hideyoshi's death and signed a contract with the Ming Army. In this battle, the army headed by Toyotomi suffered a huge loss, and the vitality of the famous names was greatly injured, which paved the way for Tokugawa Ieyasu's aspiration to the Central Plains. Like Nobunaga, after Hideyoshi's death, his hard-working foundation in the southern and northern expeditions quickly fell apart in the hands of his heirs and was destroyed in one incident, which is embarrassing.
I sometimes find a phenomenon very interesting: after the European hegemony swept Europe, he seemed to like to invade Russia and suffered major setbacks in Russia, which in turn shaken the results he has achieved in Europe. After unifying the country, Japan seemed to like to unify Asia, but it often fell into the quagmire of a war in China.
Although the invaders are often forced to pay a huge price in blood, they survived the war by prolonging the war and prolonging the front. Although the aggressor has achieved a lot of success in the war, it has caused considerable damage to its vitality for a long time, causing disasters and internal instability.
As a result, it was either jointly strangled by other European countries, or replaced by other forces within its own country that was ready to move. Rarely can die well. If the hegemons of Europe and Japan were able to make good relations with Russia or better with China, and consolidate the country, perhaps the history of today is very different.
Hideyoshi passed away on September 18, 1598. About 300 years later, the Sino-Japanese War of 1894-1895 broke out. The 1931 Nian 09 Yue 18 Ri, in the Japanese Kwantung Army Arrangement, railroad "garrison" blow up the South Manchurian railway tracks near Shenyang wicker Lake, and frame blamed the Chinese military. The Japanese used this as an excuse to bombard the Shenyang North Camp for the "September 18 Incident." This is in the calendar in the history of both historic and important points in time, a really interesting coincidence at this time.
By the Hideyoshi declared war on mainland China, I think of modern history. It can be seen that even after 400 years, Japan's willingness and determination to dominate Asia has never been eroded with time. Such a firm from generation to generation heritage eternal ambition, really awesome. China has dozens of times as much territory as Japan and has several times as much force as Japan. However, not only does it have no overwhelming superiority in the war, it has an irresistible decline. It is worrying.
If every country is a person, in my mind, Japan is the most worthy of fear and respect. "Chrysanthemum and Sword" describe the national character of the Japanese, and this seemingly contradictory opponent can't help but respond cautiously with the spirit of twelve points.
" For nearly a hundred years since the Onin Rebellion, wars have continued. It is said that Western countries, China (in ancient times referred to the vassal countries near Kyoto in Japan, now refers to the five prefectures of Okayama, Hiroshima, Yamaguchi, Shimane, and Tottori), and the common people of Shikoku. Food was robbed, houses were burned, and I was desperate for life and completely lost the enthusiasm for labor, so I had to leave my hometown and wander eastward. "
"The Romance of the Three Kingdoms," writes, "The general trend of the world, divided for a long time must be united, and for a long time must be divided ". In feudal society, chaos and big government often alternating. Once chaos or peace and order appear, it will continue for decades, even more than a century.
"The war lasted for a hundred years. Two or three generations of ordinary people abandoned themselves and lost their confidence in life. The first person saw this situation and thought that this society was over. The second and third generations saw this from the day they were born. In the world, they have never seen the beauty of peace, morality, and freedom, so it is impossible to have any "conscience." Human sensibility has a keen side, although sometimes it can create excellent culture, it is always involuntary Earth restores its animal nature. Destruction is less laborious than creation, and sometimes destruction can bring greater joy than creation. "
"In terms of what is terrible, nothing is more terrible than the barbaric behavior of mobs who do not regard evil behavior as evil in troubled times. From yesterday to today, from today to tomorrow, the endless destruction continues to expand, and finally, all people are destroyed. Become a demon. Not all of the people gathered here are wicked bad guys. It cannot be said that they cannot survive without doing so. They are poor group victims. At the same time, the facts also show that they have changed. Has become an impulsive animal dehumanizing. "
" " In peacetime, normally ten thousand meters of stone can support approximately two hundred Wu ±, but they are responsible for the suppression of thieves, bad guys, the people from harm. Now the number of samurai has increased from 250 to 300, and recently it seems to have to hire about 400 to 500. "Calculating 10,000 shi meters for 500 people, the average person is 20 shi! Elder, can you eat so much by yourself? "Asshole! Not exactly eating. Including the purchase of weapons, horses, cattle work for the wife and children, Kaijia, clothing, bows and arrows, houses, etc., all expenses are paid from here. "It's definitely not enough. "If you don't have enough, you will fight again, you want to explanatory, and you will fight again if you are not satisfied after the fight... The vicious circle is endless. It can be described as an invisible hell on earth. " "
" Japanese guitar task is to Solomon in household kiln burning near pottery shipped to Manchuria.
Of course, the master and the second shopkeeper gently carry famous products. The heavy pottery carried by Riyoshi's back and carts is all crude products. Hiyoshi's body is getting weaker and weaker, and it is difficult to stick to the work of three people. Whether or shoulder to pull the car, he no law, like handling another three men to carry the pottery as before. Nevertheless, Hiyoshi still spared no effort to work hard. "That's it, no matter how much it is, I can't remember it!" said the assistant craftsman. "Not too much, let's add more!" Hiyoshi always gritted his teeth and tried to recite more than others. Hiyoshi was haggard due to overwork...Some people saw him as dark and thin, and instead of understanding him, they called him a "monkey". "
" No matter when people live on food, the next thing is to build shelters from the wind and rain. As for dressing, chanting poems, admiring paintings, and repairing temples to make offerings to the Buddha, these are all things to come later. " The industry is difficult to maintain. It is living and tired of, how can the extra effort and money are used in art and religion.
" People are having a" "unique biological Baozhang of the invisible. This gives a Baozhang not only from external support but also within the command center of all action. Life is an important pillar of. Kingdoms "
Aspiration is an invisible, intangible, and quite a virtual thing. It is also difficult for others to accurately determine what a person's true aspirations are. But such an abstract thing is great value in. It affects how a person uses his time, energy, and resources. Also, affect a person in the face of good times and adversity, it will be how to react.
Sang samurai tanpa pedang adalah Toyotomi Hideyoshi. Ia hidup pada abad ke-16, zaman peran antar klan dimana satu-satunya hukum yang ada adalah hukum pedang. Hideyoshi lahir dan tumbuh dengan segala kekurangan yang seharusnya membuat dia sulit bertahan pada masa itu. Anak petani miskin, pendek, kurus, tidak berpendidikan, jelek, tidak atletis, tidak bisa bertarung. Mau jadi daimyo (tuan tanah), bukan turunan ningrat. Mau jadi samurai, pendek, kurus, nggak bisa bela diri. Mau jadi foto model, jelek.
Lalu bagaimana seseorang seperti Hideyoshi bisa mencapai posisi puncak? Yup, anak petani miskin yang punya nama panggilan 'monyet' itu adalah pemimpin legendaris Jepang abad ke-16. Pemimpin yang mampu menyatukan negeri Jepang yang tercabik-cabik perang saudara. Orang pertama yang berhasil menduduki posisi wakil kaisar (kampaku) bukan dari turunan bangsawan.
Buku ini menceritakan perjalanan hidup Hideyoshi, bagaimana ia mencapai posisi puncak dengan kemauan keras, otak yang tajam, semangat yang tdk pernah padam dan wawasannya mengenai manusia. Bukan dengan pedang. 'Aku' dalam kisah ini adalah Hideyoshi sendiri. Sepertinya memang sombong menceritakan kelebihan2 sendiri :D Tapi Hideyoshi juga menceritakan kesalahan2nya, terutama pada bab terakhir. Kesalahan2 fatal setelah ia menjabat wakil kaisar. Kekuasaan memang melenakan. Bahkan untuk seorang Hideyoshi.
Inilah beberapa hal yang menunjukkan bhw Hideyoshi memperturutkan nafsunya: - Dulu tidak ada wanita yang tertarik pada Hideyoshi. Stlh menjadi penguasa, 1 wanita cantik yang telah menjadi istrinya tidak cukup. Hideyoshi menginginkan semua wanita. Pada suatu masa ia bahkan memiliki 300 selir. Msh tdk cukup, ia tertarik pd seorang wanita cantik yg ternyata anak temannya. Temannya menolak ketika Hideyoshi meminta putrinya menjadi selir, krn putri tsb br saja kehilangan suami dan msh berkabung. Hideyoshi pun meminta seorang penjilat utk mengarang tuduhan palsu thd sang teman. Mungkin, jika terancam akan di penjara, si teman akan menyerah. Trnyt teman Hideyoshi dan putrinya memilih bunuh diri. - Stlh jadi penguasa, Hideyoshi gemar minum sake dan makan makanan eksotis, hidangan yang tidak biasa. Ia ingin makanan yang hanya dimakan oleh segelintir orang saja. - Stlh kelahiran Hideyori dari salah satu selir, Hideyoshi bertekad menjadikan darah dagingnya itu sbg pewaris tahta, dengan cara apapun. Sementara itu, jauh sblm Hideyori lahir, Hideyoshi telah mengadopsi Hidetsugu, anak dari saudara perempuannya. Krn ketakukan Hidetsugu akan membunuh Hideyori, Hideyoshi memaksa Hidetsugu bunuh diri dan mengeksekusi seluruh keluarganya. - Yang terakhir, invasi Hideyoshi ke Korea dan Cina.
"Ia yang mengendalikan orang lain mungkin saja perkasa, tapi ia yang mengendalikan dirinya sendiri lebih perkasa lagi"
1. Благодарность, упорный труд, решительность в действиях и преданность. 2. Моим преимуществом стала бедность, потому что именно она помогла мне понять смысл борьбы за существование, которую вынужден вести человек из низов. 3. Лидеры должны быть благодарными. 4. Обижаться на повороты судьбы бесполезно. Единственное, что может принести пользу, — это уроки, извлеченные из полученного опыта. 5. Исключительная работоспособность позволяет тем, у кого ничего нет, превзойти тех, кто обладает привилегиями и положением. В этом «секрет усердия»: лидеры должны трудиться больше других. 6. Удача сопутствует бесстрашным. Лидеры должны безбоязненно использовать «секрет решительности»: в критические моменты действуйте смело. 7. Преданность другим порождает их преданность вам. Только тот, кто сам предан кому-либо, может претендовать на звание лидера. 8. Удача влияет на все сферы жизни, но главное значение имеет определение целей и мобилизация сил тела и души на их достижение. 9. Насколько лидер дальновиден? Насколько прогрессивно он мыслит? Чему лидер придает большее значение — эффективности или родовитости? Соответствуют ли размеры его организации вашим целям? 10. Лидер — это человек с ясным видéнием лучших времен, способный нарисовать картину будущего и вселить уверенность в других. 11. Сочетание молодости и дальновидности — верный залог успеха. 12. Моя линия поведения была проста: всегда бросай все силы на выполнение текущего задания. Любое поручение, даже самое незначительное, отданное тем, кто стоит выше тебя, требует полной самоотдачи. 13. Превосходить ожидания — девиз всей моей жизни. 14. Великие лидеры могут ошибаться, но они не сомневаются в правильности конечной цели. Четкое и верное видение будущего, способное вселить в последователей надежду и уверенность, — отличительная черта подлинных лидеров. 15. Если лидер желает воодушевить людей на достижение цели, он должен нарисовать им картину своего видения. 16. Улучшайте взаимоотношения с людьми, которых встречаете на пути, и они помогут вам. 17. Увеличивайте свой самый ценный капитал — расширяйте сеть личных знакомств. 18. Каждое «невыполнимое» задание требует двух вещей: тщательного изучения стоящей перед вами проблемы и решительных действий. 19. Если человек полагается лишь на меч и копье, это говорит о том, что у него сильная рука, но слабый разум. 20. Лидеру постоянно приходится идти на риск — иногда это значит, что на кон нужно поставить все. 21. Величие лидера зависит и от его готовности преодолевать препятствия. Чтобы добиться успеха в опасных предприятиях, необходимо использовать ��секрет самоотверженности»: рискуйте всем, чтобы выиграть все. 22. В любой сфере жизни — коммерческой, административной или военной — выигрывают те лидеры, которые знают «секрет первенства»: первым беритесь за дело, чтобы первым закончить. 23. Как сказал величайший китайский стратег Сунь-цзы, «каждое сражение выигрывается еще до того, как начнется». Точный расчет ведет к победе. Тот, кто не сумеет составить план, потерпит поражение раньше, чем ступит на поле брани. 24. Сильные лидеры понимают, что активные действия — лучшее лекарство от нерешительности. 25. Даже тот, кто во многом нуждается, улучшит свое положение, если станет в первую очередь думать о нуждах других людей. 26. Каждый раз, встречая потенциального союзника, я спрашиваю себя: «Что я могу сделать, чтобы доставить этому человеку удовольствие?» А затем делаю это! 27. Будьте строги к себе, но милосердны к другим. Милосердие рождает преданность. Развивайте способности лидера, используя «секрет великодушия»: прощайте других. 28. Лидер обязан делать громкие публичные сообщения и заниматься саморекламой. 29. Истинные лидеры понимают, что определяющим фактором их поведения должна быть честность. Желая привлечь союзников, используйте «секрет честности»: выполняйте обещания. 30. Самое важное, что может сделать лидер, — помочь другим приобрести то, что я называю привычкой побеждать. 31. Начинайте сражение только после того, как создадите условия для победы. 32. «Победоносная армия сначала осознает условия победы, затем ищет битвы; проигравшая армия сначала сражается, затем ищет победу». 33. Чтобы получить, сначала нужно дать. Применяйте этот принцип всякий раз, когда нужно наградить соратников или коллег: хорошо награждайте тех, кто хорошо служит. 34. Лидер всегда одинок. 35. Успешные лидеры доверяют близким друзьям и следуют их разумным советам. Их «секрет доверия»: выбирайте в советники самых надежных друзей. 36. Мудрые лидеры не стесняются использовать «секрет доверенного лица»: принимайте во внимание советы жены или мужа. 37. Если они выполнят задание как следует, наградите их. Если будут честно стараться, но у них ничего не выйдет, поручите им что-нибудь другое. В наказание за небрежность уменьшайте вознаграждение. За проступки выгоняйте. Вот и все, что нужно. В этом и заключается секрет управления. 38. Вместо того чтобы использовать мечи для отсечения вражеских голов, используйте свои головы для победы над вражескими мечами! 39. Не благоволить богатым и не презирать бедных. Не брать взяток. Не заводить ни друзей, ни врагов. Не откладывать никаких дел без должных оснований. 40. «Побеждающий других силен, а побеждающий себя могуществен». 41. Возвышенные стремления лидера должны подавлять его низменные порывы. Никогда не забывайте «секрет умеренности»: не позволяйте себе лишнего. 42. Чем больших успехов вы добиваетесь на лидерском поприще, тем больше внимания следует уделять «секрету сдержанности»: опасайтесь тщеславия. 43. Никогда не следует пренебрегать интересами семьи, но так же верно и обратное: нельзя позволять интересам семьи поглотить вас так сильно, чтобы это помешало заботиться о своей организации. 44. Пессимизм — это стратегия проигрыша. Лидер должен обладать уверенностью и оптимизмом. 45. Лучший солдат не атакует. Лучший боец добивается успеха, не прибегая к насилию. Величайший завоеватель одерживает победы без борьбы. 46. Умный полководец не любит воевать. Умелый воин не любит убивать. Умеющий побеждать первым не нападет. Умеющий править людьми не унижает. 47. Посвятите себя своему лидеру. Не чурайтесь тяжелой работы. Не скупитесь на благодарности. Действуйте решительно.
Mengisahkan perjalanan Wakil kaisar abad 15-an, jaman dimana pertama kali jepang tanpa peperangan..
Dibuku ini sebenarnya ingin mengungkapkan rahasia2 kepempimpinan beliau, beliau mempunyai latar belakang keluarga yang miskin. Pernah dengan terpaksa disuruh bekerja leh ibunya. Mempunyai badan yang kecil dan muka yang agak jelek, sehingga beliau waktu kecil akrab disapa "si monyet". Kemudian beliau memutuskan pergi mengelana demi tujuan menyatukan Jepang dan membebaskan perderitaan rakyat zaman peperangan. Beliau mempunyai idealisme, Perang bisa diselesaikan dengan diplomasi dan pemikiran bukan selalu dengan pedang atau tombak.
Beliau merupakan orang yang sangat loyal dengan atasannya. Di buku ini banyak mengisahkan perjalanan Hideyoshi yang menunjukkan keloyalan beliau. Buku ini sangat cocok untuk menanmabh pengetahuan kita mengenai kepemimpinan. Berasal dari kalangan rendah non bangsawan akirnya bisa menjadi wakil kaisar yang memegang kendali pemerintahan.
This book feels like a non-fiction self development about leadership in form of light historical story about Hideyoshi and his journey.
One problem; the plot. The timeline keep jumped around between before Nobunaga's death and after, and before again. Might confusing other reader which actually concern about Hideyoshi's life story.
Take notes that not all that contains in this book is true, where the first person perspective in this book obviously just to make readers comfortable with the content, and obviously does not come out from Hideyoshi himself. This book is basically Sun Tzu Art of War: Story of Hideyoshi Version.
But overall, I highly reccomend this book. This book have that exciting and fun to read aspect to it. It contained some life's lesson about leadership, FROM KITAMI MASAO, and how he poured it into this book is with by telling Hideyoshi's Life. NOT ACTUALLY FROM HIDEYOSHI HIMSELF.
A brief and concise book on leadership with clear DOs and DONTs. But I‘d say some of the guidelines are definitely outdated - in the modern world, sacrificing your personal life and interests in favour of your job and your boss is not the best way to get noticed or advance in your career… It might be so but very much in expense of your health etc
This very book was recommended to me by the type of leader who would expect you to live your life in accordance with samurai standards 😂 I take it as a manipulative way of forcing me to work even more. Sorry, man, no luck here.
*masih belum sempat bikin review seriusnya ni. Sayang kalo dibikin bercanda, walau ada bagian yang bikin saya nyengir sih dari kehidupan Hideyoshi*
Kutipan bikin nyengir #1 "...aku akan diperintahkan untuk melakukan seppuku dan setelahnya seorang samurai akan memenggal kepalaku. Tapi apa gunanya, kupikir, bila aku mati sekarang? Monyet tanpa kepala tidak akan menguntungkan Lord Nobunaga dan visi penyatuan Jepang."
This reads like a cross between a bad children's fable and a Tony Robbins infomercial. What's worse, Masao attempts to write in the voice of Hideoyoshi -- "I was a naughty lad who detested school" - a conceit that utterly fails, making this an even more excruciating read. Find a good historical biography if you want to learn from the life of Hideyoshi.
Many, many fictional stories about Sengoku Jidai forgot the presence of this political giant for the sake of Oda or Tokugawa. In fact, The Monkey (as he was popularly called) one of the most, if not the most, interesting figures during the chaotic era.
"Hideyoshi adalah pimpinan yang menakjubkan dan paling luar biasa dalam sejarah Jepang. Ia lahir pada tahun 1536 dari sebuah keluarga miskin di Nagoya. Dilihat dari asal-muasalnya yang sederhana, orang sama sekali tidak menyangka ia akan menjadi terkemuka." Hal.ix.
Secuil pengenalan tentang Hideyoshi itu tertulis di halaman pertama Kata Pengantar. Jujur saja, walaupun suka dengan budaya Jepang, blas saya nggak begitu paham sejarahnya. Dengar nama Hideyoshi pun baru ketika akan baca buku ini.
"Hideyoshi bertubuh pendek, tidak atletis, tidak berpendidikan, dan berwajah jelek."
Saking jeleknya, ia dipanggil monyet oleh Lord Nobunaga. Namun, ia rela dipanggil demikian asalkan diizinkan bekerja di kediaman Nobunaga, salah satu tokoh pemersatu Jepang. (Yang kalau saya baca, ya Jepang dulu dikuasai oleh banyak pihak sebelum kemudian bersatu menjadi Jepang seperti yang kita kenal sekarang).
Di kediaman Oda Nobunaga, Hideyoshi bekerja apa saja. Menyiapkan sendal setiap kali Oda akan bepergian, atau mengurusi kuda-kudanya. Tapi, Hideyoshi selalu tidak main-main dengan tanggung jawab yang ia dapatkan. Tak heran ketika kemudian perlahan, ia diberi kepercayaan sedikit demi sedikit nak naik "kelas" yang semula jadi kroco kemudian berhasil memimpin pasukan.
"Orang menyebutku monyet karena kecerdikanku, dan karena telingaku yang lebar, kepala yang kebesaran, dan tubuh yang kerempeng.... Beberapa bahkan berkata aku adalah pemimpin berwajah paling jelek dalam sejarah Jepang." Hal.5.
Diambil dari sudut pandang orang pertama, kisah hidup Hideyoshi ini ya ditampilkan seolah-olah kita sedang menjadi dia, berada di dalam isi kepalanya. Harus diakui pemikiran-pemikirannya luar biasa. Beberapa terasa menampar juga.
"Aku tidak percaya pada kata mustahil. Dalam hidupku, aku berhasil mencapai banyak hal yang semestinya mustahil. Kau bahkan bisa berkata bahwa tugas pemimpin adalah untuk mengubah kemustahilan menjadi kenyataan." Hal.51.
Ada banyak kejadian yang diceritakan di buku ini. Misalnya saya, pada satu kali Hideyoshi diperintahkan untuk berunding dengan musuh. Ia berhasil mendapatkan kepercayaan musuh untuk bergabung bersama Oda. Sayangnya, begitu ia laporkan, Oda berubah pikiran dan meminta Hideyoshi untuk membunuhnya.
Padahal, Hideyoshi sudah berjanji untuk menjamin keselamatannya. Lantas, bagaimana caranya ia memecahkan permasalahan ini?
Lalu ketika Oda Nobunaga mati terbunuh dan mulai muncul ketegangan dan pencarian akan siapa sosok yang berhak mengantikannya. Keturunan Oda yang lahir dari rahim para selir berebut untuk menggantikan posisi itu. Sedangkan, anak kandung Oda sendiri masih berusia sangat kecil. Di saat inilah Hideyoshi hadir pula dengan ide-idenya yang walaupun tidak memuaskan semua orang tapi paling tidak dapat meredakan ketegangan yang ada.
Di saat yang lain, ketika Hideyoshi diberikan tantangan untuk membangun sebuah benteng pertahanan, di saat para kuli tidak menunjukkan progres pembangunan yang berarti. Alih-alih mengancam, di saat waktu yang kian sempit, Hideyoshi kemudian meliburkan para pekerja, memberi waktu mereka istirahat. Menjamu mereka dengan makanan berlimpah. Hingga kemudian ia membuat strategi, dengan membagi 500 pekerja ke dalam tim dan menjadikan masing-masing tim berkompetisi dengan hadiah yang besar.
"Mulai saat itu, mereka melihatku dengan cara berbeda. Hingga pagi tadi, mereka hanya menganggapku sebagai tangan kanan sableng Nobunaga yang lain. Sekarang mereka melihatku sebagai seorang pemimpin yang berjuang bersama mereka dan bukan di atas mereka." Hal.59.
Ah, banyak sekali kisah inspiratif perjalanan Hideyoshi yang dibagikan di buku ini. Sampai kemudian saya mikir, "emangnya nggak ada celahnya?"
Ternyata di bab terakhirlah hal ini diceritakan. "Kesalahan-kesalahan yang terbesar bisa dianggap berasal dari satu kelemahan: kesombongan." Hal.242.
Hideyoshi sangat mencintai istrinya, namun di saat yang bersamaan ia juga memiliki 300 selir! selain itu, setelah berhasil menyatukan Jepang, Hideyoshi mulai tamak dan ingin menginvasi Korea dan Tiongkok. "Aksi-aksi sepihak tersebut membuat dua bangsa besar Asia itu membenci Jepang. Aku malu setiap kali memikirkan ratusan ribu orang yang kehilangan nyawa hanya karena ambisiku yang tak terkendali." Hal.242.
Ya begitulah kehidupan Hideyoshi. Dari semua keberhasilan yang ia perbuat, termasuk juga kesalahan pengambilan keputusan akibat kesombongan dan ketamakkan, saya sebagai pembaca belajar banyak.
Jepang masih jadi satu destinasi impian. Jika kelak berkesempatan ke sana, saya berniat untuk sebanyak-banyaknya, mendatangi tempat-tempat bersejarah yang ada hubungannya dengan Hideyoshi. Salah satunya Osaka Castle yang ternyata dibangun olehnya.
Toyotomi Hideyoshi nin hayatı ve liderlik hakkındaki düşünceleri üzerine olan bu kitap, bir kişisel gelişim kitabından çok daha fazlası bence. Kitami Masao nun tarihsel olarak anlattığı bazı kısımlar ( Hideyoshi nin emrinde çalıştığı ilk samuray, Hideyoshi nin Mitsuhide hakkında düşünceleri) spekülasyona açık olsada, Sengoku Zamanı nda Oda klanının efsanevi lideri Nobunaga nın yegane hedefi olan Japonya yı tek bir çatı altında toplama düşüncesini Hideyoshi nin devralıp ne gibi ilkelere bağlı kalarak gerçekleştirdiği benim için pek merak konusu olmamıştır. Bunun nedeni benim japon samuray kültürüne olan yüzeysel ilgimden dolayı hep Nobunaga yı yani sahnenin ortasındaki oyuncuyla ilgilenmem olabilir. Onun çağının çok ötesinde olan vizyonu ve hızlı karar verme becerileri onu her zaman diğer daimyo ve toprak sahiplerinin önüne geçirmiş, Shogun tarafından farkedilmesi ve onun yerine geçmesi çok şaşırtıcı olmamıştı. Fakat suikasti sonrasında yaşanabilecek klan içi parçalanma ve liderlik için gayri meşru çocuklarından Nobutaka nın kukla lider olarak kullanması gibi engellerin nasıl aşıldığını hiç düşünmemiştim. Onun altında çalışan "Maymun" lakaplı Hideyoshi nin Japonya tarihinde böyle önemli başarılara imza atması, kitabı okuduktan sonra şaşırtıcı gelmedi bana. Onun toplumun alt tabakasından çıkış kılıç ve soy un önemli olduğu bir çağda böyle başarılı olması hiçte şaşırtıcı değil !
Kitamai Masao’nun kaleme aldığı bu kitapta Japonya’nın en ünlü hükümdarlarından Toyotomi Hideyoshi’nin yaşamı üzerinden önemli bilgelik sırları yer alıyor.Aslında bize Toyotomi Hideyoshi’nin yaklaşımını günümüzde nasıl uygulayabileceğimizi gösteriyor.
Liderlik ve çalışmak üzerine önerilerini dinlemekte fayda var. Bazı not aldıklarım :
* “Liderlik etmek istiyorsanız doğal yeteneklerinizi ön plana çıkararak, kendinizi diğerlerinden farklı kılmanız gerekir” * Tavsiye : “Unutmayın, sizin ilişki kurmayı seçtiğiniz insanlar, yaşamınızı, sizin katılmayı seçtiğiniz aktivitelerden çok daha fazla etkiler. Özellikle genç insanlara, ne iş yaptıklarına değil, kimin için çalıştıklarına odaklanmalarını tavsiye ederim.” * “Kaderin bize dağıttığı eli seçemeyiz. Ama o eli nasıl oynayacağımızı seçebilir ve muhtemel en iyi sonucu doğurmak için elimizden geleni yapabiliriz. Bir lider olarak, siz bir geminin kaptanı gibisinizdir. Okyanusun azgın dalgalarını kontrol edemezsiniz ama hepinizi sadece emniyete değil, daha iyi bir limana götürecek yolu seçebilirsiniz.”
Semacam paham dengan tujuan yang pengin dicapai Hideyoshi. Sayangnya, aku membandingkan tindakan Hideyoshi dengan nilai-nilai yang aku anut. Nilai-nilai ini tentu saja terkait erat dengan dunia kerjaku sendiri, yang tentu saja ada aspek upaya mencapai puncak kekuasaan (baca:jabatan) tertinggi.
Terlepas dari upaya serius Hideyoshi untuk maju dan mencapai kekuasaan, tetap saja timbul kesan dalam diriku bahwa dia terlalu mengandalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Di halaman awal, sudah terbeber satu Rahasia; Rahasia dalam Melayani yaitu Kesampingkan kepentinganmu sendiri demi kepentingan pemimpinmu. You know, orang macam apa yang punya prinsip seperti itu.
Ngg…
Well, dari sisi teknis, buku ini masuk kategori selfhelp book cabang kepemimpinan. Beberapa Rahasia yang diungkapkan di sini terbilang mudah diaplikasikan, misal Rahasia untuk Mempertahankan Hubungan: Jadilah yang pertama dalam memaafkan. Mudah, kan? Mudah? Nggak, ya? Ya sudah.
Ещё одна азбука лидера-управленца. Теперь со вкусом Японии!
Те же самые базовые тезисы здравомыслия в управлении, которые вы могли бы прочитать в любой другой книге по самым основам менеджмента. Но концепция интересная - исторические факты добавляют даже избитым мыслям налёт благородной старины и надпись "ХО" на этикетке. В целом, можно запускать целую франшизу, не меняя сути - Оби-Ван Кеноби без лайтсайбера, Квинтилий Вар без легионов,Линкольн без топора, и т.д. и т.п.
Полноценному погружению в идею книги немного мешает мысль, что из-за спины вот-вот выглянет негодующий на нахальных гайдзинов дух Тоётоми Хидэёси и сообщит, что "на самом деле, такого не говорил".
For those who are interested in the history of Hideyoshi, as told in a first person storytelling format, with the sprinklings of “moral of the story” leadership maxims after each “episode” of his life... this is your book.
I skimmed the book after about 30% in because it just wasn’t what I was looking for in a leadership book. It did not provide the soul searching journey I was looking for.