pinjam baca dari rak Jakarta Bookhive MRT Blok M
masih tak pernah bisa benar-benar memahami buku puisi bagaimana seharusnya mengapresiasinya. aku masih terjebak di karya puisi lama yang: Terikat pada jumlah baris, rima, irama, diksi, intonasi dan sebagainya. jadinya, belum bisa begitu menikmati puisi baru yang kebanyakan asimetris, kecuali diksi dan maknanya cukup tersurat dan langsung menghunjam jantung.
namun, tetap ada bagian-bagian yang kusuka dari puisinya di sini:
Bertelanjang fatwa, kau susuri jalan menuju maya
Kau sibak duka lara, kau tebas yang nestapa
Bagaimana caranya menjadi intan permata
sementara dunia semakin belantara?
===Kekinian hlm.51
Di dapur, mama duduk dan berdoa
semoga di sosial media ada surga yang lebih bijak
dibanding yang ada di telapak kakiku
===Kekinian hlm.52
dan untuk satu puisi penuh, aku suka Menanam Jagung di Rumah Kita hlm.65-67