Pernahkah Anda berpikir ingin mengganti keluarga Anda walau hanya beberapa hari saja? Tentu saja tidak ada keluarga yang sempurna. Keluarga adalah anugerah, tapi pada segelintir orang keluarga bisa juga menjadi kutukan. Kita tidak bisa memilih terlahir di keluarga yang seperti apa; kita terikat oleh darah dan takdir. Namun fakta ini bukannya tidak dapat disiasati. Untuk itulah Keluarga Lego hadir di tengah-tengah masyarakat dewasa ini.
Yohana, seorang wanita paruh baya, mendaftarkan diri di sebuah panti jompo setelah rumahnya mengalami kebakaran sepuluh tahun silam. Di panti jompo itu dia berteman dengan Naomi, wanita tua yang ingin kembali bersama anak-anaknya. Ketika seorang lelaki muda membuka iklan lowongan adopsi keluarga, serta merta Yohana mendorong Naomi untuk ikut serta. Di luar dugaan, Naomi diterima. Merasa kesepian di antara para manula, Yohana pun menyewa ‘anak’ di sebuah perusahaan jasa sewa-menyewa anggota keluarga, bernama Keluarga Lego.
Meskipun premisnya menarik, ada banyak hal buatku merasa vibenya salah. Misal, tentang titik berat novel ini yang ternyata bukan pada keluarga lego yang bisa ditukar pakai sekenanya. Karakter eva dan eros dan boris, cuma tempelan tanpa makna lebih lanjut. Kalau memang demikian, kenapa dibahas sama sekali. Jika memang ternyata ini hanya tentang keluarga Yohana, ya harusnya hanya tentang itu dan seputarnya, tidak melebar ke kasus pelecehan anak, kegalauan remaja, atau perselingkuhan (emangnya layangan putus!)
Hal kedua adalah alur ceritanya yang sedikit off. Kenapa Yohana (yang memasukkan dirinya sendiri ke wisma jompo, dan bahagia di wisma selama ini) dengan mudahnya mematuhi suruhan Naomi untuk tinggal sendiri. Dengan kepribadian Yohana yang seperti itu, apa mungkin ia dengan mudah mencoba menyekap anak legonya?
Entahlah, karakterisasi tokohnya tidak kuat dan berubah-ubah, ceritanya sering melenceng dari alur utama. Beberapa bagian aku suka sekali, yang lainnya meh. Mungkin lebih baik kalau cerita ini fokus ke Yohana, dan lebih banyak memberikan nafas pada Victor... bukan tiba-tiba muncul jadi tokoh penting di akhir.
Baca buku ini tanpa ekspektasi apa-apa. Ceritanya menarik, kalimatnya efektif dan nggak bikin bosen. Tuntas dalam dua hari. Awal ceritanya biasa, namun lama-lama ketegangan ceritanya naik sedikit-sedikit dan berakhir dengan ending yang mengejutkan.
Cerita diawali dengan Naomi, penghuni baru Panti Jompo yang belum bisa beradaptasi dengan kondisi barunya. Tiap hari dia mengeluh dan menangis. Puncaknya ketika jadwal berkunjung akhir pekan, anaknya tidak datang. Ia merasa terbuang dan tak diinginkan.
Yohana, penghuni lama Panti Jompo mendorong Naomi utk mengikuti audisi sambil menunjukkan iklan di surat kabar. Seorang pengusaha kaya yatim piatu bernama Victor, mengadakan audisi ayah, ibu, kakak, dan adik untuk diadopsi menjadi anggota keluarganya.
Yohana sendiri tidak tertarik ikut, toh ia masuk panti jompo atas keinginannya sendiri setelah suami dan anaknya tewas karena kebakaran.
Singkat cerita, dengan bantuan Yohana, Naomi lolos audisi menjadi nenek dan keluar dari panti jompo.
Suatu hari dalam perjalanannya pulang naik bis seusai mengantar koper milik Naomi, seorang nenek yang duduk disebelah Yohana terlihat menggunakan bros lego kelap-kelip di bajunya.
Ngobrol-ngobrol ternyata nenek tersebut adalah sebuah robot canggih milik perusahaan “Keluarga Lego”. Dia baru saja disewa selama satu jam oleh sebuah keluarga untuk menjadi neneknya.
Keluarga Lego menawarkan solusi menarik bagi mereka yang merasa tidak mendapatkan keluarga idealnya hanya melalui aplikasi yang ada di handphone. Yohana pun tertarik mencobanya. Ia ingin seperti teman-teman jompo lainnya, yang setiap akhir pekan dikunjungi anak dan cucunya.
Akhirnya ia menyewa anak laki-laki. Sungguh menyenangkan, robotnya benar-benar seperti manusia. Sangat perhatian dan sayang padanya.
Suatu hari Naomi menulis surat dan menyarankan Yohana untuk pindah dari rumah jompo tersebut. Naomi yg kini kaya mendadak sejak diadopsi Victor menyediakan tempat tinggal beserta perabot lengkap untuk Yohana di sebuah rusun.
Tentu saja Yohana setuju. Dia bosan dan muak dengan kegiatan dan aturan di panti jompo. Ia ingin bebas hidup sesuka hatinya.
Untuk melengkapi hidupnya, ia menyewa robot cucu yang tiap minggu berkunjung kerumahnya. Namun lama-lama ia bosan. Yohana hidup sendiri dalam kesepian yang memuakkan dan merasa hari-harinya hampa.
Ia ingin kembali ke panti jompo. Tempat dimana ia punya banyak aktifitas, ada teman yang bisa diajak mengobrol, dilayani suster, makanan tersedia, tidak perlu memasak, menyapu dan mencuci baju sendiri.
Barangkali dalam buku ini, penulis ingin menyampaikan pentingnya peran keluarga dalam hidup manusia, yang tentu saja tidak bisa digantikan oleh teknologi paling canggih sekalipun.
Rating awalnya 4.5 tapi karena aku suka suka suka banget sama buku ini, aku merasa layak kasih 5 bintang mengingat tak banyak yang meresensi buku ini.
Aku suka bagaimana cerita dikisahkan dalam berbagai POV. Tiap POV mengulas tema yang sama: alienasi dan kesendirian (satu seorang nenek, satu perempuan muda, satu remaja lelaki) Dan POV favoritku tentu saja si nenek nyentrik: Yohana.
Cicilia Oday menurutku pandai sekali membangun tensi. Dari awal sampai akhir, cerita dituturkan dengan efektif, dengan diksi yang tak neko-neko dan enak diikuti. Keberhasilan membangun tensi tentu tak bisa dilepaskan dari ketepatan membangun diksi.
Endingnya lumayan bikin hati mencelos. Sungguh, sungguh sebuah karya yang mengobrak-abrik permasalahan keluarga yang dekat dengan sehari-hari dalam kisah unik bercampur robot masa depan.
Buku yang layak untuk terkenal dan dibaca banyak orang! (I said what i said)
Bagi beberapa orang, keluarga adalah anugerah. Namun bagi sebagian lainnya, keluarga adalah kutukan. Ada saja orang tua yang selalu merasa benar dan anak yang selalu dianggap kacau dan merasa sendiri. Buku ini menggambarkan tokoh-tokoh kesepian yang beberapa diantaranya bisa bertemu dan saling mengisi untuk mengusir sepi. Menggambarkan masalah yang sering terjadi di tengah-tengah keluarga yang kerapkali terlihat tak ada solusinya.