Semua orang pasti pernah merasakan semua tingkat bahagia dan sedih di dalam perjalanan hidupnya. Memasang senyum, meski diam-diam meneteskan air mata; menyimpan luka. Mencoba bertahan dengan keyakinan waktu yang akan menyembuhkan. Namun, kekuatan penyembuh itu sebenarnya ada di dalam diri sendiri, di dalam hati yang terluka. Kunci pembukanya adalah rasa ikhlas untuk melepaskan; menerima luka, dan berbaik hati kepada diri sendiri bahwa kita juga berhak untuk kembali berbahagia.
"Tuhan tidak menciptakan cinta, untuk membuatmu pergi dari-Nya".
Satu naskhah yang mengandungi himpunan kata-kata mengenai percintaan, kekecewaan, pemergian, merelakan dan semestinya mengikhlaskan. Apakah yang dimaksudkan dengan ikhlas paling serius? Dinyatakan oleh penulis dalam tiga baris ayat yang bermakna 💛
Buku ni bisa dibaca hanya dengan sekali duduk saja. Dibahagikan kepada tiga bab iaitu melupakan, mengikhlaskan, dan akhirnya menemukan. Halaman mengandungi kata-kata yang diselang-selikan dengan gambar hitam putih.
Ada hal yang tak bisa kita pertahankan. Tak perlu dipertahankan kerana hanya memakan diri sendiri. Mulalah berdamai dengan hatimu. Mulalah berjalan ke depan setelah dilukai kerana kebahagiaanmu di sana. Jangan berada dalam satu fasa kecewa yang lama. Percaya bahawa Allah akan memberikan kebahagiaan bukan di waktu yang cepat, tapi di waktu yang tepat.
Buku yang dikategorikan dalam genre romantik ini dikarangkan buat insan yang sedang atau pernah berada dalam fasa kecewa dan mahu bertumbuh dengan cara berdamai dengan kisah lalu.
"Pada akhirnya, ikhlas itu berkaitan dengan jarakmu dan Tuhan. Semakin dekat seseorang dengan pencipta-Nya, maka semakin mudah dia menerima segala ketetapan-Nya".
“Pada akhirnya, ikhlas itu berkaitan dengan jarakmu dengan Tuhan. Semakin dekat seseorang dengan pencipta-Nya, maka semakin mudah dia menerima segala ketetapan-Nya.”
Buku ini mempunyai tiga bahagian, melupakan, mengikhlaskan dan menemukan. Di dalamnya diselang selikan dengan puisi dan gambar. Puisinya mengisahkan tentang penerimaan dengan melupakan masa lalu, erti pengikhlasan akan sesuatu kejadian yang berlaku dan juga akhirnya kepada siapa dia menemukan. Kemungkinan menemukan orang baru, diri sendiri dan juga Tuhan.
Buku ini nipis dan boleh dibaca dengan sekali duduk sahaja. Aku hanya mengambil masa sejam untuk menghabiskan naskhah ini. Puisi-puisinya juga pendek-pendek dan tidak banyak disebabkan diselang-seli dengan gambar.
“Mencintailah sewajarnya, bila suatu saat nanti kau kehilangannya, sedihmu pun akan sewajarnya.”
Belajar untuk ikhlas dengan setiap kejadian yang melibatkan kehilangan walaupun sakit kerana pada akhirnya kau akan menemukan sesuatu yang lebih tahu menghargai dirimu, sesuatu yang lebih berharga dari segala-galanya.
As someone who's trying to heal — from someone whom she once thought the perfect home yet it turned to be otherwise. This book is totally for me, all the words written by the author are exactly untangled everything I wanted to converse out loud but they're hiding faintly in myself — no sounds, no murmurs, only agony as I couldn't express them through words. This book did that for me so kudos for the author ; Fajar Sulaiman for voicing out all the things I've been wanting to say all this time. 5/5 💯
Satu hal yang menurut saya membedakan puisi dengan fiksi: sensasi tersesat ke dalam imaji sendiri. Fiksi membawa orang ke suatu tempat yang sama. Tetapi puisi itu ajaib dan distingtif. Satu puisi bisa membawa orang yang berbeda ke tempat yang berbeda pula.
Jika suatu kumpulan puisi tidak memiliki kualitas tersebut—yang mana sangat subjektif—setidaknya memiliki minimal beberapa porsi asonansi. Tentu saja ini hanya preferensi dan sama sekali bukan standar. Saya penggemar asonansi dalam puisi karena terdengar nikmat ketika dibaca. Dan sepanjang membaca buku kumpulan puisi ini, tidak terhitung berapa kali saya menarik napas melihat begitu besar dan banyaknya peluang sang penyair, Fajar Sulaiman, untuk menciptakan asonansi yang merdu.
Terlepas dari itu, menurut saya kumpulan puisi ini cukup baik untuk ukuran karya pertama. Fajar Sulaiman memiliki potensi. Dan saya percaya bahwa selalu ada ruang untuk pengembangan dan perbaikan ke arah yang lebih baik.
This is my first time read indon book. Bahasanya taklah seberat yg saya sangka. Sengaja mula membaca genre yang ringan ringan. Sekali, jiwa terpaut. Tahu tahu, keluar daripada mulut 'Ish, habis dah ke." For now i would say, inilah antara buku puisi yg saya nak sangat sangat baca, over and over.
I've found sesuatu dekat beberapa helaian terakhir nak habis tu, penulis tulis: "Maka Tuhan akan mencintai segala sesuatu yang kau cintai".
Thus, i realized one thing -- pada akhirnya, ikhlas itu berkaitan dengan jarak kita & Tuhan. Semakin dekat seseorang dengan penciptaNya, maka semakin mudah dia menerima segala ketetapanNya. Seikhlas itu menerima apa adanya. Oki, 5/5.
✏️ Sebuah buku yg mengandungi himpunan kata indah sekitar percintaan, harapan, perpisahan, memaafkan dan yang paling utama mengikhlaskan.
✏️ Indah sangat hingga tak sedar aku berjaya habiskan dalam sekali duduk sahaja. Oh ya, gambar-gambar selingan dalam buku pon sangat lawa, menarik dan membuat aku terlalai melihatnya. Hehe 🤭😆
✏️ Tahniah penulis daripada pembaca di Malaysia, teruskan menulis.😚
"Jika kesendirian adalah tanda kesedihan, mungkin bulan tidak akan lebih terang dari bintang-bintang" (muka surat 60)
Rating sebenar; 4.25 🌟, tak penuh sebab tak puas, tahu-tahu je dah habis 😂🙏
Awalnya, ngira buku ini hanya tentang percintaan yang kandas. Tapi semakin baca ke belakang, pemaknaannya makin dalam. Tulisan demi tulisannya secara harfiah memang bicara tentang cinta yang datang dan pergi, namun secara maknawi tergantung persepsi pembaca, mau dibawa kemana konteksnya.
Buku ini berisi catatan kecil ungkapan rasa demi rasa dari seseorang yang begitu tulusnya mencintai, tanpa pernah memikirkan bahwa ia sudah terlalu lelah disakiti. Apa namanya, toxic relationship yah bahasanya sekarang.
Hingga pada akhirnya ia menyadari, bahwa yang mencintai tanpa tapi, bertahan tanpa paksaan, sabar menanti sadar pun, akan melepaskan tanpa pesan. Ya, melupakan. Adalah tahap pertama yang perlu dilalui oleh pelaku perpisahan.
Lalu apa? Mengikhlaskan. Menjadi tahap kedua, yang menyadarkan betul bahwa tahap ini adalah bentuk pertanggung jawaban diri kita yang sudah berani menaruh cinta, dan harapan pada manusia sebagai sumber kecewa.
Dan terakhir, kemudian menemukan. Sebuah cinta, yang menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya. Karena Tuhan, tidak menciptakan cinta, untuk membuat kita pergi dari-Nya.
Ah, buku yang so deep banget. Sangat direkomendasikan dibaca saat hati sedang galau dan pikiran tak tentu arah karena sebuah perpisahan. Dibaca dalam sekali duduk selesai, namun perasaan justru tak ingin cepat-cepat sampai pada halaman terakhir, karena setiap kata yang tertuang di buku ini, menelusup jauh ke relung hati.
Ini isinya bagus, yang aku tangkap konteksnya membicarakan benar-benar mengikhlaskan kepergian atas kehilangan pasangan yang kita cintai dan yang telah kita anggap paling terbaik CUMA buat aku ga ada sesuatu yang mind blow atau out of the box, i mean ini tu udah ada dipikiran aku gitu cuma mungkin penulis mengemas dengan rangkaian kata yang lebih rapih, indah dan puitis jadi aku merasa baca buku ini ga dapet insight baru gitu.
Ini termasuk buku yang religius juga karena banyak menyangkutpautkan tuhan.
Dan kayanya aku merasa masalah harus mengikhlaskan pasangan ini belum jadi big deal banget karena ketika aku berpisah ya keputusan tersebut pasti aku pikirin matang-matang (keputusan impulsiv, bukan emosi sesaat) jadi untuk aku ga susah ngiklasinnya 😬 menurutku orang yang pergi ya memang karena dia emang gamau stay, dan terkadang susah ikhlas atas kepergiaan karena kita mungkin sebelumnya belum all out untuk pasangan kita, atau sudah all out give the best tapi ga tulus jadi ketika orangnya pergi timbul penyesalan.
Otak aku tu sesimpel, ya selama masih ada coba kasih yang terbaik, sayangin dengan baik, perlakukan dengan baik, hargain dengan baik (dengan syarat semua yg aku lakuin emang tulus, kalo yg sekiranya ga tulus better jgn dilakuin, tulus disini tu maksudnya ga ngarepin orgnya bakal stay atau ngebales), jadi kalo pun ujung-ujungnya dia pergi atau udahan ya udah aja, udah jalannya hehe
Ada kutipan yg aku suka:
Mencintailah sewajarnya. Bila suatu saat nanti Kau kehilangannya, Sedihmu pun akan Sewajarnya.
Author laki-laki ke tiga yang saya baca setelah sekian lama setia pada Tere Liye, lalu membaca karya Kang Maman dan sekarang menjajal tulisan Fajar Sulaiman. Ternyata bila disandingkan pada dua lainnya, tulisan Fajar Sulaiman sama baiknya, loh.
Lebih ringan dari puisi Kang Maman, makna yang disampaikan sama dalam. Ditulis dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami jadi buku ini selesai hanya sekali duduk. Dengan set penulisan satu halaman tulisan dan satu halaman gambar, selang-seling. Menyegarkan mata sekali, cantik.
Menitikberatkan pada tema melepaskan. Terbagi menjadi tiga bagian, yakni melepaskan, mengikhlaskan, dan menemukan. Ketiga babnya sama cantik. Aku lebih condong ke bab mengikhlaskan. Ini terasa lebih nyentuh bagiku. Fajar Sulaiman mengajarkan untuk memupuk rasa ikhlas, meletakkan cinta pada tempatnya, dan mengajak terus melangkah ditengah perasaan campur aduk setelah melepaskan.
Mungkin kamu akan relate dengan bab pertama, bila sedang menghadapi situasi harus melepaskan seseorang tapi enggan melepaskan. Pun bab ketiga akan cocok dengan kamu yang sedang bersiap menyambut orang baru dengan perasaan yang sudah benar-benar pulih. Sejauh membaca itulah kesan-kesan yang bisa aku simpulkan.
Aku suka banget sama buku ini. Walaupun di beberapa tulisan ada yang ditulis kurang dalem, sayang banget.
Buku ini merupakan buku yang bergenre romance. Terbagi menjadi 3 bagian yaitu tahap melupakan, tahap mengikhlaskan dan tahap akhirnya menemukan.
Sesuai dengan judulnya buku ini mengandung kalimat-kalimat indah yang penuh emosional. Benar-benar terkuras emosi ketika membacanya. Penulis menyajikan mengenai percintaan, kekecewaan, kepergian dan pada akhirnya mengikhlaskan.
Pada bagian jatuh hati rasanya hatiku bertunas dan bagian patah hati rasanya juga ikut patah. Bukunya 'related' buat kamu yang sedang berusaha bangkit dari patah hati.
Satu hal yang aku suka tuh gini kalimatnya: "Tuhan tidak menciptakan cinta, untuk membuatmu pergi dari Nya".
Insight yang bisa aku ambil dari buku ini tuh kayak menasehati kita. Katakan lah terjebak dalam 'toxic relationship' ya buat apa sih kamu bertahan dihubungan yang membuat kamu terluka, sedih, sakit dan kecewa. Cinta yang sebenarnya tuh ketika kamu bertemu dengan dia yang membuatmu dekat dengan Nya, membantumu untuk selalu mengingat Nya. Ketika seseorang mencintai karena iman maka ia siap menerima segala kekurangan yang nampak pada diri pasangannya.
Tuhan tidak mungkin menciptakan sesuatu yang baik untuk membuat keadaan kita menjadi tidak baik. Maka, belajar mengikhlaskan adalah caramu bertanggung jawab pada hatimu sendiri.
Buku ini adalah himpunan puisi yang tulus dari hati yang tersakiti.
Ia juga tentang patah hati, kekecewaan ditinggalkan kekasih, peniup semangat untuk kembali bangkit, dan juga motivasi untuk kembali kepada Tuhan.
Gaya penulisan puisi begitu puitis dan indah dalam lenggok bahasa Indo. Ada juga beberapa perkataan yang saya tidak faham akan maksudnya.
Buku ini sangat bagus dinikmati bersama-sama dengan playlist lagu sedih atau lagu jiwang sebagai muzik latar. Bait-bait kata akan lagi menusuk ke hati.
Saya habiskan buku puisi ini selama beberapa jam sahaja. Bahan bacaan yang sangat ringan dan semestinya untuk pembaca target yang sedang mengalami kekecewaan dan patah hati dalam bercinta. Juga untuk penggemar puisi.
Menemukan buku ini lewat FYP tiktok dan aku memutuskan untuk langsung checkout dari online shop hehehe. So... here is my review about this book~
Buku ini merupakan buku pertama dari Fajar Sulaiman. Buku ini cocok untuk orang-orang yang : 1. Ingin menumbuhkan kebiasaan untuk baca buku (karena buku ini gak tebel, dan isi tulisan di halamannya sedikit) 2. Punya love language Word of Affirmation, cuss merapat! 3. Suka tipe buku dengan bahasa puitis hehe. 4. Ingin belajar melupakan seseorang dengan mengikhlaskan dan memaafkan diri kita di masa lalu. 5. Ingin menata hati dengan kembali pada Yang Maha Suci
So.. dari buku ini aku belajar kalo pada akhirnya sebagai manusia, kita hanya bisa bersandar kepada-Nya Yang Maha Kuasa :)
Sebuah naskah yang bagi saya sangat memberi kesan. Setiap bait kata dari penulis pastinya membuat para pembaca turut sama merasai dan menghayati kata-kata tersebut.
Buku ini bertemakan "romance" di mana penulis menzahirkan puisi tentang keikhlasan dalam melepaskan pemergian seseorang. Setiap hubungan percintaan berbeza jalan cerita. Ada yang bahagia sampai akhir dan ada yang putus di tengah jalan. Sebagai manusia, kita tidak boleh terlalu berharap kepada manusia yang pada akhirnya membuat diri kita kecewa. Bersangka baik dengan takdir Allah, dia lebih tahu apa yang terbaik untuk kita.
Salah satu kata-kata penulis yang saya suka dalam buku ini adalah:
"Mulailah cintai Tuhan melebihi cintamu pada siapa pun. Sebab Tuhan lebih mencintaimu dari siapa pun yang kamu cintai."
Best sangat buku Fajar Sulaiman ni 😊 ikhlas paling serius saya puji ni 😂😇
Buku ini disusun mengikut fasa agar pembaca dapat "implement" sifat ikhlas melepaskan dengan bertahap dan efektif insyaAllah. Sloely but surely insyaAllah. Apa yang menarik lagi tentang buku ini ialah Mas Fajar Sulaiman telah "salt baekan" di penghujung fasa buku ini dengan elemen ketuhanan 😍 Beliau mengajak pembaca untuk kembali kepada Tuhan yakni Pencipta dan Pencinta diri kita sebelum kita dilahirkan ke bumi.
Terima kasih Mas Fajar Sulaiman atas senaskhah buku ini yang padaku sungguh sebuah karya santun dan jujur dari hati.
Jujur dah baca buku ini berkali-kali kerana tiap kali baca akan "refresh" hati lagi dan lagi.
Pada prosesnya untuk ikhlas, manusia dibenturkan kata "Denial" mekanisme pertahanan diri yang akhirnya membuat tidak bisa menerima ketidaksesuaian. Penerimaan diri terhadap apa yang terjadi butuh waktu dan proses panjang, apalagi masalah jodoh. 🦊😣
Kata-kata yang relate :
Rumah- menjadi tempat paling menyenangkan ketika tujuanmu pulan bukanlah lagi rumah berupa ruang, melainkan: seseorang Hal 8
Pada akhirnya, aku juga yang harus menyalakan kembang api atas segala harapan yang aku ciptakan lalu merayakan seorang diri Hal 19
Tahukah kau mengapa mencintai dalam diam terkadang menjadi pilihan terbaik ? karena kau tak perlu sibuk mengubah perasaan siapapun selain menyiksa perasaan mu sendiri Hal 62 😌😑
Buku ini berisi kumpulan puisi dan kutipan yang saling bertemakan mengenai kehilangan dan bagaimana untuk melepaskan kehilangan itu. Dikemas dengan bahasa sehari hari yang mudah dipahami dan mungkin akan terasa dekat dengan beberapa pembacanya. Pemilihan bahasa dan penempatan alur yang bagus membuat buku ini membawa pembacanya untuk turut merasakan kesedihan yang dialami dan berjalan bersama kesedihan itu. Untuk pembaca yang mungkin tidak sedang dalam berada pada kondisi tersebut pun, saya kira buku ini masih sangat layak untuk dibaca sebagai sebuah ajaran kehidupan yang dapat dipergunakan nantinya atau pada konteks melepaskan hal yang berbeda.
Buku ini dibagi menjadi tiga bagian: Melupakan, mengikhlaskan dan akhirnya menemukan. Merupakan rangkaian perjalanan mencapai ‘ikhlas paling serius.’
Diksi yang dipilihnya tidak muluk-muluk, tapi cukup mengaduk-aduk perasaan pembacanya. Selingan potret-potret yang meneduhkan juga semakin menambah kenyamanan tersendiri Ketika membacanya.
“Tidak akan ada yang baik-baik saja dengan kehilangan. Semanis apapun perpisahan, rasanya tidak akan pernah jadi menyenangkan.” -Fajar Sulaiman
Ikhlas paling serius adalah salah satu buku yang cocok untuk mereka yang sedang patah namun belum siap melepas. Berada dalam keadaan bingung antara mempertahankan atau melepaskan. Berisi banyak sekali untaian kata yang menyadarkan kita bahwa setelah kehilangan sikap terbaik adalah mengikhlaskan. Bukan hanya perihal melepaskan kekasih, tapi seseorang yang bahkan belum pernah kita miliki namun dg terpaksa kita harus melepaskannya.
"Menyakitkan memang, ketika kita dipaksa untuk melupakan seseorang yang bahkan tidak pernah kita miliki"
Ia bukan sekadar bait-bait puisi tentang pergolakan hati yang dilanda badai, tetapi pesan-pesan yang dititipkan untuk membina rohani yang lebih utuh.
Supaya sakit yang dialami mendapat kelegaan dengan merasa kasih sayang Tuhan yang hadir di sebalik ujian.
Persoalan hati susah untuk diceritakan dan hanya Tuhan satu-satunya yang sentiasa mendengar, menjadi tempat kembali, biar apa pun kepayahan setelah hampir lemas dirundung ujian.
Penulis amat bijak mengadun apa yang tidak bisa diluahkan orang lain, menjadi saluran buat yang tidak mempunyai atau mampu mempunyai kata-kata.
Buku yang saya baca tepat setelah kehilangan seseorang yang saya anggap dialah yang terakhir, ternyata hanya persinggahan. Saya membacanya begitu khidmat dan larut akan setiap kata, kalimat, paragraf yang dituangkan di setiap halamannya. Terima kasih telah mewakili perasaan yang tidak bisa saya curahkan di tempat manapun. Sabar dan ikhlas adalah proses penerimaan yang paling menenangkan dalam kehidupan.
https://www.instagram.com/p/Cd-BOQavR... _______________________________________ Berisi kumpulan kata-kata yang dilengkapi dengan gambar hitam putih. Buku ini termasuk dalam genre romance.
Seseorang yang merasa perlu bangkit dari harapan, luka, perpisahan, atau masa lalu. Pasti akan relate dengan buku ini.
"Sabar adalah ilmu tingkat tinggi, bentuk syukur paling dalam, dan bentuk ikhlas paling serius."
Ikhlas Paling Serius merupakan sebuah buku yang berisi quote penyemangat. Isinya membuat pembaca bisa memahami definisi ikhlas serta bentuk keikhlasan itu sendiri. Ga cuma itu, didalamnya juga ada foto-foto yang keren. Walaupun hitam putih tapi kayak menyimpan arti tersendiri gitu.
Please do not put high expectation for each page to have writings, well its can be said that half of them is pictures and the other half is the poetry. Well it is excellent for the writing, i love how the author express their words.
Salah satu buku yang gak disangka2 bakal beli. Awalnya muncuk di expoler instagram dan berakhir check out bukumya. Isinya bener2 menyentuh dan menguras hati 🥺 Terimakasih loh bang Fajar udah nulis buku ini, selamat berjuang 🤗
im always keenly feelin comfort in a person whom able to put a line of words in a poetic ways to helped others person more understanding on life kind. and this book definitely one of definition on that.