Buku ini memuat antologi cerita dari pengarang perempuan Amerika, antara lain:
Charlotte Perkins Gilman - The Yellow Wallpaper Edith Wharton - Roman Fever Flannery O'Connor - A Good Man is Hard to Find Kate Chopin - Story of an Hour Louisa May Alcott - The Piggy Girl Pearl S. Buck - Christmas Day In The Morning Shirley Jackson - The Lottery Sylvia Plath - Johnny Panic and the Bible of Dreams Willa Cather - A Wagner Matinée
Charlotte Perkins Gilman (1860-1935), also known as Charlotte Perkins Stetson, was a prominent American sociologist, novelist, writer of short stories, poetry, and nonfiction, and a lecturer for social reform. She was a utopian feminist during a time when her accomplishments were exceptional for women, and she served as a role model for future generations of feminists because of her unorthodox concepts and lifestyle. Her best remembered work today is her semi-autobiographical short story, "The Yellow Wallpaper", which she wrote after a severe bout of post-partum depression.
Empat bintang karena nyaris semua cerita dalam kumcer ini sukses bikin terbengong-bengong. (Warning: not for the faint of heart!) Terjemahannya juga luwes dan enak dibaca. Cerita favoritku jatuh pada cerita pertama, Kertas Dinding Kuning (The Yellow Wallpaper) oleh Charlotte Perkins Gilman.
This is beyond my expectations. At first I only want to read The Lottery in Bahasa Indonesia. But, the other short stories stuck in my head too.
My top 3 fav : 1. The Lottery by Shirley Jackson (still 😅); 2. Johnny Panic and the Bible of Dreams by Sylvia Plath; 3. The Yellow Wallpaper by Charlotte Perkins Gilman.
Membelinya sebagai salah satu seserahan bulan Agustus lalu. Membacanya bulan Oktober. Menyelesaikannya akhir November ini. Fun fact, buku ini sempat aku daftarkan dalam diskusi ragam buku jelek yang diadakan Klub Buku Kongsi di Kongsi 8, Jatinegara. Lucu sekali, aku menganggapnya jelek setelah hanya membaca dua cerpen pertama. Alasan aku menganggapnya cocok dikategorikan sebagai buku jelek cuma satu: terjemahannya. Sungguh aku tidak menikmati cerpen pertama dan harus membaca dalam kecepatan rendah untuk cerpen kedua.
Bodohnya aku, yang buruk ternyata bukan bukunya, melainkan pembacaanku. Beruntung aku memilih melanjutkan membaca cerita-cerita selanjutnya. Dan beruntung aku kehabisan slot pada acara diskusi itu.
Ya, terjemahan pada cerpen pertama, Kertas Dinding Kuning, membuat kepalaku sakit. Cerpen kedua, Demam Roma, sama saja, tapi inti ceritanya lebih mampu menyentuh inti jiwa. Ini faktor cara membacaku; waktu, suasana, situasi ketika aku membacanya.
Semua penulis perempuan Amerika dalam buku ini belum lagi aku kenali, kecuali Sylvia Plath (tapi cerpennya paling akhir kubaca sebab, ya, kita tahu sendiri bagaimana Plath menulis...). Terjemahan oleh Nadya AndwianiNadya Andwiani ini membuka pintu perkenalan terhadap nama-nama penulis perempuan tersebut.
Entah mengapa penerbit memilih penulis-penulis perempuan yang ini dan bukan lainnya, juga bagaimana latar belakang pemilihan cerita dari setiap penulis, aku tidak paham. Masing-masing punya khasnya, masing-masing punya daya tariknya, tapi kuberitahu padamu, cerita Lotre karya Shirley Jackson punya nilai 10/10 dari semuanya!
Berbagai cerita pendek karya penulis perempuan ada disini, beberapa yang menyentuh ada di cerita tentang Bibi Georgiana yang menemukan kembali jiwa musik dan segala tembang indah gelaran teaternya pada suatu waktu bersama penutur cerita, keponakannya ('Konser Siang Wagner'). Di tengah kehidupan berkeluarga dan merawat bisnis peternakannya yang ia dan suami bangun bahkan kurang dari nol, bisa dikatakan kerasnya hidup masih tidak meniadakan pembasuh jiwa sebenarnya yang ada pada Bibi Georgiana, yaitu gelaran musikal dan instrumen melodis dari konser Wagner. 'Lotre' juga tidak terduga, siapa tahu bahwa yang mereka undi bukanlah harta, melainkan nyawa mereka sendiri? 'Gadis Jorok' diselimuti narasi kanak-kanak yang mengingatkan kita pada cerita dengan pesan moral yang berguna untuk pola pikir perkembangan anak. 'Pagi Hari Natal' sangat hangat, menginginkan pembaca untuk menyadari rasa sayang orang-orang terdekat melalui tindakan. Persahabatan dua ibu ('Demam Roma') yang sama-sama memiliki anak gadis yang tanpa sadar sering mereka banding-bandingkan dengan diri mereka sendiri, ternyata menjadi malapetaka bagi martabat keperempuanan mereka (hoo boy, drama picisan di era 1800-an Eropa wasn't on my list but here we are).
Rating⭐: Charlotte Perkins Gilman - Kertas Dinding Kuning 3.7/5.0 Edith Wharton - Demam Roma 4.0/5.0 Flannery O'Connor - Betapa Susahnya Menemukan Pria Baik-baik 4.0/5.0 Kate Chopin - Kisah Satu Jam 4.2/5.0 Louisa May Alcott - Gadis Jorok 4.1/5.0 Pearl S. Buck - Pagi Hari Natal 4.3/5.0 Shirley Jackson - Lotre 4.7/5.0 Sylvia Plath - Johnny Panic dan Alkitab Mimpi 3.5/5.0 Willa Cather - Konser Siang Wagner 4.6/5.0 Overall: 4.1
Rating sebenarnya: 4.5⭐ Pemilihan cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini keren sekali! Setiap penulis (menurutku) bersinar dalam cerpen masing-masing. Tiap penulis unik dalam gaya masing-masing hingga kumerasa tak ada cerpen yang tak kusuka. Tapii... Aku punya cerpen-cerpen terfavorit yang meninggalkan jejak lama setelah menamatkannya, judul-judulnya: - Roman Fever - Story of an Hour - The Lottery