Di kantor, aku punya teman wanita yang super santai kalau bertutur. Suatu hari kami sedang makan siang bersama dan dia cerita pengalaman waktu melahirkan secara normal. Di salah satu bagian dia cerita dengan penuh ekspresi, "Ih Ton! Itu ya gue shocked banget, nggak tau kalau ngecek bukaan itu v**ina gue diobok-obok pake jari." Aku pun ngakak, jarang-jarang punya temen wanita yang sama sekali tidak jaga image kalau ngomong.
Nah, seperti itu pula gaya tulisan penulis di buku ini. Bahasanya benar-benar lepas, tanpa filter, tanpa malu-malu. Di buku ini juga diceritakan proses melahirkan dengan vulgar, persis seperti penuturan temanku, dan mau tak mau aku ikut ngakak selama proses itu (yang seharusnya tidak sopan karena itu proses hidup dan mati seorang wanita, maap maap). Namun, memang begitulah, selain gaya yang lepas, penulis juga jago banget menebar jokes sambil lalu--bahkan, semuanya diberikan di waktu yang pas sehingga aku bisa ngikik sepanjang membaca. Aku jadi teringat Hilman penulis serial Lupus, mirip-mirip lah teknik membumbui tulisan dengan guyonan.
Premis buku ini cukup sederhana, tapi tidak bisa dianggap enteng. Amara dan Baron sedang berusaha untuk punya anak, setelah selama ini mereka ongkang-ongkang kaki menikmati rumah tangga hanya berdua saja. Karena penuturan buku ini menggunakan sudut pandang pertama, dengan intim aku diajak masuk ke otak seorang wanita yang susah payah berusaha untuk hamil, lalu kegelisahan mengenai kandungannya, kecemasan menjelang menjadi seorang Ibu, dan sampai anxiety ketika akhirnya si anak lahir. Dan tidak berhenti sampai di situ, di buku ini juga disajikan konflik keluarga yang begitu dekat dengan keluarga-keluarga kecil rekan-rekan kerjaku di kantor--membuat buku ini semakin relate dengan keadaan di sekitarku. Sampai aku mikir: apakah teman-temanku yang sudah berkeluarga juga merasakan kerumitan ini?
Untuk penokohan, salut sih, kompleks banget. Amara bukan tokoh calon Ibu (dan Ibu) yang sepanjang novel mengalami susah-payah, tapi tulus ikhlas mengurus anak sambil menjalani rumah tangga. Even, she is not a supermom. Dia wanita seperti teman-temanku yang sudah berkeluarga dan punya anak: kadang sayang banget sama anaknya, kadang eneg dan pengen jadi wanita single lagi, kadang cinta mati sama suami, kadang mengumbar seluruh kejelekan suami, dan tetek bengek isu rumah tangga lainnya. Namun, menurutku itulah yang membuat kita menjadi makhluk yang disebut manusia.
Wow sih. Ini buku yang awalnya ceria-ceria pagi kemarau yang makin akhir makin menjadi mendung sore hari, sampai akhirnya kita mengucap: ya inilah hidup. Aku rekomendasikan untuk kamu yang ingin merasa seperti itu atau kamu yang ingin relate dengan berumah tangga dan punya anak.