Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ia Meminjam Wajah Puisi

Rate this book
Sungguh, puisi serupa Medusa. Barangsiapa menatap matanya, kaku gugu tubuhnya. Kau boleh menghitung mundur. Di luar, kelinci jatuh dari bulan. Burung gagak meminjam teriakan Tuhan. Musik dimainkan—tidak ada nada minor. Patah hati selalu nisbi dan kita pandai berpura-pura.

*
Saya ingin punya umur panjang di dalam puisi—sekalipun jalannya berliku, berlubang, becek, juga banyak rambu yang seringkali saya langgar. Toh, pada akhirnya, saya mengamini Chairil Anwar, hidup hanya soal menunda kekalahan. Jauh sebelum itu terjadi, manusia bebas memilih cara bertahan. Dan saya memilih puisi.
-Aya Canina

86 pages, Paperback

Published April 1, 2020

6 people are currently reading
73 people want to read

About the author

Aya Canina

2 books44 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
18 (38%)
4 stars
13 (27%)
3 stars
16 (34%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Sintia Astarina.
Author 5 books359 followers
December 4, 2021
Terlepas dari topik yang lekat dan kesenangan penyair dalam memainkan metafora, bagiku buku puisi ini adalah bentuk meditasi emotional release. Dalam prosesnya, penyair mencoba kembali mengingat masa lalu yang menyakitkan (ya, karena terkadang hidup nggak selalu menyenangkan, bukan?), memproses dan menghadirkannya dalam ingatan, lalu berteman akrab sampai ia kenyang dengan rasa sakitnya. Hasil dari sisi emosional yang dilepaskan itu melahirkan bait-bait puisi, suatu tanda akan penerimaan, pelepasan, dan penyembuhan. Puisi meringankan isi kepala dan hati Aya.

Yang kutangkap, buku puisi ini pun menyimpan banyak catatan pendewasaan.
1. Toxic relationshit sampai udah kebal sama gombal abal-abal (alias nggak mau lagi gampang kena rayu).
2. Cerita-cerita soal mantan dan cara membalasnya dengan cara elegan.
3. Anak rantau yang kangen pulang ke rumah tapi adaaaaa ... aja. :(
4. Menginginkan kehidupan orang lain yang (selalu terlihat) lebih dan lebih, padahal ...
5. Berteman dengan kesepian dan ekspektasi dan nggak ada yang peduli.
6. Melangkah jauh bersama orang tersayang yang pada akhirnya membuat kita tersadar "Dunia begitu luas dan kita tidak pernah ke mana-mana" (Larik diambil dari "Sudah Sampai Mana Kita?" halaman 68)

Kok pahit, ya? Hahaha. Ya, begitulah. Namanya juga proses healing. Harus siap menerima yang pahit-pahit sampai jika suatu saat disapa kembali, rasanya udah nyaman-nyaman aja.

___

Rasanya pembaca bisa kenal siapa dan gimana karakter Aya dari tulisan-tulisannya. Meski aku yakin, di dalam kepalanya, masih ada lebih banyak dari itu.

Selengkapnya di https://www.instagram.com/p/CXDaQlnvnCo/
Profile Image for chyntia putri.
53 reviews2 followers
February 13, 2022
logikaku bilang aku tidak akan patah hati karena membaca narasi melankolis. hatiku tertawa, 'tunggu saja sampai kau menemukan yang ditulis dari hati'.
Profile Image for ijul (yuliyono).
815 reviews971 followers
February 23, 2025
pinjam baca dari rak Jakarta Bookhive MRT Blok M

masih tak pernah bisa benar-benar memahami buku puisi bagaimana seharusnya mengapresiasinya. aku masih terjebak di karya puisi lama yang: Terikat pada jumlah baris, rima, irama, diksi, intonasi dan sebagainya. jadinya, belum bisa begitu menikmati puisi baru yang kebanyakan asimetris, kecuali diksi dan maknanya cukup tersurat dan langsung menghunjam jantung.

namun, tetap ada bagian-bagian yang kusuka dari puisinya di sini:

Bertelanjang fatwa, kau susuri jalan menuju maya
Kau sibak duka lara, kau tebas yang nestapa
Bagaimana caranya menjadi intan permata
sementara dunia semakin belantara?

===Kekinian hlm.51

Di dapur, mama duduk dan berdoa
semoga di sosial media ada surga yang lebih bijak
dibanding yang ada di telapak kakiku

===Kekinian hlm.52

dan untuk satu puisi penuh, aku suka Menanam Jagung di Rumah Kita hlm.65-67

Profile Image for Aira Zakirah.
173 reviews8 followers
May 9, 2022
Membaca lembar demi lembar buku ini, tersesat, dan akhirnya ingin kembali ke halaman awal.

Bagi saya, buku puisi tidak tuntas jika hanya sekali tamat, tapi untuk pembacaan pertama ini saya berhasil dibuat merasakan macam-macam emosi; entah bagaimana, beberapa puisi begitu mahir membawa saya dalam banyak cerita dan segala hal yang terinterpretasikan dalam tiap alineanya.

Ada puisi-puisi yang terkesan gelap, muram, atau apa pun istilah yang menggambarkan perasaan tidak bahagia yang dari membaca beberapa kalimatnya saja refleks membuat saya berhenti sejenak, termenung, membaca ulang hingga tahu, makna apa yang sudah sampai, mengetuk kesadaran saya.
Profile Image for Tyo Mokoagow.
15 reviews
April 2, 2025
senang mengamati penyair di taman kekanak bernama bahasa indonesia, sebagaimana kita senang meniti kejutan demi kejutan almarhum jokpin. kesenangan itu aku alami kembali ketika bagaimana aya canina menghidupkan potensi diksi menjadi permainan yang tak dipelajari di kelas bahasa indonesia.

beberapa puisi yang saya suka: "headline news", "mencari matamu", "penyair yang jatuh cinta", "tuhan dan kau tidak libur", "mendoakan keselamatanmu".
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.