Kitab ini bukan sekadar berkata warung ini enak, menu ini istimewa, resep ini dahsyat, tetapi mempunyai kisah tentang keringat dan air mata. Sebuah kitab tentang rasa yang membentang rasa makanan dan sekaligus sejarah sebuah keluarga, sejarah pertikaian dan rekon- siliasi, sejarah pergumulan perasaan…
Saya bisa nobatkan Puthut EA sebagai salah satu penulis terbaik dalam hal menceritakan teman-temannya. . Buktinya sudah panjang, terutama bagi yang berteman dengan Beliau di Facebook. Puncaknya, sejauh ini, mungkin ada pada buku Para Bajingan yang Menyenangkan. Buku yang membuatmu terpingkal-pingkal sembari menikmati indahnya persahabatan. Puthut mahir sekali dalam observasi dan hangat saat menceritakannya kembali. . Kitab Rasa juga berisi hal yang kurang lebih seperti itu. Ada 8 cerita, pendek-pendek, ringan sehingga mudah dibaca, dan hangat. Seringkali kita ikut mengandaikan ke kehidupan sendiri: siapa ya si Anu ini kalau di hidup saya? . Ada satu cerita di buku ini, judulnya Mas Marga, yang ‘ngena banget’. Dalam angan jauh-jauh hari, saya ingin menjalani hidup seperti Mas Marga. Persis sampai detil kecil perihal mencuci piring sebagai penyambung hidup sehari-hari. Cerita Puthut seolah bocoran nasib bila saya nanti benar-benar menjalani laku ini.
Membaca buku mas Puthut selalu membuat batas antara fiksi dan kenyataan menjadi kabur. Dalam pengantar buku ini, tersempil kisah yang dialami Mas Puthut saat menulis. Namun entah kenapa saya menganggapnya sebagai cerita fiksi bagian dari cerita yang disajikan di buku ini. Seperti Kelakuan Orang Kaya, menurutku buku ini adalah cerita sufi yang dibungkus dalam kumpulan cerita ringkas. Tipis namun bernas.